Lanya tidak pintar menembak, apalagi memanah. Ia juga tidak mengerti mengapa masih saja ada orang yang menggunakan busur silang untuk membunuh zombi, sebab di zaman seperti ini bukankah pistol adalah senjata yang terbaik? Tetapi sayangnya Lanya tidak bisa menembak, apalagi gadis itu lebih suka menebas leher zombi sekalian supaya lega. Sehingga diantara parang, golok, pedang pendek, katana, dan beberapa jenis senjata lain yang Lanya tidak mengerti apa namanya, ia memilih golok paling panjang dengan tambahan sabuk di bagian pegangan.
“Pilihan yang biasa diambil oleh para gadis sepertimu,” Angel berkomentar.
Lanya tak mengerti makna dibalik nada Angel yang datar, tapi ia mengartikan para gadis itu juga sebenarnya penakut dan sering gugup seperti Lanya saat menghadapi zombi, sehingga golok panjang dengan modifikasi seperti ini adalah yang paling tepat.
Angel lalu mempersilakan San untuk memilih senjata yang ia rasa cocok. San menghabiskan sebagian besar waktu melihat-lihat tanpa memilih. Lanya tahu San tidak membeda-bedakan senjata, karena menurutnya semua sama saja dan ia menguasai hampir semua jenis. Menurut sang Patron, semua bisa menjadi senjata yang ampuh jika kau mampu menggunakannya dengan tepat dalam keadaan yang terdesak.
Lamunan Lanya berakhir ketika pintu tiba-tiba diketuk dengan keras, dan sebelum Angel membukakan pintunya, seseorang sudah membuka pintu ke dalam. Sesosok lelaki bertubuh agak berotot, dengan rambut gelap berpotongan pendek dan mata berwarna serupa, berdiri di ambang pintu. Seisi ruangan menatapnya kaget, tapi yang paling terkejut adalah Lanya.
“Brian?”
Brian bereaksi saat Lanya menyebut namanya. Senyum terkembang di wajahnya yang kelelahan.
“Brian!!” Lanya sontak menjerit. Ia berlari menerjang yang segera disambut dengan sebuah rangkulan. Mereka bahkan berputar-putar dengan gembira bagaikan dua anak kecil yang lama tidak bersua.
San menyaksikan mereka dengan bengong, begitu pula dengan Angel.
“Astaga, aku kangen dirimu!” Lanya berseru. Ia tiba-tiba terdengar seperti ingin menangis. “Kenapa kau tidak pernah memberi kabar lagi? Kau tahu betapa Mama dan aku mencemaskanmu? Kau tahu berapa banyak orang yang merindukanmu? Kau tahu—“
“Aku tahu, aku tahu.” Brian tersenyum. Jika ia adalah seorang gadis seumuran Lanya, mungkin mereka berdua sudah tenggelam dalam tangis haru karena saking bahagianya. Namun kenyataannya, Brian adalah laki-laki di pertengahan dua puluh dan memeluk gadis itu dengan erat sudah cukup untuk mencurahkan sebagian rasa rindu.
“Aku minta maaf,” Brian berbisik di telinga Lanya. “Terlalu banyak hal yang perlu kulalui, Anya. Urusan tidak lagi semudah sewaktu masih di Sekolah Perang dulu ... dan percayalah bahwa aku sebenarnya ingin pulang, tapi selalu saja ada yang mencegahku.”
“Apa itu?” Lanya melepaskan pelukan dan menatap Brian dengan curiga.
“Akan kuceritakan nanti,” Brian berbisik. Ia mengelus rambut Lanya, kemudian menambahkan, “Dan sebagai gantinya kau harus menceritakan mengapa kau bisa sampai di sini, oke? Lalu ....”
Brian mengalihkan pandangan untuk menatap Angel sejenak yang terlihat kesal untuk menyapanya. Kemudian Brian beralih menatap San sebelum menghampiri sang Patron. Brian sudah membuka mulut untuk memperkenalkan diri, tapi perhatian San keburu berpindah saat Dana melangkah masuk dan Lanya berseru lagi untuk menyapanya. Lanya juga memeluknya dan wanita dengan kedua kaki palsu berujung setajam pisau itu memeluknya balik.
Lanya kemudian menunjuk San untuk memperkenalkannya sebagai sang Patron. Dana menatap San sekilas. Tanpa reaksi tambahan, ia menyusul Brian yang sudah ada di sisi San.
“Namaku Brian,” lelaki itu baru mengatakannya sewaktu Dana sudah mendekat. “Dan ini Dana, rekanku. Kudengar kau berasal dari Laboratorium 02, sungguh? Dana juga berasal dari sana. Kalian pasti setidaknya pernah mendengar nama satu sama lain, bukankah begitu?”
San memiringkan kepala saat tatapannya bertemu dengan Dana. “Benarkah? Aku tidak ingat soal—“
Ucapan San terpotong ketika Dana tiba-tiba menyentakkan kantong kertas dari kepala San, menunjukkan rupa asli kepalanya yang dibalut perban. Tak hanya Brian, seisi ruangan juga terkejut melihat tingkah Dana barusan.
“Da-Dana?” Lanya kebingungan melihat tingkahnya. “Kenapa ....”
Dana tak menjawab. Ia hanya menatap mata kanan San yang tidak tertutupi perban tanpa kedip. Merasa gerah, San dengan cepat meraih kantong kertas itu lagi dan menutup wajahnya. “Aku tidak ingat pernah mengobrol denganmu, benar?”
Brian melirik Patronnya dan tak sedikit pun senyum terpatri di bibirnya. Ia hanya mengangguk singkat. “Ya, terlalu banyak orang di laboratorium itu,” katanya lugas. “Namaku Dana. Senang bisa berkenalan denganmu.”
San mengangguk. “Senang berkenalan denganmu juga, Dana, dan Brian.”
Angel menyaksikan pertemuan tersebut dengan jenuh. “Hei, bocah!” hardiknya kepada Brian. “Keluarlah! Aku tahu kau masih ingin melepas rindu dengan sahabatmu ini, tapi apa kau tidak tahu mereka sedang menghadiri kelas?”
Brian meringis. “Oke, nona,” ujarnya sambil terkekeh geli. Dana mendahuluinya keluar ruangan dan pemuda itu segera memberi isyarat kepada Lanya bahwa mereka akan bertemu lagi nanti. Lanya mengangguk dan Brian pun menutup pintu bangunan kembali.
“Astaga,” gerutu Angel. “Aku paling benci diinterupsi, kalian paham? Nah sekarang, San, cepat ambil senjata pilihanmu. Lanya, kau tentukan juga senjata cadanganmu dan kita akan mengetesnya sejenak setelah ini. Cepat!”
+ + +
“Kenapa Angel semakin galak saja?” Brian menghela napas saat ia baru saja melangkah beberapa meter meninggalkan Gudang Senjata C1. Dana mendengus dan tak ada ekspresi yang berubah di wajahnya. Ia hanya memandang lurus ke depan, sebagaimana ia biasa berekspresi, tetapi Brian tidak diam saja. Ia menyamakan langkah dengan sang Patron.
“Ada apa?” desak Brian.
“Apa?”
“Aku sempat mengawasimu,” ucap Brian curiga. “Aku melihat perubahan raut wajahmu setelah melepas kantong kertas Patron itu.”
Dana tak menyahut.
“Kau mengenalnya, ‘kan?”
“Tidak.”
“Kau kira bisa berdusta di saat seperti ini?”
Dana menggigit bibirnya ragu. Brian telah menatapnya tajam dan Dana tahu dirinya tidak bisa menyembunyikan apa-apa kepada tuannya ini. “Daripada mengenal, aku hanya sekedar mengetahuinya. Semua penghuni Laboratorium 02 tahu siapa dia.”
Brian mengernyit. “Sungguh? Memangnya dia siapa?”
“Dulu namanya N-01, dan ia adalah ….” Dana berhenti sejenak, lalu menghela napas kecil. “Ia adalah alasan mengapa Laboratorium 02 akhirnya melepaskan sebagian bahan penelitian mereka. Kau mungkin tidak tahu, tapi tak pernah ada yang bisa keluar dari Laboratorium 02 sebelum dia melakukannya.”
Brian merasa tidak nyaman dan mengerling ke gudang senjata di belakangnya. “Apa yang dia lakukan?”
“Membantai seluruh ilmuwan yang sedang berada satu ruangan dengannya,” jawab Dana pelan, seolah itu adalah hal tabu untuk dibicarakan. “Aku tak tahu persis kejadiannya, tapi pada saat itu para ilmuwan sedang menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya, yang membuat N-01—maksudku San—bereaksi diluar dugaan dan membantai habis seisi ruangan.”
Brian berhenti melangkah. Matanya membelalak dan ia terlihat geram. “Kenapa kau baru mengatakannya?”
“Jangan, Brian!” Dana langsung meraih tangan lelaki itu saat Brian bergegas pergi. Brian tersentak dan Dana menariknya mendekat. “Jangan kembali! Itu adalah kejadian bertahun-tahun yang lalu, Brian, waktu di mana aku juga masih menjadi orang yang liar. Sekarang kau lihat bagaimana diriku berubah, dan ia pasti juga mengalami hal yang sama, bukan?” Dana nyaris tidak bernapas saat mengucapkan semua kata itu dengan cepat. Brian membuatnya tegang. “Sebab, jika tidak, ia pasti tadi sudah berusaha menutup mulutku dengan cara yang berbeda. Apa kau paham?” lanjutnya lagi.
Brian hanya menatap Dana dengan mata melotot. Dana tahu Brian berusaha meredam emosinya. Selang beberapa saat, ia pun menghela napas panjang. “Kau menyuruhku diam?”
“Aku meminta tolong kepadamu.” Dana memohon. Ia berkata dengan cepat. “Anggaplah ia sama sepertiku. Kita juga tidak tahu bagaimana perubahannya saat ini, bukankah begitu? Tunggu dan perhatikan saja, Brian. Aku yakin, dengan menjadi seorang Patron, ia pasti sudah berkomitmen untuk berubah. Kau masih ingat syarat-syarat untuk bisa diakui sebagai seorang Patron, bukan?”
Brian berdecak kesal. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam otaknya, dan ada satu pertanyaan terpenting yang ingin sekali ia tanyakan.
Kenapa bisa-bisanya Lanya mendapatkan Patron seperti itu?