“Anya, makanlah.”
San mendesak gadis itu saat mereka baru saja duduk di meja makan. Waktu telah berganti menjadi siang hari dan orang-orang kini mulai memenuhi area makan. Semua terlihat biasa saja, tak seperti Lanya yang masih pucat, seolah kejadian tadi tak berpengaruh sama sekali kepada mereka. Yah, sebenarnya wajar saja, bukan? Ini Kamp Sektor, tempat orang-orang biasa menghadapi bahaya yang jauh lebih besar, dan itu berarti mereka lebih sering menyaksikan orang mati daripada menyambut kedatangan orang baru.
Lanya hanya menggeleng. Ia menyandarkan dagu pada meja karena nafsu makan yang memudar, padahal San sudah membawa sepiring besar porsi makan siang yang menggugah selera.
“Apa yang kau pikirkan?” San bertanya. “Katakan kepadaku. Jangan jadikan apa yang kau lihat tadi sebagai beban, Anya. Kau harus menenangkan dirimu.”
Lanya menghembuskan napas panjang dan memejamkan mata sejenak. “Aku membayangkan bahwa yang berdiri di sana tadi adalah dirimu,” gumamnya, dan San mengawasi Lanya tanpa kata. Lanya melanjutkan, “Aku tidak bisa membayangkan kau akan berada di sana dan harus berpisah denganku. Aku ... aku tidak mau.”
San memandang piringnya yang masih penuh dan bahunya melesak. “Semua orang akan mati,” katanya. “Tetapi aku masih di sini. Kenapa juga kau harus membayangkannya, Anya? Kau ingin aku mati sekarang? Tidak, ‘kan? Aku di sini untuk melindungimu. Aku takkan mati semudah itu.”
Lanya menyeringai sedih dan San pun menyendok makanannya. Ia mencoba menyuap gadis itu, tapi Lanya menepis dengan halus.
“Tidak,” erangnya. “Aku mau minum jus saja.”
Lanya akhir beranjak untuk menghampiri meja dengan termos dingin besar menanti. Ia merogoh tas pinggang yang baru saja diberikan oleh Vanesa dan mengeluarkan gelas kecil dari dalam. Lanya memenuhi gelas itu dengan jus dan berbalik, sewaktu ia mendapati Stefan berada tepat di belakangnya, dengan kaos yang sudah diganti.
Lanya tersentak dan tak mampu mengatakan apa-apa sementara potongan kejadian tadi kembali menerjang otaknya. Stefan yang semula terlihat kalem dan ceria, kini tampil sebagai sosok misterius dengan senyum penuh arti di mata Lanya.
Menyadari gadis itu tak kunjung bereaksi, Stefan akhirnya menyapa duluan sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Hei, Lanya. Hei? apa kau melamun?”
“H-halo,” Lanya menjawab dengan gugup. Ia cepat-cepat menyingkir untuk memberikan akses bagi Stefan mengisi gelas besarnya dengan jus. Ia tak segera beralih dari tempatnya, melainkan menunggu pemuda itu untuk selesai. Ada sesuatu yang mendesak di dalam dirinya untuk segera ditanyakan.
Menyadari bahwa dirinya sedang dinanti oleh Lanya, Stefan menoleh dengan senyum yang tak pernah pudar. “Ada apa?” tanyanya. “Apa kau penasaran dengan kejadian di lapangan tadi?”
Lanya mengerjapkan mata. Ia mendadak merasa tidak nyaman dan mengangguk pelan. “Ini ... ini baru kali pertama aku melihatnya.”
“Sebenarnya, Lanya, ini tidak jauh berbeda dengan apa yang biasa kau lakukan,” kata Stefan. Ia bersikap begitu tenang dan Lanya penasaran apakah kejiwaannya baik-baik saja, atau ia sama saja seperti San yang ternyata agak gila. Mereka berjalan beriringan menuju meja Lanya yang besar dan masih kosong sebagian. “Kau pasti pernah melawan zombi, bukan?”
“Um, ya ....”
“Kalau begitu, apa kau pernah menyaksikan orang-orang yang digigit oleh zombi?”
Lanya mengernyit. “Jadi Wanda digigit zombi?”
“Begitulah, itu terjadi karena ia berusaha melindungi Sarah yang terjatuh,” ucap Stefan. “Zombi adalah pembawa virus terbesar, karena itulah mereka menjadi gila. Siapa pun yang digigit zombi akan ketularan, atau kondisinya bertambah parah. Mungkin ... jika kita yang digigit, efeknya masih bisa dicegah, tetapi tidak dengan Patron.”
“Karena virus di tubuh mereka lebih banyak daripada kita?”
“Yap.” Stefan mengangguk. “Walau Patron memiliki kekuatan yang luar biasa, tetap saja, jumlah virus yang banyak membuat kemungkinan mereka berubah menjadi zombi semakin besar,” lanjutnya, lantas terdiam sejenak. “Itulah mengapa Wanda harus segera di ... ah, kau tahu, ‘kan? Itu semata-mata agar dia tidak berubah menjadi zombi dan membahayakan kita.”
Lanya terlalu kalut untuk merespon hingga mereka tiba di meja tempat San berada. Pemuda itu memandang Lanya dan Stefan bergantian dalam diam, ketika Lanya tanpa mengatakan apa pun mempersilakan Stefan untuk duduk di seberangnya. San lantas terus-terusan menatap Lanya, tetapi gadis itu tak menggubris.
“Jadi itulah yang terbaik bagi Wanda?” Lanya melanjutkan obrolannya.
Stefan membenarkan. “Atau ia akan menyebarkan virus yang lebih buruk kepada kita semua,” tutupnya. Tak ada yang menyahut dan Stefan menyesap jusnya dengan santai. Namun, ketika San mengunyah makanannya sambil bolak-balik menghela napas dengan keras, Stefan sempat melirik dan tersenyum. “Kau baik-baik saja setelah kejadian tadi, San?”
“Kau pikir aku Lanya?” San balik bertanya dengan agak ketus.
Lanya mendelik dan sang Patron dengan acuh menyuapkan makanan ke mulutnya. Stefan mengangkat alis sembari menyeringai kecil. “Aku ingat kalau ada yang ingin kukatakan kepadamu, San,” kata Stefan sambil melipat kedua tangannya di atas meja. “Kau kenal Patronku, si algojo tadi? Ia tertarik untuk bertemu denganmu, tapi sayangnya ia bingung bagaimana caranya untuk … er, untuk menyapa.”
San tersedak dan Lanya cepat-cepat menyodorkan jusnya.
“Kenapa harus kau yang mengatakannya?” San berjengit. “Dan kenapa kau membuatnya terdengar seolah kau berusaha menjodohkan dua remaja yang malu untuk saling bertemu?”
Mata Stefan melebar dan ia sontak mengatupkan bibir. Lanya sendiri sudah tersenyum geli, tapi tidak dengan San. Ia terlihat kesal dan menyendok makanannya dengan sebal. “Kalau ia memang ingin bertemu denganku, suruh ia datang kemari ... dan, ya Tuhan, kenapa aku terdengar seperti gadis agresif?”
Tawa Lanya pecah dan mengundang perhatian para penghuni meja panjang di sisi lain. Ada Kevin serta beberapa orang lainnya yang duduk di sana, dan mereka penasaran apa yang sedang dibicarakan ketiga orang di tepi meja itu. Namun, San menolak untuk membiarkan lebih banyak orang tahu, dan menyuruh mereka untuk kembali makan.
+ + +
Lanya menghabiskan seharian di Kamp Sektor dengan mengenal sekeliling. Kendati demikian, ia merasa seperti sudah lama tinggal di sana meski belum genap matahari tenggelam di ufuk barat. Ia sudah menyaksikan banyak hal hari ini; forum tertutup, seorang Patron dieksekusi, dan perjalanan panjang mengelilingi seluruh tempat Kamp Sektor. Lanya berakhir terkapar di kasur ketika malam sudah tiba, dan seketika terlelap saat itu juga.
Keesokan harinya Lanya terbangun dengan kaki pegal-pegal. Ia menggerutu dan mencoba menyeret kakinya sepenuh tenaga. Pagi ini ia harus membersihkan dirinya di pemandian bersama, lalu mengikuti senam pagi dan sarapan. Jadwal-jadwal lain yang belum diketahui akan menyusul, dan Lanya mengomel dalam hati.
Entah kenapa, sejak kejadian kemarin, perut Lanya mulas setiap mendengar nama Rohan. Seperti satu jam kemudian, ketika Lanya sudah selesai melakukan serangkaian rutinitas pagi. Ia dan San berjalan menuju gerbang desa untuk menemui Rohan. Berbagai macam pikiran memenuhi benak Lanya.
Apa lagi? Apakah misinya sudah turun? Atau Lanya disuruh mengecek sesuatu yang mengecewakan lagi hari ini?
Lanya dan San dikawal oleh seorang staf untuk memasuki bangunan pertama yang berada di dekat gerbang desa. Mereka dibukakan pintu menuju lantai bawah tanah dan di sanalah kantor Rohan berada. Sang kapten tak sendirian. Ada seorang wanita bertubuh tegap yang duduk bersandar pada dinding dengan rokok di tangan. Di sampingnya, berdiri seorang pria tua yang sedang meneliti beberapa kertas catatan dengan saksama.
Rohan sendiri telah menunggu mereka di sisi lain ruangan. Ia duduk di antara tumpukan buku dan meminta kedua orang itu untuk duduk di dekatnya. Ia menginstruksi Lanya dan San untuk menghadiri beberapa kelas hari ini yang akan diadakan di dalam hutan hingga waktu makan siang tiba. Setelah itu mereka harus menuju perpustakaan kecil di samping bangsal untuk menentukan jadwal patroli malam mereka.
“Dan terakhir,” kata Rohan sebelum meminta mereka kembali keluar. “Besok kalian akan menjalani pelatihan dasar mengenai perlawanan dan pertahanan diri, maka persiapkan fisik kalian dengan baik.”
Lanya mengangguk. Rohan pun mempersilakan mereka untuk pergi, namun Lanya terlihat enggan. Ada yang masih ingin ia tanyakan dan Rohan menyadarinya. Sang kapten menyuruh Lanya untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
“Er... kapan aku bisa melaksanakan misi untuk penawar virus itu?”
Rohan mengangkat alis. “Kau akan berangkat sembilan hari lagi,” jawabnya. “Kau bisa menggunakan waktu selama itu untuk berlatih dengan baik, Lanya.”
Lanya melongo. “Sembilan hari? Tapi kalau tidak segera ....”
“Aku mengerti,” Rohan menyahut dengan tenang. “Bagaimana pun juga, aku juga harus memilih rekan-rekan yang tepat untuk menemanimu, bukan? Lagipula, jika kau kuminta berangkat besok, apakah kau akan siap?”
Lanya terkejut dan Rohan melanjutkan. “Aku tahu kondisi ibumu sedang parah, tetapi beberapa obat generik bisa memperlambat penyebarannya untuk sementara ini. Aku juga memantau perkembangan ibumu, Lanya. Kabar dari perawat di rumahmu terus datang kemari, jadi kau tak perlu cemas.”
Lanya merasakan kelegaan merebak di hatinya saat mendengar hal itu. Ibu Kepala tak pernah seperhatian ini kepada ibunya sebagaimana Rohan. Ibu Kepala hanya mengunjunginya sesekali, memaksakan Mama untuk mendengarkan ceritanya selama berjam-jam, berpikir bahwa itu lebih baik daripada merasakan penyakitnya sendiri.
Senyum terkembang di bibir Lanya. Ia membungkukkan badan dengan hormat dan segera beranjak meninggalkan ruangan. Ucapan Rohan telah membuat mulas di perut Lanya berganti menjadi semangat yang mengalir deras di nadi. Ia akan mengikuti setiap kelas dengan sebaik-baiknya selama sembilan hari ini. Ia tidak akan kalah dari Patronnya yang gila itu.
Seperti menyadari gejolak baru yang bergemuruh di dalam diri Lanya, San memerhatikan gadis di sampingnya. Ia terhibur melihat tingkah Lanya yang berjalan dengan semangat dan berulang kali menyenandungkan lagu.
“Coba lihat apa yang terjadi pada dirimu,” San berceletuk. “Sepertinya belum sampai seminggu kau begitu murung dan kesal karena tidak mau meninggalkan rumah, dan sekarang apa yang terjadi?”
“Masa lalu adalah masa lalu,” tukas Lanya. “Yang penting sekarang kita akan mengikuti kelas di hutan. Kau juga harus mengikutinya dengan baik, kau tahu? Kalau kau tidak ingin kejadian kemarin terjadi padamu.”
San mendengus. “Sepertinya kau akan menjadi orang yang bakal pertama kali digigit oleh zombi daripada aku, Anya.”
Lanya mengerling kepadanya dan seringai muncul di bibir gadis itu. “Siapa tahu?”
Mereka melewati alun-alun dan memasuki jalan setapak yang membawa mereka menuju hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi, membentuk pagar kokoh di sepanjang jalan. Terkadang ada beberapa orang yang lewat dan mereka akan saling menyapa, membuat Lanya teringat kembali dengan hal-hal pahit selama di Sekolah Perang. Oh, bagaimana kabar David dan antek-anteknya sekarang? Bagaimana kabar Marissa? Belum seminggu Lanya genap meninggalkan mereka, tetapi rasanya sudah lama sekali. Dan, sudah sejauh manakah rencana David berjalan? Lanya tak sabar ingin menghujat pemuda itu di depan kakaknya sendiri nanti. Brian harus mendengar bagaimana David memperlakukannya.
Bicara soal Brian, kapan Brian akan datang? Stefan kemarin bilang Brian akan datang dalam waktu dekat, tapi kapan? Selama berjalan menuju sebuah lapangan kecil yang dipenuhi dedaunan basah dan beberapa orang yang sudah menunggu, Lanya terus-terusan memikirkan keberadaan Brian.
Setibanya di sana, Lanya dan San segera mengikuti kelas pertama mereka. Kevin, salah satu peserta Kamp Sektor terlama, adalah pelatih mereka. Lelaki bertubuh besar itu mengajarkan siapa pun untuk memperdalam kekuatan-kekuatan fisik dasar, dan kelasnya membutuhkan waktu tiga jam. Seusai mengikuti kelasnya, Lanya harus menyeret tubuhnya yang terasa makin remuk untuk mengikuti kelas penyamaran. Mereka diajarkan bagaimana caranya agar bisa menyamarkan diri di lokasi mana pun, dan sebagian waktu dari dua jam yang tersisa digunakan di dalam ruangan.
Untuk kali kedua, Lanya merasa ingin melewati makan siangnya. Perutnya memang melilit kelaparan, tapi sekujur tubuhnya terlalu lelah untuk bangkit dari kursi. San dengan baik hati mengambilkannya segelas jus lagi dan semangkuk kecil sup kentang, yang disambut dengan bahagia.
Lanya dengan lambat menikmati makan siang diselingi kedutan-kedutan menyakitkan di beberapa titik di tubuhnya. Ia hanya bisa menggerung kecil dan San menawarkan Lanya untuk dipijat, tapi gadis itu justru menjerit kesakitan saat San melakukannya.
“Apa kau berniat mematahkan tulangku?” Lanya mendesis.
San hanya meringis sebagai jawaban. Ia baru saja akan menggoda Lanya lagi, tapi gerakannya terhenti ketika ia menyadari ada tatapan yang mengarah tajam kepadanya. Senyum San lenyap dan ia segera mengerling ke asal pandangan.
Stefan ada pada arah pandang San, agak jauh di sana, tapi bukan Stefan yang menatapnya, melainkan sesosok tak berdada yang berdiri di belakang Stefan.
Matanya yang kecil seolah mengirimkan ribuan panah kepada San, tapi pemuda itu mengacuhkannya. Ia hanya menatap sosok itu tanpa perhatian khusus, namun tidak dengan sosok tak berdada itu. Tatapannya memancarkan gejolak emosi yang tak main-main, membuat San jadi lelah sendiri ketika menatapnya.
Apa-apaan?