Kegiatan mereka selanjutnya adalah pembagian jadwal patroli. Lanya dan San cukup mengecek selembar kertas besar yang sudah dituliskan nama-nama orang yang tergabung dalam kelompok tertentu. Lanya dan San kebagian patroli setiap malam Senin dan Rabu, dan Lanya begitu senang mengetahui bahwa jadwal patroli Rabu bersamaan dengan jadwal Brian.
“Oh, dan jadwal Senin bersama dengan Stefan, kenapa kau tidak bahagia?”
Senyum Lanya hilang seketika saat menatap San dengan heran. “Ada apa dengan Stefan? Kau terus-terusan membahasnya, apa kau ingin berkawan lebih dekat dengannya?”
Alih-alih merespon, San mengacuhkan gadis itu dan pura-pura membaca ulang jadwal patroli mereka. Lanya mendesah sebal dan berkomentar lagi, “Katakan saja kalau kau yang sebenarnya senang. Kau pasti tidak sabar untuk bertemu dengan Patron Stefan.”
San sontak mengumpat. Ia berusaha menjambak rambut Lanya, tetapi gadis itu sudah terlanjur kabur dari perpustakaan duluan. San mengikutinya dengan langkah lebar, dan saat ia hampir meraih Lanya, gadis itu berbalik dengan tiba-tiba.
“Aku mau tidur dulu.” Lanya mengelak. “Karena kau tidak tidur, kenapa kau tidak berkeliling saja? Atau, temui saja Patron Stefan.”
“Ya, ya. Teruskan saja.” San mendesah.
“Aku serius.” Lanya terkikik geli. “Mungkin saja ia temanmu, bukan?”
San mengerutkan dahi. “Aku tidak punya …."
“Pokoknya aku mau istirahat sebentar,” sela Lanya seraya menguap. “Badanku juga sakit semua! Aku mau minta pijat yang lain saja, deh. Pijatanmu serasa mau mematahkan tulangku saja.”
San tak menyahut. Ia mengibaskan tangan untuk mengusir gadis itu dari pandangannya. Lanya menjulurkan lidah sebelum bergegas meninggalkan sang Patron sendirian. San memerhatikan punggungnya menjauh hingga menghilang ke dalam bangsal, barulah ia berjalan ke alun-alun.
Ia takkan mencari Patron Stefan, sosok tak berdada yang mengerikan itu. Kenapa juga San ingin mencarinya? Ia terlihat menakutkan. Apalagi caranya memenggal kepala mendiang Wanda kemarin. Begitu tegas dan tanpa perasaan, seperti ....
“San!”
Seseorang memanggilnya dari kejauhan. San menoleh ke arah Vanesa yang berlari dari arah gerbang desa.
“Rohan mencarimu,” kata Vanesa dengan napas terengah-engah. “Ia bilang kalian harus mengikuti kelas tambahan sore ini.”
San spontan mengulum senyum. “Sungguh?” katanya, lantas ia membayangkan Lanya yang kini sudah terkapar di atas tempat tidur kelelahan dengan sekujur tubuh terasa pegal. Ia tak yakin gadis itu mau diseret untuk mengikuti kelas lagi.
Vanesa mengangguk dan San bergegas menemui Rohan seorang diri. Ia tak perlu memasuki Rumah Pertama karena Rohan sendiri sedang melangkah bersama seorang petugas di jalan utama, ke arah San berasal. Ia sepertinya sedang menjelaskan sesuatu yang penting kepada petugas itu, karena San mendapati wajah sang petugas terlihat tegang. Saat Rohan melihat San mendekat, ia mengakhiri pembicaraan itu dan menyilakan sang petugas pergi.
“San.” Rohan mengisyaratkan pemuda itu agar menghampirinya. “Ada beberapa hal yang perlu kukatakan.”
“Ada apa?”
“Sebelum itu ... di mana Lanya?”
“Dia beristirahat sebentar,” San menjawab. “Badannya pegal-pegal. Kegiatan di Sekolah Perang tidak sepadat di sini, sepertinya.”
Rohan mengangkat sebelah alisnya dan merasa geli mendengar ucapan San. “Baiklah kalau begitu. Katakan kepada Lanya bahwa nanti sore kalian akan mengikuti kelas tambahan, tetapi jangan khawatir. Kalian hanya akan duduk dan mendengarkan,” ujarnya. “Dan, sayangnya aku ingin mengatakan kepada kalian mengenai apa yang bisa kalian lakukan selama misi pertama nanti... tapi aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan mengatakannya dua kali. Ajaklah Lanya untuk menemuiku sehabis makan malam, karena hanya itulah waktu yang tepat untuk mendiskusikannya.”
San mengangguk.
“Yang terakhir,” Rohan berkata, dan suaranya memelan. “San, apa kau berasal dari Rentang Timur?”
San tak merespon selain menatap Rohan dengan agak bingung. Dahi Rohan berkedut samar melihat reaksi San dan ia tersenyum. “Kau tak perlu ragu. Katakan saja.”
“Maafkan aku, Rohan, tapi … aku tidak ingat apa-apa,” San menghela napas. “Kau tahu aku berasal dari Laboratorium 02 dan apa yang terjadi pada makhluk-makhluk sepertiku yang terperangkap di sana?”
Ekspresi Rohan terlihat seperti baru saja diingatkan. “Oh, ya.”
“Ada apa dengan Rentang Timur?” San bertanya. “Orang-orang mengatakan bahwa Rentang Timur adalah perbatasan negeri ini dengan negeri tetangga, lalu ada apa dengan tempat itu?”
Rohan menggeleng. “Hanya tempat terburuk di negeri ini,” katanya, lantas terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah sebaiknya mengatakan yang sebenarnya. Tak ada pilihan. “Penuh penjahat … pemeras ... pemberontak negeri … sarang para penjajah … dan hal-hal terburuk yang bisa kau bayangkan. Kalau kau memang tidak ingat apa-apa, tidak masalah. Jangan pikirkan pertanyaanku tadi.”
Sewaktu San menatap Rohan dengan tatapan janggal, Rohan kembali menambahkan, “Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kau adalah penjahat dan sebagainya, karena tidak semua penduduk Rentang Timur seperti itu. Aku hanya harus menanyakan hal ini kepada setiap pendatang baru.”
San menghela napas pendek. “Oh, maafkan aku.”
“Tidak usah cemas.” Rohan tersenyum. “Itu hanyalah perintah dari atasan.”
“Kalau begitu ….” San menelengkan kepala. “Apakah ada pendatang dari sana di Kamp Sektor ini?”
“Ya...” kata Rohan setengah menerawang, “kau pasti akan mengetahuinya nanti. Cepat atau lambat.”
San menggaruk leher gelisah. Ada apa dengan Rentang Timur dan orang-orangnya? Ia tidak paham dengan pandangan orang-orang. Bukankah menjadi seorang penjahat atau bukan itu adalah suatu tindakan manusiawi, terlebih-lebih dengan kondisi negeri ini? Tapi San tak mengucapkan apa-apa lagi selain pamit diri.
San kembali ke alun-alun dan memutuskan untuk berbelok ke area hutan. Ia ingin melakukan sesuatu sedari tadi. Ada sesuatu yang mendesak San untuk menuju ke sana, tetapi karena ada Lanya, ia ingin menahannya terlebih dahulu. Namun kali ini Lanya sedang tidur, jadi ia bebas untuk melakukannya kapan saja.
San melewati area makan dan terus berjalan. Ia tiba di lapangan kecil tempat kelas pertama tadi diadakan, dan sekarang keadaan di sana sedang sepi. San memasukinya dan berjalan menuju pepohonan di baliknya, sewaktu ia mendengar ada suara gemerisik.
San menoleh dan tiba-tiba sesosok besar pria menerjangnya.