Aku menatap penuh curiga dengan laki-laki bernama Randy itu. Apa benar, jika laki-laki dihadapanku ini adalah seorang laki-laki hidung belang?
Tara menatap kearah ku yang terlihat cemas, dia lalu menyenggol tubuhku dengan bahunya.
"Apa yang kau pikirkan? Randy tampan ya?" bisik Tara.
"Apa dia pelanggan mu juga?" bisikku ingin tahu.
"Tidak. Dia tidak pernah memakai jasa wanita malam. Dia hanya sering nongkrong di bar bersama teman-temannya. Maklumlah, pengusaha! Dalam bisnis mereka harus tetap mengimbangi kehidupan kliennya. Randy ini laki-laki baik. Dia bahkan tidak pernah ikut mabuk bersama teman-temannya," bisik Tara.
"Oh..." aku hanya mengangguk.
"Bagaimana jika aku antar kalian pulang!" ucap Randy sambil tersenyum manis.
Aku tidak menjawab namun Tara tanpa rasa malu langsung masuk kedalam mobil milik Randy. Aku masih diam ditempat ku berdiri lalu Randy menuntun tanganku masuk kedalam mobilnya.
"Kenapa? Sepertinya kau begitu takut padaku?" ucap Randy.
"Tidak. Aku hanya..." Aku tidak melanjutkan kata-kataku.
"Hanya apa?" ucapnya sambil tersenyum.
Tangan Randy mengusap lembut wajahku, memainkan setiap jari jemarinya diarea wajahku dengan senyum yang menggoda.
DEG...
Degup jantungku berdetak kencang, ada perasaan aneh yang menyerang hatiku. Aku tidak bisa memungkiri, bersentuhan dengannya membuatku merasa tenang.
Aku menatap mata sahdunya, dengan senyum manis terpancar begitu mempesona. Aku terhipnotis dengan ketampanan. Semua kesempurnaan yang ada dalam dirinya.
Setelah beberapa lama saling pandang-pandangan ala anak SMP pacaran, akhirnya Randy menuntunku masuk kedalam mobilnya. Aku celingukan menatap Tara yang ada di kursi belakang. Tara tertawa tanpa suara, namun aku mengerti maksudnya. Dia sedang mencoba mendekatkan aku pada Randy.
Randy mulai melajukan mobilnya, sesekali dia menatap kearah ku sambil tersenyum. Aku benar-benar gugup, rasanya aku tidak sanggup lebih lama berada didekatnya. Menatap wajahnya membuat jantungku meletup-letup, bisa-bisa aku pingsan disini jika terus dekat dengannya.
Aku menggigit ujung bibirku menahan cemas sambil membuang pandangan kearah lain. Aku tidak sanggup jika harus terus menatap pria tampan itu. Aku lebih memilih untuk menatap jalan raya yang sepi dan hening.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, akhirnya mobil Randy menepi di rumah mucikari Hans. Aku dan Tara turun dari mobil lalu tersenyum menatap Randy.
"Terimakasih atas tumpangannya, Mas! Main kesini jika rindu Meta ya!" tawa Tara sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Saat aku melangkah masuk kedalam rumah, tanganku digenggam erat oleh Randy. Laki-laki tampan itu menahan langkahku agar tetap bersamanya.
Aku menoleh kearahnya, dua mata kami saling beradu dan saling pandang. Aku benar-benar tidak sanggup menatap matanya lebih lama. Aku bergegas melemparkan jauh pandangan ku kearah lain.
"Bisakah kapan-kapan kita berkencan?" tanya Randy membuat mataku terbelalak.
Apa maksud kata-katanya? Apa dia akan membooking aku? Atau ini kencan ala wanita baik-baik? Aku masih diam, terpaku menatap kearahnya. Ada getaran dasyat yang menerpa tubuhku.
"Tunggu aku besok malam ya," bisik Randy sambil mencubit lembut pipiku.
Aku tidak bicara hanya terpaku menatap kepergiannya. Randy menyalakan mesin mobilnya, berlalu sambil tersenyum melambaikan tangannya.
Aku berjalan masuk kedalam rumah itu, rumah baruku sebagai wanita malam. Tugasku hari ini selesai, sampai aku menatap pria itu, mucikari Hans yang menyeramkan. Hans menatapku tajam, matanya melihatku dari ujung kaki ke ujung kepala.
Aku mundur beberapa langkah, aku benar-benar takut dia melakukan hal buruk lagi padaku.
"Kau sudah memberikan servis terbaikmu pada Roni? Dia pelanggan setia disini, jangan berani kecewakan dia!" ucap Hans.
"Iya Pak Hans."
"Ya sudah. Beristirahatlah!" ucapnya sambil berjalan meninggalkan aku.
Aku buru-buru masuk kedalam kamar Tara, aku menatap Tara menghilang dari kamarnya. Bukankah tadi dia sudah masuk duluan? Tapi kemana dia?
Mataku menatap sekitar kamar, aku mendengar suara dari dalam kamar mandi. Suara pasangan yang sedang memadu kasih. Aku hanya mengunci mulutku sambil mendengarkan apa yang terjadi didalam kamar mandi.
Aku benar-benar penasaran, aku mengintip keadaan didalam kamar mandi dari celah pintu.
Tatapan mataku tertuju pada dua orang yang sedang melakukan pertarungan sengit. Sepertinya Tara sedang melayani pelanggan, aku bisa lihat dari sini, betapa lihainya permainan yang dilakukan Tara. Aku menggigit jariku, rasanya benar-benar tidak percaya jika saat ini aku punya tugas yang sama seperti apa yang dilakukan Tara dikamar mandi.
Aku berbaring ditempat tidur, aku terus memikirkan hal yang terjadi didalam kamar mandi. Satu jam lebih mereka bertarung, namun sepertinya tidak ada yang menyerah. Kedua belah pihak sama-sama kuat.
Setelah cukup lama aku menunggu, akhirnya kedua muda mudi itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Rambut mereka sama-sama basah. Terlihat si Om gemuk itu tersenyum penuh kemenangan. Tentu servis yang diberikan Tara memuaskan untuknya.
Si Om tua keladi itu menatapku yang sedang berbaring, matanya kembali melotot. Dia mendekat kearah ku seolah akan menelanku hidup-hidup.
"Om, jangan ganggu dia! Dia baru selesai melayani tiga orang pria. Beri waktu untuknya beristirahat dulu," ucap Tara sambil memegang erat tangan om-om itu.
"Tapi besok aku mau dia ya!" ucap si Om.
"Tarif dia mahal Om. Bawa semua uangmu jika ingin dapat servisnya," tawa Tara.
"Baiklah. Aku akan bawa banyak uang untuk membayar wanita itu," ucap si Om yang terdengar begitu menakutkan di telingaku.
Setelah si Om keluar, Tara merebahkan tubuhnya disampingku. Matanya menatap tajam kearah ku sambil tersenyum.
"Apa kau jatuh cinta pada Randy?" tanya Tara.
"Apa? Wanita sepertiku?"
"Kenapa memangnya? Apa wanita seperti kita ini tidak boleh punya cinta?" ucap Tara.
"Sepertinya memang tidak boleh," ucapku.
"Kenapa?"
"Karena hanya akan jadi cibiran dikalangan masyarakat nantinya! Sudahlah, aku bahkan merasa tidak pantas walau hanya sekedar berharap cintanya!" ucapku.
"Kau tahu. Awal mengenal Randy aku cukup terkejut. Kami sering bertemu namun tidak saling mengenal nama. Aku berkali-kali dibooking oleh teman-temannya, tapi tak pernah sekalipun dia yang membooking ku. Ternyata setelah ku selidiki, dia seorang pengusaha baik-baik," ucap Tara.
"Beberapa teman-temanku banyak yang menawarkan diri secara gratisan, tetap saja dia menolak. Jangankan disentuh, ditatap saja dia sudah menghindar. Tapi tadi, aku melihat sesuatu yang berbeda dari dirinya. Sepertinya dia menaruh hati padamu, dia menyukaimu Meta!" ucap Tara tersenyum senang.
"Tidak mungkin! Kau mungkin salah menafsirkan kebaikannya!" ucapku.
"Aku ini memang tidak pintar, tapi aku bisa melihat mana laki-laki tulus dan mana laki-laki hidung belang. Sudahlah ini sudah malam, aku mengantuk!" ucap Tara sambil memejamkan matanya.
Tara sudah terlelap dalam tidurnya, sementara mataku ini masih enggan tertidur. Pikiranku melayang pada sosok laki-laki tampan yang beberapa jam yang lalu aku temui.
Wajah tampan penuh kharisma, dengan mata teduh penuh ketulusan. Rasanya aku benar-benar jatuh cinta pada sosoknya. Apalah dayaku ini, aku bukan wanita yang pantas mengharapkan cintanya. Laki-laki sebaik dan terhormat sepertinya, pantas mendapatkan wanita baik dan terhormat juga, bukan wanita hina sepertiku.
Aku berdiri mendekat kearah jendela, aku menatap langit malam dengan hiasan bulan dan beberapa bintang. Aku masih belum bisa melupakan pertemuan dengan laki-laki itu. Biar bagaimanapun dia memberikan satu harapan untukku. Akankah dia bisa menerimaku dengan kehidupanku yang begitu menyedihkan ini.
Aku berharap padaMu, Tuhan. Semoga suatu saat nanti kau kirimkan seseorang yang bisa menyelamatkan harga diriku yang sudah terhina ini.