Rencana Terakhir

1344 Kata

“Mengerikan sekali kawan kita satu ini ....” “San! Hus. Diamlah.” Brian mengabaikan komentar yang mengekorinya di belakang punggung. Ia, Lanya, dan kedua Patron baru saja mengikuti bapak wakil meninggalkan gudang yang dahulu pernah menampung para calon Patron. Gudang itu gelap, senyap, dan hanya dijaga oleh dua peserta muda yang memainkan game SOS manual dengan menggores tanah memakai ranting. Mereka tidak ikut masuk, melainkan hanya bertahan di pintu gudang, mengawasi kedua Patron yang begitu mengintimidasi. Lanya sesungguhnya paham mengerti mengapa Brian tiba-tiba berbuat sejauh ini. Dahulu, semasa mereka masih menghadiri Sekolah Perang bersama-sama, Brian adalah peserta paling jeli dan tanggap saat menerima bala bantuan. Dia selalu menjadi sukarelawan untuk mengambil atau memindah ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN