Seolah takdir berpihak padanya, Nyonya Rita menggeleng pada permintaan Lanya.
“Kalau kau sudah menemukan Patron yang kau inginkan,” kata beliau, sama sekali tidak melirik Lanya, “maka pilih saja dia. Kalau dia tadi sempat berniat untuk kabur dari gudang tadi karena rasa bosan, aku tidak yakin dia mau menunggu para peserta lain yang belum datang kemari.”
Ah, benar juga. Lanya menyambut ucapan Nyonya Rita dengan gembira. “Terima kasih!” begitu katanya, dan ia meninggalkan ruang Nyonya Rita dengan langkah ringan.
Bukankah lelaki asing itu mengatakan bakal menunggu di tepi sungai? Maka ke sanalah Lanya menuju. Ia bergegas meninggalkan bangunan, menyusuri lapangan yang masih ramai dihuni para peserta dengan Patron-patron baru mereka, kemudian memasuki hutan kembali. Lanya berusaha menyugesti bahwa lelaki berkepala kantong kertas itu adalah Patron yang tepat baginya. Berbagai pertanyaan yang diucapkan lelaki itu hanyalah untuk menguji keteguhan hati Lanya, ia yakin itu. Memilih Patron memang tidak boleh buru-buru dan sembarangan.
Ini sama krusialnya dengan memilih pasangan hidup, kau tahu?
Langit makin menggelap karena jarum pendek sudah hampir berada di angka enam. Lanya mempercepat langkah dan berusaha memfokuskan pandangan dengan satu-satunya mata yang ia miliki. Ia masih bisa melihat dalam gelap, tapi ia sendiri juga benci kegelapan di dalam hutan. Ia dan David memang pernah mengalami hal yang menyebalkan dulu—tiga tahun yang lalu, masa-masa paling akur—ketika mereka terlalu lama bermain di dalam hutan.
Lanya akhirnya memasuki wilayah pepohonan yang merapat, maka ini pertanda ia telah semakin mendekat ke sungai. Perasaan gadis itu entah kenapa kembali berubah waswas. Ia teringat lagi kejadian tadi siang yang benar-benar membuat jantung Lanya nyaris meledak. Ia masih bisa merasakan jarinya gemetar ketika mengingat hal itu lagi.
Apa kau bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika melihat kanibal tidak waras sungguhan berada dalam jarak kurang dari satu meter darimu, sedangkan kau tak punya apa-apa untuk menyerangnya?
Dan apa kau bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika—
Lanya merasakan ada hembusan angin yang kencang, dan pada sepersekian detik selanjutnya, seseorang menerjang ke arahnya.
Lanya sontak mengangkat lengan ketika sosok itu akan meninjunya, sehingga gadis itu merasakan hantaman yang keras di lengan dan meringis kesakitan. Namun, dengan cepat ia melupakan rasa sakit yang berdenyut-denyut saat menyadari siapa yang baru saja menyerangnya.
“Kau!” Lanya berjengit. “Apa yang kau lakukan?!”
Alih-alih menjawab, lelaki berkantong kertas itu tiba-tiba mengangkat tangan. Lanya sudah bersiap akan menghentikannya, tetapi sang Patron ternyata mendaratkan telapak tangannya di rahang Lanya.
Gadis itu membelalak saat merasakan tangan hangat lelaki itu menyentuh lembut wajahnya.
“Heh,” gertak Lanya. “Apa—apa yang kau lakukan?” Demi Tuhan, gadis itu bisa merasakan wajahnya memanas. Mana mungkin sang Patron tidak merasakan hal yang sama di tangannya?
Otot-otot wajah Lanya menegang saat sosok itu mengangkat dagu Lanya sedikit, lalu mendorongnya menghadap sisi kanan dan kiri seolah-olah mengecek sesuatu.
“Refleksmu bagus,” katanya. “Apa karena kejadian tadi siang?”
Lanya melongo mendengar penuturan tidak terduga dari sang Patron. “Demi Tuhan,” bisik gadis itu. “Apa maksudmu?”
Lelaki itu menarik dirinya kembali. Berbeda dengan Lanya, ia terlihat begitu santai, bahkan mulai tertawa saat menyadari wajah Lanya yang pucat pasi.
“Tidak ada.” Ia mengangkat bahu dengan riang. “Aku hanya kebosanan dan ... apa kau sudah mengecek Patron-patron yang tersisa?”
Lanya menggeleng. “Lebih tepatnya, Nyonya Rita tidak mengizinkan aku untuk mengecek stok yang tersisa. Ia menyuruhku untuk menunjukmu saja.”
Sosok itu hanya mendengus geli seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Jadi?” tanyanya. “Apa kau memang mau memilihku dengan senang hati, atau karena Nyonya Rita berkehendak demikian?”
Senyum Lanya melebar. “Jangan konyol. Sejak awal aku memang ingin memilihmu.”
Sosok itu tersentak. Ia tak menjawab selamat sesaat selain memiringkan kepala. Ia menatap Lanya dengan bingung. “Wah, kau serius? Kau mengotot tetap ingin mengajakku rupanya.”
“Aku tidak mudah mengubah pendirianku.” Lanya memutar bola mata. “Sekali aku menetapkan dirimu, aku takkan mengubah keputusan.”
“Apa kau sudah mempertimbangkan semua ucapanku tadi dengan matang?”
“Tentu saja.”
Sosok itu terlihat ragu. Lanya menatapnya lekat-lekat, berpikir apakah dia sebenarnya enggan untuk menjadi Patron baginya. Mendadak, muncul dugaan jika lelaki ini sebenarnya kabur bukan karena sekadar bosan. Bisa saja dia terpaksa menerima kontrak, dan tidak benar-benar ingin menjadi Patron siapa pun.
“Kalau begitu,” ia bergumam, “beri aku tiga alasan kuat mengapa aku harus mau menjadi Patronmu. Mengapa aku harus melindungimu? Apa situasi yang mendesakmu?”
Lanya melongo mendapat pertanyaan seperti itu, tapi untungnya ia tak butuh waktu untuk berpikir. Sedari dulu Lanya sudah tahu alasan mengapa ia membutuhkan setidaknya satu Patron di sampingnya.
“Satu,” kata Lanya memulai. “Aku butuh seorang Patron yang bisa membantu melindungi keluargaku. Aku hanya punya Mama, dan beliau sakit-sakitan betul.”
Patron itu mengangguk. “Dengan senang hati aku akan merawat orang tua. Lalu?”
Lanya berbunga-bunga mendengarnya. “Kedua,” katanya, “aku membutuhkan seorang Patron yang bisa membantuku untuk menjadi lebih baik, karena aku tidak ingin selamanya menggantungkan diri kepada Patron. Kau tahu maksudku? Karena kalian kuat, dan karena kau adalah manusia sepertiku, kau bisa mengajariku untuk menjadi lebih kuat.” Lanya terdiam sejenak. “Kau tahu ... kejadian tadi siang, kan? Aku ingin, pada suatu saat nanti, aku bisa melawan mereka seorang diri dengan jarak sedekat itu tanpa memedulikan ketakutanku terlebih dahulu.”
“Bagus. Yang ketiga?”
“Yang ketiga,” Lanya mengulang. “Karena ... karena aku menginginkanmu?”
Lelaki itu mendengus.
“Oh, ayolah!” Lanya merengek. “Tolonglah aku. Kalau bukan dirimu, siapa lagi? Toh aku sudah tahu setidaknya sebagian kecil dari kemampuanmu akibat kejadian tadi siang. Atau jangan-jangan kau memang tidak mau kujadikan Patron?”
“Bukan begitu,” gumamnya. “Lupakan reaksiku tadi. Maaf.”
“Tidak masalah.” Lanya tersenyum. “Jadi?”
“Satu hal lagi,” sang Patron mengangkat telunjuknya, membuat Lanya jadi dongkol. Hal apa lagi yang harus dipenuhi gadis itu dari Patron satu ini? Apakah memang serumit ini untuk memilih seorang Patron? Seingatnya, ketika Brian dulu memilih seorang Patron, ia tidak membutuhkan waktu yang lama. Brian justru langsung menunjuk seorang wanita dan mereka berubah menjadi rekan kerja yang sangat tangguh pada hari selanjutnya.
“Apa itu?”
“Hanya satu hal ini saja,” kata lelaki itu seraya meraih ke belakang lehernya. Ia menggaruk tengkuknya dan melanjutkan, “Dan aku harap kau bisa berpikir dengan bijak.”
Lanya menautkan alis bingung, namun rasa penasarannya dengan cepat berakhir ketika lelaki itu menyentakkan kantong kertas dari wajahnya.
Sesosok lelaki dengan kepala penuh dibalut perban kini berdiri di depannya. Lanya spontan membeliak kaget. Perban dijahit rapi pada kulit lehernya yang pucat. Caranya membebat kepala dengan perban begitu erat, sama sekali tak memberikan celah bagi kulitnya untuk bernapas selain pada mata kanan, kedua lubang hidung, dan mulutnya. Namun tetap saja ada beberapa helai rambut yang berhasil mencuat untuk mencari kebebasan.
Kendati sempat merasa ngeri selama beberapa detik, Lanya masih bisa mengatasinya.
“Wajah ... wajah bukanlah segalanya,” kata gadis itu tanpa sadar. Ia mengerjap, kemudian cepat-cepat menyodorkan kertas perjanjian kontrak dan bolpoin kepada lelaki itu. “Aku menginginkanmu bukan karena penampilanmu ... kau tahu? Eh, kau paham maksudku, ‘kan?”
Lelaki itu mengangguk sekali tanpa kata. Matanya yang gelap seolah menghipnotis Lanya untuk selalu menatap.
“Nah, kalau begitu isi kolom-kolom ini untukmu.” Lanya mendesak.
Lelaki itu menyeringai sebelum kembali memasang kantong kertas di kepalanya. Ia meraih benda-benda yang disodorkan Lanya dan segera menuliskan apa yang dibutuhkan. Lanya mengeluarkan senter kecil yang dikantongi untuk membantunya menulis karena suasana makin gelap.
“Isi namamu ... siapa namamu?” Lanya membantu membacakan isi suratnya.
“Terserah.”
“Apa?”
“Karena kau pemilikku,” kata lelaki itu, “kau yang memberi aku nama.”
Lanya menghela napas. “Kau yakin ingin kuberi nama? Kalau begitu lewati saja kolom nama dulu. Isi kolom usia.”
“Aku tidak ingat usiaku. Mungkin seumuranmu atau lebih tua lagi, entah.”
“Yang benar saja!” Lanya mendesis. “Kau tidak punya nama dan tidak ingat usiamu—memangnya kau ini siapa?”
“Aku memang belum ingat siapa diriku,” jawabnya kalem, “karena aku berasal dari Laboratorium 02, maka lumrah-lumrah saja kalau aku tidak ingat identitasku sendiri.”
Lanya tersentak. Laboratorium 02? Ia tak memercayai pendengarannya. Apakah itu benar? Jika memang benar, maka itu berarti lelaki yang ada di hadapannya ini memang tidak berdusta. Lanya pernah mendengar tentang keberadaan laboratorium-laboratorium khusus milik para penjajah, mulai Laboratorium 01 hingga Laboratorium 04. Di sanalah para Patron, atau makhluk-makhluk yang memiliki reaksi berbeda terhadap virus, mendekam di sel dan menjalankan serangkaian tes sebelum akhirnya dibebaskan atau dijual sebagai pengawal pribadi para manusia.
Sementara itu, Laboratorium 02 terkenal dengan kekejamannya mengadakan eksperimen, sampai-sampai membuat sebagian besar korbannya syok berat hingga lupa ingatan.
Meskipun informasi mengenai Laboratorium 02 tidak ada yang menyenangkan, Lanya tak bisa memungkiri kenyataan bahwa ia justru senang dengan itu. Laboratorium 02 memang kejam—ya—tapi apakah kau tahu kalau hasil eksperimen laboratorium tersebut adalah yang paling sukses dari lainnya? Para Patron yang diproduksi oleh laboratorium itu terkenal sangat kuat dan berharga mahal.
Wow. Lanya mendapat Patron yang mahal! Pantas saja dia dicari sedemikian rupa oleh para staf tadi siang!
“Tapi,” Lanya tiba-tiba teringat sesuatu, “mereka pasti punya identitas tentangmu, bukan? Apa kau tak tahu apa-apa?”
“Yang kutahu hanyalah tinggi dan berat badanku, serta nama yang mereka berikan kepadaku.”
“Kalau begitu siapa namamu?”
“N-01.”
“N-01?” Lanya mengernyit. “Nama apa itu? Astaga, lupakan saja. Tulis nama “San” di kolom ini dan lewati saja kolom usianya. Mulai saat ini namamu San, bagaimana?”
“San? Baiklah.” Tanpa banyak protes, lelaki itu menuliskan nama barunya di kolom. Ia terdiam sejenak seusai menulis, kemudian menatap Lanya lagi. “Apa kau punya maksud tertentu dengan menamaiku seperti itu?”
“Tidak, nama itu melintas begitu saja di otakku,” respon Lanya dengan polos. “Tapi kalau kau ingin punya nama yang bermakna, akan kupikirkan filosofinya nanti.”
San berdecak sembari menggelengkan kepala tak percaya. “Bodoh,” hardiknya. “Kau memang tidak pikir-pikir kalau memberi nama, ya?”