Forum

2112 Kata
Lanya hanya mendapatkan kesempatan satu jam untuk berbenah dan membiasakan diri dengan lingkungan. Untung saja ia tak perlu merasa kesulitan, karena orang-orang Kamp Sektor benar-benar diluar dugaannya. Ia berpikir mereka akan lebih keras, tak bersahabat, dan individual—melebihi orang-orang Sekolah Perang—tetapi ia salah. Rohan, yang ternyata merupakan kapten sekaligus pemimpin Kamp Sektor, bersikap sangat baik kepadanya. Vanesa dan perempuan-perempuan lain yang Lanya temui selama satu jam itu pun tak henti-hentinya bersikap hangat, bahkan mengajaknya bercanda hingga satu jam berlalu dengan cepat. Lanya sempat melupakan ketegangannya dan kini ditarik untuk mengikuti apel pagi. Lanya kira jumlah peserta Kamp Sektor hanya sedikit, tapi ternyata—sekali lagi—dugaannya keliru. Pesertanya mencapai hampir dua ratusan orang, dan Kamp Sektor dipenuhi oleh orang-orang beraura kuat yang membuat kehadiran mereka begitu mudah dikenali. Namun Lanya tak menemukan sosok bertubuh tinggi dan berambut kemerahan bernama Brian, membuatnya penasaran di mana pemuda itu berada. Apel berakhir dan San menghampiri Lanya. Gadis itu menanyakan bagaimana kabarnya, membuat San mendengus mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Lanya. “Kau pikir aku baru saja menemui pasukan penjajah sampai menanyakan kabarku?” Lanya meringis. “Mungkin saja kau merasa tidak nyaman?” “Biasa saja,” tukas San saat mereka mengikuti kerumunan menuju hutan. Bau sedap tercium ketika mereka tiba di sebuah tanah lapang. Beberapa panci besar di atas tungku tersebar melingkar di tanah yang tertutupi dedaunan kering. Meja-meja dan kursi-kursi kayu berkumpul di tengah lingkaran besar tungku. Ada tumpukan mangkuk dan piring, gunungan roti, dan sekumpulan sendok di setiap meja. Vanesa mengajak Lanya dan San untuk tetap bersamanya. Rian, yang ternyata adalah Patron Vanesa, ikut menemani. Mereka menempati sebuah meja dengan mangkuk berisi potongan roti dan sup kental yang mengepul. Orang-orang pun bergabung tak lama kemudian dan meja menjadi ramai. Meski  suasana   begitu  menyenangkan, Lanya tak merasa demikian. Ia memang tertawa, hatinya tetap dirundung galau. Bayangan akan meninggalkan Mama dalam waktu yang lebih lama membuatnya ingin pulang saat itu saja. Rasa mual dan lelah akibat perjalanan masih terasa kuat, apalagi diperparah dengan rasa gugup karena harus mengenal orang-orang beraura menekan. Lanya “terdampar” di Kamp Sektor karena San, Patron yang luar biasa, bukan karena dirinya. Lanya tak lebih dari sekedar gadis yang cuma mampu memasang papan kayu sembarangan di pagar dan berjingkat jijik setelah menebas satu zombi saja. Bagaimana bisa ia berakhir di sini, di kawasan orang-orang yang siap untuk berperang di garis depan?     Ketika jam sarapan pagi berakhir, Rohan mengumumkan pengadaan forum tertutup untuk menyambut Lanya dan San. Gadis itu sontak merasa ujung-ujung jemarinya dingin. Darah mengalir lebih deras dan jantungnya tak bisa berhenti berdegup kencang. Penyambutan. Entah kenapa ia benci penyambutan. Forum tertutup dilaksanakan di sebuah gudang panjang yang ada di dalam hutan. Dua puluh kursi dan barisan meja adalah satu-satunya perabotan yang ada di dalam, selain lampu-lampu yang menggantung. Disamping Rohan, Lanya, dan San, sekumpulan orang-orang yang merupakan perwakilan dari berbagai Sektor dan Sekolah Peang juga hadir. Rohan duduk pada kursi kehormatannya, sementara yang lain menempati sisi-sisi kanan dan kiri Rohan. Lanya dipersilakan duduk di seberang Rohan dan para Pelindung diharuskan berdiri di balik para pemiliknya. Lanya bolak-balik meremas tangannya gugup, tetapi Vanesa yang duduk di sisi kiri Lanya mencoba menghiburnya. San bahkan bolak-balik menggelitik leher gadis itu agar Lanya tidak terlalu tegang. Forum tertutup dimulai dengan perkenalan masing-masing peserta. Setelah Vanesa selesai melakukan bagiannya sebagai penutup dari sesi perkenalan, Rohan menatap Lanya dan berkata, “Mereka datang dari berbagai Sekolah Perang atau Sektor, seperti yang kau tahu. Beberapa berasal dari daerah yang sama, karena daerah tersebut cukup luas untuk memiliki lebih dari satu Sekolah Perang. Sedangkan Sektormu adalah sebuah tempat kecil yang terletak di perbukitan, jadi selama ini hanya ada satu orang yang menjadi perwakilan dalam forum-forum tertutup. Tentu kau tahu siapa dia, bukan?” Lanya mengangguk. Rohan tersenyum. “Brian, rekan Sekolahmu,” ujarnya memperjelas. “Sayangnya ia sedang melaksanakan misi. Karena itulah kau menggantikannya duduk di sana sebagai perwakilan Sekolahmu.” Lanya merasa kecewa sebab Brian tak ada di sana untuk menemaninya di hari pertama, tetapi Lanya diam saja. Rohan kemudian mempersilakannya untuk memperkenalkan diri. Dengan gugup, Lanya pun beranjak dari kursi. Sebenarnya tak butuh waktu lama untuk mengucapkan beberapa patah kata tentang dirinya dan mengapa ia bisa berada di sana, namun ketegangan yang tercipta akibat tatapan-tatapan penuh rasa penasaran dan sedikit kecurigaan membuat Lanya sempat gugup. Rohan kembali bersuara untuk menjelaskan secara singkat apa yang perlu dilakukan Lanya. Ia hanya memperdetail perkataannya tadi pagi, bahwa kehidupan di Kamp Sektor berbeda dengan Sekolah. Ia juga menambahkan bahwa Lanya harus siap dikirim untuk misi kapan pun, karena itulah kewajiban setiap peserta Kamp Sektor. Sebagai tambahan, jika Lanya berjasa, ia bisa direkomendasikan menuju Kamp Pusat. Aku bahkan tidak memikirkan apapun selain rumah, bung, Lanya membatin sedih seusai Rohan mengatakannya. “Baiklah, ada yang ingin kalian tanyakan?” Lanya kembali fokus dan darahnya berdesir saat mendengarkan pertanyaan Rohan kepada para peserta forum yang lain. Lanya menatap wajah-wajah itu dengan cepat, dan tiba-tiba seorang gadis mengangkat tangan. “Aku ingin bertanya kepada San,” katanya. “Kudengar kau berhasil menghancurkan sebuah pesawat sendirian, bukan? Apakah kau pernah melakukan hal serupa selain itu?” San memiringkan kepala. Pemuda yang mengunci mulut terus-terusan itu saling bertatapan dengan Lanya yang juga bingung harus menjawab apa. “Kapan terakhir kali kau menghadapi zombi, San?” seseorang menyahut. “Tadi malam.” Seisi ruangan terlihat tertarik, tapi tidak begitu dengan Lanya. Tadi malam? Bukankah mereka sedang menempuh perjalanan kemari? Apa yang— Orang  kedua yang bertanya  meminta  penjelasan  lebih  jauh dan San mengabulkannya. Ia menceritakan kejadian yang berlangsung lewat tengah malam itu tanpa ada yang terlewatkan satu pun. Lanya merasa malu sekaligus tersentuh ketika mengetahui bahwa San rela melakukan hal semacam itu karena tak ingin membuatnya lebih sakit. “Kau dengar? Dia memang seorang Patron,” gadis yang bertanya pertama kali tadi menyenggol pinggang Patronnya yang berdiri di belakang. Sang Patron, seorang wanita bertubuh jangkung dan berkepala botak, hanya memutar bola mata. “Ada pertanyaan lagi? Waktu kita terbatas,” Rohan berkata. Tanpa suara, seorang pria besar dan berkulit gelap di dekat Rohan mengangkat tangan. Ekspresinya adalah yang paling keras diantara para peserta dan Lanya sudah merasa tidak nyaman sejak pertama kali menatapnya. “Karena waktu kita terbatas, maka aku akan langsung menanyakan sesuatu yang biasa kau ucapkan, Rohan.” Sang kapten mengangkat alis mendengarnya, namun ia tetap membiarkan pria bernama Kevin itu untuk bersuara. “Katakanlah Lanya, apa tujuan utamamu datang kemari?” Kevin menatapnya tajam. “Kita semua tahu bahwa siapa pun yang dikirim ke sini telah melakukan suatu hal yang mulia, tapi tidak semua datang kemari dengan alasan yang berhubungan. Jadi katakanlah, Lanya, apa alasanmu?” Lanya menahan napas. Ia tak menyangka bahwa pertanyaan itu akhirnya disuarakan! Inilah pertanyaan yang paling membuat Lanya takut, membuat Lanya berpikir kata-kata apa yang sebaiknya ia berikan. Apakah dengan mengatakan yang sejujurnya dan tak sesuai dengan keinginan mereka akan membuat Lanya dikeluarkan? Bagaimana dengan nasib obat penawar virus? Lanya membutuhkannya karena keadaan Mama sekarang terdesak! “Kau tak perlu takut,” Rohan tiba-tiba berujar. “Katakanlah yang sejujurnya, karena itulah yang dilakukan semua orang di sini ketika mereka menduduki posisimu dulu. Semua jawaban pasti memiliki alasan dibaliknya, Lanya, dan kita tidak kemari semata-mata karena satu alasan yang sama.” Para peserta mengangguk. “Alasan mengapa aku menanyakan hal ini adalah karena aku ingin memastikan bahwa kau tidak ingin bermain-main.” Kevin menegaskan. “Kita adalah delegasi yang terpilih untuk berlatih di Kamp Sektor, dan kita semua di sini serius.” Lanya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia harus tenang. “Alasan utamaku kemari adalah karena ibuku sakit ... dan aku membutuhkan penawar virus.” Lanya tersentak ketika ia tiba-tiba mendengar beberapa orang mendengus dan berusaha menahan tawa. “Tidak ada yang bisa ditertawakan di sini!” Rohan berseru dan suasana kembali senyap. Lanya tak memercayai apa yang baru saja terjadi dan seluruh sarafnya menegang. Ia menatap Rohan dengan takut dan sang kapten  menyadarinya. Ekspresi wajah Rohan  pun melunak. “Apa yang terjadi pada ibumu, Lanya?” Alih-alih menjawab, Lanya merasa ingin menangis. Tapi ia tak mungkin melakukannya saat itu juga, ‘kan? Ia hanya mampu mengeratkan genggaman dan menggigit bibir. “Ibuku …,” bisiknya. “Ibuku adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Kehilangan anggota keluarga yang lain pun membuat ibuku jadi sedikit trauma. Ia tak bisa berjalan dengan baik tanpa bantuan tongkat atau orang lain ... jadi keadaan agak sulit jika aku pergi terlalu lama.” Para peserta saling tatap dan Lanya merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tak bisa menahan gejolak perih yang ada di dadanya. Ia benar-benar ingin menangis mengingat ibunya. “Aku tidak bermaksud lain dalam menyampaikan hal ini, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa keberangkatanku kemari membuat beliau sempat stres dan syok ... dan hal itu membuat virus di dalam tubuhnya menyebar cepat. Kata dokter, jika dalam waktu tertentu penawar virusnya tidak kunjung diberikan, nanti ibuku bakal ....” “Anya, kuatlah.” Gadis itu mendengar San berbisik, tapi Lanya tak berkutik. Ia hanya mencubit-cubit jemarinya agar bisa mengalihkan desakan untuk meneteskan air mata di pipi. “Aku mendengar bahwa penawar virus bisa didapatkan di Kamp Sektor, jadi salah satu alasan yang menyertaiku kemari adalah hal itu,” kata Lanya pada akhirnya. “T-tapi, aku tidak kemari semata-mata hanya untuk penawar virus itu—tidak! Sebagai seorang warga negara yang masih sehat, aku tentu masih ingin memperjuangkan kewajibanku untuk membela negara. Sungguh. Bukankah kita semua sama?” Tatapan para peserta forum berubah menjadi simpati. Tak ada lagi yang tertawa dan semuanya terdiam. Ucapan Lanya jelas telah membangkitkan kenangan-kenangan buruk yang mereka alami. Semua pasti pernah kehilangan, dan mereka telah mengingatnya kembali. “Oh, lihatlah wajah-wajah sedih ini,” seorang wanita bernama Hera bersuara. “Kevin, kupikir kau bisa lebih cerdas dalam bertanya.” “Apa?” Kevin membalas. “Aku memang ingin memastikan bahwa ia tidak kemari hanya didasari oleh rasa sombong karena terpilih dari sekian puluh orang untuk datang kemari. Aku tak mau ada orang bodoh yang berakhir di sini untuk kesekian kalinya!” “Hei, tenanglah,” Vanesa menyahut. “Aku tidak menyalahkanmu, Kevin, tapi kupikir ada pertanyaan lain yang lebih tepat.” “Seperti ...,” kata Hera, “apakah kau datang kemari dengan terpaksa atau tidak?” Lanya membelalakkan mata. “Aku tidak—“ “Mari kita kesampingkan alasan utamamu dulu, Lanya,” seorang pemuda di seberang Kevin menambahkan. “Kita tahu bahwa kau kemari karena ibumu sakit dan kau membutuhkan penawar virus. Tapi selain itu, apakah kau benar-benar berkeinginan berada di sini sebagai seorang peserta Kamp Sektor?” Lanya menelan ludah. Ucapan-ucapan orang ini membuat otaknya mendadak tumpul! Ia serasa berada di medan perang, berdiri telanjang tanpa baju zirah sama sekali, dan ribuan panah tajam kini menghunjamnya tanpa ampun. Lidah Lanya kelu dan Kevin yang seakan tahu dengan kondisi Lanya pun menambahkan, “Kita disini adalah pejuang garis depan. Apa pun yang terjadi, kita akan—dan harus—mengambil risiko duluan. Kita tentu takkan bisa melakukannya jika kita tidak punya niat yang sejalan, kau tahu? Jadi mumpung kau masih ada di sini ... katakanlah.” Pria  bernama Tommy  yang duduk  di sisi  kanan Lanya  tiba-tiba bergumam, “Kalau alasannya saja tak berhubungan dengan semangat perang, tentu mau tidak mau dia kemari, bukan?” Lanya menatapnya tak percaya dan seorang pemuda berambut kecoklatan yang duduk di samping Tommy menyikutnya. Tommy refleks mengatupkan bibir. Perasaan Lanya jadi bercampur aduk dan suaranya melemas. “Aku meminta maaf karena alasanku mungkin tidak seperti yang kalian duga atau apa ... tapi aku tetap akan memberikan kemampuan terbaikku untuk melakukan tugas-tugas yang diberikan kepadaku. Lagipula, jika keinginanku kemari hanya sekedar untuk mengambil penawar virus, aku takkan repot-repot mengatakan alasanku kepada kalian semua dan berkenalan dengan para peserta.” Para peserta forum—terutama yang telah melontarkan pertanyaan mereka—saling melempar pandangan menuduh. “Kau tak perlu meminta maaf.” Rohan menengahi. “Semua tindakan memiliki alasan kuat yang menyertai, begitu pula denganmu. Kau masih memiliki seorang ibu yang bertahan hidup, dan aku yakin sekali seperti semua yang hadir di sini, bahwa kita tak ingin kehilangan orang yang kita cintai lagi. Maka di sinilah kita, para delegasi yang terpilih, untuk melaksanakan kewajiban dan hak kita untuk memperjuangkan kembali kehidupan yang layak.” Seisi ruangan mengangguk setuju. “Kau tak perlu takut, Lanya,” Rohan meneruskan. “Kuhargai tindakanmu dan San yang telah memenuhi undangan kami tanpa merasa keberatan sedikit pun. Aku percaya kepada kalian bahwa masih ada keinginan untuk berjuang bersama kami di Kamp Sektor di dalam diri kalian. Bukankah begitu?” Lanya tak mengerti mengapa ucapan Rohan dengan mudahnya mengangkat beban di pundak dan kepala Lanya satu persatu. Ia mengangguk dan senyum haru muncul di bibirnya. “Tentu saja. Terima kasih, Rohan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN