Eksekusi

1395 Kata
Lanya berjalan gontai meninggalkan ruang penyimpanan. San mengekori dan berulang kali memanggil nama gadis itu, tetapi Lanya tak banyak merespon. Pikirannya melayang tentang apa yang bakal terjadi pada pelaksanaan misi pertamanya nanti. Mencuri ke daerah para penjajah? Itu sama saja dengan berusaha menyusup ke kandang yang penuh dengan singa kelaparan! Dan, astaga, dia tak mengira rencana David yang semula ditentangnya justru akan dia lakukan sekarang! Bagaimana jika David tahu soal ini? Lanya rasanya ingin mengunyah dirinya sendiri, lenyap dari peradaban seutuhnya karena rasa bingung yang tak tertahankan. San akhirnya menyusul ke samping Lanya dan berbisik, "Hei, kau akan baik-baik saja." Baru kali itu Lanya mendongak ke arahnya lagi, namun kali ini dengan pandangan nanar. "Kau bisa berkata begitu karena kau punya fisik yang kuat. Aku ... apa yang bisa kulakukan? Menusuk satu zombi saja kadang masih membuatku ingin muntah-muntah." "Karena itulah, Lanya, kau tak perlu khawatir. Kau yang menginginkanku untuk menjadi Patronmu, dan apa sekarang kau mendadak tidak memercayaiku?” San terdiam sejenak. “Kalau begitu apa gunanya aku  menghancurkan pesawat untukmu?" Lanya melongo. "Jangan bodoh," ucapnya gusar. "Aku tak pernah memercayai orang yang baru kutemui selain dirimu, San. Aku tak punya alasan untuk meragukanmu." Lanya nyaris tersedak saat San menepuk punggungnya dengan semangat. Lelaki itu barangkali lupa, kalau tenaganya terlampau kuat dan Lanya hanya seorang gadis kurus biasa. Lanya nyaris terjerembap. “Nah!” seru San dengan lega, “itu berarti sebenarnya tak ada yang perlu kau cemaskan, bukan? Kau hanya takut karena belum melakukannya, Anya! Sungguh, kau sebenarnya hanya perlu yakin padaku bahwa itu semua bakal baik-baik saja," San melanjutkan dengan cepat. "Ingatlah apa saja yang pernah terjadi di hidupmu selama ini, dan kau telah melewati semuanya dengan berhasil. Kau juga pasti bisa melewati yang satu ini." Lanya mengatupkan bibir. Alih-alih menjawab, ia bolak-balik mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Lagipula," San bergumam, "seharusnya kau bersemangat, 'kan? Laki-laki tadi pasti bakal menjadi bantuan yang sangat berarti bagimu." Lanya mengernyit. "Laki-laki? Siapa?" "Pemuda tampan yang mencoba modus kepadamu," tukasnya. Lanya spontan menatap Patronnya dengan mata menyipit. Rasa sedihnya perlahan menguap, digantikan oleh kekesalan sekaligus rasa geli di dalam hatinya. "Yo, apa? Demi Tuhan, San, Stefan adalah sahabat Brian. Aku tahu persis bagaimana Brian kepadaku, jadi wajar jika ia meminta tolong seseorang untuk menjagaku selama ia tidak ada. Dia sangat protektif, bahkan bisa lebih cerewet daripada Mama soal keselamatan!" "Hng, yah.” San mengangkat bahu. “Dan kau harusnya bersyukur karena yang dimintai tolong adalah pemuda setampan itu." Lanya menelengkan kepala curiga. "Jarang sekali aku mendengar lelaki yang memuji sesama ... oh, tunggu, apa kau merasa tersaingi? Hm?" seringai muncul di bibir Lanya, dan gadis itu menyikut pinggang San. “Kau merasa tersaingi karena mendadak ada orang lain yang ikut-ikutan sok menjagaku karena disuruh Brian?” Bahu San bergetar. Ia mengeluarkan suara tangisan palsu yang menjengkelkan. "Aku hadir di dalam hidupmu saat kau jatuh terjerembap, sehingga aku dengan sukarela menolongmu untuk kembali berenang ke permukaan. Sekarang, ketika berbagai kesempatan datang kepadamu bahkan seorang pemuda tampan mendekatimu, aku—aku merasa seperti seorang ibu di kampung yang diacuhkan anaknya di kota." Lanya terbengong-bengong melihat tingkah sang Patron yang diluar dugaan. Yo, apa pemuda ini gila? San pun terkekeh melihat reaksinya, membuat Lanya lantas tersadar bahwa pemuda itu baru saja mencoba untuk mengalihkan rasa sedihnya. Lanya mengulum senyum masam—ia senang, tetapi ia juga heran mengenal sisi baru Patronnya yang ternyata dramatis. Karena itulah Lanya hanya mendaratkan pukulan keras di lengan San yang berhasil dihindari dengan kilat. Mereka tiba di jalan utama ketika ada sesuatu yang tampak berbeda di sana. Jika awalnya sepanjang jalan begitu senyap seolah tak ada penghuni, kini banyak orang yang berbondong-bondong menuju hutan melalui gang kecil di seberang Lanya. "Tommy! Ada apa?" Lanya bertanya saat ia melihat Tommy melintas di dekatnya. Tommy tersentak ketika gadis itu menghentikannya. "Oh, kau harus lihat ini, Lanya!" ia pun mengajak Lanya untuk mengikuti kerumunan. Lanya refleks menggandeng tangan San, kemudian berbaur dengan kerumunan. Orang-orang masuk ke dalam hutan hingga berjarak beberapa ratus meter menuju sebuah lapangan kecil. Sebagian telah memenuhi lapangan itu dengan mengelilingi bagian tengah lapangan. Karena Lanya bertubuh pendek, jelas ia tak bisa melihat jelas apa yang terjadi. San pun mendorongnya ke depan hingga mereka bisa melihat ke tengah lapangan dengan jelas. Lanya tak bisa berkata-kata saat melihat ada seseorang yang diikat pada tiang di tengah lapangan. Lanya tahu Patron itu—orang yang pertama kali bertatapan dengannya di dekat gerbang dan tersenyum kepadanya. Ia adalah satu dari sekian orang yang terluka, dan Lanya menyadari bahwa sang Patron tak lagi memiliki kaki kanan. Darah masih merembes dari perban yang digunakan untuk menutupi kakinya. Lanya merasakan tubuhnya merinding. Apa yang terjadi? Belum sempat ia bertanya kepada seorang peserta kamp di sampingnya, terdengar suara jeritan keras dari arah kerumunan. Orang-orang sontak menoleh dan menyaksikan seorang gadis menerebos kerumunan dan menjerit, "Wanda!!" Lanya terpana melihat beberapa pria dengan sigap menahan gadis itu untuk berlari ke arah tiang, tempat seorang Patron tak berambut teronggok lemas di tiang. Suasana tiba-tiba berubah kacau dan Lanya menyadari orang-orang merasa tegang. "Jangan ambil Patronku!" gadis itu kembali menjerit. Wajahnya sudah tak karuan akibat bekas-bekas luka dan air mata yang bercampur jadi satu. Ia kerap berteriak. "Rohan!! Rohan, dengarkan aku!!" Namun tak ada sang kapten di sana. Lanya mendengar seseorang berbisik bahwa Rohan sedang berada di kantornya sekarang, berdebat dengan utusan Kamp Pusat yang baru saja datang berkunjung. Entah apa yang terjadi, tetapi yang jelas, Rohan tak mungkin datang kemari. "Rohan!!" gadis itu meraung. "Siapa pun! Lepaskan Pelindungku!" Orang-orang hanya berbisik satu sama lain. Tak ada yang berani melangkah lebih jauh, selain para pria bertubuh kekar yang menahan gadis tak berdaya itu di sisi lapangan. Sedangkan sang Patron yang terikat di tiang hanya menggeleng-geleng, air matanya mengalir menahan sedih dan rasa sakit sekaligus. Pandangan Lanya beralih ketika sesosok besar lelaki memasuki lapangan. Ia lebih tinggi daripada Rohan dan terlihat perkasa. Kulitnya kecoklatan khas orang pesisir pantai dan rambutnya hitam legam. Tingginya mungkin mencapai dua meter atau lebih, serupa tembok beton yang tak pernah bisa dijebol. Mungkin ia adalah orang terbesar di Kamp Sektor ini dan ia tak memiliki d**a. Lubang besar menganga tepat di tengah-tengah, tembus hingga ke punggungnya. Ia berjalan dengan langkah berat, pedang panjang di tangan. Yang membuat Lanya langsung merinding adalah ketika sosok itu sempat melirik ke arahnya saat melangkah. "JANGAN!!" gadis itu kembali menjerit. "Pergi kau! Jangan dekati Patronku!" Ia berusaha melepaskan diri, tetapi tetap saja usahanya sia-sia. Ia seperti kelinci yang mencoba lolos dari cengkeraman para harimau. Tidak ada gunanya. Ia hanya bisa berteriak terus-terusan hingga tenggorokannya tercekat, mengiringi langkah sosok tak berdada itu mendekat ke tiang. Kemudian Stefan muncul. Ia mendekati gadis itu dan mencoba berbicara kepadanya, tapi ia justru membentaknya. "Pengecut!" seru sang gadis. "Kau b******n, Stefan! Kau b******n!" Orang-orang menyaksikan dengan ngeri ketika gadis itu kembali menjerit, "kau adalah ketua paling b******k! Kembalikan Patronku!" “Wah,” bisik San di telinga Lanya. “Ada apa ini?” Lanya menggeleng. Ia bahkan tak mengerti satu hal pun dari kejadian di depan mata. Stefan mencoba berbicara lagi dan terlihat begitu tenang, tetapi gadis itu bereaksi sebaliknya. Ia mendelik saat Stefan mengatakan sesuatu, kemudian sang gadis langsung meludahinya. Stefan hanya mengerutkan alis, tapi orang-orang sudah berseru jijik, beberapa bahkan menyuarakan kemarahannya. Stefan cuma menggeleng. Sembari menyeka ludah gadis itu dari bajunya, ia berbalik. Stefan memberikan kode kepada sosok tak berdada yang sudah berdiri di sisi tiang untuk melaksanakan tugasnya. Lanya menahan napas. Tunggu, apa yang terjadi? Apakah Patron di tiang itu akan di— "Tak ada kata yang bisa diucapkan selain terima kasih atas bantuanmu selama ini, Wanda, Pelindung dari Sarah," Stefan berkata saat sosok tak berdada itu mulai menyiapkan pedangnya. Wanda, gadis yang terikat di tiang, memejamkan matanya dan kembali menangis. "Semua jasa dan pengorbananmu untuk menjaga perdamaian dan memperjuangkan kembali hak kita takkan pernah dilupakan." "Wanda!" Sarah meraung. "Lepaskan Wanda!!" "Semoga Tuhan mengampunimu dan menjagamu di sisi-Nya. Amin." "Amin," Orang-orang menyahut dengan serentak. Namun Lanya tidak. Ia telat untuk menggumamkan kata 'amin' di dalam hatinya karena matanya tertuju pada sosok Wanda dan Sarah yang terlihat begitu depresi. Sekujur tubuhnya merinding dan tanpa sadar jemarinya telah meremas baju San sedari tadi. Saat sosok tak berdada itu mengangkat pedangnya, Lanya terkesiap. Ia pun mengalihkan pandangan dan langsung membenamkan wajah di d**a San. Pemuda itu mengangkat tangan untuk meraih kepala Lanya, dan sedetik sebelum San menutup kupingnya, Lanya mendengar Sarah menjerit putus asa, diikuti suara benturan yang keras. "PATRONKU!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN