Tusuk dan Tebas

1745 Kata
Satu hal positif yang bisa Lanya dapat dari sekian hal buruk akan keberangkatannya adalah ia tak perlu kembali ke Sekolah untuk menumpang jeep khusus milik Kamp Sektor. Kendaraan itu sudah menantinya di sisi lain hutan, sehingga Lanya hanya perlu menempuh waktu hampir dua jam untuk tiba di sana dengan berjalan kaki. Saat Lanya dan San tiba di sana, terlihat tiga orang staf Kamp Sektor yang menjemput; dua pria dan seorang wanita berotot. Mereka mengenakan kaus-kaus hijau tua yang menyaru sempurna dengan gelapnya hutan, begitu pula dengan warna jeep yang senada, sampai-sampai Lanya tak menyadari keberadaan mereka kalau saja San tak menunjuk. Mereka menyambut kedatangan Lanya dan San dengan hangat, seolah-olah adalah teman sendiri yang lama tak bersua. Lanya tersenyum. Setidaknya mereka tidak nampak sok garang atau apalah. Meski begitu, tetap tak menyurutkan kesedihan Lanya yang kali ini bertahan cukup lama. Ia terus-terusan memikirkan soal Mama, kau tahu? Seorang pria mengambil alih kemudi, ditemani sang wanita. Sedangkan satu pria lagi menemani Lanya dan San di jok belakang. Tak banyak yang berbicara selama satu jam pertama, tetapi pria bernama Daris yang menemani mereka itu akhirnya tak bisa menahan lebih lama lagi. Ia begitu penasaran dengan coretan yang memenuhi bagian wajah kantong kertas San, sehingga percakapan diantara mereka pun dimulai. Lanya hanya mendengarkan, kemudian menjawab hanya sesekali jika ditanya, karena mabuk darat telah menyerang gadis itu sejak jeep melewati gundukan keras pertama di jalan. Dia memang tak pernah menaiki mobil lagi semenjak perang melanda negeri ini. Ia tidak terbiasa dengan guncangan yang memualkan. Tak ada yang bisa menenangkan Lanya sama sekali selain bersandar pada lipatan lengannya sendiri. Atau, sesekali pada lengan sang Patron, jika San tidak banyak bergerak saat mengobrol dengan Daris. Ia memikirkan berbagai sistem pengaman tambahan yang dibangun San selama beberapa hari kemarin. Lanya bahkan tidak mengerti sebagian yang dirancang oleh lelaki itu, tetapi ketika San menjelaskan dengan penuh semangat bahwa salah satu perangkapnya bisa melontarkan gelungan kawat berduri pada siapa pun yang menerobos pagar, Lanya menyambutnya dengan cukup antusias. Ia bahkan sempat mengira jika San dulunya adalah seorang teknisi atau apalah itu namanya. Bagaimana bisa dia membuat sedemikian banyak perangkap? Lanya juga berusaha untuk berkomunikasi dengan Tante, yang hanya disambut dengan anggukan-anggukan singkat, tentang bagaimana caranya mengoperasikan jebakan disertai senjata yang telah San siapkan di sekeliling rumah. Semoga Tante bisa mengoperasikannya. San sendiri tidak menunjukkan keraguan, maka seharusnya Lanya tidak memikirkannya secara berlebihan. Kehangatan lengan San mengalahkan mual yang dirasakan Lanya akibat goyangan jeep. Sehingga, gadis itu akhirnya terlelap setelah dua jam berlalu. Sebelum Lanya benar-benar tertidur, ia sempat mendengar Daris menjelaskan kepada San bahwa membutuhkan waktu kurang lebih enam jam lagi untuk tiba di Kamp Sektor. Berbeda dengan berbagai Sekolah Perang yang tersebar hampir merata di tiap kota, Kamp Sektor hanya berjumlah sedikit dan membawahi beberapa Sekolah sekaligus. Karena itulah, Kamp Sektor terdekat yang mengundang Lanya terletak sangat jauh, membutuhkan delapan jam perjalanan dengan jeep, melewati hutan-hutan dan jalan yang tak akan disentuh para penjajah. “Oh, dia tertidur,” Daris berkata saat Lanya tak berkutik meski San menjawil bahu gadis itu. San mengangguk. Ia memberikan isyarat agar mereka memelankan suara dan mempersilakan Daris kembali melanjutkan percakapan. Mereka sedang membicarakan tentang para Patron—atau Yang Terinfeksi—yang berasal dari Laboratorium 02 seperti San. Daris tertarik membicarakan hal itu setelah ia menanyakan asal mula San. Mereka larut dalam pembicaraan serius dalam ketenangan ketika Andrea, si wanita berotot, melongok ke belakang. “Mau camilan, bung?” Andrea tersenyum seraya menyodorkan sebungkus keripik kepada San. Pemuda itu menyambutnya dan menjejalkan beberapa keripik ke balik kantong kertas. Kedua staf itu memerhatikan San dengan geli, lalu Andrea kembali berkata, “Keberatan jika kita berhenti sejenak satu jam lagi? Daris akan menggantikan Rudy menyetir, dan kita butuh sedikit asupan di tengah malam.” San memberikan isyarat bahwa dirinya bakal baik-baik saja dan Andrea mengangguk puas. Wanita itu kembali bercakap-cakap dalam suara pelan dengan Rudy sambil menikmati keripik, sementara Daris mengganti topik tentang bagaimana San bisa hadir ke Sekolah Perang. “Jadi,” kata Daris, masih dalam semangat yang menari-nari di mata gelapnya. “Bagaimana bisa kau sampai di Sekolah Perang itu? Maksudku, kau ... dan rekan-rekan lamamu ... terkenal dengan harga yang, kau tahu, tidak murah.” Daris menggosokkan jemarinya dengan penuh isyarat. “Sementara Sekolah Perang gadis ini nampaknya tidak punya dana sebesar itu. Ada Sekolah-Sekolah Perang lain yang lebih baik, yang letaknya lebih dekat dengan Kamp Sektor kita.” “Ah, aku mendapat undangan. Itu saja,” San memulai dengan kalem. “Memang ada banyak penawaran, namun pihak Sekolah Perang Lanya yang lebih awal bergerak. Seorang perwakilan mereka ... menemui salah satu pensiunan Laboratorium 02 yang bersekongkol dengan sebuah Kamp Sektor di daerahku.” San terdiam sejenak, mencoba mengingat urutan kejadiannya dengan benar. “Perwakilan pihak Sekolah Perang itu meminta beberapa stok Patron, karena mereka berharap bisa memberangkatkan lebih banyak peserta. Tetapi, ahh ... karena si pensiunan itu mulai dicurigai oleh pihak penjajah, ia tak bisa berbuat banyak. Ia kenalanku, jadi ia memberikan alamatku dan beberapa rekanku yang lain. Sepertinya yang benar-benar berangkat ke Sekolah Perang Lanya hanya aku saja. Sisanya ... entahlah, mereka mungkin memilih Sekolah Perang yang lain.” “Jadi itulah alasan mengapa kau bisa berada di lembaga b****k itu.” “Aku bahkan tidak tahu baik-buruknya berbagai Sekolah Perang itu. Aku hanya mengikuti anjuran dari si pensiunan saja.” San mendengus geli. “Kami di sini tak bisa berbuat apa-apa selain menerima atau menolak tawaran-tawaran dari berbagai macam pihak yang datang.” “Apa kau juga sudah pernah ditawari oleh pihak lain sebelumnya?” “Ya,” San menjawab, namun tak berniat mengatakan apa-apa lagi bahkan ketika Daris telah menatapnya lama. Daris menghela napas menyadari sikap San. Ia menggaruk kepala, mencari cara untuk mengetahui pihak siapa saja yang telah memberikan penawaran kepada San, tetapi niatnya berakhir ketika jeep berhenti. Andrea kembali memandang kedua lelaki di jok belakang, namun kali ini raut wajahnya mengeras. “Kita akan melaju cepat,” bisiknya. Ada garis waswas dan kengerian yang membayangi wajah. “Daris, siapkan senapanmu. Ada sejumlah zombi yang menghalangi jalan kita.” Daris dengan sigap meraih sebuah senapan berlaras panjang di bawah joknya, namun San cepat-cepat menghentikan lelaki bertubuh subur itu. Daris dan Andrea menatapnya bingung, kemudian San buru-buru berbisik, “Jangan. Jangan angan menembak. Jangan menimbulkan suara apa pun yang bisa membuat Lanya bangun. Dia ... dia akhir-akhir ini kesulitan untuk beristirahat.” Andrea mengerutkan dahi. “Aku tahu kau tak ingin membangunkan tuanmu, tapi kita harus menyingkirkan kumpulan zombi itu dengan cepat, San. Ia bisa mencoba tidur lagi nanti.” “Tidak, ia takkan bisa.” San bersikeras. “Letakkan senapan dan bom kalian. Aku akan mengurusnya.” Andrea mengangkat alis sangsi dan menatap kedua lelaki di hadapannya bergantian. Daris sama bingungnya dan tak bisa menjelaskan, sementara San terlihat serius dengan ucapannya. Setelah beberapa detik penuh pertimbangan, Andrea pun mengangguk ragu dan menyampaikan hal itu kepada Rudy. Sang pengemudi, tanpa melongok ke belakang, berbisik kepada San. “Kau yakin, bung? Butuh penerangan tambahan?” “Tidak perlu,” San berkata. “Tetaplah melaju dengan kecepatan normal, tetapi jangan berhenti mendadak. Aku akan berada di atap.” “Lalu kau akan menyerang dengan apa?” San mengisyaratkan Daris agar memberikan tombak besi panjang yang sangat tajam di bawah joknya. Andrea mengawasi dengan bimbang. “Ada lima zombi di luar sana. Kau yakin sebuah tombak bisa mengatasinya?” “Apa pun bisa dilakukan saat kita terdesak,” San menjawab. Keentengan nadanya membuat Andrea mengangguk-angguk skeptis. Daris kemudian membukakan pintu belakang jeep dan mempersilakan San untuk bergegas. Pemuda itu dengan ekstra hati-hati menidurkan Lanya di atas jok jeep, menjajarkan tas-tas mereka di samping jok agar sang gadis tak jatuh, kemudian melangkah keluar dan segera memanjat ke atap. “Dia adalah seorang Patron,” Daris berusaha mencari alasan yang masuk akal agar Rudy dan Eri mau memercayai San. “Dan ingatkah alasan mengapa kita yang dipilih untuk menjemputnya ke Kamp Sektor? Dia menghancurkan sebuah pesawat sendirian.” Eri menggigit bibir gelisah. “Tetap siapkan senjatamu. Jika ia gagal, kita akan langsung menembak para zombi itu.” Rudy mengangguk dan segera menjalankan mobilnya kembali saat San memberikan isyarat tangan di balik kaca pintu pengemudi. Mengikuti saran San, Rudy tetap melaju dengan kecepatan rata-rata. Di depannya, berkeliaran di jalan aspal yang berlubang-lubang, di bawah naungan langit malam yang begitu pekat, ada lima zombi dewasa yang terlihat kebingungan dengan kehadiran benda asing besar di dekat mereka. Rudy menyaksikan para zombi itu akhirnya menyadari siapa yang datang, sehingga mereka seketika berlari dengan tertatih-tatih menuju mobil. Rudy menahan napas dan nyaris saja menginjakkan pedal gas, namun San telah mengetuk kaca mobil untuk mengingatkan Rudy. Eri memandang sang Patron dengan sangat ragu, karena ia terlihat begitu tenang. Sementara itu Daris tak tahu banyak akan apa yang terjadi. Ia hanya terus merapal doa dan tanpa sadar bolak-balik mengawasi Lanya. Ia takut gadis itu akan terbangun, dan jelas ia telah termakan ucapan San bahwa Lanya tak boleh terganggu tidurnya. Daris telah mengetahui masalah apa yang dihadapi Lanya, maka ia pun juga tidak tega untuk membuat sang gadis terjaga. Lamunan Daris buyar ketika erangan para zombi itu berubah menjadi raungan, dan dalam sekejap, kaca depan mobil dihujani dengan cairan merah berbau busuk. Andrea refleks mengumpat dan Rudy dengan cepat menyalakan wiper untuk menyapu bersih noda-noda darah. Ketika Daris melongok keluar, jeep itu telah melaju melewati potongan-potongan tubuh zombi yang berceceran di jalan, yang segera dihentikan saat San memberikan isyarat. Ia bergegas melompat masuk ke dalam jeep untuk mengambil sebotol besar bensin dan pemantik api, lalu menyiramkannya ke ceceran tubuh para zombi dengan bantuan Daris. Butuh waktu agak lama bagi mereka untuk menunggu tubuh-tubuh itu hangus dengan sempurna. “Bagaimana kau melakukannya?” Andrea bersuara saat San kembali ke dalam jeep. “Mau bagaimana lagi? Tusuk dan tebas,” jawab San sembari meraih lap basah yang disodorkan Daris untuk membersihkan ujung tombak. “Tapi itu hanya tombak, kau seharusnya pakai pedang saja!” Andrea berbisik tertahan. “Bagaimana bisa?” San  berhenti mengelap  dan  memandang  kedua  petugas  itu dengan gusar. “Kalian punya pedang? Kenapa tak mengatakannya dari awal?” Andrea menahan napas tak percaya. Ia memilih untuk tak mengatakan apapun selain memuji San karena sikapnya. Daris hanya menggelengkan kepala takjub dan menawarkan diri untuk membantu San mengelap, agar pemuda itu berkonsentrasi mengurus Lanya. San menyambut tawaran Daris dengan senang hati. Ia pun menyingkirkan tas-tas di samping jok dan menempatkan dirinya kembali di samping Lanya. Gadis itu mengerang ketika merasakan adanya gerakan, tetapi dengan cepat Lanya kembali terlelap saat kepalanya bersandar pada lengan San.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN