Forum berakhir tak lama setelah Rohan memberikan pengumuman khusus kepada para peserta. Semua bergegas meninggalkan ruangan. Beberapa mulai menghampiri Lanya untuk berkenalan lebih jauh, tapi mereka pergi dengan cepat. Hanya San yang ada di samping Lanya terus-terusan sembari menepuki pundak Lanya.
“Kau pasti bisa,” ucapnya berulang kali.
Lanya mengangguk tanpa semangat. Beberapa peserta forum lain melewati mereka dan sempat menyunggingkan senyum kepada Lanya, seolah perdebatan kecil di dalam ruangan tadi sudah tak ada jejaknya. Baguslah. Mereka nampaknya tidak bersikap sebagaimana orang-orang Sekolah Perang; membawa permasalahan ke mana pun seolah tak ada bahasan lain untuk didiskusikan. Kalau para peserta Kamp Sektor mampu menempatkan masalah pada tempatnya, maka itu akan menjadi salah satu alasan Lanya mau betah di sini.
“Lanya?”
Gadis itu berbalik. Tampak Tommy, bersama pemuda berambut kecoklatan di sampingnya tadi, berjalan menghampiri Lanya. Ekspresi Tommy menunjukkan kecanggungan yang teramat jelas.
“Um … Lanya? Maafkan aku,” Tommy berkata saat jarak mereka sudah cukup dekat. “Aku tidak bermaksud mengatakannya tadi ... yah, itu sudah kebiasaanku sebenarnya. Maksudku, aku seringkali refleks berkomentar tanpa berpikir, dan ... yah.”
Lanya menyunggingkan senyum tipis. “Tidak masalah. Lebih baik kau mengatakannya daripada membicarakannya di belakangku.”
Seperti David. Ooh, Lanya mulai ketagihan membanding-bandingkan sekarang. Jujur saja, Ini membuat perasaannya lebih baik.
Tommy mengusap leher. “Kau benar. Tetapi ... sungguh, aku minta maaf. Aku juga menghargai alasanmu, Lanya. Aku punya ayah yang perlu kurawat dan berat bagiku untukmeninggalkannya sendirian dulu. Tapi, yah, pihak Kamp Sektor telah mengirimkan seorang perawat untuknya... dan aku tak perlu khawatir lagi. Hal yang sama pasti akan kau alami.”
Lanya mengangguk. “Terima kasih, Tommy.”
Tommy mengerjapkan mata dan terlihat makin gugup. Ia tersenyum singkat, kemudian beralih pergi setelah menyenggol bahu pemuda berambut coklat di belakangnya. Lanya memandang Tommy yang menjauh dengan bingung, lalu berganti menatap lelaki yang masih ada di hadapannya itu.
“Halo,” ia menyapa dengan sebuah senyuman. Kedua matanya yang gelap menarik perhatian Lanya untuk terus menatap. “Pertemuan tadi pasti sulit untukmu, bukan? Kau tidak apa-apa?”
Lanya mendengar San menggumamkan sesuatu di balik punggungnya, tapi ia tak menggubris. “Aku baik-baik saja.” Katanya. “Dan, kalau aku tidak salah ... namamu Stefan, bukan?”
“Yap.” Stefan mengulurkan tangan dan Lanya menjabatnya. “Senang berkenalan denganmu.”
“Aku juga,” balas Lanya. Ia pun tak lupa menarik San dan memintanya untuk berkenalan, tapi sang Patron tak mengatakan apa pun selain menjabat tangan pemuda itu. Stefan mengangkat alis saat menyadari genggaman San menguat di tangannya.
Ketika jabat tangan mereka berakhir, Stefan kembali menatap gadis itu. “Sebenarnya, Lanya, setiap forum tertutup untuk menyambut kedatangan peserta baru memang tidak pernah berjalan menyenangkan. Aku juga pernah mengalaminya dulu dan berpikir apakah sebaiknya aku mundur.”
“Tapi kau tidak melakukannya, kan?” Lanya menanggapi. “Kau berada di sini.”
Senyum Stefan melebar. “Aku tidak menyesali keputusanku, dan kau akan mengetahuinya, Lanya. Mungkin minggu-minggu pertama akan terasa berat, tetapi yakinlah, ibumu akan bangga jika kau bisa melaksanakan misi-misimu dengan baik.”
Lanya memiringkan kepala, lalu seutas senyum mengembang di bibirnya. “Terima kasih untuk kedua kalinya, Stefan.”
“Tidak masalah,” ujarnya. “Kau tidak perlu canggung seperti itu kepadaku, kau tahu? Bagaimana pun juga Brian memintaku untuk berbaik-baik kepadamu selama ia pergi.”
Lanya membeliak. Kesopanan kaku yang terus ia kenakan selama beberapa jam terakhir mendadak menguap. “Tunggu, kau mengenal Brian?”
“Tentu saja.” Stefan tertawa. “Brian adalah sahabatku dan kami sering dikirim untuk melaksanakan misi bersama. Hanya saja, untuk kali ini aku sudah mengambil jatah misiku duluan. Kau tahu beberapa orang yang terluka di dekat gerbang? Nah, mereka rekan-rekan misiku. Sedangkan Brian harus menghadiri pelatihan rutin di Kamp Pusat sejak seminggu lalu.”
“Kapan ia akan kembali?” Lanya merasakan jantungnya berdegup. Mengetahui pemuda rupawan di hadapannya ternyata adalah sahabat Brian membuat Lanya gembira. Ia merasa Brian semakin dekat dengannya dan rasa aman berlipat ganda meliputi perasaan gadis itu.
“Mungkin masih beberapa hari lagi.” Stefan mengangkat bahu. “Waktu pelatihan tersingkat di Kamp Pusat membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari, jadi bersabarlah.”
Lanya mengerucutkan bibir, kemudian menatap San dengan seringai lebar karena tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. San hanya mendengus geli dan menjendul kepala Lanya, yang dibalas dengan tepukan keras di lengan.
“Brian sangat mencemaskanmu,” lanjut Stefan beberapa detik kemudian. “Saat ia tahu bahwa kau dikirim kemari, ia bolak-balik berpikir apakah kau dan ibumu baik-baik saja. Nah, apakah kalian ada hubungan keluarga, atau ...?”
“Anggap saja begitu.” Lanya terkekeh. “Brian sudah seperti kakakku sendiri dan Mama menganggap Brian seperti anaknya. Kami tinggal bertetangga, omong-omong.”
Ekspresi Stefan melembut. “Bukankah itu bagus? Brian orang yang tangguh. Aku yakin ia dan Patronmu bakal membuatmu nyaman di sini.”
Lanya tertawa. Baru kali itu ia merasa dadanya begitu ringan setelah mendengar kabar yang benar-benar melegakan. Apakah ada yang lebih menyenangkan selain bersama San dan Brian di suatu tempat? Tidak! Maka Lanya pun menyetujui ucapan Stefan sepenuhnya.
Stefan kemudian bergegas pamit diri ketika seseorang datang dan memanggilnya menuju gerbang desa, meninggalkan kedua orang itu menganggur.
Mereka berpikir apa yang harus dilakukan pada sisa waktu yang ada, hingga mereka menyadari bahwa Hera sedang menghampiri mereka. Sosok wanita bertubuh kurus dengan sebelah mata ditutup itu datang bersama Patronnya, seekor anjing serigala bermata putih.
“Lanya!” panggil Hera. “Rohan memintaku untuk menunjukkan sesuatu kepada kalian, jadi ikutlah denganku sekarang.”
Tanpa menunggu respon sama sekali, Hera berbalik badan. Ia memimpin mereka kembali ke alun-alun dan memasuki jalan setapak utama yang mengarah ke gerbang desa, lalu berbelok pada sebuah gang kecil. Ada rumah bata yang setengah hancur berdiri di ujung gang. Alih-alih membuka pintu bangunan, Hera mendekati sisi samping bangunan dan mendorong jendela yang dicat hitam. Ia melompat ke dalam dan diikuti oleh kedua orang di belakangnya.
Hera membawa mereka masuk ke sebuah ruangan kecil tanpa pintu dan perabotan. Dindingnya retak di sana-sini, sebagian lembap karena air yang menetes terus-menerus di pojok ruangan. Hera menghampiri dinding di hadapannya dan mendorongnya ke dalam. Sepetak dinding mengayun berputar dan Hera mempersilakan mereka untuk masuk duluan, ke tangga yang akan membawa mereka menuju ruang bawah tanah.
“Jangan-jangan semua rumah memiliki ruang bawah tanah?” Lanya bergumam ketika mereka hampir mencapai ujung bawah tangga.
“Kamp Sektor saja sudah begini, bagaimana dengan Kamp Pusat?” San berbisik geli. “Mungkin mereka membangun kota metropolitan di bawah tanah.”
Mereka tertawa kecil dan Hera menyusul mereka. Tepat di depan tangga terdapat sebuah pintu. Hera membukakan kuncinya dengan dua kali putar, kemudian menunjukkan sebuah ruangan penyimpanan di baliknya. Lanya mencium bau yang tidak asing lagi dari dalam. Alkohol.
“Ini adalah tempat kita menyetok obat-obatan,” Hera menjelaskan. “Aku adalah dokter kamp dan biasa mendapat tugas untuk menjaga ruangan ini, karena itulah Rohan meminta bantuanku. Ia ingin aku menunjukkan kepada kalian stok penawar virus yang kami punya.”
Lanya menatap San dengan mata berbinar, yang dibalas dengan anggukan meyakinkan. Hera kemudian menyusuri tumpukan boks atau meja, hingga tiba di sebuah meja dengan boks kayu dicat kelabu di atasnya. Hera membuka kotak itu dan menunjukkannya kepada Lanya.
Senyum Lanya lenyap saat menyadari kotak itu nyaris kosong dan hanya ada satu tabung kecil berisi cairan.
Ia menatap Hera dengan penuh tanda tanya, dan Hera mengedikkan bahu ke arah gerbang desa berada. “Persediaan penawar virus kami baru saja habis dan para peserta yang terluka di luar sana menghabiskan sisanya. Sekarang hanya ada satu botol tersisa, dan menurut hasil pemeriksaan terhadap ibumu yang dikirimkan oleh pihak Sekolah Perang, ibumu membutuhkan setidaknya tiga botol untuk tahap awal penyembuhan. Kemudian, dua botol untuk suntikan rutin.”
Wajah Lanya memucat. “Apakah ... apakah hanya tersisa satu kotak ini saja?’
Alih-alih menjawab, Hera mengedarkan tangannya ke sekeliling ruangan. “Apa kau lihat ada kotak kayu berwarna abu-abu yang lain di ruangan ini? Karena hanya di kotak-kotak berwarna itulah kami menyimpan penawar virus.”
Lanya dan San otomatis mengedarkan pandangan ke sekeliling. Perut Lanya memulas saat ia menyadari tak ada kotak serupa selain yang dipegang Hera.
“Tidak ... ada.”
“Sayang sekali, ya?” Hera tersenyum kalut. “Karena penawar virus harganya termasuk yang paling mahal dan amat susah didapatkan. Hanya melalui jalur-jalur tertentu kau bisa mendapatkan penawar virus, tidak seperti obat-obatan lain.”
“Dan jalur itu adalah ...?”
“Mencuri.” Senyum Hera berubah menjadi seringaian. “Itu adalah cara teraman menurut para peserta. Ada cara lain tentu saja, seperti mencari orang kepercayaan dari pihak penjajah atau laboratorium, bernegosiasi dengan orang-orang mereka, dan bla-bla-bla. Tapi kalau kau tidak bisa melakukannya—yang di mana hampir semua dari kalian para peserta tidak—maka mencuri adalah jalan teraman. Membelinya di pasar gelap juga tidak akan membantu, karena seperti yang kubilang tadi: harganya sangat mahal. Satu kotak penawar virus seharga ginjalmu, bagaimana?”
Lanya pikir Hera bercanda, tapi jelas saja tidak. Raut ekspresi sang dokter benar-benar menampakkan bahwa ia serius dan Lanya merasa sekujur tubuhnya melemas. Apa-apaan ini? Sudah jauh-jauh ia menempuh perjalanan dan tidak mendapatkan apa-apa?
“Jadi apakah kami harus mencuri penawar virus?” suara San menyentakkan Lanya. “Tentu kau tidak mengajak kami kemari hanya untuk menunjukkan boks yang kosong.”
Hera menjentikkan jari. “Seperti yang sudah dikatakan Rohan sebelum forum ditutup tadi, bahwa setiap peserta baru akan diikutsertakan pada misi untuk menentukan di mana mereka akan ditempatkan. Secara umum, peserta Kamp Sektor dibagi menjadi bagian Perencana dan Pelaksana. Para Perencana akan lebih sering menghadiri kelas strategi atau teori yang lainnya, sedangkan para Pelaksana akan lebih digiatkan berlatih untuk memaksimalkan kerja tubuh mereka. Meski sebenarnya peran kalian sudah jelas—sang tuan cenderung bernegosiasi, sementara sang Patron akan memastikannya aman. Tetapi, kita berusaha untuk tidak mutlak terpaku pada aturan itu. Ini adalah kamp semi militer. Kita semua sama. Seorang tuan berhak untuk memperkuat daya fisik dan sang Patron pun bisa menggantikan peran sang tuan kalau-kalau sesuatu terjadi. Karena itulah, anak-anak baru, misi ini akan menentukan nasib kalian nanti.”
“Kalau begitu kapan kami akan melaksanakannya?”
Lanya merasa merinding saat mendengar San mengatakannya. Kenapa pemuda itu terdengar biasa-biasa saja, bahkan bersemangat untuk melaksanakannya? Lanya tahu ia adalah Patron yang cukup gila, yang mampu menghancurkan pesawat sendirian ... tapi apakah ia lupa kalau Lanya adalah tokoh utamanya di sini? Lanya, yang hanya seorang manusia biasa, dan tidak bisa apa-apa?
“Secepat mungkin, sebab kalian tentu tidak akan mencuri dalam jumlah sedikit. Kalian harus mencuri sebanyak-banyaknya untuk persediaan di Kamp Sektor juga. Tapi kapan itu, aku tidak tahu. Hanya Rohan yang mengetahuinya. Ia pasti akan menjelaskan kepada kalian kelak.”