“Hei, kalian sialan!” teriak Lanya. Jantungnya berpacu keras saat ia mengumpati kedua pemuda yang tengah menonton dari atas dahan terendah salah satu pohon. “Turun kalian! Apa yang—astaga!!” gadis itu menjerit lagi ketika zombi itu menceburkan diri di sungai. Lanya buru-buru keluar dari sungai hingga terpeleset, tetapi ia dengan cepat menyeimbangkan tubuh.
Tawa Andre makin mengeras dan David bahkan terkikik geli, membuat Lanya makin linglung. “Ada zombi!” gadis itu berteriak. “Apa yang kalian lakukan?!”
“Kau yakin itu zombi, Lanya?” Andre berkata disela-sela tawanya. “Ya ampun, aku tak menyangka dia cepat sekali berubah menjadi bodoh semenjak bergabung dengan para staf dapur! Kau benar, David, dia benar-benar bodoh sekarang!”
Lanya membeliak tak percaya. Ia menatap si zombi yang bergeming di sungai. Seringai lebar menghias wajahnya dan Lanya menyadari ada yang berbeda dari sosok itu. Wajahnya memang hancur khas zombi, dengan tubuh tak berwarna dan pakaian lusuh... tapi ada bilah besi panjang bersarung yang disampirkan di bahunya.
Seorang Patron.
“Anya, kau benar-benar lucu!” David berseru. “Seandainya aku masih punya kamera, kau pasti sudah kurekam dari tadi!”
Lanya melirik pemuda yang wajahnya menyerupai udang rebus karena tertawa habis-habisan itu. Lanya tak bisa berkata-kata. Ia kelewat syok untuk bisa mengucapkan rentetan k********r yang biasa ia lemparkan kepada David. Ia terlalu terpukul untuk bisa bereaksi apa-apa, selain membiarkan tubuhnya melemas hingga kedua kakinya tak mampu menopang tubuh lagi.
Lanya terduduk di kedua lutut dan memandang si Patron dengan tatapan nanar. Ia hampir menangis sementara hidungnya semburat merah. Sedangkan yang ditatap hanya diam saja, sedari tadi tetap tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi hitam bernoda kuning. Kedua matanya yang busuk, meski menatap Lanya secara langsung, gadis itu tak benar-benar yakin bahwa ia sedang ditatap. Zombi—atau Patron sialan itu—sama sekali tak terlihat waras.
“Ooh, lihat. Dramatis sekali. Apakah aku sedang menyaksikan drama?” Andre mencemooh. “Lihat bagaimana seseorang tanpa Patron akhirnya bertekuk lutut ... astaga, ini miris. Di mana Sabrina? Dia sangat menantikan ini.”
“Heh, apa kau menyerah secepat ini, Anya?” David mendengus. “Bocah cengeng, hei, aku berbicara padamu!”
Namun, gadis itu tak menyahut. Ia bahkan tak mendengar suara kedua orang itu sama sekali. Yang ada hanyalah gemuruh adrenalin yang mengalir deras di nadi dan detak jantung yang berdentum-dentum nyaring. Rasa sakit bahkan kembali menjulur di hatinya dan Lanya mengepalkan kedua tangannya erat.
Pelupuk matanya memanas.
Lanya menggigit bibir. Ia masih menatap Patron di hadapannya, tapi kali ini sarat dengan kebencian. Pandangannya pun lama-lama memburam dan Lanya tak mampu menahan air mata untuk mengalir.
Dia benar-benar sakit hati.
Dia ... benar-benar akan angkat kaki dari Sekolah Perang yang menjengkelkan ini.
“Oh, ini membuatku frustasi,” Andre mengeluh setelah menyadari gadis di bawah sana menunduk, lantas terisak pelan. Ia melirik David yang kehilangan senyumnya dan kembali memandang si zombi, Patronnya. Makhluk itu tidak lagi tersenyum lebar. Ia terlihat kebingungan dengan reaksi Lanya dan menoleh untuk menatap Andre. Ia menghela napas.
“Dasar perempuan.” Desis Andre sekali lagi. David juga tak bereaksi, barangkali syok karena tak menyangka Lanya bakal berakhir terisak seperti ini. Andre paham betul apa yang masih dirasakan David tentang Lanya, maka ia pun memutuskan untuk mengibaskan tangan kepada si zombi, mengisyaratkannya untuk tetap mengganggu Lanya. Patron itu mengangguk dan bergegas menghampiri gadis itu dengan langkah cepat.
Lanya terkejut, namun reaksinya terlalu lambat untuk bisa berlari. Ia terjungkal ke belakang dan berusaha meraih batu-batu yang ada untuk dilempar ke zombi—yang bisa dihindari dengan gesit. Andre tersenyum melihat reaksi Lanya yang begitu konyol. Gadis itu makin kelabakan karena harus menghalau Patron yang menggodanya sementara air matanya tidak mau berhenti mengalir. Andre berharap seandainya dunia tidak sedang kacau balau, ia akan menyaksikan kejadian itu dengan popcorn asin.
“Andre, tunggu.“
“Apa? Jangan bilang kau baru menyesal sekarang!” Andre membalas tanpa melirik David. Ia begitu terhibur dengan Lanya yang serba terbata-bata dan ketakutan di bawah sana. Senyumnya makin melebar. “Kau bilang apa? Tunggu sebentar, lihat bagaimana Lanya ... hei.”
Senyum Andre melenyap.
“Hei, hei, hei!” Andre berbisik ngeri ketika sesosok manusia tiba-tiba muncul dari pepohonan dan menerjang Patronnya, menghentak zombi itu ke sungai dengan sekali tarikan yang sangat cepat dan kuat. Si zombi Patron menjadi gelagapan dan meronta, tetapi sosok itu langsung menenggelamkannya. Ketika si zombi mencoba sekuat tenaga menyerangnya, sosok itu telah mencengkeram leher si zombi dan mengangkat batu sungai yang cukup besar di tangan satunya.
Andre menahan napas.
“STOP!!” teriaknya ketakutan, tepat ketika sosok asing itu menghantamkan batu sungai ke wajah si zombi hingga lolongan memekikkan telinga terdengar.
Semua terjadi begitu cepat. Lanya sedang kalang kabut mencari cara untuk melindungi diri dari makhluk mengerikan di hadapannya, saat sesosok lelaki dengan kepala ditutup kantong kertas muncul dan menerjang zombi itu. Lanya tidak sempat berkutik selain menyaksikan bagaimana sosok itu menarik Patron Andre ke dalam sungai lagi dengan hentakan yang keras. Namun, kesadarannya seolah kembali ketika ia mendengar Andre histeris.
“STOP!!”
Lanya sontak menoleh kepada Andre yang terlihat sepucat mayat. Entah apa yang sedang dipikirannya, tetapi Lanya dengan sigap beranjak. Ia nyaris terjatuh lagi karena kedua kakinya terasa lemas. Meski begitu ia masih mampu menarik jaket sosok itu dan berseru, “Berhenti! Hei, hentikan itu!”
Lelaki asing itu seketika berhenti dan menoleh menatap Lanya, menyentaknya saat dua lubang bagian mata di kantong kertas memandang tajam ke arahnya. Lanya menelan ludah. Ketakutan kembali menyergap.
“Jangan—jangan pukuli,” Lanya berusaha memperingatkan, kendati suaranya terdengar mencicit karena tenggorokannya yang tercekat. “Dia Patron, tolong jangan pukuli dia.”
Sosok itu tak menjawab selama sesaat, hingga mengangkat bahu acuh tak acuh. Cengkeramannya seketika melonggar dan si zombi Patron jatuh tak berdaya. Makhluk itu kembali tercebur ke sungai, namun, ia cepat-cepat beranjak seraya batuk-batuk parah. Ada luka besar menganga di kepalanya dan Lanya mendadak merasa kasihan.
“b*****t!!”
Suara Andre menggelegar. Lanya terkesiap dan baru ingat Andre masih ada di sana, termasuk David. Ia menoleh ke asal suara dan ternyata Andre sudah melompat turun dari dahan pohon tempat ia bersantai tadi. Amarah menyala-nyala di kedua matanya yang sipit dan wajahnya memerah geram. David mengekorinya dan tak ada emosi sama sekali di sana, kecuali keterkejutan akibat kehadiran sosok tak dikenal.
“Sialan kau!” Andre berseru lagi dan siap melayangkan pukulan kepada sosok asing itu. Lanya menahan napas dan baru saja akan menghentikan Andre. Untungnya, suara peluit dadakan yang memekakkan telinga spontan menghentikan semuanya.
“Stop, stop!” seorang opsir menerjang masuk ke lokasi dari sisi lain hutan. Lanya mengenalnya sebagai opsir baru—yang ia lupa namanya—dan ia ditugaskan berpatroli di sekeliling hutan. Ekspresinya yang kaget bercampur bingung terpampang jelas di wajahnya. “Tidak ada perkelahian! Ada apa ini?”
Andre berdecak kesal dan spontan menarik diri. Ia mengawasi sosok berkepala kantong kertas itu dengan amarah ditahan-tahan.
“Apa yang terjadi?” opsir itu bertanya lagi dengan nada tinggi. “Kenapa ada perkelahian di sini? Siapa pun jelaskan padaku!”
Opsir itu menatap bergantian ketiga murid di hadapannya, namun tak ada yang menyahut. Ia menghela napas dan melirik Lanya yang benar-benar basah kuyup. “Kenapa kau basah semua, Nak? Jelaskan padaku!”
Lanya mendadak gugup. Ia tak tahu mau berkata apa. Haruskah ia melaporkan apa yang dilakukan Andre dan David kepadanya? Tapi ia tahu resiko yang akan dihadapi jika ia melakukannya nanti. Ia tak berani melirik siapa-siapa dan menjadi kebingungan setengah mati.
“Saya—saya terpeleset.”
“Kenapa? Dan apa hubungannya dengan perkelahian ini?”
“Itu ....” Lanya mengerjapkan mata. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi, ketika David tiba-tiba menarik Andre pergi. Opsir itu refleks menghentikan mereka, yang dengan segera direspon David bahwa Lanya lebih tahu segala hal, dan bahwa David dan Andre hanya sepintas lewat ketika “sesuatu terjadi dan melibatkan mereka”. Opsir itu pun dengan bodohnya terintimidasi David yang mulai menunjukkan rasa kesal. Ia membiarkan mereka pergi bersama si zombi, lalu menatap Lanya lagi dengan tatapan menyelidik.
Lanya melongo melihat kejadian barusan. Ia memandang punggung David yang menjauh sembari menggeleng-geleng samar. Pemuda itu benar-benar tak punya simpati kepadanya lagi! Lanya kembali mengutuknya dengan kata-kata terkasar di benak, tapi itu tak bertahan lama. Si opsir telah menantinya dan Lanya menjadi linglung.
“Kau bisa jelaskan hal ini pada Ibu Kepala,” kata opsir itu akhirnya. Lanya menatapnya tak percaya. Apa katanya barusan? Ke ruang Ibu Kepala? Demi Tuhan, Lanya baru saja diceramahi panjang lebar oleh Wakil Kepala, dan sekarang?
“Oh ya, dan ...,” opsir itu bergumam seraya menatap sosok berkepala kantong kertas di sampingnya, memecahkan lamunan Lanya. “Ciri-cirimu sama persis seperti yang diucapkan Nyonya Rita ... Katakan padaku; apa kau memang Patron yang sengaja kabur, bung? Kau sudah dikontrak kemari, mengapa bersusah payah melarikan diri?”
Patron yang kabur? Lanya melirik sosok yang telah menolongnya itu dengan penasaran, tetapi yang ditatap menolak untuk merespon.
“Kau harus kembali ke kantor Ibu Kepala,” si opsir menambahkan, menyerah pada anak-anak bandel yang tak mau berkoordinasi dengannya. “Kau tak bisa menghilang begitu saja, kau tahu? Semua pejabat sekolah tadi kebingungan mencarimu di area Sekolah, tapi ternyata kau di sini, eh?”
Sosok itu masih tak menyahut dan si opsir terlihat kewalahan. Ia melirik Lanya dengan sebal dan memberikan isyarat kepada gadis itu untuk mengantarkan sosok aneh ini kepada Ibu Kepala, karena ia juga bakal menemui orang yang sama. Lanya tersenyum masam karena tak punya pilihan lain. Ia hanya bisa pasrah ketika opsir itu memimpin perjalanan kembali ke area Sekolah Perang.
“Hei, kau baik-baik saja?”
Lanya mendongak ketika lelaki asing di sampingnya ini tiba-tiba bersuara sementara mereka baru berjalan melewati sungai. Sosok itu telah berbicara! Lanya tak tahu apakah ia mendadak merasa takut atau justru senang, karena kendati lelaki ini menolongnya, ia telah melukai sesama Patron.
Dan, ia berusaha kabur.
Wow, apakah ini—entahlah—sebuah pertanda? Lanya merasakan debaran menyenangkan di hatinya.