Selama aku hidup, aku hanya pernah berada di tiga kota. Pertama kota kelahiranku Bandung, Jakarta saat karyawisata dan ketiga adalah kota kelahiran Kakekku di Bogor. Perjalanan ke Jogja tentu menjadi ajang menambah pengalaman baru.
Jogja, kota terpelajar dengan banyak situs bersejarah. Aku tak percaya, bahwa akhirnya aku bisa menginjakan kaki di sini. Meski sepanjang perjalanan dari bandara Adi Sutjipto, aku harus menyaksikan Vero terus menggoda Pak Syakir. Sementara, aku dan Roy hanya jadi kambing conge di jok paling belakang.
Salah. Bukan. Hanya aku yang jadi kambing conge di sini karena Roy sejak tadi hanya tidur.
"Pak Syakir, ingat gak dulu, kita suka main ke daerah sekitara Keraton? Bapak yang ngajak saya duluan, ingat?" Vero berteriak girang ketika kami melintasi komplek keraton.
Pak Syakir yang menyetir hanya mengangguk sekilas, matanya mengalihkan sepasang netranya ke spion tengah.
Dia memandangku.
"Iya, tentu saja. Dulu kondisi rumah Eyang kita berdekatan karena saya lebih banyak dibesarkan oleh Eyang, jadi wajar kalau saya mencari teman," jelasnya datar.
Aku mendengkus pelan.
Jadi, untuk ini Pak Syakir memaksaku mengikutinya? Untuk menyombongkan diri kalau banyak yang mengejarnya? Bahwa, aku rugi kalau tak menerima pinangannya? Dih, pamer aja terus, sampai timbangan geser ke kiri.
Aku menghindari tatapan matanya, lalu melemparkan pandangan ke arah luar. Kuhembuskan napas perlahan, mencoba meredam panas yang menyelinap tanpa permisi.
Vero terus mengajak Pak Syakir berbicara, tapi lelaki itu hanya menimpali sesekali. Aku pun terkadang diajak ngobrol, biar enggak mati karena bosan. Namun, jujur suasana hatiku sedang buruk. Maaf, lebih baik aku diam.
Sampailah kami di tempat rumah Eyangnya Pak Syakir. Selama dinas, kami akan menginap di sini. Walau mobil dan hotel disiapkan perusahaan, dia bilang untuk penginapan dia memilih bernostalgia di rumah Eyang.
Rumah berdesain modern-tradisional ini begitu asri, dengan halaman depan yang luas dan ditumbuhi berbagai pepohonan nan rindang. Tidak salah kalau Pak Syakir meminta kami tidak menyewa hotel, karena ini sih enak banget buat melepas penat.
"Lho! Mas Syakir, kok ndak ngasih kabar mau kemari?" tanya pria paruh baya bergegas menyongsong kami.
"Iya, biar Pak Darman kaget ...." Dengan ramah Pak Syakir mencium punggung tangan pria itu. Pria itu sopan sekali.
"Owalah, ayo masuk!" Pak Darman tersenyum lebar. Mereka asyik bercerita tentang kondisi rumah.
Konon, rumah ini sudah lama kosong. Semenjak Eyang Pak Syakir meninggal, hanya Pak Darman yang menjaga rumah ini. Vero yang sejak kecil sudah akrab dengan rumah ini tampak tidak canggung dengan Pak Darman. Suaranya berkicau terus sepanjang masuk rumah, hingga kami selesai berbenah.
"Jadi, kita akan membagi tim tinjauan ya? Saya dan Dara ke arah Malioboro lalu Vero dan Roy ke Sleman, saya sudah menghubungi Pak Yusuf untuk mengirim satu mobil lagi. Kita akan bertemu petang di sini, lalu menyiapkan persentasi." Pengumuman Pak Syakir saat kami kembali berkumpul.
"Loh, kenapa tidak kamu dengan Roy Pak?" Vero menyela tak terima.
"Karena, saya butuh Dara," jawab Pak Syakir lalu mengamit lenganku.
"Ayo Dara!" ajaknya.
(***)
Waktu sudah semakin sore. Rasanya otakku pun sudah sangat penat. Usai melakukan tinjauan SDM di salah satu anak perusahaan daerah Malioboro dan terjebak selama empat jam di sana.
Pak Syakir memutuskan untuk mengajakku ke Alun-Alun Kidul. Mungkin karena weekday, tempat itu enggak begitu ramai. Hanya ada beberapa wisatawan dan anak-anak muda Jogja yang bersenda gurau dan nongkrong.
Pak Syakir, membawaku ke gerobak jajanan tradisional. Dia mengenalkanku, dengan jajanan khas di sana. Ada cenil, tiwul dan gemblong. Kami cukup lama berputar-putar di kawasan kuliner. Aku memang senang melihat-lihat sekeliling yang ramai, sementara Pak Syakir hanya berjalan di sampingku dengan sesekali menjelaskan hal baru padaku.
Kami berdua, seperti orang yang sedang kasmaran saja. Tibalah kami pada dua pohon beringin legendaris.
Pak Syakir menjelaskan, menurut mitos, bila bisa melewati dua pohon beringin itu dengan menutup mata maka keinginannya akan terkabul, karena itu tandanya hatinya bersih.
Ritual Masangin. Kalau enggak salah namanya. Sebagai seorang muslim, tentu kami antara percaya dan tidak. Namanya juga mitos. Namun, tetap saja banyak yang penasaran mencobanya.
"Pak, kalau saya coba gimana?" Tunjukku bersemangat pada dua pohon itu.
"Kamu serius Dara?"
"Tenang Pak, saya hanya ingin melatih konsentrasi, kan Bapak tahu saya lemot.... " ujarku terkekeh geli.
"Baiklah, saya akan membantumu."
"Bapak juga mau nyoba?"
"Mungkin."
Pak Syakir tersenyum lembut. Dengan cekatan, dia menggunakan sapu tangan andalannya untuk menutup mataku. Harum mint menyeruak kala badannya begitu dekat berdiri di belakangku. Jantungku tentu saja bertalu, tapi sebisa mungkin aku membuatnya tak tahu itu.
Pak Syakir juga bilang, dia akan menutup matanya dan dia akan berjalan di sampingku.
"Kamu sudah siap?"
"Iya, Pak."
Setelah kami sudah cukup yakin. Kami berjalan masing-masing.
Aku melangkah, mengikuti naluri dan intuisiku. Aku tahu ini mitos dan doaku hanya kepada Allah saja yang satu. Aku mengikuti kata hati untuk melangkah, berharap doaku nyata. Sekali pun, mitos itu benar. Itu hanya kebetulan, meski ada secercah harap yang tertinggal di sana.
Secercah harap yang terbungkus doa agar dikabulkan Yang Maha Kuasa. Doa tentang dia, yang kini berada bersamaku.
Setelah kurasa, aku cukup melangkah. Aku memutuskan berhenti. Lalu membuka penutup mataku. Namun, aku kecewa karena badanku malah menjauhi target.
Sesak.
Mendadak meraja di dalam d**a.
"Sudah kuduga, aku tak mungkin bersamanya," gumamku pahit.
Entah kenapa aku sedih, meski kutahu itu mitos. Namun, kenapa aku ingin berhasil?
"Dara! Kok kamu sedih?" Sebuah panggilan menyadarkanku. Dialah Pak Syakir, dia ternyata berhasil. Lelaki itu berhasil melewatinya.
Pak Syakir berjalan menghampiriku.
"Sa-saya gak berhasil Pak, saya gagal," ucapku dengan bibir bergetar.
"Sudahlah, ini kan hanya mitos, oke? Saya juga yang berhasil gak terlalu berharap," imbuh Pak Syakir menghiburku.
"Memangnya, doa Pak Syakir apa?" tanyaku menatap manik mata hitamnya dalam.
"Menikah," ujarnya santai. Seolah itu ucapan ringan tanpa jejak.
Aku terhentak. Bukannya aku bahagia, mendengar itu. Aku malah menangis enggak jelas.
"Hey kamu kenapa? Udah dong...."
"Enggak mau, ulang lagi!" Aku terduduk lemas di atas rerumputan. Pak Syakir ikut berjongkok dengan pandangan mata heran.
Jika tujuan doa kami sama. Kenapa hasilnya berbeda? Mungkin bagi Pak Syakir ini hanya lolucon untuk bermain-main sekedar menuntaskan rasa penasaran. Namun, jujur bagiku berbeda. Ini adalah doa tulus yang kupanjatkan agar aku bisa bersamanya, tanpa penghalang. Jika harapannya menikah akhirnya berhasil, kenapa harapanku bersama dengannya gagal? Tidak adil.
"Pak, doa Bapak menikah dengan siapa?" tanyaku parau.
Pak Syakir kaget, matanya menatapku lama.
"Ada saja. Pokoknya rahasia."
"Ayo dong Pak, siapa? Masa enggak spesifik?"
"Rahasia Dara, masa doa dibilang-bilang? Udah, itu kan hanya mitos. Emangnya doa kamu apa?" balasnya jahil.
Aku terdiam gagu, sejurus kemudian aku belingsatan enggak jelas.
"Ih, udahlah jangan dibahas! Ya, udah kalau gitu, kita pulang sekarang!" ujarku seraya berdiri kesal. Pak Syakir melongo melihat tingkahku, mungkin dia bingung ekspresiku bisa berubah cepat. Seandainya dia tahu, ini bukan perkara mitos.
"Dar, kamu lagi PMS ya?" tanyanya bingung. Dia langsung mengikutiku.
Aku hanya melengos, tak menjawab. Biar dia tahu aku lagi baper. Padahal kan hanya mitos, sebenarnya aku ini kenapa? Aneh.
Astaghfirullah. Istighfar Dara.
Sepertinya gara-gara kebanyakan makan gemblong. Udah tahu lagi diet, suka khilaf aja.
"Dara!" Suara Pak Syakir memanggil.
"Iya Pak?" Aku langsung menoleh padanya.
"Doa saya adalah menikah dengan kamu," kata Pak Syakir seraya tersenyum menggoda. Bikin aku gak yakin dia serius atau bercanda.
Ah, sudahlah!