Lanya tak bisa menahan senyum sepanjang perjalanan kembali ke Sekolah. Bahkan setelah ia menyerahkan surat perjanjian kontrak kepada Ibu Kepala, gadis itu bolak-balik menoleh ke belakang, kepada Patron barunya yang setia berjalan mengekori. San lama-lama jadi gerah sendiri.
“Heh. Aku tidak akan pergi. Apa yang kau takutkan, sih?”
Lanya hanya menyeringai lebar sebagai jawaban. Ia tak mengatakan apa pun dan membawa San menuju bangunan kecil yang ada di dekat asrama, lokasi dapur dan kantin berada. Orang-orang telah banyak memenuhi meja karena jam makan malam juga sudah mulai sejak setengah jam yang lalu. Suasana kantin ramai dengan denting sendok dan canda tawa.
Namun, kali ini, suasananya terasa berbeda. Tak hanya manusia, makhluk-makhluk lain juga memenuhi bangunan yang kecil itu. Tak heran jika Lanya terpaksa menunggu antrean untuk masuk ke dalam, pun ia harus bisa menahan desakan orang-orang yang berlalu lalang.
Dan, tentu saja, Lanya sama sekali tak heran ketika ia merasakan puluhan tatapan tajam terarah kepadanya sekali lagi. Ia tak tahu kenapa, tetapi dirinya merasa telah berubah menjadi magnet berjalan. Ia melangkah masuk ke bangunan itu tanpa bersuara, namun orang-orang seolah tahu bahwa Lanya akhirnya memasuki ruangan tersebut.
Sebab, ketika San ikut melangkah ke dalam kantin, Para Patron yang ada di sekitarnya tiba-tiba bergerak menjauh. Lanya terkejut saat mengetahui beberapa orang Patron yang sedang berjaga di sisi-sisi pintu spontan beralih—sebagian terlihat tegang—ketika San berada di samping mereka. Beberapa ekor hewan Patron yang sedang berkeliaran juga mendesis saat melihat sosok itu berdiri di ambang pintu.
Ada apa?
Lanya jadi kebingungan. Ia menatap sekeliling dan kini orang-orang pun bereaksi sama sepertinya. Kenapa Patron-patron itu menjauh? Ada apa dengan—
“Hei, lihat. Bukankah dia yang mencoba membunuh Patron Andre?”
Lanya mendengar seseorang berceletuk. Ia sontak menoleh ke asal suara, tapi ia tak bisa menentukan siapa. Ada beberapa wanita yang berdiri dan mereka melotot kesal ke arah Lanya. “Belum cukup dia mengejek rencana David, dan sekarang Patronnya ikut-ikutan kurang ajar?”
“Sepertinya seseorang tidak betah diacuhkan lama-lama, eh?”
Lanya menahan napas ketika para gadis itu terkikik geli. Ia tak percaya ini! Bagaimana bisa berita semacam itu menyebar dengan sangat cepat? Ia pikir David dan Andre bakal—
Lanya terkesiap. Oh, tentu saja David dan Andre bakal menceritakan kepada semua orang bahwa Patron Lanya berusaha membunuh Patron Andre! Jelas mereka akan menceritakan sesuatu yang membuat nama Lanya semakin tercoreng! Mata Lanya tanpa sadar menyapu sekeliling dan berusaha mencari kedua tersangka yang membuatnya emosi, yang ternyata sudah makan dengan santai di pojok ruangan bersama yang lain, termasuk si zombi Patron Andre. David tahu Lanya menatapnya tajam, sehingga pemuda itu balas menatapnya tanpa ekspresi.
Gadis itu mengepalkan tangannya erat dan merasakan ubun-ubunnya menggelegak. Ia benar-benar tak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal ia sudah terlanjur senang karena mendapatkan San sebagai Patron yang luar biasa. Tetapi kenapa kebahagiaannya tidak pernah bertahan lama?
Lanya ingin sekali beranjak dan menghampiri pemuda itu, mencekik lehernya, dan menumpahkan segala amarahnya. Kakinya sudah gatal untuk segera bergerak, tetapi niatnya terhenti ketika San tiba-tiba berbisik di telinganya.
“Ayo keluar.”
Suara San yang b,egitu tenang menyentak Lanya. Ia menoleh ke belakang, namun San sudah beralih. Pemuda itu setengah menyeret Lanya hingga keluar bangunan.
“San,” Lanya memanggil dengan lesu. “San, kita belum makan.”
“Aku tidak lapar.”
“Tapi aku lapar!” Lanya meradang. Ia menyentak tangan San hingga terlepas. “Kenapa kau menghindar?”
San terdiam. Lanya tahu ia menatap gadis itu dengan pemikiran serupa. “Kubilang apa, Lanya?” San menggerutu. “Aku memintamu untuk memikirkan perkataanku matang-matang karena hal seperti barusan jelas bakal terjadi.”
Lanya tertegun mendengar ucapan San. “Kau ... kau tidak usah pedulikan apa kata mereka, San. Sejak dulu memang selalu seperti itu. Mau pergi atau tidak, mereka tetap akan menghujatku.”
“Keberadaanku hanya akan membuatmu makin di—“
“Sssh, sudahlah,” Lanya menggerutu. “Kau tak usah pedulikan masalah mereka. Aku masa bodoh dengan orang-orang seperti itu, San! Aku memilihmu karena aku memang membutuhkanmu.”
San menghela napas. “Kau yakin?”
“Kenapa jadi kau yang cemas sekarang?” Lanya tersenyum masam. “Ada hal-hal yang belum kuceritakan kepadamu, tapi percayalah bahwa pendapat mereka bukanlah urusan kita lagi. Yang jelas kau tidak usah pedulikan drama-drama mereka—orang-orang itu sedang kekurangan bahan hiburan karena tekanan para penjajah.”
San mengangkat bahu. “Kalau begitu apa kita akan kembali?”
Lanya memandang kembali ke arah bangunan. Ia mendesah. “Tentu saja tidak mungkin,” katanya, lantas menatap San lagi, kali ini dengan mata berbinar. “Oh, tapi aku tahu tempat mana yang cocok untuk makan tanpa perlu bergabung dengan mereka. Ayo!”
Kemudian ia meraih tangan San dan menggeretnya ke bagian samping bangunan. “Tunggu di sini,” ujar Lanya. San mengangguk dan gadis itu segera beralih ke bagian belakang bangunan. Ada dua orang yang sedang bersantai di dekat sebuah pintu dan Lanya menghampiri mereka.
“Dio!” Lanya memanggil nama seorang pemuda yang berjarak paling dekat dengan Lanya. Dio tersenyum menyadari kedatangannya.
“Hei, Kak! Apa kau tidak apa-apa?”
“Oh, kenapa?” Lanya mengangkat alis.
Senyum Dio berubah sedih. “Baru saja kudengar dari Tante Wanda bahwa orang-orang tadi mencoba menghakimimu lagi dengan Patronmu di dalam kantin. Apa itu benar? Aku tidak sedang bertugas, sih, jadi aku tidak tahu ....”
Lanya mengibaskan tangan. “Oh, biarkan saja. Aku juga tidak mau mengurusi hal itu sekarang. Perutku lapar sekali! Bisakah kau mengambilkan makanan untukku? Bisa-bisa aku dilempari piring kalau kembali muncul di dalam.”
Dio tertawa kecil seraya mengacungkan jempol kepada Lanya. Ia pun menyusup ke balik pintu, dan tak butuh waktu lama bagi Dio untuk keluar dengan kantong besar berisi makanan. Saat Lanya menerimanya, kantong itu terasa panas dan baunya yang wangi menggoda hidung Lanya.
“Menu malam ini adalah roti mentega,” kata Dio. “Aku membawakanmu empat roti karena kupikir Patronmu ingin makan juga. Kalau ternyata dia tidak makan, kau bisa menghabiskan semuanya.”
“Terima kasih, Dio, kau memang baik sekali!” Dio hanya tersenyum sebagai respon. Ia pun melambaikan tangan kepada Lanya yang berlalu pergi, kemudian kembali menghilang ke dalam bangunan.
Setelah menjemput San, Lanya memutuskan untuk makan malam di tempat yang sepi, tetapi tetap tidak jauh-jauh dari asrama. Lanya mengatakan kepada San bahwa dirinya membenci gelap, terutama di sekitar area hutan, maka San menurut saja kemana gadis itu akan membawanya.
“Kenapa kau takut dengan kegelapan hutan?” adalah pertanyaan pertama yang diucapkan San ketika mereka akhirnya duduk bersandar pada dinding luar bangunan Sekolah Perang Lanya mendadak terlihat enggan untuk mengatakan apa pun. “Ada sesuatu yang membuatmu trauma?” tanya San lagi.
Lanya akhirnya mengangguk. “Beberapa tahun yang lalu, aku, David, dan kakaknya Brian sering berkeliling hutan, karena rumah kami berdekatan dengan tempat itu. Kami sering mengeksplor lingkungan sekitar sampai sore, padahal Mama sudah melarang kami.”
“Kemudian sesuatu terjadi?”
“Em ... ya, tentu saja. Aku masih ingat kejadiannya persis, di hari Selasa. Waktu itu aku dan David ngotot minta ditunjukkan sebuah danau kecil tersembunyi yang pernah ditemukan Brian. Awalnya Brian menolak, karena waktu sudah sore. Tetapi karena kami ngotot sekali, akhirnya dia menurut,” Lanya berkata, setengah mengenang. Ia menggigit rotinya dan mengunyah sesaat sebelum melanjutkan kembali. “Langit sudah terlanjur gelap ketika kami memutuskan untuk pulang. Dari dulu aku memang takut gelap, sih, tetapi ketakutanku jadi makin parah ketika segerombolan zombi muncul dan menyerang kami, padahal kami tidak membawa senjata apa-apa.”
“Jadi itu yang membuat kalian trauma?”
Lanya tertawa. “David kehilangan satu jarinya gara-gara seorang zombi. Dia trauma gara-gara itu, kalau aku memang karena takut sedari dulu. Untungnya Brian benar-benar tangguh. Dia bisa melawan beberapa zombi dengan sebatang kayu besar sebelum kami kabur.”
San mengambil gigitan besar pada rotinya. “Apa David dan Brian juga peserta Sekolah Perang, Lanya?”
Senyum gadis itu memudar. “Kalau kau ingin tahu siapa David ... apa kau tahu lelaki berambut coklat gelap yang tadi ada di tepi sungai? Itu dia. Sedangkan lelaki oriental di sebelahnya bernama Andre.”
San berhenti mengunyah. Ia menatap Lanya dengan mata mendelik. “Tapi … tapi baru saja kau bilang dia berhubungan dekat denganmu. Kalau begitu kenapa dia berusaha mencelakaimu tadi siang?”
“Nah, ceritanya panjang.” Lanya terkekeh. Ia mengambil satu roti lagi untuknya. “Tiga tahun yang lalu, aku memang masih akrab sekali dengannya. Dia dan Brian bahkan sudah dianggap anak sendiri oleh ibuku, tetapi semenjak kami bergabung dengan Sekolah dan ia bertemu dengan orang-orang lain ... ia mulai berubah sedikit demi sedikit. Hubungannya dengan Brian pun jadi memburuk.”
“Bagaimana dengan Brian?”
“Oh, Brian tetap menjadi sosok kakak yang sangat baik untukku.” Lanya menghela napas. “Tetapi karena dia adalah orang yang tangguh dan kuat, pihak Kamp Sektor tertarik untuk menjadikan Brian bagian dari mereka sejak lima bulan yang lalu. Yah, aku sebenarnya senang-senang saja Brian dikirim ke Kamp Sektor, karena itu berarti dia memang orang yang berkualitas. Namun, gara-gara itu sikap David makin menjadi-jadi kepadaku semenjak kepergiannya.”
“Seperti tadi siang.”
“Seperti tadi siang,” Lanya mengulang dengan mantap.
San menggeleng simpati mendengar penuturan Lanya. Gadis itu menatapnya dengan kikuk. San bereaksi seolah menganggapnya bodoh dan Lanya tak menyalahi lelaki itu. Ia memang mengakui bahwa tidak adanya Brian di sisi Lanya membuat gadis itu otomatis lebih lemah.
Yah, Lanya memang berharap kehadiran San bisa menggantikan peran Brian untuk membuatnya kembali kuat.
“Omong-omong, San. Kenapa kau menjahit perban ke kulit lehermu?” tanya Lanya agak ngeri. Ia memang takut melihat rupa asli San, meski begitu rasa penasaran lebih menguasai sehingga sedari tadi matanya terus-terusan mengawasi kepala yang dibalut dengan perban itu.
“Aku sekalian menjahit leherku biar tidak lepas.”
Alis Lanya bertaut. “Apa maksudmu?”
San memandang ke arah mata gadis itu lekat-lekat dan seutas senyum penuh misteri muncul di bibirnya. Sayangnya Lanya tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, karena kantong kertas coklat itu setia menutupi segala ekspresinya.
“Karena jika aku tidak menjahit leherku, Lanya, kepalaku bakal menggelinding jatuh.”