Suka Tidak Suka, Mau Tidak Mau

1529 Kata
“Tante, bisakah aku melihat jarimu sebentar?” kata San. “Sepertinya aku melihat sesuatu.” Mama  kebingungan memandang jari-jemarinya. Namun, karena matanya tidak bisa melihat dengan terlalu jelas lagi, ia tak mendapati ada yang salah pada kesepuluh jari itu. Maka Mama pun menyodorkan tangannya kepada San. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai memijat ujung jari Mama selama sesaat. ia menekan ujung jemari Mama untuk melihat apa yang terjadi. San menahan napas. Matanya membelalak memandang ibu Lanya dari balik kantong kertasnya dengan jantung berdegup. Canggung karena terus-terusan memegang tangan Mama, dengan sopan ia melepaskan tangan beliau tanpa sedikit pun mengatakan apa-apa. Belum sempat Mama menanyakan apa yang terjadi, Lanya melangkah masuk sambil membawakan nampan berisi semangkuk bubur manis yang masih panas, ditemani segelas air hangat dan beberapa obat yang sudah gadis itu siapkan. “Ada apa?” Lanya mengangkat alis saat melihat San sedang berdiri di sisi tempat tidur. “Sesuatu terjadi?” San menatap Mama dan Lanya bergantian ragu, tetapi ia tak punya pilihan. Ia membantu Lanya meletakkan nampan itu ke atas meja dulu  dan  bertanya, “Apa  kau  punya  persediaan penawar  racun, Lanya?” “Mm, tidak.” Lanya terdiam sejenak. “Tidak pula di persediaan rahasia kami di bawah toko,” lanjutnya, dan menyadari bahwa kepala San semakin menunduk, ia bertanya. “Ada apa?” San tidak segera menjawab. Bagaimana ini? Bisakah ia mengatakannya? Mama pun memandang San dengan bingung, bahkan gurat kekhawatiran telah muncul di wajahnya yang lesu. “Ada apa, San?” tanya Mama akhirnya. San menelan ludah. “Virus di tubuh Tante ... sepertinya menyebar dengan cepat.” Lanya merasakan sesuatu runtuh di dalam benaknya. “Apa?”   + + +   Salah satu kelebihan dari rumah Lanya adalah letaknya yang dekat dengan Sekolah Perang. Meski jaraknya mencapai lebih dari satu jam, setidaknya rumah Lanya termasuk yang paling dekat, sehingga dokter yang bekerja di Sekolah  Perang pun tidak butuh waktu lama untuk tiba di sana. Sudah lima belas menit sejak dokter berada di dalam kamar Mama bersama Lanya, sementara San menunggu bersama Ibu Kepala dan Tante pemilik rumah di ruang duduk. Tak ada satu pun yang berkata-kata karena San tak berniat untuk menjawab semua pertanyaan Ibu Kepala. Lagipula apa yang wanita itu tanyakan hanya akan memperburuk suasana. Memangnya tepat untuk menanyakan bagaimana persiapan mereka untuk Kamp Sektor kelak? Tidak bisakah Ibu Kepala mengkhawatirkan ibu Lanya sebentar saja? Sungguh, apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakannya? Namun, memang tak dapat dielakkan lagi, San bisa melihat semangat berkobar di mata Ibu Kepala. Sepertinya ia berambisi akan memberangkatkan seseorang, atau bahkan lebih, ke Kamp Sektor lagi beberapa bulan mendatang. Kesunyian yang menyesakkan itu berakhir ketika pintu kamar mengayun terbuka. Dokter keluar duluan sambil bercakap-cakap dengan Lanya, dan gadis itu terlihat seperti baru saja diperintahkan untuk bunuh diri saat itu juga. Syok, tak bertenaga, dan bingung adalah gambaran yang tepat untuk Lanya waktu itu. Dokter itu kemudian menjelaskan kepada Ibu Kepala apa yang sedang terjadi, dan dugaan San benar. Virus di tubuh ibu Lanya menyebar dengan cepat karena beberapa faktor, seperti efek habis terjatuh, faktor usia, dan stres memikirkan sesuatu yang berat. Ketika dokter mengatakan bahwa alasan mengapa ibu Lanya stres adalah karena anaknya diminta untuk berangkat ke Kamp Sektor, semangat yang membara di wanita itu tetap tak terlihat padam sedikit pun. Wow, batin Lanya. Ibu Kepala sudah seperti David saja. “Bukankah aku sudah bilang akan selalu berkunjung kemari? Lagipula, Kamp Sektor jelas takkan membahayakan hidup Lanya selama ia patuh dengan aturan-aturannya.” Lanya menjatuhkan diri di sofa, tepat di sisi San, dan bersandar lemas pada pundak lelaki itu. Ia bergumam lirih, meski cukup keras untuk didengar San bahwa dia sedang mengutuk wanita bertubuh pendek itu dengan rentetan kata u*****n. “Lanya sudah membicarakan hal tersebut dengan ibunya baru saja di kamar. Bagaimana pun juga, kita memerlukan obat penawar virus yang cukup banyak untuk ibu Lanya.” Ibu Kepala mengangkat alis samar. Lanya tahu, entah mengapa, bahwa wanita itu sedang menahan senyum. “Kami tidak punya obat semacam itu,” kata Ibu Kepala. “Harga obat penawar virus sangat mahal. Lagipula kami hanya menggunakan alkohol karena selama ini jarang ada kasus yang membutuhkan obat penawar virus.” Dokter itu mengangguk. “Obat penawar virus hanya bisa didapat di Kamp Sektor dan Kamp Pusat jika Lanya ingin melalui jalur yang aman,” ujarnya menyetujui. “Karena obat penawar virus hanya diproduksi oleh para penjajah, butuh perjuangan yang sangat rumit untuk mendapatkannya. Hanya para peserta Kamp Sektor dan Kamp Pusat yang terkualifikasi untuk melakukannya.” “Jadi?” Ibu Kepala menghadap Lanya. “Apakah Lanya bisa berangkat malam ini juga? Tunggu apa lagi?” “Kalau Lanya tidak berangkat dan mendapatkan obat penawar virusnya, tentu ini akan sangat berbahaya bagi ibunya sendiri.” Dokter itu mendukung ucapan Ibu Kepala. “Dalam beberapa bulan, virus itu akan menyebar dengan cepat dan takkan sekadar menggerogoti tubuhnya saja. Karena itulah, selama kita menanti kiriman obat dari Lanya, kami pihak kesehatan akan mengirimkan seorang perawat untuk mengawasi keadaan beliau.” San merasakan Lanya meremas ujung bajunya. Saat ia menatap gadis itu, Lanya hanya menyunggingkan seutas senyum sebagai jawaban. Ia mengangguk dan Ibu Kepala pun menghela napas lega. Wanita itu lantas mengisyaratkan kepada Lanya karena perlu membicarakan hal-hal bersama sang ibunda. Lanya, sekali lagi, hanya mengangguk tanpa suara. Ibu Kepala bergegas beranjak, tak repot-repot memedulikan Lanya yang memandangnya dengan penuh amarah. Sadar bahwa situasi di ruangan itu memberat, dokter pamit diri untuk menunggu di bawah. Setelah sang dokter lenyap, maka hanya tinggal Lanya dan San di ruangan itu. Tante pemilik rumah memutuskan untuk menyuguhkan minuman kepada sang dokter. “b*****t,” bisik Lanya akhirnya. Suaranya parau, dan bahunya sekarang gemetaran. San mengacak rambut Lanya lembut. “Kau ingin ibumu sembuh, ‘kan?” Alih-alih menjawab, Lanya menenggelamkan wajahnya di lengan pemuda itu. Ia terisak dan San bisa merasakan lengan bajunya mulai basah. Pemuda itu menghela napas kecil. Ia mengangkat tangannya yang satu lagi dan menepuk-nepuk pundak Lanya untuk menenangkannya. “Kau bisa melakukannya,” San berbisik. “Aku yakin kau bisa melakukannya, Lanya. Aku akan selalu siap untuk membantumu, kapan pun yang kau inginkan.” Lanya mengangguk. Selama sesaat ia tenggelam dalam kesedihan hingga terdengar suara Ibu Kepala dan Mama saling bertukar harapan akan kebaikan. Lanya buru-buru beranjak untuk membasuh wajahnya. Tepat saat itu, Ibu Kepala melenggang keluar. “Ah, dimana Lanya, San?” “Membasuh wajah,” jawab San sekenanya. Ia sama sekali tak berniat bergeser dari sofa. Ibu Kepala barangkali menyadari rasa kesal yang menguar dari sang Patron. Beliau mengatupkan bibir. Baiklah, membuat kesal para peserta Sekolah Perang itu lumrah, namun berurusan dengan seorang Patron yang dalam suasana hati buruk itu berbeda lagi. Ibu Kepala hanya menyunggingkan senyum, menanti dengan canggung hingga Lanya muncul kembali dengan wajah suntuk. “Lanya, oh, Lanya,” Ibu Kepala mendekat untuk menawarkan sebuah pelukan. Lanya terpaku, tak bisa menolak rangkulan sang pejabat Sekolah Perang. Biarlah, toh Lanya takkan bertemu dengannya lagi. “Marissa titip salam untukmu, Lanya! Ia berharap kau—dan keluargamu—selalu dalam keadaan sehat.” “Yah ... kalian juga.” Ibu Kepala melepaskan pelukan dan tersenyum lebar kepadanya, lantas menepuk-nepuk pundak sang gadis. “Ayo,” katanya. “Bersemangatlah, Lanya. Tidak baik menunjukkan wajah sendumu kepada sang ibu. Sekarang yang ibumu butuhkan adalah semangat dari putri satu-satunya. Aku tahu, meski aku tidak punya anak lagi, bahwa yang diinginkan orang tua saat sedang sedih hanyalah anak-anak yang tetap bahagia dalam menjalankan hidup.” Saat Lanya hanya menatap Ibu Kepala dalam diam, beliau melanjutkan, “Aku tahu kau tidak menyukai ini semua. Tetapi, yakinlah, ini demi ibumu. Dan, kalau aku boleh mengatakannya, maka cobalah diskusikan kepada para pejabat Kamp Sektor. Terakhir kali aku mendengar kabar, mereka juga sudah menyediakan pemukiman sementara untuk keluarga para peserta Kamp Sektor. Cobalah, Lanya. Cobalah bertanya dahulu kepada mereka. Jangan bersedih dahulu, oke? Ini hanya ... sementara.” Lanya belum pernah mendengar tentang pemukiman Kamp Sektor, maka barangkali itu adalah satu-satunya penyebab senyum kembali muncul di wajahnya. Meski sedikit terpaksa, tapi—yah—asalkan Ibu Kepala tidak perlu berlama-lama berceramah untuknya. “Baiklah.” Lanya kembali memasang senyum yang kaku. “Terima kasih, Ibu.” Mungkin hanya ucapan itulah yang ingin didengar Ibu Kepala. Dengan puas beliau meremas pundak Lanya, mengucapkan beberapa kata penyemangat lagi, lantas menyusul sang dokter. Mereka pun meninggalkan rumah dengan cepat. Sementara itu, San menghampiri Lanya. "Bagaimana?" tanyanya, sedikit ragu. "Apakah kita bersiap-siap?" "Yah." Lanya mengangkat bahu. "Mau bagaimana lagi?" San mengangguk. "Aku ... aku akan menyiapkan barang-barangku. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja aku." "Ya," kata Lanya sekenanya. Namun, saat San berbalik dan baru saja akan berpindah ke ruang pribadinya, Lanya seketika teringat sesuatu. "Oh, San," panggilnya. Sang pemuda pun menghentikan langkah. "Bagaimana kau tahu kalau penyebaran virus Mama bisa secepat itu? Maksudku, kau hanya mengecek jari dan ... aku bahkan tidak menemukan apa-apa saat melihat jari Mama." San membutuhkan waktu agak lama untuk menyusun jawaban, sampai-sampai Lanya mengernyit curiga. "Ahhh, bagaimana, ya ...," katanya pelan. "Um, itu semacam ... hal-hal yang sempat kupelajari dari Laboratorium." "Sungguh?" Lanya terkejut. "Tetapi kau bilang, kau melupakan banyak hal." "Ya, tapi ada hal-hal yang tidak sempat kulupakan, kan?" kata San, dan sebelum Lanya menjawab lagi, ia melambaikan tangan. Pemuda itu pun menghilang dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN