Tak ada yang lebih membahagiakan ketika Wakil Kepala bersama opsir-opsir lainnya mengumumkan bahwa pesawat itu telah hancur total, termasuk para awak pesawatnya yang sudah tak berbentuk. Semua berhamburan ke luar bangunan, saling berpelukan dan memanjatkan doa syukur ketika bahaya telah terhindar dari siang yang mencengangkan itu.
Tetapi tidak dengan Lanya. Ia bahkan tak mendengarkan pengumuman itu dan langsung berlari menuju hutan, ke arah San tadi menghilang. Ketakutan dan kengerian masih membayang jelas di setiap langkahnya, tak seperti orang-orang yang telah berbahagia dan merasa lega di lapangan sana.
Lanya tiba di dalam hutan dan tak sedikit pun memperlambat langkah. “San? San!” ia memanggil nama pemuda itu terus-terusan. Ia mulai frustasi ketika tak ada jawaban, padahal ia sudah berlari hampir tiga ratus meter ke dalam hutan. Kemana Patronnya itu? Kemana San?
“SAN!!” suara Lanya menggelegar di antara pepohonan. “San, jawab aku!”
Lanya tetap melangkah dan memutuskan untuk berbelok ke arah di sampingnya. Intuisi Lanya mengatakan bahwa pemuda itu bisa saja mengunjungi suatu tempat, dan ternyata dugaannya benar. Di tepi sungai kecil yang biasa ia datangi, San ada di sana, sedang membersihkan luka yang mencoreng lengannya.
Lanya menahan napas. “San!” serunya. Jutaan kupu-kupu memenuhi perut Lanya dan kebahagiaan seolah meletup-letup di dalam tubuh ketika ia berlari kencang ke arah San. Pemuda itu kaget dengan kedatangan Lanya. Ia buru-buru beranjak dari sungai.
Lanya menerjang pemuda itu dan San balas memeluknya. “Demi Tuhan, San, kau selamat!”
“Tentu saja.” San terdengar bangga. Suaranya begitu tenang, bertolak belakang dengan tindakannya tadi yang menurut Lanya luar biasa gila.
Lanya kaget mendengar reaksi San yang santai. Ia mendongak menatap mata yang tersembunyi di balik kantong kertas itu. Ia menghardik. “Bodoh, kenapa kau bisa sesantai ini? Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan tadi, San?”
Bahu San bergetar. Lanya tahu pemuda itu sedang menahan tawa. “Aku kan Patronmu,” jawabnya enteng. “Sudah tugasku untuk melindungimu, Lanya.”
Gadis itu melotot. “Kau ...,” bisiknya. “Apa kau tahu betapa takutnya aku melihatmu melakukan hal semengerikan itu?” tanyanya tak mengerti. Dadanya naik turun akibat napas yang patah-patah. “Kau baru saja menghancurkan sebuah pesawat, San. Kau tahu apa yang kurasakan saat melihatmu melakukannya, hah?”
San terdiam saat Lanya menggigit bibir dan air mata tiba-tiba mengalir dari mata kirinya. Baru kali ini pemuda itu melihat Lanya menangis sejak pertama kali mereka bertemu. San menghela napas seraya menepuk kepala sang gadis dengan pelan.
“Itu hanya pesawat kecil.” San mencoba menghibur. Ia mengangkat tangan dan mendekatkan ibu jari dengan telunjuknya, “Kau lihat? Itu hanya pesawat yang keciiil. Sekecil ini.”
Lanya menatapnya dengan aneh. “Bukan waktunya bercanda, San.”
“Dan bukan waktunya bersedih juga, Lanya.” San mencibir. “Itu sudah terjadi dan aku masih baik-baik saja, kenapa kau malah menangis?”
Lanya tak menjawab. Ia mendudukkan dirinya di tanah berumput, kemudian menenggelamkan wajah pada lipatan lengan dan terisak di sana. San menggerung sebal. Ia pun kembali ke sungai untuk melanjutkan kegiatannya yang terhenti.
“Dasar cengeng. Kalau begini saja kau sudah menangis, bagaimana kalau aku tidak ada nanti? Bisa-bisa kau nanti—aduh!”
San tersentak saat sebuah batu kerikil mendarat di kepalanya. Ia menoleh kesal ke arah Lanya yang menatapnya dengan wajah memberenggut. “Kau suruh aku untuk berhenti menangis,” katanya. “Maka biarkan aku habiskan dulu air mataku! Jangan makin memperburuk suasana, bodoh.”
San mengerjapkan mata. “Gadis dramatis,” bisiknya tak percaya. “Menghabiskan air mata? Ya Tuhan, lakukan saja sesukamu,” lanjutnya sambil tertawa. Ia benar-benar tak menyangka Lanya bisa bertingkah sedramatis itu. Selama ini gadis itu berkisah seolah-olah dirinya tangguh dan tak kenal kesedihan, berbeda dengan Marissa dan Sabrina dan entah siapa lagi yang tak bisa San ingat dalam sekejap. Sekarang apa yang terjadi? San mengawasi Lanya kembali menangis untuk beberapa saat, kemudian melanjutkan membersihkan luka di kaki kanannya dengan air sungai.
San menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit untuk membersihkan lecet maupun kotoran yang menempel di tubuhnya. Setelah itu, ia memutuskan untuk mengajak Lanya kembali ke lapangan, lantas disambut oleh para opsir yang berlari ke arah mereka.
“Lanya, Ibu Kepala mencarimu!”
Gadis itu berjengit dan langsung menatap San. “Mampus.”
Yang ditatap mendadak berubah jadi sediam patung. Ia tak bereaksi apa-apa ketika para opsir telah tiba dan menggiring kedua orang itu menuju ruang Ibu Kepala. Selama perjalanan, orang-orang yang kebetulan dilewati Lanya menatapnya dengan tatapan berbagai ekspresi. Ada yang tak percaya, bingung, dan bahkan ada beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan berterima kasih. Lanya ingin tersenyum mengetahui yang terakhir, karena itu berarti tak semua orang benar-benar membencinya.
Namun, kesenangan Lanya hanya seumur jagung saat ia tiba di ruangan Ibu Kepala. Tak hanya seorang diri, para pejabat Sekolah Perang pun telah berkumpul di ruangan itu dan suasananya begitu mencekam. Semua terlihat serius, dengan alis berkerut dan tangan terlipat di depan d**a.
Lanya menelan ludah saat berpasang-pasang mata itu seketika menatap ke arah mereka berdua. Astaga, kenapa mereka menatapnya seperti itu? Apakah Lanya dan San bakal didetensi, atau bakal dikeluarkan dari Sekolah? Apakah mereka bakal—
“Duduklah Lanya! Dan kau ... siapa namamu, Patron?”
“San.”
“San, ya, silakan duduk.”
Hanya ada dua kursi di depan meja Ibu Kepala, maka di sanalah mereka duduk. Sementara para pejabat lain memilih untuk bersandar pada dinding atau berjalan mondar-mandir di sekeliling ruangan.
“Kami telah menyaksikannya,” kata Ibu Kepala tanpa basa-basi. “Aksi kalian yang begitu heroik untuk menghancurkan pesawat penjajah.”
Lanya berubah gugup. Oh, jangan ....
“Tapi tindakan kalian benar-benar di luar akal, kalian tahu? Itu sangat berani, dan ... astaga.” Ibu Kepala sampai tidak bisa menemukan kata yang tepat. Beliau hanya menggeleng-geleng takjub, sinar matanya menari-nari dalam kekaguman. “Katakan, bagaimana kalian melakukannya?”
Lanya melirik San yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab. Lanya pun menceritakan apa yang terjadi, dengan penuh keragu-raguan. Ibu Kepala dan para pejabat lain mendengarkan dengan seksama, dan ketika Lanya mencapai bagian di mana San nekat memanjat pesawat, mereka terkejut.
“Benar-benar gila,” Nyonya Rita berkomentar. “Kemungkinan untuk selamat begitu kecil, tak sebanding dengan bahaya yang kau hadapi, nak.”
“Itulah sikap heroik yang kita butuhkan, Nyonya Rita!” Wakil Kepala terlihat bersemangat. “Sikap tak kenal takut akan membuat musuh gentar.”
Perut Lanya mulas mendengar pembicaraan itu. Ia menatap Ibu Kepala dengan putus asa dan beliau juga sama-sama mendengarkan obrolan antara Wakil Kepala dan Nyonya Rita.
Tak lama setelah itu Ibu Kepala kembali berujar, “Kami telah berdiskusi secara cepat tentang perbuatan kalian barusan. Bagaimana pun juga, kalian telah menyelamatkan Sekolah Perang dan tak ada satu pun yang terluka parah, atau bahkan meninggal! Para opsir sedang menyisir bangkai pesawat sekarang, dan sejauh ini, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kami mengapresiasi kejadian tadi dengan sebaik-baiknya.”
Lanya menatap kikuk dan Ibu Kepala saling mengaitkan jemarinya di atas meja. Ekspresinya serius, namun tak bisa dipungkiri bahwa wanita itu sedang berusaha keras menahan senyum, atau bahkan mungkin sebuah tawa bahagia.
“Lanya, dan Patron San, kami telah mengabarkan berita ini kepada pihak Kamp Sektor. Beritanya mungkin baru akan tiba hari ini, dan mereka pasti akan merespon dengan sangat cepat untuk perkara sepenting ini. Dan, aku sangat yakin, kalian bakal diundang ke sana.”
“Apa?”
“Kemungkinan kalian akan berangkat kesana minggu depan, jadi persiapkan diri kalian.”
Apa?
“Maaf?” Lanya refleks berkata, “Ke mana?”
“Kamp Sektor, tentu saja.” Ibu Kepala akhirnya tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. “Berdasarkan pengalaman Brian kemarin, Kamp Sektor biasanya bakal menginginkan peserta baru untuk melapor dalam waktu satu minggu semenjak berita undangan tiba. Karena jatah libur kalian belum tiba, kuputuskan kalian tak perlu datang ke Sekolah Perang lagi besok. Kalian bisa pulang ke rumah dan mempersiapkan keberangkatan.”
“Tapi—” jawab Lanya dengan cepat. “Bukankah beritanya belum pasti?”
“Oh, itu hanya formalitas. Mereka sudah pasti akan menerima kalian,” sahut Wakil Kepala.
Ibu Kepala membenarkan dengan anggukan penuh semangat. “Kalian baru saja menghancurkan pesawat penjajah. Kamp Sektor mana yang mau melewatkan peserta secemerlang itu?”
Sekujur tubuh Lanya langsung lemas. Ia menghempaskan dirinya ke punggung kursi.
Oh, tidak ...
+ + +
Ibu Kepala mengatakan banyak hal setelah itu, tetapi tak ada satu pun yang masuk ke dalam otak Lanya. Yang ada dipikiran gadis itu hanyalah Mama dan apa yang akan terjadi ketika ia meninggalkannya. Bayangan akan semakin jarang pulang ke rumah dan mengurus satu-satunya keluarga yang tersisa membuat Lanya mendadak pusing.
Bahkan hingga Ibu Kepala meminta Lanya dan San keluar dari ruangan, gadis itu masih limbung. San mengawasinya dengan bingung. Ia sampai menusuk-nusuk pundak Lanya dengan jari. “Hei, sadarlah.”
Lanya tak menjawab dan tetap berjalan tanpa suara.
“Kau pasti tidak mendengar apa saja yang dikatakan Ibu Kepala tadi,” San menerka.
“Tidak,” tukas Lanya singkat. “Kau mendengarkan?”
“Ya.”
“Bagus.”
San terdiam sejenak. “Ibu Kepala tadi bercerita panjang lebar tentang semangat juang dan sebagainya ... tetapi yang terpenting, Lanya, aku juga menanyakan perihal keluargamu. Ibu Kepala bilang kau tak perlu khawatir.”
Lanya tersentak. Jiwanya seakan kembali tersedot ke dalam tubuh dan ia menatap San dengan penuh harap. “Sungguh? Apa katanya?”
“Ibu Kepala bilang jika ia juga mengenal ibumu, bukan? Ia akan sesekali mengunjungi ibumu untuk mengecek keadaan, jadi kau tak perlu khawatir.”
“Oh, itu sama saja!” Lanya mengerang. “Ia juga sesekali mengunjungi rumahku, dan ia tak melakukan apa pun selain mengajak Mama mengobrol terus-menerus sampai beliau kelelahan.”
“Yah ....” San mengangkat bahu. “Tapi kau bilang ada Tante si pemilik rumah, dia pasti bisa menjaga ibumu dengan baik.”
Lanya tak menyahut lagi. Ia hanya menyeret kaki dengan tak bersemangat menyusuri lorong gedung sampai ke lapangan. “Masalahnya ... tak ada satu pun dari keluarga kami yang menyukai Kamp Sektor. Ketika Brian dulu diputuskan untuk berangkat ke sana, Mama menjadi orang pertama yang merasa berat akan hal itu. Mama memang bukan orang tua kandungnya, tetapi ia sudah menganggap Brian seperti anaknya sendiri.”
“Aah … apalagi kau yang anak kandungnya.”
Lanya mengangguk lesu. “Persetan dengan perang dan segalanya, San. Persetan dengan Kamp Sektor. Aku tak mau berangkat.”
San terdiam sejenak, barangkali mencerna ucapan Lanya dengan penuh keterkejutan. “Kau ... yakin?”
Alih-alih menjawab, Lanya hanya menghela napas. “Perang akan memakan korban. Kau pasti sudah pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau sayangi, bukan?”
San tak mengatakan apa pun. Ia hanya diam dan terus melangkah mengikuti Lanya menuju asrama.