# Mia melotot karena kesal ketika dia darah yang merembes dari sela-sela perban luka di telapak tangan Ranya. Garis merah basah tampak jelas di bawahnya, kontras dengan kulit pucat Ranya. “Gila!… Ranya ini berdarah lagi!” seru Mia, suaranya pecah di antara panik dan marah. “Tadi saat sutradara memintamu melakukan adegan itu kenapa kau sama sekali tidak protes? Kenapa kau malah melakukan adegan berbahaya itu?" protes Mia kesal. Ranya duduk di sofa kecil ruang tunggu artis, dia diam, wajahnya netral seperti biasa. Namun napasnya lebih pendek dari biasanya. Mia mengambil tisu antiseptik dan mulai membersihkan pinggir luka yang terbuka. Dia hampir menangis menahan emosi. "Aku yang terluka, kenapa kau yang malah menangis?" tanya Ranya. Mia menatap Ranya selama beberapa saat. Dia kem

