Sepanjang perjalanan ke arah rumah Eyangnya Pak Syakir. Aku terus merutuki diriku sendiri. Kejadian tadi terputar terus dalam benakku, bagai kaset kusut yang terus berulang.
Bagaimana aku bisa berbicara ngasal di depan Pak Syakir?
Kenapa aku tidak jujur saja?
Kenapa harus ucapan itu yang keluar?
Salahnya, karena ucapan itu juga, aku harus menghadapi hawa tak mengenakan sampai sekarang.
Masih kuingat wajah Pak Syakir tadi di Alun-Alun yang sekilas kecewa, kala kubilang itu hanya sebuah jawaban tanpa isi.
Jujur, entah kenapa aku bisa merasakan lelaki itu berharap lebih, karena sebenarnya itu rasa yang sama denganku. Sayang, mungkin benar aku ini wanita yang takut mengambil resiko dan terlalu takut disakiti karena harapan yang tak mungkin. Hingga, aku berani berbuat seperti ini pada lelaki yang tulus kepadaku seperti Pak Syakir.
"Jadi, beneran itu bukan doa yang sama dengan saya?" tanya Pak Syakir saat aku terus mengelak. Kulihat binar harapan di manik netra pria itu.
"Benar Pak, maksudnya saya tadi, saya juga sama melakukan aktivitas berdoa seperti Bapak, tapi ya ... isinya beda," kilahku beralibi. Sengaja memakai bahasa formal, agar kesannya aku serius.
"Jadi, kamu tidak punya harapan yang sama dengan saya?"
"Dara ... belum tahu Pak," jawabku pelan nyaris tenggelam.
Pak Syakir terdiam sejenak. Sepasang bola mata hitamnya menatapku tak berkedip.
Merasa tak sanggup memandang wajahnya. Aku hanya bisa menundukan kepala, menghindari tatapannya karena aku takut dia dapat membaca pikiran lewat mataku.
"Oh, baiklah. Kita pulang!" ujarnya setelah terdiam beberapa saat.
Sebenarnya, melihat Pak Syakir kecewa. Ingin sekali aku bilang bahwa yang tadi benar adanya. Hanya, aku tak boleh begitu saja menyampaikan itu.
Ah, aku tak ingin dia tahu perasaanku. Tidak secepat ini.
Aku bodoh? Bisa jadi.
Aku minder? Iya, aku merasa tak pantas. Terlebih saat kutahu, Ibunya tak suka sama orang gendut.
Aku ragu? Big yes!
Pasca itu. Benar saja, wajah Pak Syakir terlihat sangat berbeda. Dia lebih pendiam dari biasanya bahkan ketika sudah sampai di halaman rumah Eyang.
Lelaki itu, menyuruhku untuk masuk lebih dulu karena ada yang harus dia lakukan.
"Pak, bahan persentasinya boleh saya aja yang bawa?" tawarku kala kulihat pria itu kerepotan membawa berkas yang banyak.
"Tidak usah Dara, kamu masuk aja!"
"Pak, saya bantu ya? Ini berat Pak," ujarku 'kekeuh'.
"Enggak, masuklah! Ini perintah!"
Mendengar perkataannya yang ketus. Hatiku terasa tertusuk sembilu kala melihat Pak Syakir menolak bantuanku.
Kenapa dia jadi gini? Kok aku jadi merasa sedih? Apa karena hal tadi?
Aku mematung bingung api Pak Syakir tetap mendiamkanku. Setelah kusadar sia-sia karena dia bersikukuh melakukannya sendiri, aku pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan tak menentu. Jujur, aku tidak suka dia menjauh.
(***)
Pak Syakir berbeda. Dia menjadi sangat kaku, dari selama dua hari kami di Jogja sampai kami kembali ke Bandung, dia seakan menghindariku.
Ada apa gerangan? Apakah dia sengaja?
Pernah sekali saat rapat, tanpa sengaja kumelihat dia yang mencuri pandang. Namun, setelah itu dia berlaga tak terjadi apa-apa.
Datar.
Aku kembali hampa. Tak ada lagi sapa 'chubby' darinya. Sekali pun kondisi memaksa kami bersama, tapi kulihat tak ada lagi panggilannya yang terkesan mengatur.
Jangan bilang, aku rindu diatur olehnya? Ah, entahlah. Melihat dia yang berubah layaknya Boss yang bersikap dingin pada bawahannya, membuat dadaku berasa kosong.
Okelah, ini profesional tapi aku tahu dia tak seperti ini. Membingungkan.
Hari ini, tepat empat hari dia berbeda dan aku mulai uring-uringan. Tapi, saat kuberanikan bertanya. Kenapa dia berubah? Dan kenapa seperti menghindar? Dia hanya menyunggingkan senyum samar lalu berlalu begitu saja.
Ah, lama-lama aku bisa jadi gila karenanya.
Besok adalah hari syukuran ulang tahunnya, padahal aku sudah menghabiskan setengah tabunganku untuk membeli dasi. Namun, kenapa malah hubungan ini jadi memburuk?
Uniknya, walau dia terkesan menjauh. Perhatiannya yang diam-diam membuatku sangat merasa bersalah. Kerap kali kutemukan kotak makan berisi salad setiap jam makan siang sudah nangkring di meja kerjaku.
Seandainya dia tahu, bukan kotak salad yang kuinginkan tapi dia. Dia yang kuinginkan menerima maafku.
'Cih! Dara? Maaf untuk apa? Kamu tidak salah kok.'
'Lalu, kenapa dia begitu?'
'Mungkin dia sudah lelah denganmu!'
Aku menggelengkan kepala kuat, kala dialog batinku mengacaukan dan membuat semua terlihat rumit. Seperti sekarang, aku kembali bisa merasakan makan siang yang enak dengan salad sayur buatannya.
"Dar, gimana persiapan lo udah mantap belum ke ulang tahun Pak Syakir besok?" Senggolan tangan Erin sukses membuat lamunanku ambyar.
"Eh, udah." Jawabku sambil menyuapkan lagi irisan tomat ke dalam mulutku.
Seperti biasanya, kami berempat suka berkumpul di meja Soraya saat jam makan siang tiba. Kebetulan hari ini, ketiga sahabatku itu bawa bekal juga.
"Katanya, di ultah Pak Bos besok, Dion dan Bos besar pulang dari honeymoon. Lo beneran mau hadir? Lo bakal kuat liat mereka?" celetuk Rasyid. Mereka semua memandang khawatir ke arahku.
Aku menggedikan bahu cuek. "Enggaklah, gak ngaruh." Jawabku malas. Toh bukan Dion yang ada di pikiranku sekarang.
"Besok, gue udah nyiapin baju buat datang ke syukuran ulang tahun Pak Syakir dong ... pokoknya, gue bakal kelihatan cantik, liat aja deh nanti! Kalian akan terpesona!" ujar Erin bangga.
"Dih, cantikan gue ke mana-mana kali, lo bakal ngiler dan gak berkedip!" Soraya menepuk pundaknya sombong.
"Kalau lo Dar, lo udah nyiapin baju?" tanya Rasyid tiba-tiba. Mungkin lelaki itu penasaran karena sejak tadi aku diam saja.
"Udah, alhamdullilah. Akhirnya aku sudah dapat bajunya," jawabku seraya tersenyum.
"Aneh deh, sejak kemarin lo banyak ngelamun. Ada masalah ya? Lo, masih mikirin siapa yang ngirim makanan tiap hari itu ya? Apa perlu gue cari tahu, Dar?" tanya Soraya perhatian. Diikuti pandangan menyelidik yang lainnya.
Mulutku menganga bingung, sambil menimbulkan suara gugup. Benar juga, mereka kan tidak tahu tentang apa yang terjadi antara aku dan Pak Syakir, pantas jika melihat aku aneh.
"Eng-enggak perlu dicari tahu, gue udah terbiasa kok. Iya beneran dan lagi pula gue udah nya--"
"Owy, itu Pak Syakir kan? Kok sama Bu Vero sih? Jalan berdua lagi, katanya enggak setuju tunangan!" Suara teriakan Oliv yang tiba-tiba di dekat jendela membuat perkataanku berhenti.
Sontak sebagai bawahan yang memiliki tingkat 'kepo' stadium maksimal, kami langsung mendekati Oliv. Si BiGos (Biang Gosip) itu selalu tahu kabar ter-hot.
"Mana?"
"Masa sih?"
Aku dan rekan-rekanku berdesakan agar bisa melihat ke arah yang ditunjuk Oliv.
Pupil mataku seketika membesar, dadaku memanas dan tanganku berkeringat. Aku tak percaya dengan yang kulihat dengan kedua mataku.
Kedua orang itu sedang tertawa lebar di area parkir di bawah sana. Seolah Pak Syakir dan Vero bahagia bersama, mereka terlihat mengobrol dan bersenda gurau. Semua pemandangan yang memanaskan mata itu bisa terlihat jelas dari jendela lantai tempat kami berada.
"Ini sih gak adil ya? Mereka bilang, gak boleh affair di kantor! Tapi, liat mereka sekarang udah kaya ABG lagi kasmaran. Iya dah, kita semua ngontrak kali!" Fandi bersungut-sungut memanaskan suasana.
"Hey, jangan suudzon dulu kali aja mereka baru pulang meeting! Udah ah, balik lagi ke meja!" timpal Rasyid membuka logika.
"Mana ada pulang meeting, jalannya udah kaya siput? Ini mah namanya pacaran di kantor! Gak bisa didiemin! Iya kan Dar?"
'Eh, kok ke aku?'
Merasa dipanggil aku menatap Rayi dan Fandi kaget. Memang mereka berdua itu terkenal sewot kalau perkara si Bos, selalu ingin mencari kekurangannya.
"Menurutku bisa jadi, mereka hanya kebetulan pulang meeting." Jawabku sok bijak.
Oh Tuhan! Bagaimana bisa mungkin aku berkata demikian? Sementara otakku berjuta kali mengatakan hal negatif tentang mereka.
"Alaaah ... bilang aja lu juga cemburu kan?" semprot Rayi menyebalkan.
"Sok tahu!" elakku sambil membalikan badan. Menuju ke mejaku, dengan jiwa yang masih terbakar dan mata yang hampir mengeluarkan buliran di sudutnya.
Dia benar, aku cemburu.