San tidak sempat bereaksi karena jarak mereka yang sudah terlampau dekat. Yang ia tahu, dalam detik berikutnya, sosok tak berdada itu berusaha meninjunya, tapi San menunduk untuk meraih pinggang sosok itu. Mereka terjungkal dan berguling ke medan tanah yang menurun. Tubuh mereka terhempas-hempas ke tanah dengan keras ketika permukaan tanah menjadi makin curam, dan mereka akhirnya terlempar ke dasar dengan suara debuman yang keras.
San tak sedikit pun melepaskan cengkeraman dari sosok itu, begitu pula sebaliknya. Ketika mereka akhirnya tiba di dasar hutan, San segera mengeluarkan senapan kecil yang tersembunyi di saku jaket dan membidik ke mata sosok di bawahnya, sementara lelaki itu telah meraih leher San.
Sosok itu menahan napas. San tahu ia ketakutan setengah mati meski tak bisa merasakan adanya detak jantung lagi dari lelaki itu. Tapi mata kecilnya membelalak lebar, wajahnya pucat pasi, dan bibirnya mengatup rapat.
“Kau masih punya kepala?” sosok bernama Liben itu bergumam tak percaya. “Seharusnya kepalamu sudah ....”
“Ya, dan aku menjahitnya kembali,” San mendesis. “Coba untuk melepasnya maka kau bisa menyusul kawan-kawanmu di pekuburan.”
Ben menyentak San menjauh. Pemuda itu dengan cepat berdiri seraya menyimpan pistolnya kembali, sementara Ben mengacak rambutnya yang kotor. Ia meludah. “Begitu kau mengaku tidak ingat jika berasal dari Rentang Timur? Omong kosong. Kau tahu semuanya.”
“Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak ingat Rentang Timur, Sahabat.” San tersenyum manis. “Aku hanya tidak menjawabnya dan kalian menginterpretasikan sendiri jawabanku sebagai ‘tidak’. Lagipula, aku memang tidak ingat apa-apa memori tentang diriku sebelum memasuki Laboratorium 02.”
Ben menatapnya curiga. “Tapi kau kembali ke sana setelah keluar dari laboratorium?”
San tak berkata-kata selama beberapa detik, sebelum tawanya pecah. “Beberapa ilmuwan yang menahanku sering mengembalikanku ke Rentang Timur untuk melihat reaksiku, apakah aku bakal mengingat kembali ingatan masa laluku atau tidak—dan memang tidak. Semua yang kuingat sekarang hanyalah apa yang terjadi setelah itu.”
“Tapi kau ingat telah melakukan itu?” Suara Ben meninggi. “Menghabisi keluargaku?”
“Keluarga?” San terkejut dengan dibuat-buat, lantas terkekeh pelan. “Teman-teman bajinganmu itu? Kau menyebutnya keluarga? Oh, kau memang sama bajingannya kalau begitu ... dan itu berarti kau juga berasal dari Rentang Timur! Ternyata kau, eh? Siapa namamu?”
“Ben.”
“Ben, pasti bukan nama aslimu.”
“Karena Stefan memberikannya kepadaku dan aku tidak berniat menggunakan nama lama.” Ben menggertakkan gigi. “Tapi aku masih ingat persis siapa namamu.”
Senyum San lenyap. “Oh, tidak.”
“Dan aku masih ingat jelas di mana kau meninggalkan bekas luka terdalam kepada keluargaku, San. Aku takkan melupakannya. Aku takkan pernah melupakannya.”
“Kau seharusnya lupa,” San menyahut. “Apa gunanya mengingat masa lalu? Mereka adalah hal terjauh yang takkan bisa kau gapai kembali. Lagipula dengan mengatakan hal itu, apakah kau bisa kembali ke sana dan mengubah kejadiannya?” San tertawa. “Ben, kau takkan pernah bisa mengembalikan keluargamu. Lupakan juga aksi niat balas dendammu kepadaku.”
Ben membelalak. “Kau pikir berapa tahun aku menanti untuk bertemu b******n sepertimu?” Ia meraung. “Aku melalui banyak sekali masalah hingga menjadi seperti ini agar bisa mencarimu kembali, menghancurkan kepalamu, dan menguburmu dengan kotoranku! Tapi sebelum aku bisa melakukannya, kudengar kepalamu sudah terlepas duluan!”
“Bukankah itu bagus? Kau tak perlu buang-buang tenaga.”
Ben merangsek mendekat dan San sontak meraih pistolnya. “Dengarkan aku, bocah.” Ben mendesis. Wajahnya merah padam dan ia terlihat begitu berbahaya. Tubuhnya besar, terlihat lebih besar saat kejadian eksekusi beberapa waktu lalu, dan berotot. San bahkan tidak sampai 180 sentimeter, dan tubuhnya juga tidak kekar. Ia terlihat kecil, tapi San tak merasakan getaran apa-apa di hatinya.
“Yang ingin kulakukan adalah meremukkan seluruh organ tubuhmu.” Ben terdengar seolah-olah menahan gejolak untuk membunuh San saat itu juga. Ia mengangkat tangan dan membuat gerakan menghancurkan sesuatu dalam genggamannya. “Dan kini kita sama-sama bertemu di Kamp Sektor, bisa kau bayangkan perasaanku?”
“Bisa.” San mengangguk kalem. “Perasaanmu sama seperti yang dimiliki seorang gadis yang sedang pubertas dan naksir lawan jenis; diam-diam mengintip dan minta dipertemukan melalui orang lain. Hanya saja bedanya dia punya jantung, tapi kau sepertinya tidak.”
Mata Ben membeliak makin lebar. Ia sudah siap meraih kepala San tapi pemuda itu dengan gesit menghindar. sewaktu Ben berbalik, San tak ada di dekatnya. Ia mencari pemuda itu dengan bingung. Mata kecilnya jelalatan penuh emosi, kemudian ia mendongak dan San tiba-tiba menerjangnya dari atas. Ben berusaha menghindar dan sekali lagi berguling di tanah, namun San dengan cepat meraihnya dan menodongkan pistol ke dahi Ben.
“Sudah kubilang, lupakan saja,” San berbisik setelah menyadari Ben gemetar di bawahnya. Ia sama sekali tak mengira bahwa sang algojo yang kemarin terlihat begitu mengintimidasi kini bakal gemetaran di bawahnya. “Kita sama-sama menghadiri Kamp Sektor, kebetulan yang begitu menyenangkan, bukan? Aku tahu bagaimana perasaanmu yang begitu campur aduk untuk menemui orang yang pernah membantai habis keluargamu—ya—aku tahu.”
Ben tak menyahut dan San tiba-tiba menelusuri garis hidung Ben dengan perlahan menggunakan moncong pistol. Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut yang membuat Ben merasa makin ngeri.
“Tapi mari kita lupakan hal itu.” San tersenyum. “Aku tak berniat melawan siapa-siapa lagi kecuali mereka yang mengganggu Lanya, Ben. Kau boleh saja membalaskan dendammu kepadaku, meremuk organ-organku seperti serpihan kayu, tapi percayalah bahwa aku takkan membalasmu. Lakukan saja apa yang kau inginkan.”
“Kenapa?” Ben berbisik dengan emosi tertahan. Ucapan San membuatnya tersinggung; antara kecewa, marah, dan kesal.
“Sama sepertimu, terlalu banyak hal yang kulewati setelah keluar dari Laboratorium.” San menghela napas. “Aku menyadari perbuatan dan dosa-dosaku sebelum semua ini terjadi. Aku membunuh keluargamu, orang-orang tak bersalah, dan aku tak ingin mengulanginya lagi. Sudah cukup, Ben. Aku sudah muak.”
Ben melongo sesaat ketika San beranjak dari posisinya. “Sudah waktunya bagiku untuk melakukan kebaikan, oke? Jadi kalau kau mau menyerangku, lakukan saja. Tapi aku takkan melawanmu balik. Aku akan merangkulmu kalau kau mau.”
Ben menahan napas dan ikut berdiri. “Jangan main-main!!” serunya, dan langkahnya terhenti ketika San tiba-tiba menembakkan pistol. Ben tak bergerak. Ia menatap pemuda di hadapannya dengan perasaan tidak karuan. Jika ia masih punya jantung, mungkin benda kecil itu akan meledak sekarang. Tapi, tidak. San mengarahkan pistolnya ke lubang d**a Ben yang tembus itu dan menembak di sana, sehingga pelurunya pun lewat begitu saja.
Meski begitu Ben tetap tak bisa bergerak. Ia gemetaran hebat.
Sementara itu San terlihat senang dengan pistolnya. Ia memandang benda itu dan membolak-baliknya dengan perasaan terhibur. “Lucu juga, ya, menembak ke arah lubang tembus di tubuh seseorang. Mau kucoba lagi, Ben?”