Motor Pak Syakir berhenti di salah satu pemakaman umum. Lelaki itu dengan sopan, meminta aku turun dari motornya.
Walau bingung, karena dia tak menjelaskan untuk apa kami ke sini, tak ayal aku menuruti lelaki bermata elang tersebut. Selesai memarkirkan motor Ninja-nya, dia mengajakku untuk masuk ke area pemakaman.
"Pak, maaf, kenapa kita ke makam?"
"Ada yang ingin aku kenalkan," jawabnya enteng.
Sebenarnya, aku sedikit canggung juga bingung. Siapa yang gak bingung, sore-sore hampir maghrib begini, kita ke makam? Tentu aneh. Kalau Ibuku tahu, bisa direcokin bolak-balik nih, karena menurutnya mau maghrib itu saatnya pulang ke rumah bukan malah ke sarang demit. 'Pamali', katanya. Ingin hatiku bertanya lebih lanjut tapi saat kumelihat wajahnya yang serius, aku menahan diri untuk tak bertanya lebih jauh. Aku yakin, kami ke sini bukan untuk pesugihan.
Karena jika itu terjadi, lebih baik aku angkat kaki. Sampailah kami, di sebuah makam berkeramik pink. Pak Syakir berhenti di sana memandang lama, kemudian dia mengajakku untuk berjongkok dengan posisi saling berhadapan.
Selayaknya adab berziarah, kami pun melakukan hal yang sama. Mau siapa pun, kenal atau tidak. Bagiku, mendoakan orang yang telah tiada adalah kewajiban seorang muslim pada muslim lainnya.
Setelah berdoa, kami berdiam diri dalam hening. Kubiarkan angin sore itu memainkan rambutku yang kuikat satu. Tak enak rasanya, menegur lelaki yang sejak tadi diam di depanku.
Iseng. k****a nama yang tertulis di nisan, 'Syikha Eleanora Bambangsyah'. Nama ini sungguh tak asing, dia itu apakah masih ada hubungannya dengan ...?
"Dara, kenalkan ni Kakak-ku Mbak Nora," ujar Pak Syakir memutus rantai penasaran dalam benakku. Sontak pupil mataku membesar, tak menyangka hal yang mengejutkan keluar dari mulutnya.
"Kenapa kamu kaget? Ya, memang ini rahasia besar, dan saya harap hanya kamu yang tahu, ya?"
"I-iya Pak."
Aku langsung sadar dari keter-bengonganku. Sudah tak aneh, lelaki di depanku ini pintar menilai ekspresi orang. Tak salah, karyawannya sangat menakutinya kalau mulai menelisik.
"Tapi maaf Pak, sebelumnya, bukannya Pak Syakir itu anak tunggal ya? Paling tidak itu setahu kami," tanyaku hati-hati. Kupandang wajah Pak Syakir dengan gugup, aku takut ini akan menyinggung perasaannya.
"Ibu yang meminta kami tak mengakuinya."
"Maksudnya Pak?"
"Mba Nora itu sama kayak kamu, dia selalu minder jika dikatakan gendut. Sampai akhirnya ketika dia SMA, dia memutuskan bunuh diri karena bully-an yang membuatnya frustasi. Saya menyesal saat itu Dar, seandainya saya yang masih kecil punya kuasa lebih dan bisa membela Mbak Nora, mungkin tidak akan begini kejadiannya.... " ujar Pak Syakir memandang kosong ke arah nisan.
Aku menutup mulutku, sangat terkejut. "Ya Allah, ternyata begitu ya Pak? Semoga Mbak Nora diberikan tempat terbaik di sisi Allah, tapi kenapa Bos besar tidak ingin mengakuinya?" tanyaku tak percaya, ada hal sekejam ini di dunia.
Kupandangi nisan itu lagi, wanita yang sangat malang. "Karena gengsi, Ibu tidak mau anaknya diketahui mati karena bunuh diri, hal yang 'absurd' bukan?" Pak Syakir tersenyum miris.
Aku menatap Pak Syakir tak berkedip, membiarkan melodi sedih mengalun tanpa nada di dalam sini. Ternyata, bully memang kerap memakan korban dan sekarang itu terjadi pada orang yang sangat dicintai Pak Syakir. Buruknya, kadang kedudukan membuat seseorang lupa arti keluarga.
Aku menutup kelopak netra, merasakan kepedihan yang diam-diam menyelinap. Tentu kenyataan ini pasti berat. Sejenak aku kehilangan kata-kata, tapi tiba-tiba otakku teringat sesuatu.
"Maaf Pak, jika saya banyak bertanya ya Pak? Saya tak bermaksud mengulang kepedihan masa lalu," ucapku setelah lama hening.
"Enggak apa-apa, toh suatu saat semua akan terbuka, kan? Kita hanya menunggu waktu," ucapnya berat.
"Tapi ... boleh saya tanya satu lagi?"
"Sure, go ahead ...."
Aku menarik nafas dalam, mencoba mengumpulkan pundi kekuatan.
"Jika boleh tahu... apakah ini juga alasan yang sebenarnya, kenapa Bapak membela saya? Dan memperhatikan saya?"
Pak Syakir terlihat terkejut atas pertanyaanku, tapi sejurus kemudian senyum indahnya kembali terbit.
"Bisa jadi, bisa enggak. Saya hanya tahu, petuah yang mengatakan, 'jika ada perempuan yang membuatmu tertawa tanpa alasan saat bersamanya, maka nikahilah dia' dan saya temukan hal itu di kamu, Dar ...."
Mendengar perkataannya yang kelewat romantis. Aku tak bisa mengalihkan mata dari kedua netranya yang membuatku terhipnotis. Kumencari jejak canda dalam wajahnya, tapi itu tak ada.
Apakah dia serius?
Belum sempat aku meminta penjelasan lagi, lelaki itu sudah berdiri.
"Pulang yuk? Lebih baik kita pergi dari sini sebelum adzan maghrib, ayo saya antar kamu pulang!" ajak Pak Syakir tiba-tiba.
"Loh, sekarang Pak?"
"Apa, mau nanti? Sampai ada yang nyolek kamu buat menetap di sini?" seringainya jahil, lalu mendahuluiku berjalan ke arah parkiran. Sadar, kalau hawa di sekelilingku tiba-tiba berubah dingin. Menyeramkan.
Tanpa menunggu lagi, aku langsung berlari mengejarnya.
"Pak! Tunggu Pak!" kejarku linglung. Ah, lama-lama aku jadi ikutan gila juga, kalau begini.
Sepanjang perjalanan menuju kosanku. Aku hanya membisu di belakang punggungnya, serasa lidahku mendadak kelu mendengar ucapannya yang terlampau manis. Ribuan pertanyaan di benak tentang hubungan ini, terasa memusingkan.
Sebenarnya, aku ini siapa-nya?
Vero gimana? Bukannya dia tunangan Pak Syakir? Lalu arti hubungan kami, itu apa?
Terus saja aku berdialog dengan diri, sampai tanpa sadar beberapa menit lagi akan sampai di area kosan.
"Kamu mikirin, apa sih? Kok diam terus?" Pak Syakir memperlambat kecepatan motornya.
"Pak, nanti saya berhenti di ujung gang aja ya?" pintaku pelan.
"Kenapa?"
"Saya takut yang lain, salah paham Pak, apalagi jika Mbak Vero tahu ...." jawabku menahan gemuruh dalam d**a yang melanda tiba-tiba.
"Kamu masih meragukan penawaran saya?"
Aku menggigit bibirku, lalu memandang spion yang memantulkan bayangan Pak Syakir.
Dash! Tanpa sengaja dia pun memandang fokus yang sama. Netra kami bersitatap via perantara kaca.
"Saya serius Dara, Vero bukan siapa-siapa, saya tidak ingin bertunangan dengannya. Saya hanya mau kamu...."
Honey-bunny-sweety-teh Poci! Aku melongo tak percaya.
"Ma-maksud Bapak?"
"Jadilah istri saya ...."
Aku terdiam gagu.
Entah, aku yang tersihir atau aku memang mulai merasakan hawa bahagia yang meraja kala berada di dekatnya, sehingga aku mematung dengan mode mulut terbuka.
What?
(****)
Sepertinya ada yang salah denganku. Semalaman aku enggak bisa tidur, benakku terus saja berselancar di dunia khayal. Dilamar di atas motor, memang enggak elit tapi bagiku cukup membuat mood berantakan dari malam hingga pagi ini.
Aku mencoba memfokuskan kepalaku pada deretan angka di laptop, sayang, bukannya kerja, aku malah ngantuk. Efek kurang tidur emang berbahaya. Apalagi kalau itu, dikarenakan mikirin si Bos yang sekarang kembali ke bentuk asal, yaitu memasang muka datar.
Heran banget, kok bisa dia bertindak seolah kemarin tak terjadi apa-apa?Kok bisa dia sebegitu tenangnya, setelah membuat hatiku jungkir-balik? Apa dia gak susah tidur juga? Ini gak adil!
Aku menolehkan kepalaku ke samping, ke arah ruangan 3x4 meter yang berada sekitar lima meter dariku. Tatapanku tak lepas dari wajah Pak Syakir yang fokus bekerja di dalam sana. Lama, aku memandangnya diam-diam tapi kepala itu sama sekali tak mendongak.
Kecewa.
Pandanganku beralih kembali pada kotak makan siang yang diberikan Mang Ojo. Dia mengirim kotak yang berisi menu sehat ini lagi, tapi janjinya untuk makan siang bersama, entah kapan terwujud.
Dia hanya sibuk di ruangannya, tanpa mau tahu bahwa aku menunggunya.
Ih, kenapa sih aku? Semalam aja, gengsi. Sekarang? Agh, baper aja terus sampai kurus!
"Dar, kenapa lo sendirian di sini? Lo sakit?" tanya Erin yang berjalan ke mejaku. Dia baru saja kembali dari kantin bareng Rasyid.
"Enggak, cuman gue ngantuk!" kilahku sambil melipat tangan di atas meja.
"Kenapa kok gak dimakan? Ini dari penggemar lo kan?" Rasyid tiba-tiba mengambil kotak pink di depanku, lalu menaruhnya kembali.
Aku menggeleng lemah. "Nanti aja ...."
Aku mencoba menyembunyikan perasaan sejujurnya pada Rasyid dan Erin. Jujur, kadang aku merasa, perasaanku hanya dipermainkan oleh Pak Syakir. Dia tidak serius meminta untuk menikah denganku.
'Atau dia hanya ingin bersikap profesional, Dar....'
Lagi. Aku bertarung dengan pikiranku sendiri. Bagaimana pun, jika dia tidak serius, tidak mungkin dia akan berbagi kisah rahasia Kakaknya denganku. Karena menurut film film romantis, laki-laki hanya akan bercerita pada seseorang yang membuatnya nyaman.
"Kenapa sih? Lo beneran sakit? Sini gue periksa dahinya!"
"Enggak, apa-apa." Aku menepis tangan Rasyid saat dia mau menyentuh dahiku.
"Lalu, lo kenapa? Ayo dong cerita!" Rasyid kini duduk di sebelahku. Erin menepuk pundaknya, mengusir lelaki itu.
"Sana, lo jangan deket-deket! Entar admirer-nya marah!"
"Bodo, lagian cepat atau lambat, Dara bakal jadi cewek gue, iya kan Dar?" Rasyid mengerlingkan matanya genit. Aku hanya melirik jengah karena kelakuan sahabatku itu.
"Eheum, apa? Pacar?"
Suara ngebass dengan nada setengah terkejut, membuat kami bertiga menolehkan kepala.
Pak Syakir? Sejak kapan dia berapa di sana?
Kami langsung berdiri. Tatapan Pak Syakir tepat menatap netraku. Wajah yang kaku dan jakun yang bergerak pelan, menandakan dia sedang menahan sesuatu gejolak yang perlahan ingin keluar.
Berbeda denganku yang syok, karena hatiku yang mendadak mencelos tanpa sebab. Rasyid malah tertawa enggak jelas dan Erin mulai cari perhatian.
"Siapa? Siapa yang pacaran?" tanya Pak Syakir menegaskan. Pandangannya satu-persatu menyapu wajah kami.
Aku menelan ludah, sebagai HRD yang baik tentu kami tahu peraturan perusahaan ini. Salah satunya adalah tidak boleh ada affair. Lalu aku dan dia....
"Enggak ada Pak, enggak ada yang pacaran kok, bener! Iya kan Syid?" Erin menyenggol lengan Rasyid yang masih terlihat santai.
"Iya Pak, saya hanya bercanda," ujar Rasyid.
"Baguslah ...."
Pak Syakir tersenyum tipis, kemudian tatapan matanya berhenti pada sosokku. Lelaki ini sungguh bermuka dua, iya sih... hubungan kami belum jelas pacaran atau tidaknya. Namun, lamaran kemarin? Itu apa?
"Dara!" panggilnya tegas.
"Iya Pak," jawabku sopan. Entah kenapa, aku takut dia memarahiku atas sikap Rasyid.
"Enggak, saya ngetes aja barangkali kamu lupa kalau di sini ada saya ...."
Aku melongo. Apa sih maksudnya?
Usai mengatakan itu, Pak Syakir pamit untuk kembali ke ruangannya. Aku menatap pria itu kesal dan gondok. Bukannya dia yang lupa kalau aku di sini?
Menyebalkan.
Deert! Bersamaan dengan ditutupnya pintu ruangan Pak Syakir, sebuah pop up chat masuk ke ponselku.
[Datanglah ke atap, saya menunggu untuk makan siang dan tolong lain kali jangan terlalu baik sama lelaki, saya gak suka.]
Memandang deretan huruf di ponsel, rasanya aku ingin berteriak dan menari gaya kepiting.
Ya Allah Pak, segitunya mau ngajak makan aja pake drama? Dasar aneh.
Menyadari Pak Syakir cemburu, kok aku jadi ingin senyum-senyum terus ya....
Biasanya aku akan sebal jika dulu Dion bersifat posesif seperti ini. Namun, kali ini kok rasanya beda?
Sepertinya ada yang salah denganku, apa perlu kujedotkan kepala ke tiang? Atau salto berulang?