Merelakan Mamah sendirian dengan masalahnya yang berat dan berangkat ke Bandung sore ini merupakan suatu pemikiran yang luar biasa. Siapa pun tahu, jika berbicara masalah hutang gak ada yang bisa kasih toleransi apalagi si rentenir itu telah mengancam kalau aku akan dinikahinya. Astaghfirullah! Apa yang harus kulakukan untuk melunasi hutang? Dari mana juga aku akan mendapatkannya? Masa aku harus nikah sama aki-aki dan meninggalkan harapanku pada Pak Syakir? Oh, honey-bunny-teh sisri! Aku tidak sanggup membayangkannya. Jujur, gara-gara tahu kenyataan memilukan ini sedari tadi aku tidak dapat menikmati perjalanan menuju Bandung. Rasanya pikiranku dipenuhi rasa takut dan kebingungan bagaimana cara menyelesaikan semua permasalahan tentang utang piutang ini. "Kamu, masih rindu kampung, ya

