Kedatangan Brian

1013 Kata
Lanya tidak merasa lebih baik setelah bangun tidur. Yang ada kepalanya menjadi lebih pening dan tengkuknya tegang, namun gadis itu berusaha tidak mempedulikannya. Ia segera beranjak mandi lalu menyusul San yang sedang bercengkerama di luar bangsal bersama beberapa orang lain. “Lanya, kita ada kelas tambahan.” San menyeringai saat bahu Lanya merosot mendengarnya. “Kata Rohan, kita hanya perlu duduk dan mendengarkan, jadi bersabarlah.” “Oke, di mana?” “Gudang senjata C1,” kata San dengan nada yang berubah serius. Lanya mengangkat alis dan pemuda itu segera mengajak Lanya pergi. Butuh waktu hampir lima belas menit bagi mereka untuk mencapai sebuah bangunan batu bata panjang yang dilapisi asbes jauh di dalam hutan. Wanita bertubuh tegap yang tadi pagi Lanya temui merokok di ruangan Rohan sekarang sedang menunggu. Ia pun masih menghisap rokok dengan santainya di sana. “Lanya dan San?” tanya wanita bersuara serak itu. Ia membuang puntung rokok yang sudah ia padamkan ke tanah. “Namaku Angel—Angelina. Masuklah ke dalam bersamaku, ada yang perlu kalian ketahui.” Angel, wanita berambut hitam lurus yang dipotong sebahu, segera melangkah masuk dengan langkah agak timpang. Tubuhnya tinggi dan jangkung, membuat Lanya harus mendongak setiap kali menatapnya. Angel menutup pintu setelah kedua orang itu masuk dan mempersilakan mereka duduk. Tak ada apa-apa di ruangan selain rak-rak buku yang berjajar dan beberapa kursi yang mengelilingi meja besar. Meja dan kursi-kursi itu menghadap sebuah dinding kosong, yang di mana seluruh permukaan dinding di dalam bangunan itu dilapisi kayu. Angel memulai kelas tambahan dengan menanyakan senjata apa yang biasa digunakan Lanya dan San selama ini. Setelah menjawabnya, Angel menjelaskan senjata-senjata yang biasa dipakai orang, baik untuk melawan zombi atau makhluk lain. Ia kemudian menunjuk rak-rak buku di sampingnya dan berkata, “Itu adalah buku-buku tentang berbagai macam senjata, tapi aku takkan membahasnya di sini. Aku benci buku dan cobalah baca sendiri jika kau mau.” Angel mendekati dinding kosong di depan meja, lalu menggeser sebuah papan yang menyingkap sepetak besar membentuk pintu. Di baliknya, berbagai macam senjata terpampang dan Lanya refleks bergumam “woah” saat melihatnya. “Ini cuma model saja,” kata Angel. “Hanya digunakan para peserta untuk menentukan mana kiranya yang pantas untuk mereka pegang dan gunakan. Senjata-senjata aslinya ada di gudang sebelah, tersimpan di bawah tanah. Kalian akan ke sana sebentar lagi, tapi akan kuberitahu—inilah senjata yang umumnya digunakan para peserta.” Lanya terpana melihat model-model senjata di hadapannya. Ia hanya tahu beberapa diantaranya; kukri, parang dan golok dalam berbagai ukuran, pedang pendek, katana, bahkan pisau dengan tiga sisi pisau berputar yang pernah digunakan Brian untuk mengoyak tubuh hewan buruan dulu. Sisanya adalah senapan berlaras panjang atau pistol biasa—beberapa adalah Colt yang biasa digunakan orang-orang Sekolah Perang, berbagai jenis peledak, dan juga busur silang—crossbow—yang terpampang di pojok. Lanya memang tak mengerti semua senjata itu, tapi ia tahu persis, bahwa ia baru saja ditunjukkan sebagian kecil dari surga senjata. “Kalian  akan  memilih  dua  yang  paling  sering  kau gunakan dan yang menurutmu cocok untuk kebutuhanmu kelak,” Angel menambahkan. “Sekarang, jangan sia-siakan waktuku dan segeralah memilih. Kita masih harus pergi ke gudang bawah tanah setelah ini.”   + + +   Jeep berguncang-guncang hebat ketika melewati gundukan yang cukup besar. Orang-orang di dalamnya sudah mabuk darat, begitu pula dengan seorang lelaki yang duduk di pojok samping pintu belakang. Tetapi ia tidak bisa tidur seperti yang lainnya. Ia tetap terjaga karena ada sesuatu yang membuatnya tak bisa memejamkan mata sedari tadi. Hingga wanita di seberangnya yang telah tertidur sejak beberapa jam lalu akhirnya bangun kembali, lelaki itu masih terus melek. Ia pun memerhatikan wanita itu menguap sembari menyunggingkan senyum. “Kita hampir sampai, Dana,” ucapnya penuh semangat. Dana, wanita berambut gelap yang dikuncir sembarangan, menatap laki-laki di pertengahan dua puluh itu tanpa ekspresi. Ia masih mengantuk, tentu saja, dan sang Patron tak merespon selain mengangguk pelan dan kembali memejamkan mata. Brian menghela napas. Ia melongok ke jendela pintu yang kecil untuk melihat sudah sampai sejauh mana jeep ini berkendara. Brian tak memercayai matanya sewaktu menyadari mereka telah melewati pekuburan mobil yang tersebar tak jauh dari gerbang desa. Senyum terkembang di bibir Brian. Ia sudah tidak sabar menemui Lanya, gadis yang tak pernah sekali pun Brian lupakan semenjak mereka berpisah. Awalnya ia tak memercayai berita yang disampaikan Rohan sebelum Brian berangkat, bahwa seseorang dari Sekolah Perangnya akan datang, seorang gadis bernama Lanya. Brian juga tak yakin dengan pendengarannya saat Rohan mengatakan bahwa Lanya dan Patronnya baru saja menyelamatkan Sekolah Perang dari ancaman bom dan penjajah. Brian ingin sekali membatalkan keberangkatan ke Kamp Pusat untuk pulang sejenak dan menyusul Lanya, tapi Stefan—sahabatnya—mengatakan bahwa gagasan Brian sangatlah konyol. Brian juga tak punya alasan kuat untuk membantah Rohan, maka ia pun berangkat dengan perasaan campur aduk. Hanya Stefan yang selalu menjadi tempat Brian bercerita sejak dulu, sehingga ia pasti setidaknya tahu siapa Lanya. Dengan alasan itulah Brian akhirnya menitipkan Lanya kepada Stefan. Dan kini gerbang desa sudah ada di depan mata. Waktu telah berlalu dengan cepat dan Brian ingin rasanya segera melompat dari jeep, menemui Rohan sebentar, lalu bergegas mencari gadis itu. Namun, ah ... tentu saja ia tak bisa melakukannya seenak hati seperti itu. Ia harus menunggu kendaraan ini terparkir dulu, baru ia akan melewati serangkaian pengecekan oleh petugas. Setelah itu, ia mesti disambut oleh Rohan dan menceritakan inti-inti dari perjalanannya—yang setidaknya butuh waktu tiga puluhan menit—kemudian barulah Brian bisa mendapatkan waktu bebasnya. Ketika jeep akhirnya berhenti, Brian cepat-cepat membukakan pintu belakang. Beberapa orang petugas menyambut para peserta di dalamnya dan membantu mereka mengeluarkan barang. “Hei, ayo.” Brian menepuk Dana agar wanita itu terbangun. Dana mengikuti Brian turun dari jeep dengan limbung, mendahului beberapa rekan di dalamnya, membuat mereka dicek duluan oleh para petugas. Sesuai dugaan Brian, ia melewati serangkaian proses yang harus dilaluinya selama kurang lebih tiga puluhan menit itu. Untung saja Rohan tidak menuntut banyak, karena Brian sudah memasang tampang kelelahan. Saat Rohan akhirnya membiarkan Brian untuk pergi, lelaki itu dengan cepat menarik Dana agar mengikutinya. Oh, dia begitu merindukan Lanya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN