Aluna terbangun saat sebuah tangan terasa mengusap lembut pipinya. “Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu,” ujar Reza. “Jam berapa sekarang?” tanya Aluna sambil mencoba bangkit dari posisinya. “Delapan pagi,” jawab Reza. “Delapan?” Aluna terbeliak. Tentu saja dia kaget, tidak biasanya dia bangun sesiang ini. “Pestanya. Bagaimana dengan pestanya?” Aluna bertanya dengan raut panik, khawatir jika pesta yang susah payah diadakan berakhir tidak sesuai harapan. “Sudah selesai.” “Apa pestanya berjalan lancar? Semalam aku ketiduran setelah kita....” Aluna bungkam saat dia teringat kembali dengan apa yang terjadi semalam. Pipinya seketika memanas. Keributan, pertengkaran, lalu dia dan Reza pergi ke kamar hotel untuk merapikan diri, dan malah berujung pada kegiatan yang tak terduga. Sete

