Pengakuan

1612 Kata
Ketika waktu makan malam akhirnya tiba, Brian secara khusus menarik Lanya dan Stefan ke mejanya. Tentu ia tak melewatkan para Patron mereka, dan Brian terus menyuruh Lanya untuk mengatakan apa saja yang terjadi di Sekolah Perang selama ia tidak ada. Lanya menceritakan semua kejadian penting yang menimpanya, mulai dari tingkah David yang melunjak setelah ditinggal Brian, sampai perlakuan antek-anteknya yang memalukan Lanya, termasuk sikap Marissa yang berubah. Air muka Brian mengeruh. “Aku ingin sekali pulang dan mengganyang bocah itu sesekali,” Brian berkata seraya menyuapkan sesendok makanan ke mulut. “Sepertinya dia sudah lupa daratan.” “Aku sudah lelah berbicara dengannya.” Brian menatap Lanya sesaat, lalu melirik ke arah San yang duduk di samping Lanya. “Kau tahu David?” tanya pria itu. Dana menyadari ada perubahan nada pada ucapan Brian, dan sang Patron merasa tidak nyaman. Dana mengerling ke arah Ben yang berdiri di belakang Stefan. Para Patron di meja itu tak ada satu pun yang mengatakan apa-apa sejak tadi, mengawal tuan-tuan mereka bagai patung kokoh yang bermata tajam. San mengangguk. “Apa kau juga tahu betapa kurang ajarnya David?” “Oh, dia sendiri yang menyelamatkan aku!” Lanya menyahut dengan bersemangat. “Aku belum cerita kepadamu bagaimana aku bisa bertemu dengan San, bukan?” lanjutnya, dan gadis itu pun segera mengatakannya kepada para penghuni meja. Mungkin hanya Stefan yang mendengarkan dengan antusias, tak mengerti bahwa orang-orang lain yang duduk di meja itu mendengarkan cerita sang gadis dengan penuh selidik dan kecurigaan. “Kau menolong Lanya padahal ia belum menjadi pemilikmu, ya?” Brian tersenyum kepada San seusai Lanya bercerita. “Kau memang orang yang baik.” San mendengus. “Itu hanya kebetulan saja.” “Tidak, aku yakin itu pasti sudah mengalir di dalam nadimu.” Brian melanjutkan. “Terima kasih.” San menatap Brian agak lama, kemudian sempat mengerling ke arah Dana yang menolak untuk menatapnya balik. Ia tak merespon apa-apa lagi dan kembali menyuapkan makanannya setelah itu. San mendengus pelan.   + + +   “Ooh, mengecewakan sekali,” San berbisik di telinga Lanya. Malam itu, malam pertama kali mereka berpatroli, bakal Lanya lewati sendirian bersama dua Patron; San dan Ben. Stefan absen karena ia harus mengikuti Hera dan Patronnya berpatroli ke perbatasan hutan bagian lain. Stefan meminta Ben untuk membantu Lanya dan San dalam patroli pertama mereka, karena Stefan sangat dibutuhkan di perbatasan sana. “Aku minta maaf karena tidak bisa menemanimu, Lanya,” kata Stefan saat mereka masih bersiap-siap tadi. “Tapi petugas perbatasan memintaku untuk berjaga di sana, jadi lain kali, oke?” “Tidak masalah,” kata Lanya saat itu. Ia memang tidak terlalu menginginkan Stefan untuk menemaninya, karena bagaimana pun juga ia tak memikirkan apa-apa soal Stefan. Ia hanya tidak suka harus berjaga di malam hari yang mencekam. Semakin banyak orang akan semakin baik, bukankah begitu? Namun kata-kata San barusan membuat Lanya jadi gondok. Ia memukul punggung pemuda itu dengan keras hingga San mengerang. Ben yang berada tak jauh dari mereka hanya mengawasi dalam bisu. Ben kemudian menggeleng dan beranjak pergi. Lanya memandang kalut dan ingin sekali menanyakan kemana sang Patron berlalu, kalau bisa mencegahnya, karena jumlah orangnya semakin sedikit. Tetapi Lanya tak berani. Ia hanya mengatupkan bibir dan San mengawasi dengan geli. “Kalau kau takut, tidur saja di dalam van.” “Tidak,” sergah Lanya cepat. “Aku akan berjaga.” “Baiklah.” San mengangkat bahu. “Lagipula kita berada di atas mobil, apa yang perlu dikhawatirkan?” Lanya teringat akan posisi mereka saat ini. Berada di luar gerbang desa, teronggok banyak kendaraan-kendaraan yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Lanya dan San sendiri memilih untuk bersantai di atas mobil van yang aslinya berwarna putih, hanya saja setelah digempur berbagai keadaan cuaca dan tak adanya perawatan membuat van nampak begitu jelek. Dari ketinggian yang tak seberapa ini, Lanya hanya mampu melihat beberapa meter ke sekeliling di bawah sinar bulan purnama. Sesekali ia akan memainkan senter, tapi San mencegahnya karena itu bisa mengundang perhatian makhluk-makhluk yang tak diinginkan. Malam yang senyap itu membuat Lanya jadi mengantuk. Ia tak pernah melakukan patroli malam sebelumnya, tetapi tidak dengan San. Ia terlihat sama bersemangatnya dengan siang hari dan Lanya berpikir mengapa seorang Patron seperti San bisa bertahan untuk tidak tidur cukup lama. “Bagaimana bisa kau tidak mengantuk selama berjam-jam tanpa tidur?” Lanya pun tanpa sadar mengucapkan pertanyaan itu sehingga San menatapnya. “Virus-virus yang ada di tubuhku membuat organ di dalamnya kuat bekerja lebih lama daripada milikmu.”  “Apa itu tak membuat organ tubuhmu kelelahan?” San hanya mengangkat bahu. “Para peneliti di Laboratorium 02 dulu bakal sesekali menyuntikkan obat tidur kepadaku, dan hanya itulah waktu tidurku. Mereka melakukannya jika aku sudah terlalu lama terjaga dan melakukan banyak aktivitas.” “Bukankah itu ... berbahaya?” “Tentu saja.” San tertawa. “Tapi apa artinya bahaya jika aku sudah menjadi seperti yang sekarang?” Lanya mendengus. “Oh, aku tahu kau memang orang yang kuat. Kau gila, malah. Mana ada yang bisa senekat itu melompat ke atas pesawat yang bergerak dan menjatuhkan bom? Kau gila, sungguh.” “Aku takkan melakukannya kalau bukan karena dirimu.” Pipi Lanya bersemu merah. Untung saja malam telah tiba dan tak ada penerangan selain senter yang dibawa Lanya, sehingga San tidak perlu tahu. “Kau benar-benar Patron yang baik, ya? Aku memang tidak salah saat memilihmu dulu. Aku jadi penasaran kenapa kau dulu sepertinya mencoba menghindar dariku. Kupikir kau membenciku.” “Kenapa aku harus membencimu?” “Kalau begitu kenapa kau menghindariku?” “Aku hanya tidak ingin kau menyesal, bukan?” San berkata. “Kau baru saja mengatakannya; aku gila. Aku mau melompat ke pesawat yang sedang bergerak dan menjatuhkan bom karena tuanku nyaris menangis memikirkan keselamatan ibunya. Aku juga pernah menyerang sesama Patron dulu.” Lanya tak tahu harus bereaksi apa. “Tapi aku tidak menyesal...,” gumamnya. “Aku tidak pernah merasa ingin melepaskanmu sebagai Patronku. Meski ... ah, apa kau pernah merasakannya? Apa kau pernah menyesal menjadi Patronku?” “Sedikit pun tidak.” Lanya tersenyum tipis. “Terima kasih, San.” San tiba-tiba menjendul kepala Lanya. “Untuk apa? Kau mengucapkannya seolah-olah kita bakal berpisah sekarang.” Lanya terkekeh pelan. “Mumpung ada waktu untuk mengucapkannya, aku ingin mengatakannya sekarang.” San tak menyahut. Ia menatap Lanya lama dan gadis itu memiringkan kepalanya bingung. Cukup lama mereka bertatapan dan Lanya ingin menanyakan apa yang ada di pikiran pemuda itu, ketika San tiba-tiba menarik Lanya dan memeluknya. Lanya terkejut. San mendekap gadis itu tanpa mengatakan apa-apa. Hawa dingin malam hari yang awalnya menusuk-nusuk Lanya, kini berganti dengan kehangatan yang menyelubungi. Lanya bisa mendengar jelas degup jantung sang Patron dan merasakan jantungnya ikut berdetak dengan cepat. “San?” “Sampai kematian menjemputku,” San berbisik. “Aku bersumpah akan selalu menjadi Patronmu, Lanya.” Lanya menahan napas dan San melepaskan pelukannya. Ia menepuk kepala gadis itu lembut dan kembali pada posisi duduknya yang semula. Ia menghadap ke arah hutan tanpa ada suara lagi. Lanya sendiri masih syok dengan perbuatan San. Kejadian barusan mungkin hanya berlalu selama lima detik, atau bahkan kurang, tapi rasanya seperti berjam-jam. Begitu membekas dan membuat wajah Lanya semerah lobster panggang. Gadis itu memandangnya dalam diam. Ada kata-kata yang ingin sekali ia ucapkan, tetapi semuanya tertahan di tenggorokan. “Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja,” San tiba-tiba berujar. “Suasana yang seperti ini selalu cocok untuk mengakui sesuatu, bukan?” Lanya menghela napas. “Aku jadi takut ... kau tahu? Aku ingat apa yang terjadi kepada Wanda kemarin. Itu benar-benar mengerikan.” Ia mengerucutkan bibir. “Apapun cara yang kaulalui untuk mati, aku tidak ingin itu terjadi padamu. Kalau bisa tidak usah mati sekalian.” “Bodoh.” San tertawa. “Setiap makhluk yang hidup akan mati, oke? Aku akan mati, begitu pula dirimu.” “Maksudku, jangan mati secepat itu!” San menatap Lanya sekali lagi, kemudian mengangkat bahu. “Kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput, kau paham? Dan kenapa kau sepertinya susah sekali untuk berpisah denganku, eh? Kau menyukaiku, ya?” katanya, dan ia mengatakan hal itu karena menyadari ekspresi Lanya sudah mengeruh. Namun, setelah mengucapkannya, wajah Lanya sontak memerah dan ia terlihat makin kesal. San mengangkat alis. “Menyukaimu?” nada Lanya meninggi, “Kenapa aku harus menyukai Patronku sendiri?” “Karena David berengsek dan tak ada lelaki yang berbaik hati padamu selain aku? Atau karena sekarang sudah ada Stefan dan Brian, jadi kau sudah beralih dariku, eh?” Lanya mendelik. “Bodoh,” serunya. “Kau orang terbodoh yang pernah kutemui, San. Sungguh.” San mengangkat bahu acuh tak acuh dan Lanya jadi sebal padanya. Meski begitu ia tak bisa menyembunyikan degup jantungnya yang semakin menggila. Lanya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus. “Atau jangan-jangan kau yang menyukaiku.” Lanya terkekeh. “Karena kau sepertinya tidak suka setiap kali Stefan mengajakku mengobrol.” “Memang,” tukas San langsung. Mata Lanya melebar mendengar ucapannya, namun pemuda itu santai-santai saja. Ia malah merebahkan tubuh di atas van dan menghela napas panjang. “Memang apanya?” Lanya berseru tertahan. Jantungnya tadi hampir meledak saat San mengatakan satu kata yang begitu ambigu tersebut. Apanya yang ‘memang’? San memang menyukai Lanya, atau San memang tidak menyukai Stefan?   YANG MANA?   Namun, San tak mengatakan apa-apa lagi. Ia justru beranjak kembali dengan cepat dan tiba-tiba menunjuk ke arah hutan gelap di hadapan mereka. Lanya tersentak, dan setelah menyadari bahwa San hanya berusaha mengalihkan perhatian, ia menendang lelaki itu dengan kesal. San terkekeh geli. Lanya kemudian kembali menanyakan hal itu, taetpi San tetap tak mau menjawab. Betapapun Lanya berusaha mendapatkan jawabannya malam itu, San masih terus saja menghindar. Ia pun mulai mengalihkan topik saat Lanya kelelahan dan mereka tak membicarakannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN