Serangan Penjajah

1798 Kata
1 Lanya tersenyum geli mendengar ucapan San, sebelum memusatkan konsentrasi kepada Wakil Kepala yang melangkah masuk ke kelas. Sama seperti Ibu Kepala, pria yang hari ini mengenakan kaos dan celana training sobek-sobek itu juga memberikan kelas. Jika Ibu Kepala mengajarkan hal-hal yang membosankan, maka Wakil Kepala lebih suka membicarakan strategi-strategi perang yang pernah digunakan para pahlawan zaman dahulu. Sayangnya, kelas yang awalnya paling diminati itu kini menjadi membosankan, karena ia tak henti-hentinya mengulang strategi yang sama, dengan keyakinan bahwa pengulangan membuat mereka menjadi semakin paham akan peran masing-masing. Hari ini pun tak ada bedanya. Ia menjelaskan bagaimana para pejuang ratusan tahun lalu mencoba untuk melawan penjajah di Tanah Merah, distrik daerah barat yang terletak di negeri ini. Ia memulai menuliskan hal-hal yang sama kembali di papan sementara semua mulai sibuk sendiri dengan buku mereka—membuat strategi sendiri. Lanya tahu bahwa proyek yang digagas David dan antek-anteknya sudah mulai sampai ke tahap strategi, jadi tak heran bahwa di kelas itu semua sedang sibuk memikirkan strategi yang pas. Sedangkan Lanya, satu-satunya orang yang tidak ikut-ikutan proyek David di kelas, hanya duduk bersandar pada dinding sambil melamun. Masih ada satu minggu lagi sebelum waktunya pulang, pikirnya. Ia sudah tidak sabar ingin memperkenalkan San kepada Mama, begitu pula sebaliknya. Ia juga sudah punya rencana dengan San bahwa selama satu minggu di rumah, mereka akan berpatroli keliling komplek dan memperbaiki sistem pengaman di sekitar rumah. Dari cerita-cerita yang pernah dituturkan San, semenjak ia keluar dari laboratorium, ia terbiasa hidup di mana pun. Ia pernah membangun pondok sendiri dan membuat berbagai macam senjata tradisional seadanya untuk melawan zombi. Tapi di mana San bakal tidur? Lanya berpikir lagi. Di rumah yang ia tumpangi hanya ada tiga kamar dan semuanya ditempati. Meskipun San bisa dibilang jarang tidur, tetap saja ia butuh tempat untuk istirahat, bukan? Selama satu minggu ini, San tidak pernah tidur lebih dari tiga jam tiap dua hari sekali. Ia tidur hanya ketika matahari mencapai puncak, dan akan bangun ketika sore menjelang. Kehadirannya yang tak diinginkan para Patron lain justru menambah keuntungan pada para opsir, karena pada malam hari biasa San habiskan untuk berpatroli keliling Sekolah Perang, atau membantu mereka berburu zombi yang berada terlalu dekat dengan hutan. Sembari memikirkan hal-hal kecil itu, Lanya merasa makin mengantuk. Angin berhembus lebih keras dari biasanya dan membuat Lanya ingin memejamkan mata. Mungkin tidak ada salahnya tidur sebentar ... oh, tidak, jangan .... Dua sisi di dalam otak Lanya mulai berargumen sementara gadis itu berusaha melek sebisa mungkin. Ia mengerutkan dahi dan sesekali matanya menutup pelan. Apakah tidak ada sesuatu yang bisa membuatku terjaga? Lanya menghela napas. Ia membayangkan segelas kopi, lantas segera teringat bahwa kopi hanya akan membuatnya tetap mengantuk dan justru sakit perut. Lalu apa? Cukup lama Lanya berpikir hingga matanya terasa makin berat. Yah, sepertinya tak ada salahnya, jika ia sekali-sekali menuruti keinginan hati. Matanya perlahan menutup, tak mengindahkan suara gemerisik aneh yang datang dari arah San. Oh, tunggu, apakah pemuda itu sedang membisikinya se— Lanya menyentak  mata ketika gedung  mendadak  bergetar hebat, bersamaan dengan suara ledakan yang nyaris memecahkan gendang telinganya.   BUM!!!    “Apa itu?!” seseorang berteriak, menambah kengerian yang menyergap seisi kelas dengan cepat. Jantungnya berdentum-dentum akibat rasa kaget dan ngeri yang langsung menjalar di sekujur tubuh. Belum juga Lanya menoleh ke arah San, terdengar suara debuman lagi dan bangunan bergetar lebih keras. Seisi kelas langsung menjerit. Beberapa beranjak dan berlarian ke lorong, diikuti suara Wakil Kepala yang menghentikan mereka. “Jangan keluar! Semua masuk!” “Siapa pun ambil senjata!!” “JANGAN!!” Suasana menjadi serba kacau. Beberapa Patron menerjang masuk dan menghampiri pemilik masing-masing, sementara sebagian bergegas ke luar bangunan. Wajah-wajah memucat dan tak sedikit orang yang terlihat begitu bingung hingga air mata menetes. Kengerian kembali membayangi siapa pun yang ada di dalam ruangan; kengerian terhadap sesuatu yang paling mereka takutkan. “Ada pesawat penjajah!” seorang opsir berlari ke dalam kelas. Peluh membasahi wajahnya yang pucat pasi. “Datang dari arah barat, lurus menuju ke timur!” Orang-orang menjerit histeris. Mereka mulai berhamburan keluar kelas menuju sisi lain gedung untuk menyerbu sebuah ruangan di ujung lain lorong, mengambil persediaan senjata yang ada di sana. “Jangan keluar!!” Wakil Kepala berusaha menarik siapa pun yang berlari di dekatnya. Lanya menyaksikan pemandangan di hadapannya dengan horor. Ia sama takutnya, sama ngerinya, tetapi alasan mengapa ia merasa demikian bukanlah karena pesawat penjajah itu bakal menyerang Sekolah. “Mama ...,” Lanya bergumam ngeri. Bulu kuduknya merinding merasakan sesuatu bergejolak di dalam tubuh. Bayangan akan komplek perumahannya yang mungkin sudah hancur membuat gadis itu tak bisa memikirkan apa-apa selain ibunya. Suara gemerisik dan kayu dihancurkan kembali terdengar dari sampingnya. Lanya tersentak dan melongok keluar jendela, mendapati San sudah beranjak dari tempat dan kini tengah mengobrak-abrik boks-boks kayu. Darahnya berdesir saat ia melihat pemuda itu mengambil beberapa granat tangan. “San? Apa yang kau lakukan?” San baru saja akan pergi ketika gadis itu memanggilnya. Ia menatap wajah Lanya yang sudah memucat. Matanya yang merah dan berkaca-kaca sudah jelas akan menumpahkan air mata dalam hitungan detik. San meraih kepala Lanya. Pemuda itu mengacak rambutnya sekilas untuk membuat gadis itu merasa lebih baik, sebelum akhirnya berlari ke lapangan terbuka,  menuju  sebuah  pesawat yang muncul dari atas pepohonan jauh di sana. Lanya membelalakkan mata. “Tunggu—SAN!!”   2 “Bukankah siang ini agak panas, bung?” Seorang pria yang menempati posisi ko-pilot berkata saat pesawat yang mereka kemudikan melintas lambat di atas sungai. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi lewat delapan belas menit, tapi matahari memancarkan panasnya seolah jam dua siang sudah tiba. “Kau juga berpikir begitu, bukan? Aku tidak mengerti mengapa kita harus patroli sekarang.” “Kalau begitu kau pasti belum mendengar berita tentang pesawat milik adikku kemarin.” “Apa, ada apa?” Pesawat mulai mendekati tepi hutan lebat yang terbentang di bawah mereka. Pesawat terbang lebih lambat, sementara sang ko-pilot mulai menceritakan peristiwa terbaru di hari lalu kepada temannya. Mereka tertawa setelah cerita itu selesai diucapkan, namun tawa mereka tak bertahan lama. “Bung.” Sang ko-pilot mencondongkan tubuhnya. “Ada lapangan di tengah hutan.” “Mau mendarat sejenak?” “Nah, boleh.” Pesawat melaju santai diiringi perasaan gembira kedua pria itu. Bayangan akan menikmati beberapa tumpuk roti isi tuna ditemani bir dingin sudah menggelayut di otak mereka. “Hei, tunggu sebentar. Ada bangunan.” Sang ko-pilot menajamkan pandangan dan tersentak menyadarinya. “Ada banyak bangunan, bung!” ujarnya. “Sepertinya bekas pabrik.” “Apa ada persediaan makanan di sana?” “Bodoh, belum tentu itu adalah pabrik yang aman.” “Aman? Apa kau pikir bakal ada para pribumi di sana? Atau Yang Terinfeksi?” Ko-pilot itu menatap kawannya dengan mata melebar. “Bisa saja,” bisiknya. “Kita tidak tahu di mana mereka bakal bersembunyi, bukan? Dan, coba pikirkan. Distrik ini terletak di perbukitan, tempat yang strategis jika kau ingin menghindari zombi.” “Kalau begitu kita akan mengeceknya.” Kawannya mengangguk. “Keberatan dengan beberapa bom kecil, bung? Kalau tak ada reaksi, kita akan mendarat.” “Ide bagus. Kita akan lapor pusat setelah mendarat nanti.”   2 Tak ada yang peduli ketika Lanya meneriakkan nama San. Semua sibuk melindungi diri atau mencari senjata, dicampur dengan teriakan-teriakan Wakil Kepala yang memerintah semuanya agar kembali. “Jangan menyerang! Kita akan ketahuan!” Namun, siapa yang akan mendengarkannya? Ketika ada penjajah lengkap dengan pesawat yang membawa bom terbang di atasmu, apakah kau akan diam saja? Orang-orang Sekolah Perang tentu akan berkata tidak. “San, ya Tuhan, San,” Lanya berbisik ketakutan. Ia begitu gelagapan dan bingung harus bagaimana. Pikiran akan ibunya telah menahan Lanya untuk bergerak menyusul sang Patron. Ia beranjak dari tempat dan mengawasi dari jendela apa yang akan dilakukan pemuda itu. Tak ada siapa-siapa selain dirinya yang berlari melintasi lapangan, dan itu membuat Lanya makin meradang. Apa dia berniat bunuh diri?! Lanya menelan ludah. Itu tidak mungkin! Kenapa San bisa-bisanya— Suara debuman kembali terdengar lebih keras. Ledakan kini terlihat jelas, terpampang di depan matanya, berjarak beberapa ratus meter dari posisi San saat itu. Hati Lanya mencelos melihat kobaran api dan asap yang membumbung tinggi. “Demi Tuhan,” isaknya. Adrenalin menggelora liar di dalam tubuh dan Lanya menelan ludah. Ada desakan naluriah yang menuntutnya untuk segera keluar dan menghentikan San. Ia tak ingin kehilangan pemuda itu. Lanya baru saja mendapatkan Patron dan tidak mau kehilangannya dengan cepat! “San!” Lanya berseru seraya melompat keluar jendela. Baru kali itu ia merasa beruntung karena dijauhi orang-orang. Takkan ada yang mempedulikannya, apalagi repot-repot menariknya kembali ke dalam kelas. “Jangan!” seseorang berteriak, dan ternyata ada saja yang menyadari perbuatan Lanya. Om Andi yang sedang bersembunyi di balik dinding gedung langsung meraih kaos Lanya dan menyentak gadis itu dengan kasar. “Bersembunyilah! Jangan sampai terlihat!” “Tapi—San! Patronku!” “Kemana dia?” “Dia menuju pesawat!” Lanya menjerit histeris. Ia tak percaya waktunya telah terbuang sia-sia ketika opsir itu menarik dirinya dan sempat-sempatnya bertanya. Padahal ia bisa berlari mengejar San sekarang dan menghentikan pemuda itu! Saat Lanya berusaha membebaskan cengkeraman Om Andi, ia gagal. Ia menjerit namun Om Andi langsung membekap mulutnya. “Patron, Patronku di sana!” “Biarkan saja!” Om Andi berseru. “Memang sudah tugasnya Patron!” Lanya terkesiap mendengar sahutan Om Andi. Ia menatap pria bertubuh tambun itu dengan mata membeliak. Air mata yang sedari tadi Lanya berusaha tahan akhirnya tumpah juga. “Paman, Patron bukan sekedar pelindung!” Lanya merasakan tubuhnya melemas. Ia menggeleng pelan dan berusaha membebaskan diri. Ia meronta ketika Om Andi kembali menahannya. Lanya mendesah. Tak ada pilihan lain. Ia pun mencakar opsir itu dengan kukunya yang panjang hingga terluka. Om Andi melolong kesakitan diantara suara debuman yang kembali terdengar dan Lanya memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Ia berlari ke tepi gedung, dan terhenyak menyaksikan San sudah berada di dahan tertinggi sebuah pohon. Pesawat itu kini berada tepat di atasnya. Apa yang Lanya takutkan terjadi selanjutnya; San melompat untuk meraih ujung sayap kanan pesawat dan mengayunkan tubuhnya dengan ringan ke atas pesawat itu. Ia memanjat badan pesawat yang kecil dan merangkak di atas tubuhnya, lalu merosot hingga ke depan kaca kokpit. Lanya melihat pemuda itu menghancurkan kaca tersebut dengan batang baja yang keras, kemudian melemparkan beberapa granat sekaligus ke dalam kokpit. Lanya hanya bisa melongo ketika San melompat turun dari pesawat dengan cepat. Ia mendarat dengan bergulung di tanah, lalu cepat-cepat masuk ke dalam hutan ketika pesawat itu meledak. “Awas!!” Om Andi kembali menarik Lanya ketika hawa panas menyerbu, disusul suara hantaman pesawat ke tanah yang keras. Saat Lanya sudah bersembunyi di balik gedung, pesawat itu terlempar jauh melewatinya dan meninggalkan serpihan-serpihan besar bertebaran. Lanya tersentak saat ujung bagian sayap pesawat melesat ke arahnya. Untung saja opsir itu dengan cepat menarik Lanya beralih, sehingga sayap itu sekarang menghantam dinding gedung hingga jebol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN