Aku tertegun, netraku menatap lama ke arah rumah bergaya tradisional di depanku. Tanpa terasa, waktu sudah berlalu begitu cepat dan aku sudah tidak pulang ke rumahku dengan Mamah yang ada di sini. Sebenarnya, rumah Mamah ini adalah rumah warisan dari Nenekku dan syukurnya Mamah tetap menjaganya sama seperti dulu yaitu terlihat asri dan terawat. Aku pikir tidak ada perubahan yang mencolok kecuali pohon jambu yang ada di halaman yang tampaknya sedang berbuah. Setelah gempa menimpa Pangalengan, hanya rumah warisan ini yang bisa kami tinggali, karena hanya butuh perbaikan tidak luluh lantak seperti rumah kami. "Ayo, Pak!" Aku mengajak Pak Syakir masuk ke halaman rumah. Dari luar, kutebak Mamah pasti sedang pergi ke warung atau ke kebun karena jika dia ada di rumah jam segini biasanya M

