Melayani Pelanggan Pertama

1409 Kata
Aku bersembunyi dibalik tubuh Tara, aku benar-benar takut. Laki-laki itu tersenyum sambil mencolek pipiku. Aku merasa risi, aku menepis tangan laki-laki itu. Aku semakin panik saat dia mengedipkan sebelah matanya. Huh... Menyeramkan sekali! "Ada barang baru nih!" tawa laki-laki itu. "Jangan Om! Yang ini tarifnya masih mahal," ucap Tara. "Berapa? Biar nanti aku bayar!" ucap p****************g itu. "Tarifnya 50 juta untuk satu malam," bisik Tara. "Mahal sekali! Aku biasanya bayar kau dengan harga murah!" teriaknya. "Dia itu limited edition. Belum dijual dipasaran!" bisik Tara sambil tertawa. Sebenarnya aku ini manusia atau barang sih? Tara ini benar-benar membuatku merasa sedih, jadi harga kencan denganku itu hanya 50 juta. Harga yang sangat murah, tidak sebanding dengan aib yang ku tanggung nantinya. "Baiklah, aku bayar dia!" ucap laki-laki bernama Om Roni itu. "Om benar-benar punya uang sebanyak itu?" tanya Tara. "Aku ini pengusaha, uang segitu kecil untukku!" ucap Om Roni. "Kalau begitu harganya naik. Jadi 100 juta!" ucap Tara. "Apa kau sudah gila? Kenapa kau menaikan tarif seenaknya?" teriak Om Roni kesal. "Itu tidak mahal Om! Akan sebanding dengan servisnya," bisik Tara. "Baiklah! Aku bayar seratus juta. Bawa dia ke apartemen ku, aku tunggu disana!" ucap laki-laki itu sambil memberikan amplop berisi banyak uang. Aku memegang erat tangan Tara, namun wanita itu hanya menoleh kearah ku sambil tersenyum. "Tidak usah takut, aku ada bersamamu! Laki-laki tadi itu suka mabuk, aku punya rencana untuk mengerjainya nanti!" ucap Tara sambil tersenyum. "Rencana apa? Aku tidak mau melayani Om itu! Aku takut," ucapku. "Kau tidak perlu melayaninya!" "Apa maksudmu?" tanyaku bingung. "Kau ajak saja dia minum-minum hingga dia mabuk. Tapi ingat! Kau harus tetap sadar, jangan ikut mabuk. Kau hanya perlu berpura-pura minum, tapi hanya pura-pura. Ingat, kau harus tetap sadar!" ucapnya sambil menuntunku keluar dari bar itu. Aku dan Tara masuk kedalam sebuah taksi. Tara benar-benar menemaniku di masa-masa awal pertama aku menjadi wanita malam. Dia memberi aku arahan, agar aku tidak harus melayani Om Roni. Aku hanya cukup memberikan beberapa botol minuman, dan menemaninya sampai dia mabuk berat. Setelah itu, selesailah tugasku! Aku dan Tara berhenti disebuah apartemen mewah. Kami segera turun dari mobil taksi yang kami naiki. Tara terlihat tidak asing dengan tempat itu. Dia langsung tahu arah kamar milik Om Roni. Aku hanya cukup memberikan beberapa botol minuman, dan menemaninya sampai dia mabuk berat. Setelah itu, selesailah tugasku! Aku dan Tara berhenti disebuah apartemen mewah. Kami segera turun dari mobil taksi yang kami naiki. Tara terlihat tidak asing dengan tempat itu. Dia langsung tahu arah kamar milik Om Roni. "Ini kamarnya! Ingat Meta, kau hanya pura-pura mabuk dan minum. Kau harus tetap sadar!" bisiknya. "Baik!" "Aku tunggu disini. Kau bisa masuk sekarang!" ucapnya. Aku membuka pintu kamar apartemen itu, yang sepertinya memang sengaja tidak dikunci. Aku menatap Om Roni baru keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk di pinggangnya. Tubuhnya yang tinggi gemuk dengan otot-otot besar mengerikan, membuatku membayangkan sebesar apa ular yang dia miliki. Aku benar-benar tidak sanggup membayangkan, jika aku harus melayani pria semacam ini. Pasti aku tidak akan sanggup walau hanya sekedar berdiri. Aku mundur beberapa langkah, sementara Om Roni dengan cepat menarik tanganku kedalam pelukannya. Aku benar-benar takut, bagaimana cara agar aku tidak harus melakukan hal itu dengannya? Aku menatap beberapa botol minuman disamping tempat tidur. Aku tersenyum menatap kearah Om Roni yang sudah tidak sabar menahan nafsunya. "Om, ini hari pertama aku melayani seorang pelanggan. Aku cukup gugup, aku tidak bisa langsung bermain. Aku mau kita pemanasan dulu!" ucapku. "Pemanasan apa maksudnya? Kau tidak lihat, ular ku sudah membengkak sedari tadi. Kau mau tunggu apalagi? Aku sudah menginginkannya!" ucap Om Roni kesal. "Tapi Om, aku tidak bisa melayani mu dalam keadaan sadar seperti ini. Terlebih menatap milikmu yang melebihi ukuran normal. Aku takut!" ucapku manja. Om Roni tertawa genit, lalu mengambil botol minuman itu kedalam gelas. Dia memberikan satu gelas untukku dan satu gelas lagi untuknya. Aku hanya tersenyum, saat Om Roni mulai memintaku meminumnya. Aku hanya pura-pura minum, padahal tak sedikitpun aku meminumnya. Sementara Om Roni, dia meminumnya sampai habis. Terlihat matanya kini berwarna agak merah. Om Roni menuang gelas kosongnya lagi, lalu meminta gelas ku agar diisinya lagi. Aku cepat-cepat membuat air didalam gelas ku, kedalam sebuah pot tanaman yang ada disamping sofa. Aku menerima gelas berisi minuman alkohol itu, namun lagi-lagi aku membuangnya. Kini Om Roni sudah kehilangan setengah kesadarannya. Dia mulai mengoceh hal-hal yang tidak jelas. Aku membuka botol kedua untuknya, agar dia semakin mabuk dan hilang kesadaran. Matanya memerah, menatap tajam kearah ku. Dia mulai mengoceh tidak jelas. "Harusnya jika kau ingin disayang suamimu, kau harus tampil cantik dihadapanku. Laki-laki mana yang tidak bosan menatap wanita jelek sepertimu. Sudah jelek, tidak pernah dandan, terlebih kau suka memakai daster, macam ema-ema," ucap Om Roni mengoceh. Aku bisa mengerti maksudnya, mungkin kata-kata itu ditujukan untuk istrinya. Ternyata penampilan itu sangat penting untuk seorang suami. Terlebih suami yang seperti Om Roni. Suka cuci mata dan melotot lihat yang bening. Harusnya istri Om Roni bisa menjinakkan suaminya dengan memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya. "Sudah kesal aku melihat wajahnya, mau aku cerai, tapi aku masih punya rasa iba. Aku kasihan dengan kedua putriku. Tapi aku juga sakit mata saat melihat istriku itu," ucapnya lagi. Aku membuka botol ketiga untuk Om Roni, aku melihat dia masih mengoceh perihal rumah tangganya. Aku hanya menyimak dan terkadang malah tertawa. "Sebenarnya aku tidak ingin seperti ini, cari pelayan dari wanita malam. Tapi lihat kamu bikin sakit mata, ya aku lebih baik habiskan uangku untuk kencan dengan wanita lain!" ucapnya. "Tenanglah Om. Aku percaya, suatu saat istrimu akan menyadari kekeliruannya!" ucapku. "Dia tidak akan berubah! Aku pernah memintanya berdandan agar tampil cantik, setidaknya hanya saat aku ada dirumah. Tapi dia malah memarahiku. Dia bilang, aku banyak nuntut, gak bisa terima dia apa adanya, kan kelewatan!" ucapnya. "Sabar Om, ini mungkin ujian!" "Ujian apa? Aku sudah lelah dengan pernikahanku dengan dia. Aku jenuh, bosan..." Tiba-tiba Om Roni benar-benar tidak sadarkan diri dan pingsan diatas tempat tidurnya. Aku memegang tangannya, mengecek denyut nadinya. Aku benar-benar takut jika dia sampai meninggal. Tara yang mengintip dari kaca jendela kamar, buru-buru masuk kedalam. Matanya menatap tajam kearah ku. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Tara dengan wajah kesal. "Aku memeriksa denyut nadinya, aku takut dia mati!" ucapku. "Tidak. Dia hanya pingsan! Sekarang cari dompetnya!" ucap Tara. Aku dan Tara mencari dompet milik Om Roni, mencari di setiap sudut kamar. Sampai aku menatap dompet yang sedang kami cari. "Tara, ini dompetnya!" ucapku sambil menyerahkan dompet itu ke tangan Tara. Tara antusias, dia buru-buru membuka dompet tebal milik Om Roni. Uangnya banyak, ada beberapa kartu kredit dan kartu ATM didalamnya. Namun yang diambil Tara hanya uangnya saja. Lalu Tara melempar dompet itu ke sembarang arah. "Ayo cepat, kira pergi!" ucap Tara sambil menarik tanganku keluar dari kamar apartemen itu. Aku dan Tara berjalan sampai ke jalan raya, Tara terus menghitung uang yang ada ditangannya sampai tiba-tiba... TIN... TIN... Suara mobil hampir menabrak Tara, untungnya pengendara mobil itu berhenti tepat waktu. Tara tidak sampai terluka, dia hanya terlihat shock. Melihat aku menuntun Tara menepi, pemilik mobil itu keluar mendekati kami. Seorang pria tampan dengan postur tinggi, berkulit putih dengan hidung mancung, mendekat kearah kami. Aku dan Tara sama-sama terpikat dengan pesona laki-laki yang berada dihadapan kami. Tangan Tara mencengkeram kuat tanganku yang berada disampingnya. "Laki-laki itu tampan sekali! Dia manusia atau malaikat?" bisik Tara. Aku hanya tersenyum mendengarnya ucapan Tara. Namun aku terlalu sadar diri, wanita macam apa aku ini. Aku tidak dilahirkan untuk punya cinta, aku tidak dilahirkan untuk dicintai. "Kau tidak apa-apa?" tanya pria tampan itu. "Tidak. Hanya sedikit terkejut!" ucap Tara. "Syukurlah!" ucapnya sambil tersenyum. Laki-laki itu menjulurkan tangannya, menatap kearah aku dan Tara secara bergantian. "Namaku Randy. Kebetulan aku baru pertama kali ke kota ini!" ucapnya. "Aku Tara, dan ini sahabatku Meta!" ucap Tara sambil membalas tangan Randy. Aku hanya diam, menundukkan kepalaku malu. Aku bukan Meta yang polos lagi, kini aku sudah menjadi seorang wanita malam, rasanya aku tidak berani menatap laki-laki terhormat sepertinya. Randy melirik kearah ku sambil tersenyum, dia menjulurkan tangannya kearah ku. Namun aku tidak menyambut jabatan tangannya. Aku lebih memilih diam tak bergerak dengan posisi kepala tertunduk. "Randy, maafkan sahabatku ini ya! Dia masih baru didalam dunia gelap sepertiku. Dia masih butuh bimbingan khusus untuk mendekati seorang laki-laki," tawa Tara. Aku tercengang mendengar ucapan Tara. Apa maksudnya? Apa Randy itu salah satu pelanggan Tara juga? Padahal aku pikir, dia laki-laki baik awalnya, tapi ternyata dia sama saja dengan p****************g lainnya. Apa benar, Randy seperti yang dipikirkan Meta?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN