Semalam tadi aku enggak bisa tidur. Otakku seolah terlalu banyak berspekulasi untuk hari ini sampai tak bisa bekerja dengan baik. Ya, untuk hari ini juga, aku harus bersusah payah melakukan diet ketat, sampai akhirnya bisa turun tiga kilo.
Kok, cuman tiga kilo? Jangan salah, bagiku itu sangat berarti. Bisa kamu bayangkan betapa sulitnya aku mencoba segala macam olahraga demi moment kramat ini.
Sepulang kantor saat yang lain beristirahat, aku harus zumba atau angkat beban. Selain itu, aku sama sekali enggak makan aneka kandungan karbo. Setelah konsultasi ke sana ke sini dan membeli obat penurun badan dari Alfi yang harganya mahal itu ... alhamdullilah, si lemak bandel berangsur berkurang walau ketika aku lihat gorengan, dia nambah lagi. Pokoknya semua sudah kulakukan, demi hari bersejarah ini.
Hari ini tepatnya. Hari di mana pernikahan Dion dan Bos besar dilaksanakan. Sesuai rencana, aku dan rekan satu kantor akan berangkat ke Lembang tempat acara diadakan. Tadinya, banyak yang menyarankan aku tidak hadir. Namun, mana mungkin aku tidak hadir, itu hanya membuatku terlihat seperti b***k cinta.
Meski sesungguhnya, berbeda dengan semangatku menurunkan badan, hatiku entah kenapa malah menciut nyaris tergolek. Mungkin, ini dampak hati yang terpotek. Padahal sudah sejak pagi, aku ke salon untuk merias wajah dan menata rambut, bahkan aku rela menunggu satu jam sebelum salon dibuka. Siang ini, aku memilih make up yang biasa saja, tidak terlalu menor tapi aku meminta rambutku dibuat agak spesial.
Rambut lurusku yang panjang sebahu kuminta digelung hingga menunjukan leher, karena aku ingin menyesuaikan dengan tema pernikahan yaitu anggun dan elegan. Sebab aku bertekad enggak mau kalah sama mereka yang langsing.
Sambil menunggu, mataku aktif memindai kondisi. Diam-diam aku iri, tema pernikahan wedding forest ini ternyata bagus juga. Suasananya sangat hangat dan akrab, meski ini pesta di dalam hutan pinus, tapi semua tertata dan apik tanpa ada kotor sama sekali.
Bangku-bangku kayu yang berjajar untuk kursi pengunjung, berbaris rapi menghadap ke singgasana pengantin. Tampilan warna hijau dan putih yang mendominasi hiasan, seakan menyiratkan tema kesegaran yang ingin dibawa dalam tema pernikahan ini.
Sayang, kondisi yang syahdu ini tidak terlalu banyak mempengaruhi hatiku yang patah dan kian memberontak untuk mengingkari yang ada di hadapanku sekarang. Jika boleh jujur, sekarang aku merasa hanyalah jadi badut yang salah tempat. Selain karena dressku yang terasa menyesakkan, kakiku pun kesakitan karena high heels yang kupakai, aku ini bodoh banget ke acara outdoor gini pakai salah alas kaki, mengenaskan.
Belum lagi perutku yang sejak tadi terasa sangat begah. Ingin rasanya berlari, tapi ke mana? Semua sudah terlambat, aku sudah terjebak.
Hey, ada apa denganku? Perasaan tadi aku baik-baik saja. Tenang Ra! Aku menenangkan diri sambil memandang ke arah pelaminan.
Hatiku tiba-tiba sedih, karena melihat Dion yang memakai baju pengantin khas sunda tampak sumringah menyalami semua tamu. Begitu juga yang kulihat pada Bu Wina, keduanya terlihat sangat bahagia. Baru kali ini aku merasa udara Lembang yang menyejukkan, berubah menjadi menyesakkan.
"Udah jangan khawatir, lo cantik kok Ra, gue yakin Dion pasti nyesel ninggalin lo," Soraya menepuk pundakku berusaha mengalirkan kekuatan.
Aku menoleh pada Soraya lalu tersenyum simpul atas pujiannya. Jauh di dalam hatiku, aku tahu selama apa pun aku bersolek, tetap saja Bu Wina lebih cantik. Ya, iyalah dia kan pengantin!
"Kenapa Ra? Kok liatinnya kaya gitu?" Soraya menautkan kedua alisnya heran. Aku langsung menggeleng cepat, takut dia menyadari kalau aku sedang terjebak halusinasi.
"Enggak, lagi mikir aja ke mana ya, anak-anak?" kilahku menutupi alasan sebenarnya.
"Udah, jangan mengalihkan! Daripada mikirin mereka mending lihat tuh orang ganteng!" Tunjuk Soraya pada lelaki yang sedang menuju ke arah kami.
Melihat Pak Syakir mendekat, bukan hanya jantung yang berdegup kencang tapi pipiku langsung bersemu merah.
"Kalian cuman berdua?" tanya Pak Syakir heran. Dia sama sekali tak melirikku, dia hanya melihat Soraya. Kenapa? Padahal aku berharapa ada sepatah dua patah kata keluar dari mulutnya untuk memujiku.
"Iya Pak, lagi nunggu," jawab Soraya mencuri pandang ke arahnya, begitupun aku.
Tanpa sengaja akhirnya mataku dan Pak Syakir bersitatap, tapi seperti biasa kami langsung pura-pura tidak melihat. Niatku yang ingin dinilai cantik di hadapannya, pudar sudah.
Aku sendiri heran dengan hatiku, siapa yang sebenarnya aku inginkan untuk melihatku.
Mantankah atau Pak Syakir? Apakah menebak isi hati sendiri sesulit ini? En-tah-lah.
Pak Syakir kemudian ijin kembali ke pekerjaannya. Saat itulah, matanya menatapku sekilas. Hanya sekilas, tapi mampu menimbulkan getar di dalam sini.
Anehnya, bukan hanya aku Soraya yang katanya suka pun mengamati pria itu sampai menghilang di balik kerumunan.
Entah bagaimana caranya Tuhan menurunkan pria itu ke bumi ini, yang jelas dia sempurna tapi juga menjengkelkan.
"Lo beneran gak akan bilang siapa pun kan Ra?"
"Bilang apa sih?"
"Gue suka ama Pak Bos," jawab Soraya malu-malu.
"Iya, tenang aja ...." jawabku menyembunyikan rasa aneh yang tiba-tiba menyerang.
Setelah mendengar ini, aku menyadari bahwa aku tak berhak berharap lagi pada Pak Syakir. Untuk mengalihkan rasa bosan karena menunggu, kami pun mengobrol seadanya, tanpa membahas lagi tentang Bos kami.
Setelah lima menit akhirnya rombongan kantor pun tiba, betul dugaanku mereka langsung mem-bully dengan kata-kata khas mereka.
"Ciye ... sang mantan hadir juga ya?"
"Gak salah lo? Make up lo kaya arem-arem deh!"
Apa? Arem-arem? Enggak sekalian aja Badut Ancol? Aku mendengkus.
"Ngabisin berapa lo buat tampil di depan mantan?"
"Gue bangga sama lo, lo cantik sih tapi sayang, mantan Dion ...." Gelak tawa mereka ramai memekakan telinga. Aku tahu mereka bercanda, karena setelahnya tapi ya ... nggak begitu juga.
Seandainya mereka tahu, susah payah aku bertekad untuk menjadi manusia kuat seperti lagu Tulus. Seandainya mereka tahu kedatanganku adalah hal yang kini ribuan kali aku sesali karena nyatanya aku hampir tak sanggup.
"Kamu cantik Ra, tenang kamu jangan takut ada aku!" ujar Rasyid menatapku seolah terpesona.
Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih, aku tahu dia hanya sedang bertindak sebagai sahabat yang baik.
Tiba akhirnya, teman-temanku yang heboh itu mengajak untuk bersalaman dengan kedua pengantin. Kami masuk ke barisan antrian, tidak bisa dipungkiri, kakiku sedikit gemetar. Meski aku berusaha untuk terlihat baik-baik tetap saja keringatku tak henti menetes.
Setelah beberapa menit berdiri, akhirnya tibalah giliranku untuk bersalaman. Pertama kalinya netra kami bertemu setelah kata putus terucap darinya, dia tampan tapi bukan milikku.
"Selamat ya Dion...." ucapku dengan nada seolah baik-baik saja. Dengan gugup aku meremas ujung rok, mencoba mengendalikan degupan yang tak berhenti.
Berulangkali aku mensugesti diri, agar tidak menangis karena sungguh tidak lucu. Buliran bening sialan itu hanya akan membuat make-up yang kubayar mahal ini berantakan.
Tidak sekarang! Please, tahan.
"Makasih Ra, semoga kamu juga ketemu dengan lelaki yang mau menerimamu apa adanya ya?" ujar Dion tampak bijak. Bijak yang dipaksakan.
Aku tersenyum miris, lalu berjalan ke arah Bu Wina yang menatapku ramah. Di luar dugaan, Bu Wina memelukku hangat. Pelukan pengantin perempuan ini, serasa menyiramkan air pada hatiku yang tengah membara.
"Terima kasih ya sudah datang, saya tahu pasti berat buat kamu, oh iya, kamu stafnya Syakir kan?" kata Bu Wina setelah melonggarkan pelukannya.
"Iya Bu, saya di HRD say--"
"Tolong ikhlaskan Dion ya...."
Bu Wina tersenyum lalu memegang lenganku kuat-kuat. Meski sedikit aneh mendengar ucapannya, aku tetap mengangguk ragu. Setelah acara salaman selesai, aku melipir ke pinggir dengan wajah linglung. Pak Yusuf meminta kami berfoto terlebih dahulu, terpaksa aku mematung di pinggir Soraya untuk ikut bergaya demi kamera. Di saat bersamaan, aku melihat Pak Syakir tiba-tiba menuju ke singgasana.
"Saya boleh ikut berfoto dengan tim saya?" tanyanya lugas setelah sampai.
Semua orang tentu menyambut suka cita kedatangannya, termasuk Soraya dan Erin. Mata mereka berdua berbinar penuh cinta.
"Tentu saja Pak, Dara geseran!" Soraya memberi kode.
"Di sini aja Pak, dekat Erin!"
"Dekat saya aja Pak aman, Rasyid mah cowok gak akan nyolek," Rasyid menepuk pundaknya. Aku melongo, melihat teman-temanku yang heboh cari muka.
"Dekat saya aja!"
"Saya aja!"
"Saya dekat Dara saja," imbuh Pak Syakir membuat semua bungkam dan beberapa misuh-misuh.
Pria itu dengan santai berdiri di sampingku. Aroma mint yang khas tercium dari beskap sunda yang ia kenakan.
Kurasakan tubuhku bergetar karena gugup. Mimpi apa aku semalam? Sampai bisa berendengan sama cogan? Ini sih namanya peristiwa merontokan iman. Apa mungkin ini hiburan dari Tuhan untukku yang sedang patah hati?
"Jangan tegang Dara," bisiknya tepat di kupingku.
"Iya Pak."
Ya Allah! Jauhkanlah aku dari godaan orang ganteng. Aku berdoa dalam hati.
"Baik semua lihat ke kamera ya? Satu... dua... tig--"
"Kamu cantik."
Jpret!
Entah bagaimana jadinya foto itu, tapi yang kutahu saat bunyi kamera terdengar mengabadikan di saat bersaman aku dan Pak Syakir sedang berpandangan.
Ululuh, hatiku jedak jeduk jadinya.
Apakah dia sedang menggodaku?