“Hei,” tegas lelaki asing itu, menyentakkan lamunan Lanya. “Apa kau baik-baik saja?”
Sadar bahwa Lanya menatapnya terlalu lama, gadis itu berdeham canggung. “Uh, ya ... sepertinya begitu,” jawab Lanya terbata. Ia merasa gugup dan detak jantungnya yang kembali bertalu-talu menghalangi gadis itu untuk berpikir lebih jernih. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum berkata lagi. “Terima kasih atas pertolonganmu.”
Alih-alih menjawab, sosok itu hanya mendengus. Lanya tak menyangka dengan reaksi yang bakal ia terima dan merasa agak ketakutan, tetapi semua itu berakhir ketika lelaki asing itu tiba-tiba menepuk pundak Lanya. Jantungnya berdentam making cepat.
“Apa yang kau—”
“Opsir,” ia menyela ucapan Lanya dengan mudah. Si opsir menoleh dan berhenti melangkah. “Dia basah kuyup. Bisakah dia berganti baju dahulu sebelum menemui Ibu Kepala?”
Opsir itu memerhatikan Lanya lekat-lekat dengan tatapan yang agak membuat sang gadis risih. Seusai menimbang-nimbang, pria itu akhirnya menyetujui. “Lima menit,” kata opsir itu. “Aku akan menunggumu bersama Patron ini di depan asrama. Jika kau tidak keluar, kau akan kuanggap melarikan diri.”
Lanya mendesah. “Kenapa aku mau kabur, coba?”
Opsir itu menyeringai dan tanpa mengatakan apa-apa, ia kembali memimpin perjalanan. Sementara kedua muda-mudi di belakangnya kembali mengekor, Lanya menatap lelaki di sampingnya dengan perasaan campur aduk.
Ia merasa takut, tetapi juga senang. Ia merasa was-was, kendati—entah bagaimana—muncul perasaan berbunga-bunga. Patron di sampingnya ini kabur, maka itu berarti tidak ada seseorang yang mengklaimnya, bukan? Dia juga menolong Lanya, dan—di atas itu semua—mereka sama-sama kabur dari sesuatu yang sedang terjadi. Lanya yakin dengan kuat bahwa pertemuan ini adalah takdir yang tak boleh diabaikan.
“Kau tahu mengapa kau kusuruh ganti baju?”
Lanya tersentak saat sosok itu tiba-tiba berbisik. Ia mengerutkan dahi. “Tidak, kenapa?”
“Baumu busuk. Itu sungai atau gorong-gorong, eh? Atau, jangan-jangan kau belum mandi selama berhari-hari?”
Perasaan positif yang baru saja memenuhi hati Lanya spontan berbalik menjadi rasa jenuh. Ia melototi lelaki aneh yang tiba-tiba terkekeh geli itu. Lanya pikir ia baru saja menemui Patron yang baik, yang sigap menolongnya kendati ia bukanlah milik siapa-siapa, tapi siapa sangka makhluk itu bisa bersikap selucu ini pada obrolan pertama mereka?
“Heh, dengar.” Lanya memutar bola mata. “Mana mungkin aku tidak mandi? Asal kau tahu, terakhir kali aku mandi adalah kemarin sore jam lima. Lagipula, daripada mengurus soal bauku, bagaimana kalau kau cerita padaku alasan mengapa kau kabur dan tiba-tiba muncul menolongku?”
“Hmm ...,” lelaki itu bergumam, “aku bosan berada di dalam. Sumpek. Bayangkan bagaimana rasanya terperangkap bersama puluhan makhluk-makhluk aneh di dalam ruang yang pengap?”
Lanya menyeringai geli mendengar ucapan sang Patron. Hei, apakah ia tidak sadar jika ia juga termasuk manusia yang aneh? Lanya baru saja akan mengatakannya, tetapi sosok di sampingnya ini kembali bertanya.
“Dan, kau? Bagaimana bisa seorang Patron menyerangmu? Di mana Patronmu?”
Rasa geli di hati Lanya lenyap dan ia kembali gondok. “Oh,” tukasnya. “Sesuatu terjadi dan aku harus menemui Wakil Kepala selama acara berlangsung ... sehingga, yah, mau tidak mau aku melewatkan acaranya. Tidak ada Patron untukku.”
“Memangnya tidak ada yang tersisa di gudang?”
“Mana kutahu?”
“Kau tidak mengeceknya?”
Lanya tertegun dan tak segera menjawab. Ia hanya mengatupkan bibir selama sesaat hingga tersadar sosok itu sedang meliriknya.
“Um, tidak. Dan seharusnya memang tidak. Jumlah Patron yang dikontrak oleh Ibu Kepala tidak sebanyak jumlah peserta di lembaga itu.”
Lelaki itu mendengus sekali lagi, dan kali ini ia sepertinya menertawakan Lanya. Tetapi ia tak keberatan. Lanya lebih tidak peduli, sebenarnya, karena yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana caranya menjelaskan kepada Ibu Kepala dengan baik agar ia tidak perlu diceramahi panjang lebar tentang ‘semangat juang’ untuk kedua kalinya hari ini.
Dugaan Lanya meleset. Ternyata ia tidak perlu berpanjang lebar menjelaskan, karena Ibu Kepala lebih suka memerhatikan seorang Patron yang mendadak kabur dari gudang daripada kasusnya sendiri. Ia terus-terusan menanyai si lelaki asing, yang sayangnya hanya dijawab sekenanya saja. Ia jelas terlihat enggan dengan berbagai pertanyaan Ibu Kepala yang mendesak.
Setelah puas menekan si Patron yang kukuh tidak memberikan banyak jawaban, Ibu Kepala beralih kembali kepada Lanya.
“Tidak ada yang terluka, bukan?” tanyanya. “Aku yakin David dan Andre hanya ingin mengenalkan Patron mereka kepadamu dengan cara yang—yah—agak berbeda, Lanya. Bukankah kau dekat sekali dengan David? Aku masih ingat saat-saat kalian pertama kali bergabung di Sekolah Perang. Terlalu banyak keisengan.”
“Oh, ya, dia hanya iseng.” Lanya memasang senyum penuh pemaksaan. “Er, mengenang masa-masa dulu. Dia suka begitu. Ibu tahu sendiri, kan?”
“Kalian memang selalu begitu.” Ibu Kepala tersenyum puas. Lanya menyadari bahwa ekspresi wajahnya melunak, mengindikasikan kemungkinan bahwa Ibu Kepala sedang dirundung stres sejak tadi dan tidak seharusnya ada kasus lagi yang harus ia hadapi. “Dari dulu kalian selalu berbuat onar bersama Brian, bukan?”
Lanya tertawa garing. “Ya, itu dulu,” gumamnya. “Tetapi semua baik-baik saja, Ibu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Ya, itu maksudku,” Ibu Kepala menyahut dengan cepat sementara matanya berkonsentrasi pada tumpukan catatan yang berceceran di meja. “Sekarang ... mari kita pindah ke topik lain. Lanya, apakah kau sudah mendapat Patron?”
“Belum, Ibu Kepala.”
“Kalau begitu segeralah mencari Patron yang cocok,” lanjut Ibu Kepala seraya menyerahkan satu lembar kertas berisi perjanjian kontrak kepada Lanya. “Mungkin bisa saja pemuda ini, atau kau mungkin ingin pergi ke meja Nyonya Rita untuk menanyakan apakah sekiranya masih ada Patron yang tersisa. Tidak perlu terburu-buru, meski aku tidak menganjurkanmu untuk berlama-lama ... ada beberapa peserta yang belum hadir ke sekolah, dan mereka juga berhak mendapat jatah.”
Lanya mengerling ke lelaki di sampingnya yang juga dibalas dengan tatapan serupa.
“Terima kasih, Ibu.” Lanya tersenyum.
Wanita paruh baya itu balas tersenyum lebih lebar. “Setelah mendapatkan Patronmu, pastikan kau mengembalikan surat perjanjian kontrak ini kepadaku, mengerti? Akan kutunggu sampai seusai jam makan malam.”
“Terima kasih banyak,” ujar Lanya sembari bangkit dari kursi dan menjabat tangan wanita itu.
Ibu Kepala kemudian memberikan isyarat kepada Patron di samping Lanya bahwa ia juga bisa pergi, yang disambut dengan senang hati. Lelaki itu segera mengikuti Lanya meninggalkan ruangan.
Siapa yang harus kupilih? Lanya berpikir. Sebenarnya, ia sudah memiliki bayangan siapa yang ia inginkan, dan itu jelas Patron yang sedang berjalan mengekorinya kini. Ia hanya malas membuang-buang waktu dengan mengenal Patron lain. Lagipula, bukankah Patron di belakangnya ini sudah menyelamatkannya sekali? Kenapa pula tidak menyelamatkannya lagi di masa yang akan datang?
Lanya menoleh ke belakang dan berhenti melangkah, begitu pula dengan lelaki itu.
“Apa?” tanyanya.
“Kau ....”
“Kau mau aku jadi Patronmu?”
Gadis itu tersenyum. “Bagaimana?”
“Kau yakin tidak ingin mengenal Patron yang lain? Mereka mungkin lebih baik daripada aku.”
“Lebih baik daripadamu?” Lanya mengulang. “Tetapi kau sudah menolongku.”
“Semula kupikir kau diserang zombi sungguhan.” Lelaki itu mengangkat bahu. “Dan ... kukira lebih baik kau mengenal Patron yang lain.”
Lanya mengerutkan dahi. Kenapa begitu? Ia ingin bertanya, tapi sepertinya lebih baik tidak. Lanya pun menepi ke dinding dan terpekur di sana untuk berpikir, membuat lelaki itu penasaran dengan tingkahnya sampai-sampai ia ikutan jongkok di samping Lanya.
“Tapi aku akan merasa lebih baik dengan dirimu,” gumam Lanya setelah beberapa saat. “Karena kau sudah menolongku, kau tahu? Kita juga sudah sedikit mengobrol ... atau jangan-jangan kau tidak mau kupilih?”
“Aku tidak sepertimu,” lelaki itu tiba-tiba tertawa kecil. “Aku hanya Patron. Aku hanya bisa mengucapkan “iya” atau “tidak” kepada orang-orang yang menawarkanku untuk menjadi Patron mereka. Aku tidak berhak memilih siapa yang harus menjadi pemilikku.”
“Kalau begitu ...,” Lanya bergumam. “Kau mau menjadi Patronku?”
“Apa kau yakin ingin bersamaku?”
Lanya menatapnya. “Ada yang salah denganmu?”
“Kau lihat sendiri aku menyerang sesama Patron tadi.”
“Tapi itu karena kau berniat menolongku! Kau juga sudah bilang bahwa kau sempat mengiranya sebagai zombi sungguhan.” Lanya bersikeras. “Kalau kau tidak datang, entah apa yang akan terjadi padaku.”
Lelaki di sampingnya tak mengatakan apa pun selain menatap Lanya lama. Gadis itu jadi grogi ditatap oleh dua lubang mata gelap di balik kantong kertas itu, jadi ia mengalihkan pandangan.
“Biar kuberitahu kau satu hal,” kata Patron itu seraya beranjak. Lanya mendongak dan menatapnya sekali lagi dengan alis terangkat. “Patron dan pemiliknya akan menjadi satu bagian utuh setelah mereka terikat kontrak. Mereka akan selalu bersama dalam menghadapi bahaya, karena itulah fungsi Patron untuk menjaga pemiliknya.”
“Iya, aku tahu.”
“Tapi,” lelaki itu cepat-cepat menambahkan, “kukatakan kepadamu aku bukanlah orang yang mungkin sesuai dengan ekspektasimu. Kau bisa saja mengatakan bahwa aku baik karena berusaha menolongmu tadi, tetapi coba lihat siapa aku dari sudut pandang lain. Aku ingin kau tidak memandangku dari sebelah pihak.”
Lanya menyeringai. “Apa kau mencoba mengatakan bahwa kau orang yang sangat berbahaya?” tanyanya geli.
Sang Patron tak menjawab pertanyaan Lanya. Ia hanya mengangkat bahu dan berkata, “Kalau kau ingin mencariku, temui aku di tepi sungai lagi.” Seusai mengucapkannya, ia tak menunggu respon dari Lanya. Ia segera bergegas menjauh.
“Oh, sebentar!” Lanya berseru. “Apakah ada kaitannya dengan alasan kenapa kau kabur tadi? Atau alasan mengapa kau ingin aku mengenal Patron yang lain terlebih dahulu?”
“Jangan buru-buru.” lelaki itu tertawa, dan hanya itu yang ia ucapkan sebelum berbelok keluar gedung. Lanya terdiam sejenak dan memandang ke arah kemana si Patron tadi berlalu. Haruskah ia mengikuti sarannya? Namun Lanya sudah terlanjur menyukainya. Ia sudah terlanjur menginginkan lelaki itu karena yakin lelaki itu sepertinya bisa menjaga Lanya dengan baik.
Meski begitu ... mendengar ucapan sang Patron barusan membuat Lanya agak bimbang. Apakah ia hanya bercanda, mencoba terlihat sok keren? Atau ia memang mengatakan sejujurnya? Kalau lelaki itu hanya sok jual mahal, Lanya harus mempertimbangkan kekuatannya yang bisa menghajar Patron milik Andre tadi tanpa kesulitan. Itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan hanya dengan sekali hentakan saja! Oh, Lanya tak bisa menentukan. Ia pun membaca surat perjanjian kontrak di tangannya dengan putus asa.
Masih ada waktu kurang lebih empat jam hingga batas pengumpulan surat perjanjian kontrak. Semoga saja ia bisa mendapatkan Patron yang tepat—entah lelaki tadi atau justru makhluk lain.