Gairah Istri Setengah Lemak (Gendut)
Part 5.
Hari ini aku mencoba fokus pada pekerjaanku tapi tetap saja jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Pak Syakir sepertinya sudah kesambet demit. Subuh-subuh buta, dia sudah mengirimkan ultimatum menu diet untuk hari ini. Dia bilang, makan siangku aman karena akan dibikinkan olehnya sendiri. Terus Bos nyebelin itu juga bilang, mulai hari ini aku harus mulai menyapanya terus di pagi hari.
Jika aku melanggar, maka dia akan ngasih tahu pada semua orang kalau kami sudah 'ciuman' tanpa sengaja. Ini aneh dan enggak masuk akal.
Siapa dia? Berani mengaturku? Menyebalkan. Belum lagi, dia dengan serta-merta minta aku berpakaian agak longgar. Katanya, jangan takut terlihat gendut yang takut itu kalau terlihat bentuk badan.
Betul sih, pakaianku memang terlalu ketat, tadinya agar aku bisa keliatan agak langsing. Walau jatuhnya lebih mirip lemper. Oh iya, bukan itu saja. Akibat pertemuan tak sengaja kami kemarin. Masa, dia bilang mulai hari ini kami pacaran? Hal bodoh apa yang dipikirkannya? Hanya karena aku salah minum ditempat dia minum, terus aku jadi kekasihnya? Bohong banget.
Bodohnya, semalaman aku mencari tentang hal itu. Sesuai yang aku baca, jika kita menempelkan bibir di tempat yang sama dengan bibir pasangan, tanpa secara langsung bibir kami sudah bersentuhan. Namun, masa sesimpel itu? Modus!
'Tapi suka kan?'
'Iya sih.'
Aku memukul kepalaku yang sudah tak waras, permainan macam apa yang sedang kujalani ini. Mana sejak tadi, batang hidung si Bos pun tak nampak, kabarnya si Bos lagi sibuk tugas lapangan.
Ah ... kenapa aku jadi gini sih? Gak fokus kerja dan malah lihatin ruangannya yang kosong? Akhirnya mendengkus karena menjadi galau enggak jelas. Sudahlah! Pasti dia hanya ingin bercanda. Jangan dianggap serius Dara!
"Bu Dara, ini ada paket buat Bu Dara," ucap Mang Ojo tiba-tiba saja datang membuyarkan lamunanku. Lelaki setengah baya itu menyodorkan box warna pink ke hadapanku.
"Eh, buat saya Mang?" tanyaku heran. Perasaan aku enggak mesen ojek-food deh.
"Iya Bu, silahkan Bu.... " Mang Ojo tersenyum ramah, kemudian berlalu.
"Ciyee dapat kotak dari siapa tuh!"
"Lo udah dapat pengganti Dion ternyata?"
Suara Soraya dan Erin saling menimpali.
Beginilah mereka, jika enggak ada Bos ributnya minta ampun.
"Enggak tahu, ini dari siapa...." jawabku ngeles. Dengan perasaan tak menentu aku memandang paket di tanganku. Namun, itu tak berlangsung lama karena getaran ponselku membuyarkannya.
Sebuah pop up chat masuk ke ponselku. k****a nama pengirimnya, ternyata dari Pak Syakir.
[Maaf, gak nemenin kamu makan siang ini, semoga suka sama karya saya, sore saya jemput. Dandan yang manis ya, chubby-ku?]
What? Apa dia gila?
Aku menggigit bibirku kaget lalu menutup mukaku malu.
Ternyata dia serius.
(***)
Aku berjalan tergesa menuju halte bus terdekat. Lalu, pura-pura berdiri di samping deretan manusia yang sedang menunggu bus. Padahal, jelas bukanlah bus yang kutunggu tapi seorang lelaki yang membuatku hampir sesak nafas seharian ini.
Dialah Refano Syakir Bambangsyah. Setelah kiriman kotak ajaib berisi salad sayur darinya telah sukses membuatku dibully. Sore ini, masih juga si Bos memintaku pulang bersamanya. Lebih buruk lagi, tadinya Pak Syakir ingin menjemputku langsung di depan lobby kantor, tapi aku enggak mau.
Kenapa? Pastinya, aku masih ingin hidup dan tidak mau cari perkara. Konon katanya santet sedang merajalela, gimana kalau fans Pak Syakir tahu, terus berbuat di luar nalar? Yang pasti, aku enggak mau berkorban lagi buat laki-laki, karena aku takut nantinya ditinggalkan.
Maka, dari itu, aku ingin pertemuan kami tetaplah rahasia. Aneh memang, walau aku merasa hubungan kami ini terasa janggal, hatiku masih saja mengikuti keinginannya.
Tin ... tin ... tin ....
Sebuah klakson nyaring membuyarkan lamunanku.
"Mbak, ojeg Mbak?" tawar Mas misterius itu dari balik helm full face. Aku mendelik sekilas. Lalu kembali memainkan ponsel.
"Maaf, enggak Mas." Jawabku singkat. Aku memeriksa chat. Berharap ada tanda dari Pak Syakkr. Ke mana sih Pak Syakir? Dia bilang enggak suka orang telat, kok sampai sekarang belum nongol?
"Mbak, kok sombong?"
"Enggak Mas, saya enggak order," jawabku sekenanya. Kulirik sekilas pada pengendara yang masih kekeuh berdiam di sana.
Aneh juga, baru pertama kali aku melihat tukang ojeg pake Ninja. Zaman sekarang, orang kaya aja bingung cari kerjaan.
"Beneran Mbak, gak mau ikut aja? Gratis loh!" Si Mas maksa.
"Mas, saya ini lagi nunggu seseorang, jadi maaf, saya enggak mau ngojeg...."
"Kalau sayanya ganteng, Mbak mau gak?"
Kali ini Mas Ojeg sukses membuatku menoleh kesal tapi sejurus kemudian wajahku bersemu merah.
"Pak Syakir?" Mulutku membulat tak percaya. Aku terpana sesaat, saat lelaki itu membuka kaca helmnya, hingga aku bisa mengenali mata elangnya yang menyipit menahan tawa.
Pantas saja, aku tak mengenali suaranya yang biasa, karena teredam masker yang menutupi setengah wajahnya. Benar-benar penyamaran sempurna bagi kami yang memang gemar bersembunyi.
Melihatnya di depanku sore ini. Entah kenapa, tanpa dikomando, dadaku seketika berdebar sangat aneh, gelenyar yang perlahan merayap di d**a berubah jadi perasaan yang menggelikan.
"Hai, bengong aja! Yuk naik!" ajaknya.
Beberapa orang memperhatikan kami, tapi Pak Syakir seolah tak perduli. Dia menarik tanganku lalu memberi kode agar aku duduk tepat di belakangnya..
Aku menatap jok itu dengan perasaan tak menentu. Seumur-umur aku tak pernah dibonceng dengan posisi ini. Di mana posisi penumpang akan terlalu condong ke depan, sehingga d**a dan punggung beradu sempurna.
Agh, bagiku itu hanya berlaku bagi orang cantik dan langsing. Mana ada yang mau aku tumpangi? Karena pasti, tukang ojeg pun banyak yang menolak karena bannya pasti pecah setelah kutumpaki.
Lagian, kok aneh ... biasanya Bos pergi pakai mobil kramatnya, kok ini?
"Kenapa kok belum naik? Apa saya harus nikahi kamu dulu, biar mau?" tegur Pak Syakir. Alis hitamnya menyatu, memandang heran.
"Eh, iya Pak. Maaf...." imbuhku tersipu.
Sebenarnya, aku sangat gugup sekarang. Ini pertama kalinya, aku naik motor bersama Bos-ku sendiri. Dadaku berlonjakan seperti makan gado-gado ditambah permen nano-nano, rame rasanya.
Setelah memastikan posisiku nyaman dan sudah memenuhi standar keselamatan berlalu-lintas. Dia pun melajukan motornya, membawaku membelah jalanan Bandung yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan.
"Dar, Pegangan!" teriak Pak Syakir saat motor melaju dengan semakin cepat.
"Gak mau, Pak!" jawabku gengsi.
"Kenapa?"
"Belum mahram," balasku lagi.
"Kalau begitu, besok kita nikah!"
"Apa?" Aku melotot menatap punggung tegapnya. Oke, fix orang yang di depanku ini memang aneh.
"Canda...." Dia menengok sebentar seraya mengulum senyum.
Aku terdiam. Sungguh, aku ingin itu nyata dan bukan sekedar bercanda.
Oh wahai, pangeran yang hidungnya bagai papan seluncur Refano Syakir Bambangsyah
bisakah kamu benar-benar menikahiku?