Mamah terus memuji dan bercakap panjang lebar dengan bosku yang tetiba mendeklarasikan diri sebagai calonku tersebut. Uniknya bukan hanya Mamah yang berlaga sok akrab tapi juga Azfar. Adik bontotku yang baru saja pulang sekolah itu pun sampai rela gak main bola demi bisa foto-foto di depan mobil Pak Syakir. Katanya Azfar, dia mah menyombongkan diri pada teman-temannya di sekolah biar disangka punya kakak ipar kaya. Astaghfirullah. Adek, harta gak dibawa mati Dek! Namun, terlepas dari keabsurd-an tingkah Mamah dan adikku, entah mengapa aku jadi keki sendiri karena merasa senang dan gelisah dalam satu waktu. Di satu sisi aku merasa tersanjung karena Pak Syakir mau mengakuiku sebagai calon istri tapi di sisi lainnya aku malah ragu karena sampai saat ini Pak Syakir gak pernah mengakui pera

