Gagal Mengendap

1525 Kata
Lanya tak mengerti mengapa hari-hari bisa berlalu begitu saja. Semenjak Brian datang dan semakin banyaknya kelas yang harus dihadiri, ia melewati hari-harinya dengan cepat. Tiba-tiba saja—bum!—hanya ada empat hari yang tersisa ketika ia mengecek kalender di dalam bangsal. Saat menyadarinya, Lanya hanya bisa termenung. Ketegangan sontak merayap tubuhnya dengan cepat, menggantikan semangat dan kebahagiaan yang memenuhi hari-harinya sebelum ini. Dalam hitungan jari ia akan berangkat melaksanakan misi pertamanya. Ia akan pergi ke kota yang sudah diduduki penjajah dan mencuri penawar virus sebanyak-banyaknya dari sana. Gagal atau kau akan mati. Lanya menghembuskan napas panjang. Memikirkan bagian yang terakhir membuatnya benar-benar lemas. Meskipun Rohan telah mengumumkan nama-nama peserta yang akan ikut ke dalam misi, Lanya tetap tak merasa lebih baik. Ia tak bisa begitu saja bergantung kepada mereka. Lanya beranjak dari tempat. Hari ini San tidak menemaninya, karena Kamp Sektor juga mengadakan kelas-kelas khusus bagi para Patron yang berlokasi jauh di dalam hutan. Karena itulah Stefan dan Tommy, dua nama yang akan menemani Lanya dalam misi kali ini, menawarkan gadis itu untuk berlatih bersama di sebuah lapangan kecil hutan. Beberapa hari lalu, ketika Rohan akhirnya memilih kedua lelaki itu untuk menemani Lanya, semua mengatakan bahwa misi kali ini akan menjadi mudah. Stefan, selain Brian, adalah salah satu dari beberapa peserta Kamp Sektor yang selalu berhasil melaksanakan misi mereka dengan baik, karena itulah tidak heran jika pada misi lalu Stefan dipilih menjadi ketua kelompok. Lanya mendapati tidak hanya kedua lelaki itu yang sedang bercengkerama di lapangan, melainkan Brian juga ada di sana. Senyum Lanya merekah di bibir secara otomatis. Ia menghampiri mereka dengan langkah lebar. “Sudah siap?” Stefan bertanya seraya mengacungkan kain-kain hitam panjang di tangannya. Lanya mengangguk. Stefan lalu menyuruh Brian untuk duduk di tengah-tengah lapangan dan menutup matanya dengan kain itu. “Brian bersedia membantu setelah aku meminta tolong,” Stefan berkata ketika Tommy membantu Brian mengenakan kain penutup mata. “Karena kita sudah memasuki pertengahan dari jadwal latihan kita, aku ingin kau belajar cara mengendap-endap dengan baik, Lanya.” Gadis itu mengangguk dan Brian menimpali, “Kau takkan tahu di mana kau harus mengendap-endap. Bisa saja di dalam laboratorium, kantor, gudang, atau bahkan di hutan seperti ini. Kami sengaja memilihkan lapangan dengan banyak daun berceceran dan suasana tenang agar kau bisa belajar bagaimana caranya meminimalisir suara yang kau timbulkan.” Lanya tersenyum miris. Brian adalah salah satu orang paling beruntung yang pernah terinfeksi. Seluruh anggota tubuhnya utuh, kecuali punggungnya yang terbakar habis. Selain itu pendengarannya juga berubah tajam, meski terkadang ia sering mengeluh telinganya berdenging karena mendengar banyak suara dengan terlalu jelas. “Kita punya waktu sampai makan siang,” kata Stefan, “dan itu berarti ... tiga jam. Waktu yang lumayan,” lanjutnya, dan ia pun menjelaskan aturan permainan dengan singkat. Lanya mengangguk lagi. Tiga jam? Lanya berharap ia bisa melakukannya. Ia pernah belajar mengendap-endap selama seharian penuh dengan San dulu, dan ia harap semua itu bakal berguna ketika lawannya kini adalah Brian. Lanya mematahkan buku-buku jarinya dan bersiap-siap di balik sebuah pohon. Tugasnya cukup mudah, ia hanya perlu melakukan putaran dari satu pohon ke pohon lain, mengambil sesuatu yang telah disematkan Tommy di dahan-dahan terendah pohon, lalu kembali ke pohon titik awal. Semua harus ia lakukan tanpa suara, dan ia tidak sendirian. Tommy dan Stefan juga akan melakukan hal yang sama. Siapa pun yang mendapatkan jumlah benda paling sedikit, maka ia akan dihukum. “Oke, mulai!” kata Brian memberi aba-aba. Semua telah bersiap di posisinya masing-masing, dan setelah Brian mengatakannya, Stefan mengisyaratkan yang lain bahwa mereka sudah siap untuk bergerak. Jantung Lanya berdebar. Kenapa ia tiba-tiba jadi gugup? Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu berjinjit untuk berpindah ke pohon sebelahnya. Ia berusaha setenang mungkin melangkah, sebisa mungkin menghindar tumpukan daun yang ada, ketika Brian tiba-tiba menggerakkan kepalanya. “Arah kananku—Lanya?” Gadis itu menahan napas dan mendapati Tommy tertawa tanpa suara di sisi lain. Stefan sendiri tidak menggubris. Ia sudah ada pada dunianya sendiri dan kini dalam proses meraih satu benda di atas dahan terdekat. Lanya membelalak. Oh, tidak!   Latihan usai ketika waktu sudah berjalan dua jam. Posisi terakhir jelas diraih oleh Lanya, dengan jumlah benda yang berhasil diambil hanya dua dan Brian selalu berhasil mendengarnya bergerak setiap tiga menit. Tidak tanggung-tanggung, Brian menuntutnya untuk bisa memanjat pohon dalam waktu yang ditentukan, padahal Lanya jarang sekali melakukannya. Ia juga disuruh melakukan serangkaian push-up dan squat jump yang membuat gadis itu akhirnya terbaring lemas. Brian terkekeh. Ia menoleh kepada Tommy dan memintanya agar mengambilkan minuman. Pemuda itu bergegas pergi dan Brian menusuk-nusuk lengan Lanya dengan ranting yang ia bawa. “Hei, bocah. Bangun.” “Hngg ….” “Kau ingat apa saja yang kukatakan tadi, ‘kan?” tanya Brian, “selama bersembunyi dan mengendap-endap, jangan pernah ....” “Panik.” Lanya menyambung di sela-sela mengatur napas. “Apapun keadaanmu, jangan panik.” Brian mengangguk. “Kau harus tetap tenang, karena kunci kesuksesan adalah kesabaran. Semua hal memiliki waktu tersendiri untuk dilaksanakan.” Stefan menonton kedua rekannya dengan seringai kecil. Ia ingin tertawa bukan karena memenangkan latihan hari ini—karena ia biasanya selalu menang—tapi karena kondisi Lanya yang membuatnya geli. Saat Stefan tahu perbedaan hasil yang diraih mereka berdua, ia hampir tertawa. Lanya melirik Stefan sebal. “Daripada menertawaiku, sepertinya mengajariku agar bisa menjadi segesit dirimu terdengar lebih baik.” Stefan mengangkat sebelah alisnya. “Tak masalah, tetapi bukankah kau punya Patron yang keren? Memangnya ia tak pernah mengajarimu caranya mengendap-endap atau apa pun yang kulakukan tadi?” Lanya berpikir sejenak sebelum menggeleng. “Ia tak pernah langsung mengajariku, tapi ia selalu membiarkanku melihat apa pun yang ia lakukan.” Brian melirik Lanya. “Apa saja yang ia lakukan?” “Banyak,” jawab Lanya ogah-ogahan. Namun tatapan Brian yang seakan menguliti setiap ingatan di dalam otak Lanya membuat gadis itu membuka mulut lagi. “Dia melakukan hal-hal yang tidak bisa kukerjakan dengan baik; memasang sistem pengaman yang kuat di rumah, menyisir lingkungan sekitar dengan indra pendengaran ... banyak sekali, aku malas menyebutnya satu-satu. Oh, tapi yang jelas, ia mengajariku bagaimana caranya agar tidak ragu-ragu dalam menyerang mereka yang membahayakan hidup kita.” “Yah, bukankah itu wajar?” Stefan menyahut dengan agak bosan. Namun, Brian tidak berpikir demikian. Semenjak Dana mengatakan hal tersebut beberapa hari yang lalu, Brian sering—bahkan hampir selalu—menaruh kecurigaan kepada San. Tapi pemuda itu tak berbuat banyak selama ini. Ia tampil sebagai peserta Kamp Sektor yang patuh, baik, dan tidak bermasalah. Ia selalu mengikuti setiap kelas yang dijadwalkan, bergabung bersama peserta yang lain, dan sesekali membantu patroli malam kalau ia tidak sedang kelelahan. “Itukah alasan mengapa ia langsung nekat menyerang sesama Patron?” Stefan dan Lanya sama-sama kaget dan menatap Brian dengan bingung. “Siapa?” tanya gadis itu dengan wajah cemas. “Kau pernah bercerita padaku, kan? Soal San yang menyelamatkanmu dari Patron Andre?” “Astaga, itu lagi?” Lanya mendesah. “Brian, Patron Andre jelas-jelas menyerangku. Jika ia melakukannya hanya semata-mata karena perintah Andre, ia takkan sampai membuatku begitu ketakutan.” “Tapi tidak seharusnya ia melukai Patron Andre, bukan?” Brian berkata. “Aku tidak bermaksud memihak Andre dan Pelindungnya, Anya—tidak—tetapi jika tindakannya hampir membahayakan nyawa Patron Andre, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?” Lanya mengerutkan dahi dan jelas-jelas ia tidak memahaminya. Brian menghela napas. “Patron adalah layaknya prajurit yang bersumpah akan melindungi tuannya hingga batas waktu tertentu; entah karena kematian atau berdasarkan keputusan bersama. Jika seorang prajurit membunuh prajurit lainnya tanpa perintah tuannya, apakah itu bisa dibiarkan? Tidak. Ia harus mengalami hal yang sama tanpa menarik tuannya ke dalam masalah sama sekali.” Lanya menatap Brian dengan kesal. “San tidak berniat membunuh zombi itu!” serunya. “Ia hanya berusaha melindungiku, sungguh!” “Dengan sengaja menenggelamkannya ke sungai dan memukul kepalanya hingga berdarah? Dan, bukankah ia sendiri yang meledakkan dua orang penjajah di pesawat itu?” Lanya membuka mulut, tapi ia tak bisa mengatakan apa-apa. Ia teringat kembali kengerian saat ia menyaksikan San, pemuda yang dulunya masih asing, memukul Patron Andre dengan brutal seolah ia adalah hewan buruan. Karena itulah Lanya refleks menghentikannya dan merasa kasihan, padahal ia tak pernah sedikit pun merasa demikian kepada zombi dan sejenisnya, terlebih-lebih kepada Patron seorang Andre. “Anya,”  Brian  bersuara  pelan.  Ia  meremas pundak  Lanya dan menatapnya tajam. “Apa kau tahu siapa San sebenarnya, atau apapun yang ia lakukan setelah keluar dari Laboratorium 02?” Tatapan Lanya berubah garang. “Memang kau tahu siapa dia?” Brian membasahi bibirnya. “Ini adalah kesaksian dari seseorang yang pernah mendekam di tempat yang sama dengan San, dan kuharap kau juga pernah mendengar desas-desus tentang alasan mengapa Laboratorium 02 sempat mengalami masalah.” Brian berhenti sejenak karena cara menatap Lanya yang tiba-tiba mengancamnya, tetapi bukan berarti Brian akan menghentikan niatnya. “San, atau N-01, adalah satu dari sekian objek penelitian yang terus-terusan mendapat suntikan virus tertentu yang dulu disebarkan para penjajah. Ada saat ketika ia disuntik dengan satu macam virus, tubuhnya bereaksi dengan hebat. Ia berakhir membunuh semua ilmuwan yang berada satu ruangan dengannya, bahkan berhasil kabur dari Laboratorium 02.” Lanya merasakan hatinya mencelos. “Bohong.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN