Lanya sudah tahu reaksi macam apa yang akan diberikan oleh Mama, ketika menceritakan segalanya saat malam tiba. Ia tak sedikit pun melewatkan apa yang telah terjadi di Sekolah Perang—kecuali bagian ia dijauhi oleh para peserta gara-gara David—dan Mama hanya bisa termangu sepanjang mendengarkan. Matanya yang sayu terlihat antara lega dan kecewa. Lega, karena Lanya mendapatkan Patron yang luar biasa atas kejadian pesawat itu. Kecewa, karena ia harus mengalami nasib yang sama seperti Brian.
“Tapi, aku tidak akan pergi, Ma,” Lanya akhirnya berkata sebagai penutup cerita. “Aku tidak mau pergi. Sekolah pasti bisa memakluminya, dan—”
“Lanya,” bisik beliau. “Kau sebenarnya tak perlu khawatir. Jika memang Kamp Sektor benar menginginkanmu untuk pergi ke sana, maka pergilah. Kalian dibutuhkan, bukan begitu? Mama masih ingat apa kata Brian soal keputusan Kamp Sektor untuk mengundangnya. Kalian pasti akan menjadi orang-orang yang berguna.”
Lanya menelan ludah. Kata-kata Mama bukanlah hal yang akan beliau ucapkan dari lubuk hati terdalam. Sesungguhnya, Mama paling sering menanyakan perihal surat balasan Brian sejak dulu, namun berhenti mengkhawatirkannya lagi akhir-akhir ini. Mana mungkin Mama akan setuju begitu saja dengan kepergian Lanya?
“Kalau begitu siapa yang akan menjaga rumah dan Mama? Siapa yang akan berpatroli keliling sekitar rumah dan komplek?” tanya Lanya jengkel.
Mama tersenyum. “Lanya, kau tidak kurang-kurangnya menaruh pertahanan di sekitar sini, kau tahu? Apalagi kau dan San sudah mengumpulkan bahan-bahan untuk membetulkan pagar dan yang lain. Apalagi yang kurang?”
“Ma, bukan begitu.” Lanya jadi frustasi sendiri. Ia ingin melanjutkan kalimatnya, namun ekspresi Mama membuat seluruh kalimat yang sudah sampai ke tenggorokan melebur begitu saja.
Mama menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Tidak ada yang lebih mulia daripada berjuang untuk negeri kita, Sayang. Kau akan menjadi pahlawan, benar? Mungkin kau memang takkan semerta-merta terjun ke dunia yang keras itu, dan semoga saja tidak, tapi kau pasti bisa membantu yang lain dengan menyusun strategi dan alat perang. Mama tahu kau pintar di kelas-kelas. Kau juga bukan orang yang menyusahkan.”
Lanya membuka mulut, meski tak ada suara yang keluar. Hatinya sakit saat mendengar Mama menyinggung masalah kepahlawanan. Kenapa jadi begini? Ibu Kepala pasti sudah meracuni Mama dengan jutaan kata memuakkan tadi siang. Lanya pun tak bisa berkutik ketika wanita paruh baya di hadapannya tak bisa memendung rasa sedih lagi.
“Ma, kayaknya tidak semua pahlawan bakal ...,” Lanya bergumam, tapi ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia tahu apa yang dipikirkan Mama, dan stereotip macam apa yang melekat pada kata “pahlawan”. Mungkin terdengar gagah, tapi apakah derita yang ditanggung oleh sang pahlawan dan keluarganya setimpal? Jika pahlawan itu pada suatu saat nanti pergi ... apakah rasa sakit bagi yang ditinggalkan bisa terobati?
“Dan aku juga bukan pahlawan ...,” Lanya berbisik. “Ma, aku tak mau pergi ke Kamp Sektor.”
“Lalu apa kau akan menyalahi aturan?” Mama menyahut. “Kamp Sektor memintamu, Lanya. Kau tidak berhak menolak. Itu sama saja dengan kau membantah apa kata komandanmu ketika kau disuruh berperang, padahal kau seorang prajurit.”
Lanya bungkam. Ia tak mengatakan apa-apa lagi dan Mama pun kembali rebahan di atas tempat tidur. “Tadi kau bilang waktunya satu minggu, ya? Kalian masih ada waktu untuk membetulkan rumah ini. Mama akan bicara pada Tante, jadi kalian tak perlu cemas.”
“Ma—”
“Yah … kalau kau memang merasa sangat keberatan, Sayang, kau tak perlu memaksakan diri.” Mama tersenyum sekali lagi. “Mama akan bicarakan hal ini dengan pihak Sekolah. Namun, yang jelas, persiapkan dirimu untuk kemungkinan apa pun. Kalau perlu, kalian mungkin bisa menambah senjata yang ada di bawah toko-toko untuk dibawa kemari. Kau bisa menunjukkannya kepada San nanti, Lanya.”
Gadis itu menghela napas. Ia tak bisa merespon apa-apa selain mengangguk. Melihat Mama yang segera berbalik badan memunggungi mereka, Lanya hanya mampu pasrah dan menarik San keluar kamar.
Pemuda itu sedari tadi hanya diam saja, namun setelah Lanya menutup pintu, ia baru berbisik. “Maafkan aku.”
Lanya mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Maafkan aku,” ulangnya saat mereka sudah menjauh dari kamar Mama. “Seharusnya aku tidak melakukannya waktu itu. Maksudku, menyerang pesawat.”
Lanya memutar bola mata kesal. “Oh, sudahlah. Apa yang sudah terjadi, biarkan terjadi. Lagipula, San, jika kau tidak melakukannya, bisakah kau membayangkan apa yang bakal terjadi sekarang? Bisa saja kita sudah mati. Bisa saja kita takkan melihat ibuku lagi.”
San menggaruk lehernya. “Tetapi ibumu terlihat begitu kecewa ... lalu bagaimana? Kau jadi berangkat?”
“Pokoknya ibuku adalah prioritasku.” Lanya bersikeras. “Alasan mengapa aku mau bertahan di Sekolah Perang adalah karena beliau. Semua yang kulakukan sekarang hanya untuk Mama, San ... karena bagaimana pun juga hanya beliau yang masih bertahan hidup sampai saat ini. Bahkan jika aku harus mati untuk Mama, aku tetap tidak akan melakukannya. Kalau aku mati, siapa yang bakal melindungi Mama nanti?”
“Oh, kau plin-plan sekali. Kenapa kau tidak ikut saja ke Kamp Sektor?” San menelengkan kepala. “Lanya, menjaga ibumu bukan berarti kau harus selalu berada di sini. Kau bisa pergi ke Kamp Sektor, membantu siapa pun dengan otakmu, menangkan negeri ini atas penjajah, dan kau bisa hidup dengan tenang bersama ibumu selamanya.”
“Ya, dan itu bakal menjadi kisah yang sangat indah jika semua terjadi sesuai skenariomu, San,” Lanya membalas dengan sengit. “Bagaimana jika Tuhan berkehendak lain? Bagaimana jika keadaan yang seperti ini jauh lebih baik bagi kita? Bagaimana jika bertahan sebagai Yang Terinfeksi dan mendiami pedalaman adalah yang terbaik?”
“Kau pesimis, ya? Apa kau bisa menjadi lebih optimis sedikit?”
“Bukan masalah aku pesimis atau tidaknya, San.” Lanya mendesis. “Yang perlu kau lakukan adalah memikirkan segala kemungkinan.”
“Ya, tapi hanya duduk dan memikirkan segala kemungkinan takkan menyelesaikan segalanya. Bergeraklah atau takkan ada yang terjadi!”
Lanya menatap San dengan terkejut. Selama sesaat tak ada suara diantara mereka lagi hingga San mengangkat bahu dan beralih pergi. Lanya menyipitkan mata memandang punggungnya menjauh menuruni tangga.
Mau kemana dia? Oh, Lanya tak peduli. Kata-katanya barusan membuat Lanya kesal sekaligus tertohok. Gadis itu pun mengambil tas ranselnya yang tergeletak di depan kamar Mama dan menyeretnya ke dalam kamarnya sendiri.
Ketika San tiba di ujung bawah tangga, ia mendengar Lanya membanting pintu kamar. Ia mendengus dan melangkah ke pekarangan belakang.
+ + +
Lanya tidak bisa tidur dengan lelap malam itu. Ia bolak-balik kepikiran soal Mama. Ketika akhirnya jatuh terlelap, Lanya justru memimpikan beliau sedang menangis terus-terusan di hadapannya. Bukan sesuatu yang ia ingin Lanya lihat di dalam mimpi.
Gadis itu tertidur hingga waktu pagi tiba, dan alih-alih ketukan pintu dari Tante, suara seperti kayu diketoklah yang membuat Lanya terbangun. Ia terduduk di kasurnya sejenak sambil mengucek-kucek mata, kemudian merayap turun setelah matanya tidak terasa berat lagi.
Suara ketokan itu terdengar semakin jelas setelah pintu terbuka. Ia bengong melihat sosok San berada di kusen jendela di seberang ruangan, sedang berjongkok sambil memaku sesuatu pada kayu. Lanya mendekat dan mendapati pemuda itu sedang membuat jembatan sederhana dari tumpukan papan kayu yang panjang, menyambungkan jendela rumahnya dengan jendela rumah di samping sana.
“Kau sedang apa?”
“Aku sudah mengecek rumah itu,” ucap San sembari mengedikkan dagu ke arah rumah di seberang. “Lantai satunya memang berantakan, seperti katamu tempo hari, tetapi lantai duanya baik-baik saja. Jadi aku akan tinggal di situ dan membersihkan tempatnya setelah ini.”
Lanya diam saja sementara tubuhnya masih dalam proses mengumpulkan kesadaran. Ia pun melongok ke jendela lain yang menghadap pekarangan belakang rumah. Ada tambahan kawat berduri sepanjang tepi bawah pagar berpapan kayu, termasuk besi-besi kecil dan tajam yang mencuat dari celah-celah papan, cukup untuk membuat siapa pun yang mencoba memanjatnya akan terpereset dan tertusuk oleh duri-duri di bawahnya.
“Darimana kau mendapatkan semua itu?”
“Aku membuatnya. Banyak yang bisa diambil dari lantai satu rumah itu, tapi kau memang harus mengangkat puing-puingnya.”
Lanya menatap San tak percaya. Ia menghampiri lelaki itu lagi dan duduk di sampingnya. “Apa kau tidak kelelahan?”
“Tidak.”
Lanya mengatupkan bibir dan mengawasi San bekerja dalam diam. Ia merasa gugup, juga aneh. Lanya sempat bertengkar dengan San malam lalu dan kini tak merasa kesal lagi. San pun kelihatannya begitu, tetapi Lanya tak berani menyinggungnya. Lanya mengayunkan kakinya gelisah. Kalau sudah begini, ia bingung apakah ia bisa berbicara dengan bebas kepada San. Ia ingin minta maaf, tapi rasanya ....
Lamunan Lanya pecah ketika ia tiba-tiba mendengar suara seperti sesuatu yang berat jatuh dari kamar Mama. Lanya dan San sempat bertatapan selama sekian detik sebelum gadis itu menyerbu kamar ibunya.
“Mama!” Lanya histeris saat mendapati ibunya terduduk di lantai. Beliau mengerang kesakitan dan tongkat penopang yang biasa membantu beliau berdiri tergeletak tak jauh darinya. Lanya cepat-cepat membantu Mama berdiri dan San menyusul. “Mama kenapa?”
Mama hanya mengaduh dan memijat-mijat pinggang tanpa mengatakan apa pun. Beliau terlihat kesakitan dan Lanya menyadari wajah Mama yang pucat terlihat begitu lemas, dan—ini yang membuat Lanya merasa tidak nyaman—seperti baru menangis lama. Lanya terhenyak, namun itu tak mengurungkan niatnya untuk membantu ibunya berbaring kembali.
“Mama mau ambil obat tidur,” kata beliau lirih. “Mama tidak bisa tidur, Lanya. Tapi, aduh ... entahlah, Mama tidak cukup kuat memegang tongkatnya sehingga terpeleset.”
Lanya berusaha keras untuk tidak meledak di sana dan senyum tipis tersungging di bibirnya. “Kalau begitu Mama tunggu di sini dulu, oke? San, apakah kau bisa mengecek tongkatnya? Aku akan ke bawah sebentar untuk mengambilkan sarapan juga.”
San mengangguk sementara Lanya bergegas keluar kamar. Ia mengambil tongkat kayu yang sudah terlalu lama digunakan itu untuk diamati, kemudian mendapati ujung tongkatnya agak lapuk. Ini harus diganti. San yakin, dan baru saja akan mengatakannya kepada Mama ketika merasakan hawa yang kurang mengenakkan merayapi tubuhnya.
San memandang ibu Lanya yang sedang bergumam lirih akan rasa sakit di pinggangnya. Matanya terpejam dengan satu lengan menghalangi cahaya masuk ke dalam mata. San menyadari kulit wanita itu sedikit memucat. Ia pun menghampiri beliau dengan ragu.
“Um, Tante?”
Mama membuka mata perlahan dan menatap San dengan nanar. “Ada apa, San?”
“Tante, bisakah aku melihat jarimu sebentar?” kata San. “Sepertinya aku melihat sesuatu.”