Lanya merasakan hatinya mencelos. “Bohong.”
“Kalau kau tidak percaya,” kata Brian, “Rohan punya arsip dari semua jenis berita surat kabar sejak masa penjajahan dimulai. Kau bisa mencarinya di gudang penyimpanan B2.”
Stefan memainkan daun-daun basah di kakinya dengan tidak nyaman. “Ah … Ben selalu menatapnya dengan sinis, apakah mereka pernah mengenal satu sama lain? Maksudku, Ben bahkan tidak berasal dari laboratorium itu.”
“Kenapa kau tidak tanyakan saja padanya?”
“Ben tidak mau menjawab.” Stefan tersenyum masam. “Ia selalu mengelak dan mengatakan bahwa itu hanyalah kenangan lama. Dan setahuku, ia tak pernah memiliki hidup yang menyenangkan sebelumnya. Ia tak punya keluarga kandung dan ia dibesarkan oleh seorang p*****r yang sudah tobat. Setelah ibu tidak resminya itu meninggal, ia bergabung dengan sekelompok anak jalanan dan mereka memeras banyak orang. Bagi Ben mereka adalah keluarga barunya … tapi … beberapa saat sebelum para penjajah itu datang, kawan-kawannya dibantai secara sadis. Ben tidak paham betul apa yang terjadi, tapi sepertinya itu karena motif utang.”
Brian menatap Lanya yang dibalas dengan tatapan sinis. “Kalau kau curiga San adalah orang yang jahat seperti itu, aku meragukanmu. San bahkan tidak ingat siapa dirinya.”
“Kalau begitu apa kau tahu apa yang disebut dengan sifat naluriah, adikku?” Brian tersenyum. “Aku yakin San tidak melupakan seluruh ingatannya. Ia mungkin syok dengan apa yang terjadi padanya di laboratorium dan membuatnya trauma, mengakibatkan San tidak mau mengingat kembali masa lalunya. Tapi yang perlu kau tahu, setiap manusia memiliki sifat naluriah yang sudah tertanam jauh di dalam dirinya. Misalkan saja ... kau akan spontan berlari kencang ketika seekor anjing mengejarmu. Sama seperti seorang pembunuh, meski ia mengalami sebagian hilang ingatan, sifat naluriah untuk melukai seseorang pasti masih membekas erat di dirinya.”
Lanya mendelik ke arah Brian. “Kau menuduh San adalah pembunuh?”
“Kalau ia adalah bagian dari kenangan lama dari Ben, yang di mana Ben tak pernah meninggalkan wilayah Rentang Timur sebelum kemari, maka jawabannya sudah jelas. San pasti juga berasal dari sana.” Brian mendesis. “Tanyakan kepada Stefan. Ben adalah penduduk asli Rentang Timur sejak dulu. Ia baru merantau kemari semenjak penjajah menghancurkan tempat itu.”
Lanya mengerling ke arah Stefan dengan dingin dan pemuda itu tak punya pilihan selain mengangguk pelan.
“Anya, berhati-hatilah dengan San,” ungkap Brian akhirnya. “Aku tidak memintamu berhenti untuk mengikat kontrak dengan San. Aku hanya ingin kau berhati-hati, karena apapun bisa terjadi jika ia adalah orang yang berbahaya. Bahkan Ben, Patron yang ditakuti di sini, selalu memandang San sebagai ancaman. Kau mengerti?”
Lanya mendengus sembari melemparkan pandangan jijik kepada Brian. “Apa pun katamu tentang San, ia bukan orang seperti itu lagi. Apa kau tidak berkaca, Brian? Dana dulu juga wanita yang berbahaya. Tak ada yang mau memilihnya menjadi seorang Patron dan kau tiba-tiba memilihnya tanpa melirik yang lain. Tapi lihat bagaimana Dana sekarang, Brian? Nasib kita hampir sama, dan harusnya kau sadar bahwa tak pernah sekali pun aku mencurigai Dana seperti itu,” ujarnya dengan penuh penekanan. Emosi menggelegak di dalam dirinya karena hati Lanya terasa sakit. Kenapa Brian—orang yang paling ia sayang setelah Mama dan San—bisa-bisanya mengatakan hal itu?
Brian tertegun. “Anya, dia adalah...”
“Diamlah!” Lanya membentak. “Kau tahu apa? Kau tahu dari cerita sana-sini. Tetapi apakah kau pernah mendengarnya langsung dari mulut San sendiri? Atau Tuhan sendiri yang menceritakan kepadamu tentang San? Jika bukan keduanya, Brian, kau tak berhak memandangnya dari satu sisi saja.”
“Kau pikir aku sebodoh itu?”
“Ya!” Lanya berseru. Dadanya naik turun akibat kekecewaan yang membuncah di dalam hatinya. “San bukanlah orang jahat dan ia takkan menyakitiku. Semua yang ia lakukan adalah karena aku dalam bahaya, dan kuakui aku memang lemah. San melakukannya karena aku lemah dan mereka memang pantas mati.”
Brian terpaku. “Anya, kau tidak terpengaruh olehnya, bukan?”
“Kalau San memang jahat dan aku terpengaruh olehnya, Brian,” Lanya berkata dengan sengit, “aku pasti sudah memenggal kepalamu sekarang.” Kemudian gadis itu beranjak pergi dengan langkah menghentak, meninggalkan Brian yang syok dengan ucapan Lanya barusan.
Lanya pun berpapasan dengan Tommy yang baru saja memasuki hutan, mengatakan bahwa ia telat karena dihentikan oleh Hera. Tetapi Lanya tak mendengarkan. Ia terus saja melangkah dan membiarkan Tommy kebingungan.
Saat Tommy menghampiri kedua lelaki yang terpekur di tengah lapangan, ia sempat mendengar Stefan bergumam kepada Brian, “ ... sepertinya kau sendiri yang terpengaruh oleh ketakutanmu, bung. Ia sudah besar, kau tahu? Ia sudah bisa menentukan pilihannya sendiri ... dan seharusnya ia juga bisa mempertanggungjawabkannya.”
Brian tak membalas selain menghela napas panjang.