Bab Tujuh. Ultimatum Bos

1198 Kata
Seumur-umur, baru kali ini aku merasa sangat bersemangat untuk makan siang. Benar kata pepatah, bukan perkara kamu makan dengan apa, tapi dengan siapa kamu makan? Dan itu aku rasakan sekarang. Aku menelan air ludahku berulang kali, melihat menu makan siang kali ini. Telur dadar (putihnya saja), salad buah, sebotol s**u kedelai+yoghurt dan dua b*******a ayam panggang terhidang di depanku. Beberapa kali aku mengerjapkan mata, memastikan yang kulihat ini nyata. Pak Syakir memang koki handal. Dia bilang dia sendiri yang menyiapkannya, karena makan di atap gedung kantor bersamaku sudah direncanakan olehnya sejak lama. Apa mungkin, dia sudah tertarik padaku sejak dulu kala? Agh, khayalanmu saja chubby! "Kok bengong? Kamu gak lapar?" tegur Pak Syakir saat kami sudah duduk berhadapan di atas bangku panjang. Aku tersenyum gugup. Lalu mengangguk sungkan, bagaimana pun aku masih canggung. "Ayo, makan Dar!" ujar Pak Syakir lagi sambil memulai suapan pertamanya. "Nanti keburu ada yang datang, atau mau saya suapin?" Dia menunjukan senyum ramah, lalu memberi kode agar aku segera makan. "Eh, enggak Pak," tolakku salah tingkah. Bisa bahaya kalau dia menyuapi aku. Tanganku refleks mengambil salad. Dipikir-pikir betul juga, semakin lama di sini orang lain pasti akan curiga. Dengan kikuk aku menyuapkan salad ke dalam mulutku. Wow! Enak banget salad buatan Pak Syakir, mana ada jelly-nya gitu. Bikin ketagihan banget deh. Belum lagi saus salad dan potongan buah segar yang kini berpadu di mulutku, eum ... yummy! Rasanya bikin jiwaku berbunga, jangan-jangan ada santetnya. Aku membandingkan menuku dan menu Pak Syakir. Hampir tidak ada yang berbeda. Aku makan salad, dia juga. Bahkan, porsinya lebih sedikit. Padahal secara badan, dia kan enggak masalah yang masalah adalah perbuatannya yang kadang membuatku olahraga jantung. Seperti sekarang, dia bilang atap adalah tempat persembunyian kami. Kukira itu benar adanya, jarang ada orang datang ke atap gedung. Selain anginnya besar, di sini hanya ada area lapang dan keheningan. Untunglah, ada bangku panjang tempat kami bisa duduk dan menikmati makan siang hari ini. Walau agak panas tapi enggak masalah, karena melihat lelaki di depanku sudah sangat menyejukan. Sebenarnya, aku merasa lucu sekarang. Bagiku, aksi kami untuk tidak ketahuan yang lain, terbilang lebay. Untuk makan saja harus nyari tempat aman. Padahal, hubungan saja belum jelas, karena aku masih belum menjawab pertanyaan Pak Syakir semalam. Jual mahal? Tidak. Bukan itu. Namun, sebagai wanita dengan taraf keminderan di atas rata-rata, aku hanya ingin hati-hati dalam memulai suatu hubungan. Lagipula, Pak Syakir belum bilang cinta. Jadi, aku takut ini hanya rasa kasian yang menyamar menjadi rasa saling membutuhkan. Karena kami sama-sama merasa dijebak oleh kondisi. Dia yang tak setuju Ibunya menikah dan aku yang ditinggal nikah oleh pria yang sekarang menjadi ayahnya. Untuk itu .... Sementara, lupakanlah status. Yang penting kami merasa nyaman dan lebih memahami satu sama lain. "Pak, kenapa menu saya lebih banyak?" tanyaku seraya menempelkan sendok di bibir. Heran. Pak Syakir menyunggingkan senyum miring, kemudian menaruh kotak makan siangnya. "Karena, itu sebagai pengganti nasi buat kamu. Kan, khawatir perut kamu belum terbiasa, beberapa hari ini saya lihat kamu lemes soalnya. Waktu saya dulu gendut, saya juga merasa tersiksa saat dengan ekstrim Ibu minta saya diet. Maka dari itu, saya ingin melakukannya perlahan, agar membiasakan dulu, perut kamu Dara." Mendengar penjelasan Pak Syakir, kunyahanku spontan berhenti. Mataku melotot sempurna, kemudian lidahku menjulur ke luar. "Bapak, pernah gendut juga?" tanyaku tak percaya. Bagaimana mungkin si pemilik d**a bidang dengan perut mirip roti sobek ini, sebelumnya pernah gendut? Mustahil. Sungguh! Lelaki ini, memang penuh kejutan. "Kenapa kok kamu kaget banget? Kamu kira, almarhumah Mbak Nora saja yang gendut di keluarga kami?" imbuhnya santai. Netra Pak Syakir menatap tenang ke arahku, membuatku bergerak salah tingkah. "Pak? Maaf jika pertanyaan sa--" "Ya, saya waktu kecil gendut banget. Bahkan saya juga kena bully, saat itu saya merasa kesepian. Karena itu, saya tidak ingin kamu merasa yang sama. Mulai dari sekarang, saya akan temani perjuangan kamu untuk sehat ya? Bukan untuk kurus, oke? Jadi, ayo kita olahraga bareng," tegasnya. "Apa Pak? O-olahraga bareng?" pekikku terkejut. "Iya, mulai hari minggu nanti setelah acara ultah saya ya, kita akan mulai program olahraga bareng. Kamu bersedia kan?" Mulutku menganga lebar. Apa tadi katanya? Hari minggu nanti? Program olahraga? Olala! Honey-bunny-sweety-permen yupi! Kebayang di pelupuk mataku. Nantinya, dia akan memantau berat badanku secara berkala. Padahal aku sengaja menghindari itu, harapanku kalau body udah kaya gitar Spanyol barulah berani mengukur kembali. 'Ini tidak mungkin!' batinku berteriak. "Pak, apa gak salah? Bukannya Bapak banyak urusan?" tanyaku bernegosiasi. Pak Syakir mengelap mulutnya dengan gaya jantan. "Urusan saya, hanya kamu," jawabnya simpel tapi sukses bikin aku membeku di tempat. Baiklah. Kuputuskan menghilang saja kalau begitu. (***) "Jadi, besok siapa di antara kalian yang bersedia ditugaskan ke Jogja menemani Pak Syakir?" Pertanyaan Pak Yusuf membuat kami refleks saling melempar pandangan. Dari mimik wajah rekan-rekanku, aku bisa menebak kalau semua bersedia, hanya mereka malu mengajukan diri. Semua karena, Vero yang memandangi kami satu-persatu. Wanita rubah itu juga ikut dalam rombongan dinas, hanya dia enggak akan lama di sana. Kabarnya begitu. Aku melirik Pak Syakir yang berdiri tegap di samping Pak Yusuf. Lelaki itu, benar-benar pintar berakting. Sesekali netra kami bersirobok, tapi lalu kami pura-pura kembali menatap ke arah lain. Sebenarnya, jika aku boleh jujur sebelumnya Pak Syakir sudah memintaku mengajukan diri, tapi aku ini pemalu dan enggak pede. Karena sebelumnya, beberapa kali ada acara, aku pasti tidak akan terpilih. Selain itu, aku tidak ingin yang lain curiga. Padahal, jauh di dalam hatiku punya harapan yang sama, pergi ke luar provinsi sambil jalan-jalan sama Bos ganteng yang akhir minggu ini ulang tahun, tentu akan sangat menyenangkan. Semua karyawan tahu, Pak Syakir orangnya royal walau sikap sok mengatur dan Bossy-nya yang kadang kumat bikin nyebelin juga. Tapi, kalau masalah 'jajan' lelaki itu enggak pernah perhitungan, hal itu yang bikin bawahannya mentoleransi sikap songongnya. "Bagaimana kalau saya aja Pak?" "Jangan Pak, saya aja! Lagi pula, saya cukup paham masalah pemeriksaan DISC atau test psiko bagi calon karyawan cabang...." Soraya memberanikan diri sebelum Erin mengambil posisi. Pak Syakir dan Pak Yusuf berdiskusi lama. Lalu, Pak Syakir lagi-lagi mengarahkan pandangannya kepadaku. Seakan memberi kode, bahwa aku harus mengajukan diri. "Dara, kamu tidak bersedia ikut ke Jogja? Bukannya anak cabang Jogja selain Soraya kamu yang pegang? Karena ketika saya lihat, Soraya harus ke Jepara tiga hari lagi, kemungkinan dia akan kelelahan.... " Pak Syakir menyampaikan analisisnya. "Tapi, Pak, saya gak masalah kok, saya cukup kuat kalau harus dinas dua kali .... " "Tidak Soraya, berikan kesempatan pada yang lain. Gimana Dara, kamu mau?" timpal Pak Yusuf sang wakil Boss besar penuh penekanan. Aku tertegun bingung, kedua pria di hadapanku benar juga. Namun, bagaimana pun Soraya pasti sangat ingin berjalan bersama dengan Pak Syakir di luar jam kerja. Aduh, ada apa denganku? Masa genting begini, masih saja mikirin yang lain? "Dara, kamu gak mau secara sukarela membantu perusahaan ini?" tuduh Pak Yusuf setengah kesal karena melihat aku diam. "Eh, bukan begitu Pak, saya mau tapi masalahnya saya ...." "Oke, Dara saja kalau begitu dan satu lagi Roy orang finance yang mewakili. Pak Yusuf, sepertinya kita sudahi rapat kali ini. Saya permisi!" Tutup Pak Syakir semena-mena membuatku merengut. Tanpa menatapku, pria itu melangkah lurus ke arah ruangannya. Selalu seperti ini. Pak Syakir, selalu memutuskan tanpa berkompromi. Ini sifat jeleknya yang lain. Seorang diktator ulung. Ish! Sebal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN