Sepertinya meski aku berharap miliaran kali bahwa yang kudengar dari Pak Syakir itu adalah ilusi, tetap saja aku akan kembali dibenturkan pada kenyataan bahwa yang kuhadapi itu bukanlah bayangan semata. "Udah Teh, udah gak usah dibahas lagi. Harusnya Teteh itu bersyukur kapan lagi ada lelaki sukses mau sama Teteh? Dari pada sama aki-aki sok? Bener gak? Udah terima aja." Begitulah ucapan Mamah saat aku menghubunginya di telepon tadi. Mamah telah membenarkan bahwa Pak Syakir-lah yang jadinya membayarkan hutang Mamah karena aku tak bisa dihubungi. Selain itu Mamah juga bilang kalau dia sudah merestui aku dinikahi Pak Syakir tiga minggu lagi. TIGA MINGGU LAGI?! Ya tiga Minggu lagi dari sekarang. Gila gak tuh? Cepet banget, perasaan gajian aja harus nunggu sebulan, masa nikah cuman nunggu

