Bab Empat. Bosku Gila?

1832 Kata
Menjadi mantan yang terbuang itu emang gak enak tapi sebagai manusia yang tegar aku harus maju tak gentar dan menjalani hari sesuai wanita normal. Nahas, saat aku mencoba menyemangati diri ada sesuatu yang berbeda di kantor keesokan harinya. Pagi ini, hampir semua senyuman cewek-cewek di kantor langsung memudar ketika Pak Yusuf, wakil Bu Wina memperkenalkan sekretaris Bu Wina yang baru. Namanya Veronica, kami semua diminta memanggilnya dengan Bu Vero. Bukan kami tidak senang, tapi itu berarti rival kami menjadi wanita jomlo bertambah. Dia merupakan anak temannya Bu Wina, menggantikan Pak Yandi yang tiba-tiba resign karena istrinya melahirkan. Vero, wajahnya mungil dan cantik perpaduan Arab-Sunda. Semua cowok di sini mengangumi pesona seorang Vero, tapi tak begitu dengan Pak Syakir. Berdasarkan pengamatanku, sejak tadi lelaki yang mengatakan, 'aku cantik' kemarin itu, enggak menunjukan ketertarikannya sama Vero sama sekali. Berbeda dengan Rayi, Fandi dan yang lainnya. "Halo semuanya, saya Vero semoga kita bisa bekerja sama ya, di sini? Untuk ke depannya sementara Bu Wina cuti, untuk masalah jadwal meeting dan rapat besar saya yang handle...." sapa Vero. Aduhai! Suaranya saja udah lembut kayak kapas. Kok bisa ya ada cewek mungil, cantik dan se-elegan ini? Bikin iri wanita sepertiku yang di bawah standar. "Mulai hari ini Bu Vero akan mulai bertugas ya? Mohon bantuannya ya Pak Syakir?" Pak Yusuf melirik Pak Syakir yang berdiri sedang mengotak-atik ponselnya. "Iya Pak." Pak Syakir menjawab enggan. Kenapa sih pria itu? Wajahnya beda banget? Aku mencuri pandang pada Pak Syakir. "Ra, gue tebak si Vero ada hubungan deh sama Pak Syakir," bisik Soraya sedikit kecewa. "Masa?" "Bodo!" jawabnya ketus. Aku nyengir menanggapi sahabatku yang lagi senewen itu. Kemudian, tanpa sengaja mataku menangkap wajah Vero yang terus menatap Pak Syakir. "Baiklah, jika semua sudah berkenalan, kami pun akan mengabarkan hal yang penting. Kabarnya sebentar lagi Pak Syakir dan Bu Vero akan melangsungkan pertunangan, jadi kami harap kali--" "Sudahlah Pak, jangan dibahas! Ini kantor...." Pak Syakir memotong ucapan Pak Yusuf dengan nada gusar. "Loh, kenapa Pak? Tanggalnya kan sudah ditentukan?" Pak Syakir menatapku saat Pak Yusuf menunggu jawabannya. Oow! Kenapa dia menatapku? Iuran catering mereka juga enggak. Batinku cemburu. Aku melengos, menghindari tatapan Pak Syakir. "Itu karena saya tidak suka membahas hal pribadi ke kantor, jadi silahkan bubar!" Tutup Pak Syakir lalu meninggalkan kami dengan wajah beku. Kami semua melongo karena terkejut, baru pertama kali kami melihat si Bos semarah itu. Vero si sekretaris baru pun sekarang pasti sedang merasa tersinggung, matanya tak lepas memandang Pak Syakir yang berjalan pergi. Melihat kondisi mulai tak baik. Soraya dan karyawan lainnya langsung membubarkan diri dengan nada kecewa. Kurasakan sepeninggal Pak Syakir suasana jadi tidak mengenakan. Anak-anak mulai terdengar berbisik ria, bisa jadi gosip-gosip sebentar lagi akan merajalela. Bukan hanya mereka yang syok, aku pun masih tertegun lama, otakku mencoba mencerna semua peristiwa dan hatiku pun terasa tak rela padahal kejadian manisku dengannya masih belum lama. Php-lagi deh... Lalu apa arti dia terus membelaku dan kemarin.... "Kamu yang namanya Dara?" Aku mendongakan kepala. Entah sejak kapan Vero sudah berdiri di depanku. "Eh, iya Bu, kok tahu Bu?" tanyaku kaget. "Saya gak nyangka, lawan saya itu gak sebanding sama sekali. Mari kita rebut hati Syakir, dengan cara yang adil," Bu Vero menyeringai. Kesan ramah dan elegannya seketika lenyap di depan mataku. "Maksudnya Bu? Saya belum mengerti," tanyaku bingung. "Jauhi Syakir! Dia hanya kasian sama kamu! Jangan berharap banyak!" ujar Vero mengultimatum. Tanpa memberikanku kesempatan untuk membalasnya, dia langsung meninggalkanku yang masih bengong dengan mulut terbuka. Ini pada kesambet apa sih? Bikin bingung aja! "Dara! Saya nge-gaji kamu bukan untuk bengong ya?" "Eh, siap Pak!" jawabku spontan kala teriakan Pak Syakir yang membahana itu terdengar keras. Aku langsung belingsatan bingung, menuju meja kerjaku. "Daaaraaa!" Suara geram, keras dan menggelegar terdengar lagi. "Iya Paak!" ucapku langsung membuka laptop pura-pura bekerja. "Susah ya kawan? Kalau punya Bos itu hatinya kaya perawan. Susah ditebak, bikin bingung aja! "Saya dengar loh Dar!" (***) "Mbak, maaf kalau ukuran xxl gak ada ya?" tanyaku pada seorang wanita yang berdiri sejak tadi. . "Ya enggaklah Mbak, buat badan yang kaya Mbak itu harusnya bikin sendiri!" Pramuniaga itu berkata dengan sinis, tangannya cepat mengambil baju yang sejak tadi aku pegang. Aku tersenyum kecut, sesulit itu memang mencari baju untuk ukuranku sendiri. Kutegarkan hati untuk tak menyalahkan Mbak yang sejak tadi jutek, dia mungkin kelelahan karena sudah setengah jam aku hanya berputar-putar dan tidak membeli. Seandainya dia tahu, aku bukannya enggak mau beli tapi emang enggak ada yang cukup. "Mari Mbak," pamitku. Setelah beramah-tamah seadanya, aku keluar toko pakaian tersebut. Pencarianku masih belum berakhir, aku masih berharap ada gaun yang pas untuk ukuranku. Jika saja Mbak Vi, penjahit langgananku tidak hamil bisa jadi aku tidak sebingung ini untuk mencari gaun yang pas untuk dikenakan ke acara ulang tahun Pak Syakir nanti. Ulang tahun? Ya, si Bos ulang tahun. Kabar ini telah sukses menjadi trending topic nomor dua di kantorku, setelah perkenalan Vero yang tak mengenakan. Di perayaan usianya yang ke-31, Pak Syakir mengundang kami untuk datang ke acara syukuran pesta ulang tahun di rumahnya. Semua cewek di kantorku sibuk untuk tampil sempurna, salah satunya memakai gaun malam dan untuk itulah aku di sini. Setelah lelah berkeliling dengan hasil nihil, perutku mendadak keroncongan. Kuputuskan untuk menuju ke salah satu restauran Jepang yang berada di mall. Karena hanya di sana bisa kudapati salad sebagai pengganti nasi, tentu aku tidak lupa akan misi dietku. Sambil berjalan menuju restauran Jepang, mataku aktif terus memindai kondisi toko per-toko. Saking sibuknya melihat-lihat, tanpa sengaja aku menabrak seseorang ketika hampir saja aku sampai di tempat tujuan. "Maaf! Maaf!" ucapku sambil menundukan kepala dan membungkukan badan karena inilah gayaku, si gadis gemuk yang ringkih. "Dara, kamu di sini? Kamu gak apa-apa?" Kepalaku spontan terangkat dan mendapati wajah Pak Syakir yang terlihat cemas. Aku terpana kaget, ternyata dia yang bertabrakan denganku. Harusnya aku tadi pura-pura pingsan atau apalah sampai membuatnya merasa bersalah. "Eh, iya Pak." Aku memundurkan langkah kikuk. Mau di luar kantor atau di dalam kantor, aku tetap merasa tidak bisa terlalu dekat dengannya. Apalagi semenjak ancaman Vero tadi pagi, aku harus menjaga jarak aman. Aku tidak mau cari masalah, karena masih ingin bekerja di kantor. "Kamu mau cari makan juga?" tebaknya langsung. "Oh, eh, iya Pak." "Oh, saya kira mau cari imam," ujar Pak Syakir menyiratkan senyuman yang membuat aku terpana sekilas. Sadar itu hanya candaan, aku langsung menundukan kepala dengan wajah tersipu malu, takut ketahuan kalau aku senang mendengar hal garing dari mulut Bosku. Aku memang sereceh itu. "Mau makan di restauran ini? Bareng aja, gimana?" tanya Pak Syakir. Dia menunjuk pada restauran yang tepat berada di samping kami. "Memang gak apa-apa Pak?" "Gak apa-apa, toh saya juga malas makan sendirian, mungkin kelamaan single," imbuhnya santai. Aku melongo, tak menyangka dia akan mengatakan itu. Bagiku kalimat ajakan yang berarti dinner bareng tersebut, seakan bentuk keajaiban lain yang meluncur begitu saja dari mulut Pak Syakir. Asal tahu saja, aku ini gadis pemalu. Selama ini seorang Dara itu hanya punya pacar sekali dan itu Dion. Wong waktu jalan sama Dion saja aku yang bayarin, karena mana ada Dion bermodal? Lalu sekarang? Apa mungkin Pak Syakir minta aku bayarin juga? Sepertinya dia bukan orang kayak gitu. "Kamu gak mau? Kenapa kamu ada masalah?" tegurnya melihat aku hanya bengong. "Eng-enggak Pak." Jawabku gugup. Inilah kekuranganku yang lain, kalau lagi kaget, senang, sedih, malu dan ekspresi apa pun pasti terlihat jelas di wajahku. Buktinya Pak Syakir bisa membaca wajahku yang kelewat bahagia ini, tapi jauh di dalam hatiku, ada rasa khawatir yang menyelinap. Aku takut tidak bisa pesan makanan sesukaku, gengsi soalnya. Masa, depan Bos makannya banyak? Sabar ya perut...! "Masih diam aja? Udah, tenang, kamu bisa makan apa saja ya? Ayo masuk!" Apa kubilang? Ketebak lagi kan? "Eh, iya Pak, maaf ...." Dengan cepat aku mengekor Pak Syakir yang lebih dulu masuk ke restauran. Lagi-lagi seorang Dara kepergok sedang mempersulit diri, mungkin benar aku ini terlalu banyak berpikir. (***) Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan kami datang. Pak Syakir mengajakku duduk di salah satu meja kosong yang view-nya menghadap ke pemandangan kota pada malam hari. Untunglah kali ini, aku tak harus membayarkan makanan Pak Syakir seperti yang aku lakukan pada Dion. paling tidak akhirnya aku tahu, di dunia ini masih ada laki-laki yang menghargaiku. Sebenarnya tadi aku ingin memesan banyak menu. Hanya, demi menjaga norma kesopanan dan azas kedompetan sang Bos agar tetap utuh, dengan berat hati aku hanya memesan tori ball, salad dan air. Menu ini tentu sedikit berbeda dengan Pak Syakir yang memesan premium set dan minuman yang sama denganku. Harusnya aku pesan itu juga, padahal si Bos dengan baik hatinya, membiarkanku memesan apa saja. "Kamu, ke sini sebenarnya ngapain?" Pak Syakir memulai percakapan di tengah aktivitas makan yang canggung. Aku mengangkat wajahku untuk melihat wajahnya, saat itulah netra kami bersirobok. Entah untuk ke berapa kalinya hari ini, kuterbius sejenak oleh pesona lelaki yang memiliki jambang rapi di sekitar dagunya tersebut, sehingga mulutku seolah terkatup rapat. "Dar?" tegurnya heran. "Oh, ini Pak saya nyari baju tapi gak ada yang cukup." "Baju untuk apa?" "Untuk...." Kurutuki diriku yang kembali tak bisa berbicara lancar jika di depan Pak Syakir. Bagaimana mungkin aku bilang beli gaun untuk datang ke pestanya? Sungguh tak mungkin. "Untuk datang ke pesta saya?" "Eh, bukan Pak!" "Lalu? Mau tampil cantik di hadapan saya?" Uhuk! Aku terbatuk. Rasanya tenggorokanku mendadak kering, karena pertanyaannya yang menggoda. Belingsatan, tanganku langsung terulur mengambil satu botol air mineral di depanku. Sudah kuduga, aku ini tidak pandai bersandiwara, semua yang ingin kukatakan sudah bisa langsung diterka olehnya. Mungkin Pak Syakir terbiasa menghadapi banyak orang, sehingga dia pandai meng-intimidasi. "Dara? Kamu itu--" "Bukan Pak, bukan karena itu, saya tidak ingin tampil cantik beneran...." "Tenang... santai! Kamu itu lucu kalau lagi kikuk gt, minum lagi silahkan!" ujar Pak Syakir sambil memberi kode padaku. Anehnya, aku dengan mudah disetir. Kuteguk lagi minuman di tanganku, karena entah kenapa pipiku memanas seketika. "Bagus, jadi itu berarti kita sudah syah ya?" "Maksudnya Pak?" Aku melongo tak mengerti dengan pertanyaannya. "Saya cuman mau bilang kalau botol mineral yang kamu ambil itu punya saya dan area yang kamu minum sebenarnya itu pas di mana saya menempelkan bibir," ucap Pak Syakir menyeringai aneh. Mendengar ucapannya, aku langsung memastikan botol yang kupegang. Benar saja, aku salah ambil. "Maaf, Pak saya salah ambil." Aku langsung menyimpan botol itu kembali dengan wajah terkejut. Bagaimana bisa aku salah ambil? "Enggak apa-apa... saya senang kok." "Kok senang Pak?" "Ya, dengan salahnya kamu ambil minuman. Itu berarti, saya dan kamu tanpa secara langsung sudah...." Lelaki itu menjeda kalimatnya. Perlahan tubuh Pak Syakir bergerak condong padaku. Aku menatap gugup ke arah matanya yang tegak lurus denganku sekarang. "Ciuman." Bisiknya pelan. "Apa?" "Iya ... dan itu berarti otomatis kamu sudah jadi kekasih saya, oke? Bisa jadi kita akan menikah, kamu mau nikah dengan saya?" "Pak, apa sih maksudnya?" "Syut! Saya lagi makan, teruskan makanmu! Mulai besok, jangan harap kamu bisa makan gorengan lagi, karena saya yang akan mengaturnya," ujarnya cuek tapi cukup mematikan. Speachless. Mataku membulat, mulutku menganga dan lidahku menjulur. Untung aku belum berubah jadi naga. Honey-bunny-sweety-pocari! Tolong aku, Bosku sudah jadi gila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN