Berbagai kejadian di hari itu membuat Lanya nyaris terkapar karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Kehidupan asrama identik dengan segala sesuatu yang serba mengantre, termasuk mencuci kaki dan menggosok gigi sebelum tidur. Lanya berulang kali terantuk-antuk saat menanti gilirannya di antrean, tapi syukurlah, ia terus terjaga karena berpasang-pasang mata yang gatal untuk menguliti rumor baru darinya.
Mungkin Lanya berpikir berlebihan, namun kemunculan San sepertinya menambah popularitas Lanya di seantaro Sekolah Perang. Orang-orang yang tak seberapa mengenalnya, begitu pula gadis-gadis dari kelas lain yang hanya sekadar mengetahui namanya, sekarang seolah-olah mengenal Lanya bak sahabat sejak lahir. Mereka tahu segala rumor tentang Lanya sebelum gadis itu mendengarnya sendiri.
Hebat. Lanya otomatis punya puluhan sahabat yang memahami dirinya dalam sekejap.
Lanya baru saja berniat untuk balas memelototi sepasang gadis dari kelas lain ketika pundaknya tiba-tiba ditepuk. Lanya menoleh dan mendapati Marissa meremas bahunya.
“Lanya,” katanya. “Yuk, aku ingin bicara sebentar.”
“Ya Tuhan.” Lanya mengerang, meski tidak menolak untuk mengikuti gadis itu keluar dari antrean. “Akhir-akhir ini aku merasa kau semakin mirip dengan tantemu. Aku merasa seperti sedang diajak bertemu oleh Ibu Kepala sekarang.”
Marissa tidak tertawa. Ia hanya memutar bola mata. Mereka meninggalkan asrama, bergabung dengan dinginnya angin malam di tengah-tengah hutan. Suasana yang begitu gelap gulita memang membantu menghindarkan Sekolah Perang dari intaian penjajah, namun Lanya masih berharap pihak sekolah mau memasang lampu-lampu kecil tambahan. Lampu darurat yang diletakkan di tanah berumput tiap beberapa meter sekali tidak membantu penerangan, sungguh.
“Ada apa?”
“Aku ingin tahu beberapa hal mengenai Patronmu.”
“Ah, San?”
“San?” Ulang Marissa. “Kau menamainya San?”
“Ya, mengapa?”
Marissa nampaknya akan mengatakan sesuatu, namun berujung menahan diri. “Tidak,” katanya. “Aku ... hanya ingin tahu seberapa dekat dirimu dengan Patronmu San. Kulihat kalian sudah cukup akrab di kantin tadi.”
Lanya mencoba mengingat apa standar keakraban di mata Marissa. Ia lantas teringat bahwa San tadi menyeretnya ke luar kantin dengan menggandeng. Tentu saja siapa pun yang melihat akan menganggap Lanya dan Patronnya San sudah menciptakan hubungan akrab dalam sekejap.
Lanya menjawab dengan bangga. “Ah, yah, tentu saja! Bukankah kita harus akrab dengan Patron kita?”
Marissa menyunggingkan senyum sekejap; senyum yang seketika hilang karena muncul hanya untuk kesantunan respon. Ia melipat tangannya. “Jadi, ahh ... begini. Aku tadi di kantor Ibu Kepala dan ... kami terlibat pembicaraan penting.”
Lanya merasa tidak nyaman. “Mm, ya, lalu?”
“San, Patronmu, ternyata adalah Patron dengan kontrak yang paling mahal,” kata Marissa memulai. Lanya mulai mencurigai sesuatu di sini ... nah, mari kita lihat kelanjutannya apakah dugaan gadis itu memang benar! “Dan ... sebenarnya dia semula direncanakan untuk dijadikan Patron David.”
Lanya tak bisa melotot lebih lebar daripada sekarang. “Hah?”
Marissa membasahi bibir. “Aku tahu reaksimu akan begini, tetapi itu kata Ibu Kepala tadi sore.”
“Beliau sudah menyetujui lembar kontrakku!”
“Yah, tapi sebenarnya itulah yang terjadi. Bukan berarti lembar kontrakmu tidak diterima.”
Lanya mencoba untuk menyambungkan ucapan Marissa barusan, namun dia takkan menyerah pada maksud tersembunyi sang kawan yang menatapnya dengan penuh keraguan. Kalau Lanya sedang berbicara dengan David, pemuda itu pasti sudah menyemburkan segalanya dengan cepat. Marissa bukan tipe orang seperti itu.
“Kalau memang Ibu Kepala inginnya San menjadi Patron David, seharusnya beliau menyimpan San sejak awal.”
Marissa memutar bola mata. “Bahkan sebelum Ibu Kepala mengatakan gagasannya, Patron itu sudah kabur duluan.”
Lanya menyipitkan mata, berusaha keras menahan seringai yang hampir muncul di bibirnya. “Itu hanya rencana yang belum tertulis saja, kan? Hanya keinginan Ibu Kepala. Karena itu beliau tidak menolak saat aku mengajukan San sebagai Patronku di lembar kontrak.”
Marissa melotot. “Ya, tapi—“
“Ibu Kepala bahkan tidak menyinggung hal semacam itu sejak kami bertemu,” kata Lanya. “Apa kau bahkan tahu apa yang terjadi padaku, sementara kau sejak tadi membahas tentang San yang seharusnya menjadi Patron David?”
“Aku tahu. Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi pada temanku?” wajah Marissa semburat merah. “Patron Andre dilawan oleh Patronmu San.”
“Kau g****k? Kau mengerti kenapa Patron Andre diserang oleh San?”
Saat Marissa tak kunjung menjawab, atau berusaha keras mencari jawaban, Lanya menghela napas penuh kekecewaan. Lihatlah, meski Marissa masih berusaha menemaninya di kelas-kelas yang berlangsung, kenyataannya gadis itu tak ikut menemaninya keluar kelas saat segalanya usai, dan tetap berada di ruang untuk membantu David menyusun rencananya. Keseimbangan yang berusaha dicapai Marissa sekarang mulai timpang, dan itu sudah jelas.
“Aku tadi di sungai,” kata Lanya. Ia gondok betul, dan jujur saja, matanya perih karena berusaha menahan pelupuknya yang memberat. Seharusnya Marissa sadar bahwa mata Lanya mulai berkaca-kaca, dan jika tidak tahu mengapa, maka gadis itu sudah termakan betul oleh pesona David. “Karena berbagai fitnah yang KAU tahu tidak ada kebenarannya telah ikut didengar oleh Wakil Kepala. Aku dipanggil ke kantornya, dan jika kau tidak percaya, maka tanyakan pada beliau. Dia ceramah berjam-jam hingga waktu pengenalan Patron sudah terlewati. Apa kesempatan yang kupunya? Memangnya kau melihatku berada di gudang?”
“Ti ... tidak.”
“Karena itu aku ke sungai. Aku ingin melepas penat.” Lanya menghela napas sekali lagi. “Kemudian, tiba-tiba saja sesosok zombi menyerangku. Siapa yang tidak terkejut? Kau tahu sengeri apa aku dengan zombi dari jarak dekat. Maka aku tercebur ke sungai, dan zombi itu terus mendekatiku, tanpa aku tahu sama sekali kalau itu adalah Patron Andre. Demi Tuhan, aku berani bersumpah, Andre memang menjahiliku, dan dia berada di sana dengan David.”
Marissa membeliak. Oke, tampaknya dia tidak mengerti cerita di balik berbagai fitnah yang masuk ke kupingnya bagai kebenaran sejati.
“Tetapi San tiba-tiba datang. Ia menerjang Patron Andre dan menyelamatkan aku. Apa sudah jelas mengapa San melawan Patron Andre? Kalau kau masih tidak percaya, tanyakan pada opsir yang patroli di dekat sungai tadi sore. Tanyakan apakah Andre mengumpat ‘b*****t’ dan menolak untuk menjawab pertanyaan opsir itu, lalu meninggalkan semuanya kepadaku dan San.”
“Lanya, aku sungguh tidak tahu—“
“Ya, aku juga tidak tahu kalau kawan terdekatku sekarang lebih percaya daripada David dan kawan-kawannya, dan entah mengapa tidak mencariku saat aku menghilang dari area sini selama beberapa jam.” Lanya menggeleng. Saat Marissa akan menambahkan kata-kata pembelaan, Lanya mengangkat tangan. “Dan,” lanjutnya, “tak peduli betapa kau mencoba mempersuasiku, yang kau inginkan adalah San untuk menjadi Patron David. Nampaknya San sendiri sudah tidak mau menjadi Patron lelaki sialan itu.”
“Maaf, Marissa,” kata Lanya lagi. “Aku tidak mau membuatmu selalu terombang-ambing di antara dua orang yang berbeda. Berkawan saja dengan mereka. Tak usah urusi aku; aku sudah punya San yang benar-benar mau menjadi Patronku dan berjanji untuk membantuku merawat Mama.”
Lanya menangkap sinar malu di mata Marissa. Maka dengan itu Lanya pamit dari hadapan sang gadis, dan kembali ke asrama untuk mengantre menggosok gigi.
Lanya lelah. Meski Marissa adalah satu-satunya kawan terdekat yang masih bisa ia andalkan, kenyataan telah mengurai potensi itu. Lambat laun Marissa akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan keseimbangan pertemanannya dengan Lanya, sekaligus kedekatannya dengan David. Itu tidak mungkin. Lanya tak mau Marissa menjadi gadis berpendirian abu-abu hanya karena berusaha membela dua orang yang sangat berbeda.
Lanya mengalah. Biarkan Marissa menikmati waktu-waktunya dengan David. Lanya sudah pasrah untuk membiarkan Marissa menyicip kemanisan pertemanan dengan David yang hanya di permukaannya saja. Biarkan Marissa merasakan intimidasi dan sifat-sifat David yang hanya diketahui Lanya dan Brian selama ini.
Lanya sekarang lepas tangan dari Marissa. Biar gadis itu merasakan David seorang diri, dan kelak, saat Marissa sudah sadar dengan posisinya dan kapok, Lanya akan menyambutnya dengan “sudah kubilang apa?” yang begitu lantang.
Tak apa. Lanya rela kehilangan kawannya sesaat sekarang. Lagipula kasihan kalau Marissa masih tetap berusaha menemani gadis yang dirundung fitnah terus-terusan. Dia keponakan Ibu Kepala. Marissa lebih pantas berkawan dengan gengnya David dulu.
Lagipula Lanya sudah punya San. Sang Patron sudah cukup baginya.
+ + +
Satu minggu hampir berlalu semenjak pertemuan pertama Lanya dengan Patronnya. Semakin bertambahnya hari, semakin banyak topik-topik yang mereka bicarakan kepada satu sama lain. San sudah hampir mendengar semua kisah tentang Lanya, termasuk anggota keluarganya yang telah meninggal akibat serangan penjajah maupun virus. Tetapi Lanya hanya mengetahui sedikit sekali bagian dari San, karena lelaki itu tak bisa mengingat apa-apa tentangnya.
Dan, seiring dengan bertambahnya hari, semakin jenuh pula Lanya untuk berkegiatan di Sekolah Perang. Orang-orang semakin terang-terangan menjauhinya, menganggapnya tak ada, bahkan para Patron yang lain juga menghindari San. Lanya tak mengerti mengapa para Patron bisa bersikap sehiperbolis para pemiliknya, tapi Lanya tak ambil pusing. Seorang Patron mencerminkan pemiliknya, jadi ia pun tak heran kalau para Patronnya juga ikut kurang ajar!
Seperti hari ini, hari ketujuh setelah Lanya resmi mendapatkan seorang Patron, hal yang sama kembali terjadi. Semua bermula ketika Lanya berangkat menuju gedung tempat kelas diikuti San. Saat gadis itu baru melangkah masuk ke kelas, San masih berdiri di ujung lorong. Belum juga ia masuk, para Patron yang sudah ada di dalam lorong sontak menatapnya dengan ketakutan.
Lanya memandang ke arah San yang akhirnya beralih pergi.
“Kau lihat barusan? Bahkan Patronnya tidak ada bedanya dengan si pemilik. Sama-sama menyakitkan mata.”
Lanya sontak menoleh ke arah Sabrina yang duduk di dekat tempat Lanya berdiri. Kristina hanya tersenyum simpul saat mata mereka bertemu, seolah apa yang ia ucapkan barusan benar-benar hal yang biasa dan sama tak berdosanya dengan berkata: “Selamat pagi, Lanya!”
Kaupikir siapa yang menyebabkan semua ini? Lanya ingin sekali menarik gadis itu dan membenturkannya ke dinding, lalu meneriakkan kalimat barusan kepadanya. Tetapi jelas Lanya takkan melakukan hal sebodoh itu. Ia masih waras. Lagipula Mama selalu mengingatkannya untuk berada jauh-jauh dengan seorang provokator.
Lanya menghampiri lokasi yang akhir-akhir ini menjadi tempat satu-satunya yang pantas baginya; pojok kelas. Ia memilih posisi di samping jendela yang terbuka, sendirian tanpa kawan karena Marissa telah resmi duduk bersama Sabrina. Ia dengan santai duduk bersila di atas alas dan menaruh satu buku catatan di hadapannya, sebelum Lanya menyadari bahwa ada seseorang di sisi lain jendela. Ia melongok dan mendapati San duduk bersandar di bawah jendela, di antara tumpukan boks.
“Apa yang kau lakukan?” Lanya berbisik riang.
“Aku baru saja mendapatkan tempat yang eksklusif,” ujar San. “Berada di sini jauh lebih menguntungkan daripada di lorong karena jarak kita hanya dipisahkan oleh dinding.”
Lanya tersenyum. Lihat, bukankah dia Patron yang baik?