Kamp Sektor, sebagaimana Sekolah Perang yang dihadiri Lanya, terletak di atas perbukitan. Perbedaan besar yang paling kentara adalah luas lokasinya. Jika Sekolah Perang hanya menggunakan pabrik bekas tersembunyi di dalam hutan, Kamp Sektor justru mengambil alih hampir seluruh hutan dan sekitarnya. Sebuah desa kecil yang ada di dekat hutan menjadi sasaran untuk tempat tinggal, tapi hutan itulah yang menjadi markas utama Kamp Sektor. Berbagai macam lokasi berlatih perang dan kelas terbuka diadakan di dalamnya. Gudang-gudang maupun gubuk yang tersebar di hutan adalah tempat menyembunyikan sebagian besar senjata, sehingga desa kecil di tepi hutan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, termasuk untuk para keluarga peserta.
Jeep akhirnya tiba dengan selamat di jalan utama menuju desa ketika langit telah membiru cerah. Beberapa petugas yang berjaga di gerbang menghentikan laju jeep dan Daris memarkirkannya di luar gerbang. Lanya yang telah bangun bergegas turun bersama San. Mereka dikawal Eri dan Rudy, sementara Daris membantu para petugas mengecek seluruh isi jeep.
Dua orang petugas yang mendiami pos di depan gerbang meminta Lanya dan San untuk mengisi identitas terlebih dahulu. Kurang lebih lima menit kemudian, seorang pria besar berkepala plontos keluar dari gerbang. Ekspresi wajahnya kaku dan keras, begitu pula dengan tubuhnya yang besar hanya mengenakan kaus kusam dan celana bermotif tentara, membuat siapa saja mampu menebak bahwa ia adalah pahlawan senior yang telah berjuang di medan perang mana pun, menyaksikan kawan-kawannya gugur di lapangan. Lanya menatapnya dengan gugup ketika pria itu mendekat, namun ketakutannya sirna segera setelah ia tersenyum.
“Namaku Rohan, panggil saja begitu.” Ia mengulurkan tangan. “Dan kau pasti Lanya. Senang bertemu denganmu, calon pahlawan.”
Lanya tersenyum miris ketika menjabat tangan itu. “Senang bertemu denganmu juga … um, Pak Rohan.”
“Rohan saja.” Sang Kapten tersenyum.
“Baik ....” Lanya menelan ludah. Wah, ia tidak terbiasa memanggil seseorang yang lebih tua dengan seakrab itu. “Rohan?”
Rohan mengangguk dan berganti menjabat tangan San. Dengan cukup senang, ia mempersilakan kedua tamunya untuk ikut masuk ke dalam desa.
Begitu mereka melangkah melewati gerbang, belum ada rumah yang terlihat. Hanya jalan setapak yang dipagari bebatuan tinggi berlumut. Daun-daun basah menyelimuti sepanjang jalan, pohon-pohon merunduk menaungi bagaikan atap. Jalanan semakin menanjak hingga berubah menjadi jajaran anak tangga. Setelah itu jalan kembali datar dan barulah rumah pertama menyambut mereka. Ada beberapa orang yang sedang bersandar lemas pada dinding batu. Tangan dan wajah mereka terluka, beberapa bahkan telah membiru, dan ada orang yang sedang mondar-mandir untuk memberikan mereka masing-masing satu botol cairan.
Si perawat berhenti memberikan obat ketika menyadari Rohan datang. Ia membungkuk hormat sebelum kembali melaksanakan tugasnya. Lanya memandang orang-orang itu dengan penasaran, dan begitu pula mereka. Tetapi senyum langsung terkembang di bibir orang-orang itu, menyambut Lanya akan kehadirannya.
“Ohh, ini pasti peserta baru, ya?”
“Kenapa kau pakai kantong kertas?” sahut yang lain, cukup terhibur melihat San. Sang Patron tidak nampak waswas. Ia membalas pertanyaan itu dengan mengangkat bahu secara riang.
Lanya cukup terkesima. Ia kira San akan tegang sebagaimana sikapnya selama di Sekolah Perang, namun pemuda itu baik-baik saja di sini. Apakah ini pertanda baik? Jujur saja, Lanya tak pernah disambut seperti itu oleh orang-orang Sekolah Perang dahulu, dan ia refleks tersenyum balik.
“Apa yang terjadi pada mereka, Rohan?” Lanya memberanikan diri untuk bersuara setelah mereka berjalan agak jauh.
“Ada puluhan zombi yang terdeteksi mendiami kaki bukit di sektor sebelah. Mereka bertugas untuk menyingkirkan zombi-zombi itu, tetapi karena kalah jumlah, beberapa terluka.”
“Aw,” San berkomentar. “Pasti zombinya banyak sekali.”
Rohan tetap melangkah hingga jalanan kembali menanjak. Dinding-dinding batu berlumut berakhir dan berganti dengan tangga yang berakhir di sederet rumah hancur. Ketika jalan sudah rata kembali, hanya ada jajaran rumah papan yang terlihat begitu sepi.
“Kenapa suasananya sepi sekali?” Lanya kembali bertanya. Perasaannya kurang nyaman.
“Sebagian ada yang masih tidur, tapi ada juga yang sedang berlatih di hutan,” kata Rohan, sedikit melegakan kekhawatiran gadis itu. “Kau akan mengetahuinya nanti, Lanya. Kau akan mengetahui kebiasaan orang-orang di sini dan apa saja yang bisa kalian lakukan bersama mereka.”
Lanya mengangguk-angguk dan Rohan melanjutkan, “Yang perlu kalian catat adalah, kalian akan bergabung dengan para penghuni Kamp Sektor dan takkan ada kata istirahat kecuali waktu tidur dan makan. Berbeda dengan Sekolah Perang, kami tak mengenal waktu-waktu yang dijadwal rutin. Kalian bisa berlatih dan mendapat kelas kapan saja. Kalian juga akan mendapat giliran patroli pada malam hari.”
Lanya menelan ludah dan ketegangan merayapi tubuhnya. Ia teringat bahwa dirinya sekarang akan menjadi bagian dari kamp semi militer, bukan lagi instansi tidak resmi yang hanya menyuruh para peserta duduk mendengarkan pelajaran dan membuat sekumpulan rencana “kecil” tidak pasti, sekadar penjagaan kalau-kalau ada penjajah yang datang.
“Sebentar lagi kalian bisa menaruh barang-barang di bangsal. Kalian tidur di sana. Bergabunglah dengan orang-orang untuk apel dan sarapan pagi setelahnya. Kegiatan kalian selanjutnya akan menyusul.”
Lanya mengangguk lagi.
“Dan, kalian tidak perlu merasa tertekan seperti itu.” Rohan tersenyum lebar. “Bukankah kalian orang-orang yang hebat? Aku yakin kalian bisa melakukannya dengan baik ... dan katakan kepadaku, siapa yang menghancurkan pesawatnya?”
Lanya sontak menoleh ke arah San, yang ternyata diam saja seperti patung. Ia tak paham mengapa dalam kondisi tertentu pemuda itu bakal mengunci mulut seperti robot.
Rohan mengawasi San sesaat. Pandangannya menguliti pemuda itu. “Darimana kau berasal?”
“Laboratorium 02.”
“Siapa namamu yang tercatat di sana?”
“N-01.”
Rohan tak merespon lagi selain mengangguk, pun tidak ada yang berbicara setelahnya. Mereka bertiga melewati rumah-rumah yang dikelilingi berbagai macam pohon hingga akhirnya tiba di alun-alun desa, sebuah lapangan yang cukup luas dan dikelilingi berbagai jenis pohon tinggi. Rohan membawa mereka melintasi lapangan dan memasuki jalan setapak lain yang tersembunyi di antara sesemakan. Jalan menurun cukup panjang hingga berakhir di depan sebuah bangunan panjang seperti gudang penyimpanan, di samping bangunan kecil yang terbuat dari batu bata.
Rohan mengetuk pintu besinya yang besar dengan ketukan yang khas, kemudian pintu itu mengayun terbuka dan seorang gadis di pertengahan dua puluh mengintip dari dalam.
“Oh, Rohan,” sapanya. “Apakah mereka sudah datang?”
Rohan mengangguk dan gadis itu mencondongkan tubuh ke samping untuk melihat siapa yang ada di balik punggung sang pria besar. Saat matanya bertatapan dengan Lanya, gadis itu otomatis tersenyum cerah dan membukakan pintu lebih lebar. “Hei, kalian sudah datang! Mari, ayo masuk!”
“Kuserahkan sisanya kepadamu, Vanesa,” kata Rohan kepadanya sebelum menatap Lanya dan San lagi. “Inilah bangsal Kamp Sektor. Masuklah dan Vanesa akan menunjukkan tempat tidur kalian di dalam.”
Lanya tak lupa berterima kasih kepadanya sebelum Rohan bergegas pergi dan menepuk pundak San. Pemuda itu tak menyahut dan Lanya memerhatikannya sedang memandang ke arah bangunan batu bata.
“San? Kau sedang apa? Ayo masuk.” Lanya menarik tangan San. Pemuda itu tersentak. Tanpa menjawab, ia mengekori kedua gadis itu ke dalam bangsal. San menyadari cengkeraman Lanya yang erat di lengannya, dan ia tahu persis gadis itu sedang tegang. San menepuk kepalanya ringan hingga Lanya sekilas menatapnya, lalu tersenyum tipis dengan wajah yang pucat.
Di dalam bangsal tak ada apa-apa selain tumpukan barang-barang yang usang. Lanya mengernyit, berpikir bagaimana mungkin mereka bisa tidur diantara perabotan kayu yang sudah lapuk dan terselimuti debu tebal. Ia hampir saja menanyakan hal itu kepada Vanesa, namun gadis tersebut tiba-tiba menyingkirkan sebuah kayu kursi hitam yang reyot. Rasa penasaran Lanya makin menguat saat Vanesa mengetuk-ketuk lantai di tempat kursi tadi berada. Sepetak lantai tiba-tiba diangkat dari seseorang di baliknya, menampakkan ruangan bawah tanah di sana. Lanya bergumam takjub sewaktu Vanesa mengambil langkah duluan untuk menuruni tangga.
“Tempat istirahat perempuan ada di sebelah kiri dan laki-laki di sebelah kanan,” Vanesa menjelaskan seraya membantu Lanya menuruni tangga yang curam. Saat mereka akhirnya tiba di ujung bawah, pemandangan akan lorong agak gelap menyambut mereka. Hanya ada satu pintu di masing-masing sisi lorong, dengan lampu-lampu minyak dipaku di sisi-sisi dinding. Vanesa segera menyuruh San untuk menunggu di depan pintu ruangan para laki-laki.
“Rian, tunjukkan tempatnya!” perintah Vanesa kepada seseorang yang tadi membukakan jalan. Rian, seorang pria di akhir tiga puluh yang sebagian wajahnya ditutupi perban, menurut dan segera menyapa San yang hanya dibalas dengan anggukan.
+ + +
Matanya mengawasi tanpa kedip ketika melihat Rohan mengiring dua pendatang baru itu ke depan bangsal. Perasaannya agak bercampur aduk saat sosok aneh yang mengenakan kantong kertas tiba-tiba menoleh dan menatap langsung ke arahnya. Pria itu menahan napas. Tatapan sosok itu seolah menghunjamnya tanpa ampun.
Namun, itu tak bertahan lama ketika Rohan berlalu dan si gadis menariknya masuk ke dalam bangsal. Tatapan yang membuatnya merinding pun berakhir. Meski begitu, efeknya masih bisa dirasa jelas. Bahkan ketika sosok itu telah menghilang ke dalam bangsal, ia masih bisa merasakan rasa tegang mencekiknya dengan erat.
Mungkin ini terlalu awal untuk mengira, tapi ia yakin bahwa sosok berkantong kertas itu adalah seseorang yang—
“Oh, sial!”
Pria itu terkesiap akan suara gedebuk yang keras. Ia sontak menoleh ke arah tuannya—seorang lelaki di awal dua puluh—yang sedang menaruh beberapa buku tebal di atas meja sambil menahan sakit.
“Apa yang sedang kau lakukan, Ben?” Pemuda itu mengerang. “Kau kira bawa buku sebanyak ini mudah dilakukan satu tangan saja? Dan, ya Tuhan, kenapa buku kesehatan selalu setebal ini? Apakah perawat itu tidak paham dengan pekerjaannya sendiri?”
Liben—yang biasa dipanggil Ben—nama pria bertubuh kekar yang mengawasi tadi, melirik tangan kiri si pemuda yang buntung. Ia tak menyahut dan bergegas mengambil buku-buku tebal lainnya yang tercecer di lantai. “Kau bisa memanggilku, bukan? Kenapa repot-repot membawa semuanya sendirian, Stefan?”
Stefan menatapnya seolah-olah ia adalah hantu. “Ben.” Ia menyeringai. “Aku memanggilmu berulang kali dan yang kau lakukan adalah tetap mengintip dari lubang pintu. Apa yang kau lihat, sih?”
Ben terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan. “Tidak ada. Hanya pendatang baru yang sudah tiba.”
Stefan mengangkat alis. “Oh, sudah datang? Bagaimana?”
“Biasa saja.”
Stefan tak mengatakan apa-apa selain mengawasi Ben merapikan tumpukan buku di atas meja. Ia menyipitkan mata dan mengawasi Patronnya itu dengan curiga. “Katakan kepadaku, Ben. Kita akan menyambut mereka, tapi aku tidak suka wajah murammu itu.”
“Tidak ada apa-apa.”
“Ada sesuatu? Kau biasanya tidak sediam ini.”
Ben menatap pemuda di seberangnya tanpa kata. Ia terlihat ragu dan Stefan jelas memahaminya. Ia mengawasi Ben dengan pandangan menuntut, tetapi Ben kukuh tak mengatakan apa-apa. Stefan pun menyerah.
“Apakah seseorang yang membuat dadamu berlubang?” tanyanya kembali dengan senyum geli terukir.
Ben menunduk dan melihat dadanya sendiri yang bolong. Sebuah lubang sangat besar menganga di bagian d**a hingga menembus ke punggungnya. Tak ada apa-apa di sana, padahal seharusnya di situlah letak paru-paru berada.
“Tentu saja bukan,” jawabnya singkat. “Viruslah yang membuat dadaku berlubang seperti ini.”
“Lantas mengapa kau diam saja?”
Ben memejamkan matanya sejenak. Sekelebat bayangan tak menyenangkan mulai melintasi otaknya dan ia tak menyukai itu.
“Yah ...,” Ben bergumam dengan enggan. “Hanya cerita lama.”