Semangat Juang

1616 Kata
Mungkin orang-orang sudah menganggap Lanya bukanlah bagian dari Sekolah Perang lagi. Akhir-akhir ini mereka mengobrol, menggosipkan Lanya dengan terang-terangan seolah ia tak ada di sana bersama mereka. Tentu saja Lanya bisa mendengarnya, dan Marissa tidak berbuat banyak untuk menghibur. Tapi, toh, hiburan macam apa pun juga tak akan membuat Lanya merasa lebih baik. Keinginan untuk segera pulang mendadak muncul. Mungkin lebih baik baginya untuk lepas dari Sekolah Perang. Brian pernah memberitahunya cara bertahan hidup tanpa bantuan lembaga kecil semacam itu. Lanya akan mencoba membawa Mama dan Tante pemilik rumah ke tempat yang lebih aman ... atau dia akan mulai menawarkan diri untuk bekerja di tempat lain. Entahlah. Ini hanya pemikiran dadakan saja. Hari-hari Lanya juga bertambah buruk seiring dengan berlalunya waktu. Hari ini, hari di mana Ibu Kepala akhirnya mengumumkan bahwa akan ada pembagian Patron di penghujung siang, nasib Lanya mendadak berubah apes. Seseorang, atau bahkan lebih, mulai menyebar fitnah tentang Lanya sejak hari sebelumnya. Wow, apa-apaan? Muncul berita bahwa Lanya akan berhenti pergi ke Sekolah Perang karena ia sudah tidak memiliki semangat untuk berjuang. Bagi para pejabat Sekolah Perang—orang-orang senior yang berambisi untuk merebut tanah negeri ini kembali—tentu berita tersebut menyakitkan telinga mereka. Sehingga tidak heran jika Lanya langsung mendapat panggilan ke kantor Wakil Kepala sementara Ibu Kepala harus mengurus pembagian para Patron kepada para murid. Dan, itu berarti, Lanya akan melewatkan waktu pembagian. Lanya menyadari maksud dari penyebaran fitnah itu dan benar-benar dibuat kesal sekarang. Ini sudah jelas adalah rangkaian dari rencana balas dendam David kepadanya. Tidak ada keraguan. Di sisi lain, ia mendapat ketegasan baru dari pertemuannya dengan sang Wakil Kepala. Ceramah beliau sempat menjelaskan bahwa keempat orang yang secara tidak resmi berhenti menghadiri kelas-kelas—para staf dapur—ternyata tidak mendapat hak untuk mendapatkan pendampingan Patron. Lanya memang sudah menduga bahwa Patron hanya diberikan kepada mereka yang masih berjuang di kelas-kelas, dan ia merasa darahnya berdesir saat itu juga. Meski Dio sudah tahu akan nasibnya, Lanya masih berharap bahwa pemuda itu kelak bakal segera mendapat haknya. Mungkin. Meski itu berarti masih satu atau dua tahun lagi, dan barangkali Lanya takkan bertahan hingga selama itu di Sekolah Perang ini. Namun, bukan itu yang menjadi permasalan Lanya sekarang. Lanya masih menghadiri kelas, bahkan masih menduduki posisi sebagai murid cemerlang di kelasnya, maka pejabat lembaga jelas mempertahankan haknya untuk memiliki Patron. Namun, David dan kawan-kawannya tidak berpikir demikian. Mereka sengaja menyebar fitnah, menginginkan Lanya untuk tidak hadir pada acara yang paling dinanti itu, agar ia tidak kebagian Patron. Karena orang-orang bebas memilih Patron asal ada kecocokan, sementara jumlah Patron yang dikontrak dengan para peserta cukup timpang, maka besar kemungkinan Lanya takkan mendapat bagiannya. Gadis itu mengutuk siapapun di dalam hatinya. Ia baru menyadari hal ini ketika sang Wakil Kepala menceritakannya panjang lebar di ruangannya yang pengap, tentang nasib keempat orang tadi. David busuk. Lanya terus-terusan mengulang dua kata itu di dalam hatinya. Ia tak peduli siapa saja yang memfitnahnya, karena semua masalah pasti berakar dari pemuda satu itu. Ia benar-benar tak paham mengapa tingkah David begitu kekanakan sehingga hal-hal konyol seperti ini bisa menimpa Lanya dalam kurun waktu beberapa hari terakhir— “Lanya?” “Ah,  iya,  Pak?”  Lanya  tersentak  dari  lamunan.  Ia  spontan memfokuskan pandangan kepada seorang pria dipertengahan empat puluh yang duduk di seberang meja. “Kamu sudah paham, belum?” pria berambut tipis itu menegaskan ceramahnya. “Jika misalnya kau punya masalah pribadi, itu tak bisa menjadi alasanmu untuk berhenti mengikuti kelas.” “Ya, pak ....” “Kau masih punya semangat untuk hidup, tidak? Semangat untuk memperjuangkan negeri agar keluargamu bisa hidup dengan tenang?” “Tentu saja, Pak.” Lanya mendesah. Ia akan melakukan apa pun untuk Mama. “Kalau begitu apa yang kudengar itu benar?” “Nah, cuma guyonan belaka.” Lanya tertawa miris. “Bapak tahu sendiri, kadang orang-orang suka kelewatan kalau sedang bercanda. Mereka hanya stres dan tertekan karena harus menghadapi situasi seperti ini tanpa henti. Lagipula ... ini bukan hal baru, Pak. Bukankah di kelas Ibu Kepala dulu ada orang yang juga menyebar candaan serupa?” Dan, sebelum Wakil Kepala menaruh kecurigaan bahwa Lanya hanya sekadar mencairkan suasana, gadis itu menambah dengan penuh keyakinan. “Saya pun sudah menemui Ibu Kepala beberapa hari lalu dan membahas ini, Pak. Hanya saja, rumor yang kami dengar itu ... kami tidak menyangka akan tetap menyebar dengan luas.” Kedua bibir Sang Wakil Kepala membulat, sepertinya ia termakan ucapan Lanya dan menganggap itu serius. “Aku sangat mengerti,” katanya seraya mengoyangkan jarinya yang menunjuk Lanya. “Kau benar. Situasi sekarang ini... ah, parah sekali, kau tahu? Benar-benar membuat semuanya frustasi, bahkan sampai mendorong beberapa peserta untuk mundur. Tetapi itu tidak boleh terjadi lagi, Nak Lanya! Dan, omong-omong soal ancaman, Opsir Andi melapor jika ada zombi di perbatasan hutan. Mereka tidak henti-hentinya menyeret kaki, eh?” Lanya tak berkata-kata selain tertawa kecil. Ia melirik jam dinding di belakang Wakil Kepala dan menyadari waktu sudah lewat lebih dari satu jam sejak Ibu Kepala membuka acara pembagian Patron. Pasti sudah selesai sekarang. Ya sudahlah, batin Lanya. Ia sudah pasrah. Semangatnya sudah  padam pada keinginan memiliki Patron sejak ia tahu maksud busuk David dan kawan-kawannya tadi. “Sekarang pukul... oh, pukul empat sore,” gumam Wakil Kepala saat menyadari Lanya sedang memerhatikan jam dinding di belakangnya. “Sudah lewat waktunya sejak pembagian Patron, ya?” ia bertanya seolah tahu apa yang ada di pikiran Lanya. “Kamu bisa kembali sekarang, Nak. Pasti masih ada Patron untukmu. Jika memang tak ada yang tersedia lagi, kami akan mengusahakannya. kau adalah salah satu murid terbaik kami, mana mungkin kami takkan membalas semangat juang belajarmu?” Lanya tersenyum lebar tanpa sadar hingga deretan giginya terlihat. Ia pun beranjak dan membungkuk hormat kepada sang Wakil Kepala. “Terima kasih, Bapak.” “Berjanjilah kau akan selalu memperjuangkan negeri ini.” Lanya mengangguk dan tak lupa mengucapkan janji di hadapan sang Wakil Kepala, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruangan. Seusai menutup pintu, senyumnya menghilang dan semangat hidupnya langsung melebur seiring embusan angin dari jendela lorong di seberang. Meski Sekolah Perang akan menyediakan Patron khusus untuknya, fakta bahwa ia telah melewatkan acara dari awal membuat Lanya benar-benar tak bersemangat. Ia melangkah gontai meninggalkan gedung dan berniat untuk tidur di asrama saja, tapi itu berarti ia harus melewati lapangan dan satu gudang besar yang pintunya terbuka. Di sana, Lanya melihat jelas orang-orang masih berkumpul dan bercengkerama. Beberapa pejabat terlihat mondar-mandir bersama para opsir, mungkin mereka kerepotan mengurus soal ini, karena ekspresi cemas dan bingung membayangi wajah mereka. Selain itu, pemandangan di lapangan terlihat jauh berbeda kali ini. Ada makhluk-makhluk lain diantara para murid, berdiri di samping atau di belakang seseorang dengan patuh seolah mereka sudah terikat lama sekali. Mata Lanya berkedut. Ada rasa sakit yang menjalar di hatinya dan ia menghela napas. Tak ada gunanya. Lanya melengos pergi. Ia tak ingin melihat pemandangan tersebut lama-lama atau itu hanya akan semakin menyakitkan hatinya. Lanya melintasi lapangan sendirian di bawah terik matahari yang panas, di bawah tekanan pandangan orang-orang bersama para Patron yang berpenampilan misterius. Ia akan menghabiskan waktu di tepi sungai kecil saja. Lanya memutuskan begitu setibanya di persimpangan jalan menuju hutan dan asrama. Ia pun berbelok dan segera melewati jalan berpagar pepohonan menuju sungai yang berjarak delapan menit dari asrama. Gemericik sungai yang dingin adalah satu-satunya obat penenang baginya sekarang.     Tak ada siapa-siapa, ‘kan? Lanya bertanya-tanya di dalam hati seraya melihat sekeliling. Ia sudah memastikan bahwa orang-orang sedang berkumpul di asrama, gudang, atau tempat sekeliling yang nyaman untuk berkenalan dengan Patron mereka. Ia tak menemui seorang pun selama perjalanan menuju sungai, jadi Lanya bisa menghembuskan napas lega. Langkah gadis itu semakin dekat ketika suara gemericik air menyambut telinganya. Senyum tipis muncul di bibir, menggantikan rasa jenuh yang memenuhi otak. Saat Lanya akhirnya melihat sungai kecil yang terhimpit tanah berumput liar, ia tak bisa menahan keinginan yang menyeruak di dalam hati. Ia melangkah lebih cepat dan segera mengistirahatkan tubuh di tepi sungai. Ia buru-buru melepas kedua sepatu dan mencelupkan kaki ke dalam air, lalu merasakan dingin merasuk ke dalam kulitnya dengan nikmat. “Ooh, Ya Tuhan, segarnya!” gumamnya setengah mendesah. Lanya memejamkan mata untuk merasakan gejolak dingin menyebar ke seluruh tubuh. Aliran sungai yang tenang menyapu kakinya dengan lembut dan Lanya sangat menyukainya. Ia memainkan kaki sejenak, kemudian merebahkan tubuh di antara rerumputan liar. Lanya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengganti rasa penat di d**a dengan sejuknya udara alam, ketika hidungnya tiba-tiba mencium bau tidak asing. Lanya membuka mata dan wajah hancur khas zombi menghalangi pandangan matanya.     “PERGI!!” Lanya menjerit panik. Ia sontak beranjak menjauh dan kakinya terpeleset tanah becek. Lanya tercebur ke sungai dengan deburan keras dan mendapati sosok itu menelengkan kepalanya pelan. Kedua matanya yang kuning membusuk menatap Lanya dengan seringai lebar. Jantung Lanya berdentam-dentam hebat. Napasnya putus-putus tak karuan dan wajahnya memucat seputih pualam. Tangan Lanya berusaha menggapai-gapai sesuatu untuk dilemparkan. Oh, tolonglah … tolonglah! Batinnya panik. Dengan gemetaran ia akhirnya meraih sebuah batu sungai dan langsung melemparkan batu itu kepada si zombi, namun makhluk itu menangkapnya dengan tangkas. Lanya berjengit. Ia merangkak mundur dengan ketakutan. Ia tak bisa berpikir apa-apa dan adrenalinnya mendorong gadis itu untuk segera berlari, namun ia terpeleset lagi karena bebatuan sungai yang sangat licin. “Astaga, Dav, idemu benar-benar ... brilian.” Lanya terkesiap. Ia melihat ke sekeliling dengan kebingungan setelah mendengar suara familiar, kemudian menyadari ada dua sosok yang sedang duduk-duduk dengan santai di atas sebuah pohon tak jauh dari tempat Lanya berada. Hati Lanya mencelos. Itu adalah David dan Andre. Andre, yang biasanya jarang berekspresi dan cenderung pucat, kini wajahnya memerah karena tertawa terpingkal-pingkal. Sementara itu David hanya mengulum senyum geli di sampingnya. Ubun-ubun Lanya terbakar. Sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal, beribu u*****n memenuhi benak gadis itu. Bocah kurang ajar!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN