Suasana ruang makan keluarga Atmaja malam itu tampak sempurna. Taplak linen putih, kristal berkilau, aroma sup dan daging panggang yang menggugah selera dari makanan yang sedang disajikan oleh para pembantu di atas meja kini memenuhi udara. Sayangnya sejak Bisma melangkah masuk, hawa hangat ruangan itu terasa menekan seperti dinding yang ingin menelan napasnya. Nyonya Laksmi duduk anggun di ujung meja panjang, menatap lurus ke arah anak, cucu dan calon cucu menantunya tanpa senyum. Di sisi kanan, Tuan Adijaya duduk dengan pose kaku seperti biasanya sedangkan Ardina duduk di sebelah ayahnya, tatapannya hanya tertuju ke arah Bisma yang duduk di seberangnya. Bisma menarik napas. “Aku merasa kalau aku sebaiknya menyampaikan semuanya sebelum kita mulai menikmati makanan tapi sebelumnya

