Bab Sepuluh.

1167 Kata
Tadi malam aku memastikan diri sebagai manusia setengah lemak yang sukses insomnia. Otakku terus saja melancarkan invansi juga berspekulasi tentang hubungan Pak Syakir dan Vero. Aku tak berani bertanya langsung, karena apa hakku? Hanya, kemarin sebelum pulang kantor kami sempat berpapasan tapi lagi-lagi aku hanya bisa bungkam dan menunjukan wajah kesal padanya. Sekilas, tampak Pak Syakir bingung melihat tingkahku tapi aku tak perduli. Biar dia tahu, Dara juga enggak bisa digituin. Aku berharap dia tahu kesalahannya. Katanya mau nikah denganku, tapi kok? Halah! Laki-laki memang manis di bibir dan suka membuang kata. 'Itu karena kamunya enggak jelas, Dar!' sisi lain batinku kembali berontak. Sungguh mengerikan, efek cinta terpendam membuatku suka berdialog dengan diri sendiri seperti ini. Karena kegilaan itu juga, aku hampir telat berangkat ke acara Pak Syakir hari ini. Untunglah baju dress selutut dengan warna dusty pink muda, sudah aku strika sejak lama hingga tak perlu waktu lama untukku menyiapkan diri. Toh, katanya hanya acara biasa saja, bukan kayak di hotel. Malam itu, aku berangkat dari kosan bareng Soraya dan Erin menuju ke rumah Pak Syakir yang berada di daerah Dago Golf Barat. Dengan menebeng mobil cicilan Erin, kami bisa berhemat tanpa perlu jalan kaki. Akhirnya, sampailah kami di depan rumah bertingkat tiga yang sudah penuh dengan orang-orang yang hilir mudik ke sana ke mari. Saking penuhnya, sampai kami bingung mencari parkir. Seperti info yang kami dapat, yang datang ke syukuran 'kecil-kecilan' Pak Syakir ini, tentu saja bukan hanya rekan sekantornya. Namun, para kolega dari Pak Syakir dan Bos besar, pantas halaman seluas itu pun tak bisa menampung mobil yang terus berdatangan. Melihat kenyataan taraf ekonomi Pak Syakir yang sangat berbeda denganku, tiba-tiba nyaliku menciut. Baiklah, kisah Cinderella memang kadang ada di dunia nyata. Sayang, aku tak seberani Cinderella buat mengambil resiko. Jadi, aku tak heran jika nanti akhirnya Vero dan Pak Syakir akan berada dalam singgasana yang sama. 'Sabar Dara, ini keputusanmu kan?' batinku menghibur. "Woy! Bengong aja lo! Ayo, masuklah! Apa mau di sini aja?"tegur Soraya yang melihatku mematung di samping mobil. "Eh, iya bentar!" ujarku gugup seraya mengejar Soraya dan Erin yang telah masuk lebih dulu. (****) Seharusnya, aku enggak usah memaksakan pergi ke sini tadi. Maka, aku tak akan merasa seminder ini. Setiap langkah, diam-diam dalam hati aku membandingkan kostum yang kupakai dengan kebanyakan tamu yang hadir. Dressku ini lusuh banget, warnanya pun hampir memudar karena beberapa kali cuci. Inilah, kalau orang gendut dan miskin, sudah mah susah nyari baju enggak punya uang pula. Pencarianku ke mall saat itu pun, sama sekali tak membuahkan hasil jadi wajar aku hanya punya satu dress yang kukeramatkan jika acara penting terjadi. Kami bertiga terus masuk ke dalam rumah, menyalami beberapa orang yang kami lewati. Tempat acara syukuran, ternyata dipusatkan di halaman belakang rumah Pak Syakir yang cukup luas. "Eh, di mana ya Pak Syakir?" celetuk Soraya tiba-tiba. Wanita tomboy yang akhir-akhir ini gemar bersolek tersebut, merapihkan gaunnya. "Itu! Liat! Di sana!" tunjuk Erin ke arah Pak Syakir yang sedang mengobrol dengan Vero. Wanita beruntung itu lagi. Degh! Di saat bersamaan pria yang sedang ber-ulang tahun itu melihat ke arah kami juga. Bukan. Aku yakin dia melihat ke arahku, lurus tanpa hambatan. Gelenyar aneh kembali menyergap, saat mataku dan matanya bertatapan lama. Ingin mengucapkan sesuatu, tapi rasanya kelu. Aku terlalu malu bertemu dengannya, aku merasa tak pantas ada di pesta ini. "Eh, Dara ke sana yu? Kita ucapin selamat sama Pak Syakir!" Erin mengamit lenganku. Sadar, kalau aku belum siap bertemu dengannya karena kondisiku yang mengenaskan, aku langsung menarik diri. "Enggak, aku mau ke toilet dulu!" ujarku melarikan diri. (****) Cukup lama aku berada di toilet rumah Pak Syakir. Sengaja aku berdiam di sana. Entah kenapa, hatiku terasa sangat sakit ketika melihat dia bersama Vero. Tapi, apa hakku? Bukankah, aku sendiri yang membuat Pak Syakir menjauh? Bukankah aku sendiri yang membohongi diri? Ah, entahlah. Setelah menarik nafas berulang kali dan merapikan maskara, aku membuka pintu toilet. Baru saja terbuka setengah, seseorang mendorongnya agar terbuka lebar. Pak Syakir? Mataku membulat tak percaya, ternyata pria itu mengikutiku sampai ke sini. Aku celingukan ke kanan dan ke kiri khawatir ada orang yang memperhatikan kami, alhamdullilah di sini hanya kami berdua. "Sampai kapan, kamu akan terus menghindar?" tanyanya dingin. Matanya menyala seolah menyampaikan emosi. "Bukannya, Bapak yang menghindar?" balasku sengit. Sudah sejak lama aku ingin mengatakannya. "Saya menghindar? Bukannya, kamu yang selalu dekat-dekat dengan Rasyid kan?" Dia menunjukan senyum seringai yang menyebalkan. Aku menggigit bibirku kuat, menahan hentakan yang perlahan menusuk jantung. Lelaki memang biasa melempar kode sembunyi hati. Dia yang membagi hati, aku yang tanggung jawab. "Rasyid? Cih! Bapak yang main sama Vero, sampai semua teman kantor membicarakan Bapak, apa Bapak tidak tahu? Setelah kepulangan kita dari Jogja, Bapak berbeda sama saya, Bapak pikir saya gak sedih!" teriakku membalas tuduhannya. Jangan bertanya, dari mana kekuatan itu berasal karena aku tidak tahu. Pak Syakir tertegun mendengar ocehanku. Kemudian dia dia tersenyum tipis, sepasang matanya berubah memandang ramah. "Kamu sedih saya abaikan?" Aku menutup mulutku saat menyadari kalau aku keceplosan karena emosi. "Iya Pak." Refleks kutundukan kepalaku, menyembunyikan mata yang kian memanas. Percuma sekuat tenaga kusembunyikan semuanya, karena aku tak sanggup lagi berbohong. "Jadi, sebenarnya kamu mencintai saya kan Dara?" Suara Pak Syakir terdengar melunak. Aku mengangkat wajahku malu. Terpana. Kulihat manik matanya yang indah memancarkan harapan. Kami saling pandang dalam diam. "Katakan, jujur, kamu mau jadi istri saya?" "Sa-saya ma--" "Syakir, Ibu mencari kamu dari tadi. Ayo saatnya sambutan!" potong sebuah suara memutus ucapanku. Kami berdua sontak menoleh dan menemukan kedua orang itu sedang menatap kami tajam. Mereka berdua adalah Bos besar dan Dion. Siapa lagi yang bisa membuat hatiku mencelos? Selain mereka. Spontan aku memundurkan langkah dengan perasaan takut. "Pak, saya permisi!" ujarku sebelum perang dunia ketiga terjadi. Pak Syakir mencekal lenganku, dia menahanku untuk jangan pergi. "Mau ke mana? Diam di sini, akan saya kenalkan kamu pada Ibuku.... " ujarnya yakin. "Syakir, biarkan dia pergi! Ayo, kita ke taman, ada Vero di sana menunggu kamu, kan kita akan umumkan tanggal pernikahan kalian!" Aku membeku. Seolah ada ribuan paku yang menusuk dadaku saat ini, setelah mendengar ucapan Bos besar. Pak Syakir tak kalah kagetnya denganku, hingga cengkramannya pun melonggar. Aku menatap Pak Syakir yang mematung memandang wajah Ibunya dengan amarah. "Bu, jika itu yang akan Ibu umumkan, lebih baik tidak ada sama sekali pengumuman!" "Maksud kamu apa?" Suara Bos besar terdengar marah juga ketakutan. "Jika Ibu bisa menikah dengan lelaki pilihan Ibu yang sama sekali tidak pantas jadi Ayah bagi saya dan Pipit, berikan hak saya untuk menikah dengan wanita pilihan saya juga. Hak yang sama." Ujar Pak Syakir terdengar sangat tenang tapi mematikan. Pipit itu adalah adik angkatnya Pak Syakir, dia diadopsi dari yatim piatu karena Bos besar tiba-tiba ingin mengurus anak kecil. Kabarnya begitu. Pak Syakir menerbitkan senyum tipis saat melihat Ibunya tak bisa berkata apa-apa. Lalu tanpa meminta ijin siapa pun, dia mengamit lenganku untuk melintasi Bos besar yang masih mematung di samping Dion yang menatap kami nanar. "Pak, kita mau ke mana?" "Kawin larilah. Apa lagi?" Apa? Honey-bunny-sweety-Kuaci! Tolong aku, lelaki ini sudah hilang kendali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN