Pertemuan Terselip

1323 Kata
Stefan hanya tak mengira pertikaian kemarin rupanya tak menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir. Satu hari sudah berlalu sejak Lanya meninggalkan mereka dengan langkah menghentak di hutan. Stefan menandai kalender usang yang ada di ruang Kapten Rohan, menyoretnya dengan spidol merah yang tintanya hampir habis. “Tanggal berapa sekarang, Stef?” “Tiga hari menjelang misi pertama Lanya.” Rohan mengernyit. “Apa kau menyuruhku memikirkan ... ah, lupakan. Aku sudah tahu tanggal berapa.” Sang kapten kembali menenggelamkan fokus pada laporan yang tengah diketiknya, pagi-pagi, selepas jam sarapan bersama. Tadi pagi, Stefan berniat untuk mengumpulkan timnya di meja makan, tetapi Brian muncul secara natural sehingga Lanya pun enggan bergabung. Ya Tuhan. Stefan tak membutuhkan drama semacam ini di timnya, dan ia takkan membiarkan itu terjadi. “Mau kemana?” tanya Rohan saat Stefan siap-siap beranjak dari kantor sang kapten. “Mm, sedikit urusan.” “Kembalilah kalau sudah selesai.” Stefan memutar bola mata. Kenapa akhir-akhir ini ia dijadikan asisten tak resmi sang kapten? Memang itu adalah sebuah kebanggaan, tetapi Stefan tak membutuhkannya kalau yang ia dapat hanyalah sekadar kenaikan pamor dan banyaknya misi yang perlu is sertai. Stefan butuh lebih dari itu. Tetapi ... ah, itu bisa dibahas nanti. Stefan bergegas keluar dari kantor Rohan. Ia tidak tahu persis jadwal Lanya sekarang, tetapi seharusnya gadis itu sedang mengikuti cukup banyak kelas persiapan untuk misi perdananya. Stefan akan mengecek jadwalnya di Papan Pengumuman, tempat nama-nama para peserta tercantum pada kelas mana saja dalam kurun satu minggu. Jadwal Lanya cukup padat, ternyata. Stefan mengangkat alis. Tetapi, untunglah, gadis itu tidak menjalankan semua kelas bersama Patronnya. Dan ... ah, kebetulan dua kelas yang Lanya ikuti hari ini berkisar pada materi teori saja. Sementara sang Patron, San, mengikuti kelas kontrol fisik di hutan sekali lagi. Yah, para Patron memang ditekankan untuk mengedepankan kekuatan fisik mereka. Omong-omong, kelas Lanya akan berakhir dalam sepuluhan menit. Sempurna! Stefan memutuskan untuk menunggu di dekat kelas. Kelas pertama Lanya diadakan di gudang senjata Angel, dan suasana cukup sepi saat Stefan terpekur di dekat gudang. Ternyata begini, ya, rasanya menjadi orang yang dianggap sudah cukup cakap sehingga tak perlu mengikuti banyak kelas? Stefan masih ingat saat-saat dirinya direkrut kemari, bertahun-tahun lalu, dan mengikuti semua kelas hingga pinggangnya serasa mau patah. Tetapi Ben, sang Patron yang nyaris tak pernah menunjukkan rasa lelah, membuat Stefan juga tak mau kalah. Maka di sinilah Stefan akhirnya; menjadi bagian dari barisan peserta terbaik Kamp Sektor, yang sebentar lagi akan disusul oleh Brian. Brian juga sama briliannya. Padahal dia baru di sini kurang dari satu tahun, tetapi pemuda itu pun bakal menyusul Stefan menjadi peserta terbaik. Itulah mengapa, kedatangan Lanya dan Patronnya yang luar biasa itu diam-diam menarik ekspektasi dari berbagai peserta, tetapi Stefan agaknya meragukan itu. Sungguhan, apa yang terjadi antara Patron Lanya dan Patronnya sendiri, Ben? Kenapa Ben tidak mau mengatakannya kepada Stefan, dan mengapa Brian mau repot-repot bertikai dengan gadis yang sudah lama tidak ditemuinya? Stefan sangat tertarik untuk menguliknya, serius. Tetapi semua harus dijalankan perlahan, atau Stefan takkan mendapatkannya. Selang beberapa menit kemudian kelas yang Lanya ikuti akhirnya selesai. Stefan mengabsen satu per satu peserta yang keluar dari kelas, lantas menyadari bahwa Lanya menjadi yang terakhir keluar bersama Angel, mendengarkan penuturan sang senior akan pentingnya menjaga fokus dan kestabilan saat menggunakan senjata, apa pun jenisnya. “Ada apa ini?” hardik Angel saat melihat Stefan yang tiba-tiba muncul di depan pintu kelasnya. Sang pemuda hanya menyeringai. “Lanya. Aku punya keperluan dengan Lanya, apakah kau sudah selesai?” Lanya mengangkat alis. “Aku? Er ... tidak ada. Sudah tidak ada,” katanya, dan buru-buru pamit kepada Angel. “Terima kasih atas informasinya,” tambahnya dengan penuh kesantunan. “Aku akan kemari lagi jika tidak paham akan sesuatu.” “Ya, pastikan Patronmu memang memahami semua hal juga.” Angel memutar bola mata, kemudian mengibaskan tangan untuk mengusir dua muda-mudi itu dari hadapannya. Angel butuh mengisap rokoknya lagi, dalam ketenangan, tanpa gangguan siapa pun selama tiga puluh menit sebelum kelas lain dimulai. Lanya mengikuti Stefan, tetapi alih-alih mengarah ke alun-alun desa atau tempat terbuka, Stefan justru membawanya ke hutan, ke arah meja-meja berkarat yang dikelilingi oleh kursi besi segala macam. “Kenapa kau mencariku?” tanya Lanya. Stefan datang menemuinya sendirian, apakah ini berkaitan dengan urusan tim? “Duduklah, Lanya. Aku ingin membicarakan beberapa hal saja,” kata Stefan, dan menyadari bahwa pilihan kata-katanya terdengar serius, pemuda itu menyeringai geli. “Ahh, aku hanya penasaran saja, kalau kau tidak keberatan. Sebab tim kita akan memulai misi dalam beberapa hari ... dan aku ingin memastikan satu hal.” Lanya duduk dengan ragu dan secuil perasaan tegang. Ah, apakah Stefan akan membicarakan hal kemarin? Lanya punya firasat demikian. “Apa menyoal kemarin?” tanya Lanya akhirnya. Ia mengatupkan bibir. “Itu ... aku akui memang aku jengkel dengan Brian, tetapi kau barangkali mengira bahwa sikapku agak kekanakan ....” “Kekanakan? Tidak juga.” Stefan mengangkat alis. “Lantas?” Lanya menghela napas. “Apa kau juga ingin mewanti-wantiku soal San?” “Itu bukan ranahku.” Stefan pun menyandarkan dagunya pada telapak tangan. Selama sesaat mereka terdiam dalam kesenyapan hutan, berlatar suara gemerisik dedaunan yang konstan ditiup oleh angin. “Aku memang penasaran dengan Ben ... aku sudah mengatakannya kepadamu, kan? Tetapi bahkan Ben, yang kukira perjalanan hidupnya sudah kuketahui semua, menyembunyikan satu hal itu.” “Tentang hubungannya dengan San?” suara Lanya tercekat. Stefan mengangguk, kemudian menambatkan pandangan pada Lanya yang terlihat murung. Ia jelas-jelas tak mau meragukan Patronnya, dan Stefan memahami itu. “Tetapi bahkan seorang Patron berhak punya privasi yang tidak ingin mereka bagi dengan kita, meski kita adalah tuan-tuan mereka yang pantas mengetahui segala sesuatu.” “Yah ... kau benar.” Lanya semakin tidak nyaman. Bukan karena arah pembicaraan ini, tetapi karena menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang belum ia ketahui dari San, dan betapa banyak pula pertanyaan akan masa lalu pemuda itu yang tak mau dijawab. Bukan tidak terjawab, tetapi tidak mau dijawab. “Aku cuma mau bilang, Lanya,” kata Stefan pelan-pelan, memastikan Lanya akan mendengarkan setiap patah katanya setelah ini. “Meski aku adalah sahabat Brian, bukan berarti aku akan serta-merta memihaknya saat terjadi sesuatu di antara kalian. Kau juga kawanku, Lanya, dan aku tidak suka memihak. Aku hanya ingin kau tahu ... kalau kau bisa memercayaiku, dan seandainya Brian tidak sanggup membantumu, maka aku akan berusaha. Terlebiih-lebih aku akan mendampingimu pada misi perdanamu, dan tak ada Brian di sana. Kau, kuyakinkan, bisa mengandalkan aku.” Lanya menatap Stefan dengan cara yang tak pernah diterima pemuda itu sebelumnya. Stefan sekarang yakin, Lanya tengah bimbang akan segala sesuatu, dan tak ada yang dibutuhkan gadis itu selain berbagai kepastian dari hal-hal yang dipertanyakannya. Dan sekarang Stefan menawarkannya, seolah-olah menjadi kunci yang mampu membuka satu pintu dari sepuluh pintu terkunci lainnya. Tidak menyelesaikan masalah, tetapi Lanya tahu bahwa ada yang bisa diandalkan, dan menjadi permulaan harapan bahwa segala masalah pasti ada solusinya. Lanya tersenyum. “Terima kasih, Stefan,” katanya. “Kau tahu? Kukira awalnya kau orang yang sedikit ... er, begitulah. Tetapi ternyata kau sangat berbeda dari perkiraanku, dan aku senang kau mau menemuiku sekarang untuk menyampaikan ini.” Stefan mengernyit. “Aku orang yang apa?” “Begitu deh.” “Hei, katakan.” Lanya tertawa. “Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat!” “Aku merasakan impresi negatif, Lanya.” Stefan memutar bola mata. “Oh, ayolah, jarang sekali orang-orang punya impresi buruk terhadapku di pertemuan pertama, lho.” “San menganggapmu sebagai saingan,” kata Lanya akhirnya. “Saingan? Saingan dalam hal apa?” Lanya terdiam sejenak, nampaknya salah mengucapkan kata-kata, sebab gadis itu tiba-tiba meringis malu. “Entahlah,” dustanya. “Aku juga tidak paham. Barangkali ... ah, barangkali dia menganggapmu sebagai saingan soal kecakapan. Bukankah seorang manusia yang dianggap saingan oleh seorang Patron menunjukkan kehebatannya?” Stefan mengerjap. Ia tak bisa menyembunyikan seringai di bibirnya. “Wah, Lanya,” ujarnya sok. “Kau ini memang pintar sekali untuk mengambil hati orang, ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN