Aku tak menyangka, Pak Syakir bisa juga makan pecel lele di pinggiran trotoar kayak gini. Sebenarnya hatiku masih syok atas tingkah ajaib Bosku. Coba bayangkan, lelaki yang harusnya menikmati pesta ultahnya malah mengajakku kabur lewat pintu belakang dan berhenti di sini. Untunglah, candaannya mengenai kawin lari tak menjadi nyata. Katanya dia hanya ingin menggertak Ibunya. Huft! Bikin jantungan. Jika itu benar terjadi, bisa kubayangkan Ibuku akan mengeluarkanku dari kartu KK saat ini juga karena punya anak cewek satu-satunya, sekalinya kawin malah lari-lari. "Kamu gak lapar?" tanya Pak Syakir sambil menyuapkan lagi nasi ke mulutnya. Entah suapan ke berapa. Aku menggeleng kikuk. Lalu menyeruput segelas jeruk panas yang kupesan. Bagiku, jika malam hari seperti ini, yang namanya karb

