Awalnya jantung Lanya tak bisa berhenti berdegup gelisah setelah ia mencapai rumah. Ia khawatir Ibu Kepala akan tiba-tiba datang ke rumah dan menarik gadis itu untuk segera pergi ke Kamp Sektor. Tapi, hingga dua hari berlalu, tak ada yang terjadi. Semuanya begitu tenang dan terkendali, seolah tak ada apa-apa.
Kalau begitu, pikir Lanya, tidak berangkat ke Kamp Sektor pun... mungkin tak masalah, bukan?
Gagasan itu terlintas di benak Lanya saat hari ketiga sudah tiba. Matahari berada di puncak kepala, dan makan siang baru saja selesai. Lanya sedang bergurau dengan Mama di ruang duduk ditemani oleh San. Kendati Mama agak takut dengan San pada pertemuan pertama mereka, kini beliau sudah mulai terbiasa, meski terkadang Mama akan masih terkejut saat San tiba-tiba hadir tanpa suara.
Dan, ketika mereka baru saja tertawa karena Lanya menceritakan sebuah kisah lama, gagasan itu lewat begitu saja di otaknya.
Apakah mungkin baginya untuk tidak pergi ke Kamp Sektor? Ia tak perlu cemas karena harus meninggalkan ibunya sendirian di rumah bersama Tante saja. Apalagi kehadiran San telah membuat rumah jadi semakin aman dan ramai.
“Sebentar lagi kalian akan ‘belanja’ keluar, ‘kan?” Mama berkata, membuyarkan lamunan Lanya. Percayalah, kegiatan semacam belanja yang akan mereka lakukan sama sekali berbeda dengan berbelanja yang biasa dilakukan Lanya saat masih kecil dahulu bersama Papa dan Mama di supermarket. Situasi saat ini tak memungkinkan ada supermarket, dan tak ada troli. “Sepertinya akan lebih baik kalau kalian berangkat sekarang sebelum sore tiba.”
“Oh, astaga,” Lanya mengerang, “cuacanya panas sekali, Ma. Lebih baik pergi saat sore saja, toh kita tidak diburui oleh apa pun. Bukankah begitu, San?”
“Aku pakai kantong kertas.” San menunjuk kepalanya sendiri. “Jadi tidak ada pengaruhnya bagiku.”
Lanya menggertakkan gigi. Ia melempar jaket di dekatnya kepada lelaki itu, yang langsung direbut dengan cepat. Mereka saling menjejakkan kaki satu sama lain dan Mama menyaksikan mereka dengan menyeringai lebar. Ini mengingatkannya dengan pertengkaran tak penting antara Lanya dan David dahulu, sementara Brian akan duduk bersama Mama dengan senyum masam di wajah. Tetapi pertengkaran kecil tak berguna itu hanya berjalan singkat. San bergegas beranjak dan menyeret gadis itu keluar rumah untuk segera berbelanja.
Ia membawa Lanya menuju pagar depan. Jika dulu pagar yang tinggi itu hanya ditutupi seadanya dengan papan kayu, kini San telah menambahnya dengan untaian panjang kawat-kawat berduri. Dengan berhati-hati Lanya membuka pagar, sementara San mengambil persediaan batang-batang besi berujung runcing yang ditumpuk di pekarangan.
Pemandangan akan jalan raya besar yang dipagari rumah-rumah bertingkat hancur menyambut Lanya. Angin berembus disertai bau-bau ganjil yang sudah terlalu sering Lanya cium. Aroma samar mayat membusuk, darah, dan tanah basah berpilin, meracuni udara yang menggelayut di sekeliling mereka. Namun, Lanya sudah terbiasa. Ia dan San segera berjalan di aspal yang berlubang-lubang untuk menghampiri sebuah toko yang sering Lanya jarah.
Suasana begitu sepi dan mencekam. Hanya suara kepakan burung dan gemerisik daun yang terdengar. Kesunyian janggal yang menyelimuti mereka berusaha Lanya usir dengan melantunkan lagu-lagu lawas dengan nada yang dilebih-lebihkan.
“Kau biasa melakukan ini sendiri?” tanya San akhirnya.
“Yap.”
“Sepi seperti ini? Apakah memang tak ada orang selain dirimu dan keluargamu?”
“Sebenarnya ada … Brian dan David sesungguhnya tinggal di dekat sini.” Lanya berhenti melangkah, lalu menunjuk satu-satunya rumah yang masih layak huni di antara puing-puing, tak jauh dari rumah Tante dan Mama. Rumah itu sekarang kosong melompong, hanya terlihat satu kaus berwarna luntur yang menggantung di pagar, sesekali mengelepak ringan saat angin berembus. “Sampai satu tahun yang lalu, masih ada beberapa orang atau kelompok yang mendiami tempat ini. Tapi, karena mereka berada di luar batas pagar listrik, zombi dengan mudah mencapai mereka. Banyak yang akhirnya pindah, karena area di dalam pagar listrik tidak ada yang bisa ditempati lagi.”
Sembari melanjutkan perjalanan, Lanya sekarang menunjuk sebuah pagar yang tinggi dan besar, membentang menutupi jalan raya yang berjarak beberapa ratus meter di depan mereka. Pagar bertegangan tinggi itu adalah pelindung yang dibuat oleh Sekolah Perang beberapa tahun lalu.
“Tapi, kau bilang ada zombi yang bisa sampai ke depan rumah, bagaimana dengan itu?”
“Nah, sebenarnya ada jalan yang aksesnya belum diblokir, letaknya di jalan alternatif jauh dari sini. Mungkin zombi-zombi itu tersesat sampai kemari dan menemukan rumahku.”
Lanya terkekeh seraya membawa San menuju sebuah toko berlantai dua yang ada di seberang jalan. Kacanya sudah hancur dan pintu utamanya hanya menggantung pada satu engsel. Lanya mendorong pintu membuka dan masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi rak-rak kosong berdebu. San mengikutinya masuk ke pintu lain yang ada di dalam ruangan, lalu turun ke bawah tanah.
Puluhan boks besar dan kecil memenuhi seisi ruangan yang kecil dan pengap itu. Lanya menghampiri sebuah boks tanpa pikir panjang seolah ruangan itu adalah miliknya sendiri, kemudian menaruhnya tepat di depan kaki San. Ia menghampiri boks lain di sisi ruangan, mengambil dua, dan ditumpuk di atas boks tadi.
“Kau membawa semua ini sendirian dulu?” San tak percaya melihat boks yang sekarang tingginya hampir mencapai dirinya itu.
“Tentu saja, siapa lagi yang bakal membawanya?” Lanya tertawa. “Tapi aku membawanya satu persatu, jadi memakan waktu yang sangat lama. Situasi paling merepotkan adalah ketika muncul zombi yang tersesat di depan rumah! Padahal aku sedang membawa boks. Akhirnya kubanting kepalanya dengan boks. Memang boksnya rusak, tapi selama yang di dalamnya baik-baik saja sih tidak masalah. Toh, isinya makanan kaleng.”
San terpana, meski itu tak menghentikannya untuk membantu Lanya membawa boks-boks itu keluar toko. Butuh waktu sekitar sepuluh menit hingga akhirnya mereka kembali ke jalan raya sambil menyeret boks-boks itu dengan tali rafia. San mengikatnya pada batang besi yang tadi ia temukan di rumah sebelah. Cuaca yang panas membuat Lanya jadi gerah dan lebih cerewet. San terpaksa mendengarkannya berceloteh sepanjang jalan tentang cuaca yang panas sampai jenuh sendiri.
“Anya, mafkan aku, tapi jika kau mau berhenti bicara, aku berjanji akan membawakan lebih banyak boks selanjutnya.”
Lanya tertawa sekali lagi. Ia mengerling ke arah San dan selama sesaat ia mau mengunci mulut. Ia memilih untuk memerhatikan pemuda itu sebagai pengalih perhatian agar ia tidak berceloteh terus, tapi hal itu justru membuat Lanya jadi ingin berkomentar lagi.
“San ....”
“Diamlah.”
“San, aku tahu bagaimana caranya agar Mama tidak terkejut melihat wajahmu lagi.”
“Hm?” San berhenti melangkah. Lanya pun melompat ke hadapannya dan merogoh saku celana.
“Aku tadi menemukan spidol yang masih terbungkus rapi. Karena kupikir bisa berfungsi, kenapa tidak kuambil saja? Jadi ... nah, kau diam dulu.”
“Apa yang akan kau lakukan?” San mengerang ketika Lanya menarik lelaki yang lebih tinggi darinya itu agar membungkuk sedikit. San tak bisa melepaskan cengkeraman Lanya yang kuat, maka ia hanya bisa pasrah saat Lanya mencoret-coret kantong kertas di wajahnya.
“Nah, selesai.” Lanya tersenyum lebar. San menatapnya dengan mata memicing, lalu segera mencari kaca terdekat untuk mengecek apa yang digambar gadis itu. San bengong saat mendapati kantong kertas yang semula bersih tak ternodai itu kini berubah menjadi serupa lahan gambar bocah kecil.
“Lanya!” serunya kesal, tapi Lanya sudah terlanjur pergi sambil menyeret boks dengan cepat. Lanya tertawa terpingkal-pingkal dan San yakin tawanya bisa didengar sepanjang jalan raya saking sunyinya keadaan sekeliling.
Mereka kembali di rumah dengan napas terengah-engah. Lanya membuka pagar dengan hati-hati dan sempat menoleh ke belakang, untuk melihat San dengan cepat menyusulnya. Ia tak bisa menahan tawa setiap melihat kantong kertas baru San yang telah ia ramaikan dengan coretan khas anak kecil itu.
Lanya kemudian mengangkat boks-boks ke rumah setelah melempar batang besi ke tempatnya kembali. Ia membawa boks itu ke dalam dapur, tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat sosok tak asing duduk bersama Mama di meja makan, dengan sebuah surat di genggaman tangan Mama.
Ibu Kepala.
“Halo, Lanya,” sapanya sambil tersenyum cerah. “Sepertinya kau sedang mempersiapkan bekal untuk rumah, ya? Surat panggilan resmi dari Kamp Sektor sudah datang dan kau bisa berangkat kapan saja mulai besok.”