Perpisahan

1770 Kata
“San, kita pulang sekarang saja,” cetus Lanya tiba-tiba. “Tak ada yang perlu ditunggu di tempat seperti ini. Kita harus pergi sebelum Ibu Kepala mengatakan hal yang aneh-aneh lagi.” Tanpa menunggu jawaban San, Lanya bergegas ke dalam bangunan. San hanya bisa memandang punggung Lanya menjauh dan tak punya pilihan selain menunggu di luar, di tempat yang tak terlihat oleh orang-orang lain. Sementara itu Lanya tergesa-gesa menuju bangunan asrama. Bangunan yang tak bertingkat itu terlihat lebih terbuka hari ini. Jika biasanya pintu-pintu ruangan ditutup, kini semuanya dibiarkan terbuka. Lanya bisa mendengar euforia orang-orang yang sedang membicarakan kejadian tadi, membicarakan betapa tegang dan semangatnya mereka, tanpa mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi. Lanya ingin sekali tertawa ketika imendengar seseorang berkata akan kesiapannya menembakkan pesawat itu, kalau saja Patron Lanya tidak sok-sokan melompat ke atas pesawat. Sungguh? Lanya membatin. Kenapa kau tidak melakukannya saja tadi? Bisa saja kau yang dikirim ke Kamp Distrik, b******k, bukan aku! Lanya baru saja tiba di ranjangnya, ketika dia menyadari ada kehadiran orang lain di belakang punggung. Lanya menoleh, mendapati Marissa mendekat dengan bibir terkatup. Ekspresinya campur aduk antara ragu-ragu dan ... sedih? Heh, Lanya tak mengerti mengapa kedua mata Marissa berkaca-kaca. “Hei, Mar,” sapa Lanya, sedikit acuh tak acuh karena sibuk membongkar isi tas untuk menata ulang isinya. “Ada perlu apa? Aku sedikit ... sibuk, kalau kau tidak keberatan.” “Aku ingin bicara.” “Bisakah kita berbicara sambil aku berkemas?” “Apa kau benar-benar akan pergi?” Lanya berhenti sejenak. Ia kembali memandang wajah kawannya itu dengan bertanya-tanya, lantas teringat bahwa Marissa memiliki sederet kelebihan sebagai keponakan Ibu Kepala. Barangkali gadis itu sudah mendengar berita terbaru yang belum bocor ke mana-mana. “Ah,” gumam Lanya. “Aku hanya akan pulang menjenguk Mama.” Marissa sempat tak menjawab selama sesaat. Ia pun bergeser, lantas duduk di samping ranjang Lanya. Ia menyandarkan kepala pada kasur berlapis sprei apa adanya itu. “Lanya,” bisiknya pelan. “Aku ... aku tak tahu harus bilang apa.” “Apa maksudmu?” Marissa mengerjap-kerjapkan mata. “Pertama, Lanya ... aku ... aku sangat menyesal karena tak bisa menemanimu dengan baik di sini.” Ia membenamkan wajahnya di sprei, membuat Lanya sempat menduga gadis itu sedang menangis. Untungnya, Marissa dengan begitu kukuh menahan tangisnya. Ia tahu reaksinya akan menarik perhatian orang-orang. “Tak apa,” jawab Lanya sekenanya. Fokus perhatiannya lebih terpusat pada melipat baju-baju agar bisa muat seluruhnya di tas. Ia belum memasukkan peralatan mandi dan sebagainya! “Aku ... aku tahu apa yang terjadi di kantor Ibu Kepala tadi,” bisik Marissa pelan. Ia memerhatikan tangan Lanya yang dengan cepat menata segala sesuatu ke dalam tasnya. Nada suara Marissa niscaya semakin muram. “Aku tahu ke mana kau akan pergi.” Lanya memaksakan senyum. “Yah, itu ... aku juga tidak menyangka. Itu terlalu mendadak, dan ....” Lanya terdiam sejenak. “Apa yang ingin kau katakan?” Marissa tersentak. Ia nampak malu akan pertanyaan itu. “Kalau kau mengira aku akan menghentikanmu ... aku takkan melakukannya. Sungguh, aku datang kemari murni karena benar-benar ingin meminta maaf kepadamu. Kau melewati banyak hal karena diriku juga, dan ....” Marissa menghela napas. “Tiba-tiba kau akan menyusul Brian.” “Yah. Jagalah David dengan baik.” Wajah Marissa bersemu merah. “Aku benar-benar minta maaf, Lanya, aku tidak ....” “Aku serius.” Lanya menyeringai. “Jagalah lelaki itu agar tidak terbang terlalu tinggi, atau kejatuhannya bakal sangat menyakitkan dan merugikan banyak orang.” Marissa termenung. “Baiklah,” katanya, meski Lanya yakin masih ada keraguan di suaranya untuk mendengarkan ucapan sang kawan. “Aku hanya ingin bilang,” kata Marissa, “bahwa tak peduli seperti apa hubungan kita sekarang, aku akan selalu mendukungmu, Lanya. Aku tahu ... aku tahu kau adalah gadis yang sangat cemerlang. Kau pasti akan menjadi peserta yang hebat di sana, Lanya. Kau pasti akan diperlakukan dengan sangat layak di Kamp Sektor. Tidak berlebihan kalau Ibu Kepala selalu membangga-banggakanmu bersama Brian dan David. Kalian memang trio yang memberi perubahan ke Sekolah Perang ini, sedikit maupun banyak, dan ... dan jujur saja, aku merasa sangat kesepian ketika kau akan pergi.” Lanya akhirnya selesai memasukkan semua baju. Sekarang dia merogoh perintilan lain seperti handuk dan kaus kaki. “Terima kasih.” Ia bahkan tidak tahu harus merespon apa. Segala hal yang diucapkan Marissa membuatnya canggung. Dia bahkan tidak ingin memikirkan masalah Kamp Sektor dahulu. Marissa, sepertinya sadar bahwa Lanya tidak berminat meresponnya dengan jawaban sama panjang, akhirnya memainkan sprei dengan kalut. “Kau tahu, meski belum ada berita kebenaran yang keluar dari kantor Ibu Kepala, beberapa mulai menggosipkan kau akan dikirim ke Kamp Sektor. Perbuatanmu dan San barusan benar-benar menggeparkan para pejabat Sekolah Perang.” Marissa lantas  terdiam sejenak. Ia memandang dengan sendu ke arah jendela luar asrama. “Andre dan Sabrina sangat berang sekarang,” gumamnya. “Ha-ha.” Lanya pura-pura tertawa. Kini ia mengepak peralatan mandinya ke dalam tas. “Biarkan saja. Jika Sabrina memang ingin menamparku, maka ini adalah kesempatan terakhirnya.” Marissa memaksakan senyum tipis. “Lalu ... bagaimana dengan ibumu? Beliau takkan senang mendengar hal ini,” Marissa kembali bertanya. Sebagai teman lama yang telah saling mengenal bahkan sebelum mereka terjangkit virus, tentu ia tahu apa yang dikhawatirkan Lanya. Lanya terpekur di kasur dan jiwanya sudah melanglang entah ke mana. Ia memandang langit-langit dengan lemas, berpikir apa yang harus ia lakukan setelah sampai di rumah. “Yah ... satu-satunya kepastian hanyalah mendengar apa kata Mama. Beliau adalah pusat hidupku sekarang. Apa pun keputusan Mama, maka itu adalah keputusanku.” Ia nyaris saja membocorkan isi hati akan keinginannya yang tak mau meninggalkan Mama, tetapi Lanya sangat berhati-hati sekarang. Ia tidak yakin obrolan ini takkan didengar David suatu waktu, apalagi mengingat Lanya takkan berada di sini lagi jika keadaan memaksanya pergi ke Kamp Sektor. Teringat bahwa dirinya tak ingin berlama-lama di asrama, Lanya pun beranjak kembali. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Lanya pun mengenakan sepasang kaos kaki bersih yang teronggok di dekat kasurnya. Gadis itu tersentak ketika Marissa tiba-tiba menarik bahunya dan memeluk. Lanya membelalak saat mendengar isakan pelan Marissa. “Berhati-hatilah, Lanya,” Marisa berbisik di telinganya. “Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Aku juga berharap yang terbaik untukmu dan ibumu, kau tahu?” Lanya mendesah. “Maafkan aku.” “Tidak, akulah yang meminta maaf.” Marissa tersedu-sedu. “Aku tak bisa menjadi seseorang yang kau andalkan selama ini!” Kata-kata Marissa menusuk hati Lanya. Ia makin benci mendengarnya. Ucapan Marissa seolah-olah mempertegas bahwa dirinya memang tak benar-benar berada di pihak Lanya selama ini. Lanya pun mendorong Marissa dengan pelan, tidak betah dengan pelukan itu, dan memutuskan untuk menepuk-nepuk Marissa dengan lembut. Lanya hanya bisa menenangkan emosi yang bergejolak di hati dalam diam. Butuh beberapa menit untuk melakukan hal itu, hingga tiba akhirnya bagi Lanya untuk pergi. Alih-alih melewati pintu, ia melompat melalui jendela agar tak ada yang menghadangnya. Lanya mengendap-endap ke tempat San biasanya menunggu, kemudian langsung menariknya untuk pergi keluar melalui gerbang belakang. Mereka terpaksa memutar, tapi Lanya tak keberatan. Selama ia tidak ketahuan David dan antek-anteknya, Lanya bisa mencapai rumah dengan selamat. Untuk itu, selain memutar, Lanya juga tetap waspada. Ia tahu sifat mereka. Bisa saja Andre berada di hutan lagi dan mengejutkannya seperti yang lalu. Dan, benar saja, baru beberapa ratus meter Lanya melangkah, San melihat David sedang menanti di atas dahan pohon yang tinggi. Mereka pun terpaksa berputar lebih jauh. Berhasil lepas dari intaian David, mereka dengan bebas menyusuri hutan. Butuh hampir satu jam bagi mereka untuk mencapai tepi pepohonan. Lanya menghela napas lega saat ia bisa melihat puncak perbukitan rendah dari tempatnya berdiri sekarang. Ia hanya perlu menaiki bukit, melewati gudang besar yang sama dan meniti jembatan rusak di atas sungai kering untuk mencapai pekarangan belakang rumah.   + + +   Tak ada yang lebih membahagiakan ketika Lanya akhirnya bisa menyentuh besi pagar yang mengelilingi rumah. Ia menyusupkan tangan ke dalam lubang kecil yang ada di antara papan kayu yang menutup pagar, lalu membuka selot dari dalam. “Kau yang memasang semua papan itu, Lanya?” “Yap. Tante pun tak keberatan.” “Kalau begitu,” kata San saat Lanya mendorong gerbang mengayun ke dalam, “apa kau keberatan jika kubuatkan pertahanan yang lebih baik?” Senyum Lanya yang telah lama menghilang akhirnya merekah di bibirnya seusai mendengar tawaran San. “Kau memang yang terbaik, San,” pujinya. “Aku mengandalkanmu.” San menyetujui dengan bangga sembari mengikutinya masuk ke pekarangan. Seusai menutup kembali gerbang, Lanya bergegas membuka pintu belakang dapur. “Hei, Lanya!” San mengerang saat Lanya meninggalkannya melesat duluan menuju lantai dua.  Ia kewalahan mengikuti gadis itu. Memasuki rumah seolah-olah memberikannya asupan energi yang luar biasa besar. Ketika San menaiki tangga, ia menyadari ada yang mengawasi. Ia sontak menoleh ke arah seorang wanita beruban yang duduk di kursi goyang. Siapa dia? Apakah Tante yang memiliki rumah ini? San refleks membungkukkan badan sebagai sapaan dan mempercepat langkahnya, saat ia mendengar Lanya berseru gembira memanggil sang ibu. Setibanya di lantai dua, San disambut dengan pemandangan Lanya memeluk ibunya yang duduk di tepi kasur. San bisa melihat betapa lega sekaligus bahagianya wanita paruh baya itu untuk mendapati anaknya kembali dengan selamat, tanpa ada yang terlihat mengkhawatirkan. Tetapi, ketika ibu Lanya akhirnya sadar akan keberadaan San, beliau terlihat kebingungan. “Siapa dia, Lanya?” Pelukan itu berakhir dan tanpa melirik San sedikit pun, Lanya memperkenalkannya kepada ibu Lanya. Setelah itu, barulah sang gadis menatap Patronnya dan memberikan isyarat agar mendekat. “Kita belum pernah memiliki seorang Patron laki-laki,” kata Mama sambil tersenyum. “Mungkin Lanya akan merepotkanmu, begitu pula denganku, jadi kuharap kau bisa membuat dirimu senyaman mungkin di sini.” San tahu ibu Lanya takkan bisa melihatnya tersenyum, maka ia pun melontarkan tawa sopan. “Senang bertemu denganmu, Tante.” “Senang bertemu denganmu juga, San ... tapi kenapa kau mengenakan kantong kertas di kepalamu?” Lanya dan San refleks bertatapan. “Um ...,” Lanya bergumam. “Karena dia suka mengenakan kantong kertas?” “Alasan macam apa itu?” Mama menyahut. “Apakah sesuatu terjadi padamu, nak? Biarkan aku melihat wajah Patron yang dipilih oleh anakku.” San menggigit bibir. “Mungkin Tante sebaiknya tidak ...,” katanya, tetapi kalimatnya terpotong saat Mama menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dibantah. San pun pasrah. Dengan ragu-ragu ia mengangkat kantong kertasnya pelan-pelan. Mungkin cukup jika ia hanya menampakkan leher dan bibirnya. Itu pun sudah membuat ibu Lanya langsung menahan napas. “Oh … Tuhan.” Lanya dan San hanya tertawa garing. Gadis itu tahu lebih baik bagi mereka untuk tidak meneruskan obrolan mengenai kepala San, maka ia pun mencari topik lain yang bisa dibicarakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN