Ibu Kepala memulai ceramah dengan mata berbinar. “Benar,” ulang beliau untuk meyakinkan diri. “Brian yang kuat, David yang rajin, dan Lanya yang tangkas! Aku mengingat jelas saat kalian bertiga selalu berkumpul di pojok kelas, membicarakan entah apa itu, kemudian berakhir memberikan berbagai ide kecil yang cemerlang. Tanpa pemikiran kalian, kami takkan bisa menjangkau lebih banyak peserta dan mendirikan pagar-pagar bertegangan listrik di sudut-sudut perumahan.”
Lanya menanggapi dengan senyum tipis. Padahal ide itu semata-mata muncul karena kepentingan pribadi mereka dahulu. Hanya keluarga Lanya dan kakak beradik itu yang tinggal di perumahan di kaki bukit, sebuah komplek yang dengan mudahnya akan terekspos oleh kawanan zombi maupun penjajah, tak seperti para penyintas yang berhasil bertahan di perumahan elit. Tetapi, oh, untunglah kalau ternyata Ibu Kepala menganggap itu sebagai upaya yang begitu baik! Selama ini Lanya dan Brian sering memikirkan kalau-kalau orang lain berpikiran negatif tentang gagasan itu.
Kekhawatirannya sia-sia saja, dan itu berita baiknya.
Ibu Kepala lantas bersandar pada telapak tangan. Entah apa yang beliau pikirkan sembari memandang langit-langit yang bernoda cokelat jorok bekas kebocoran air.
“Apa Brian sudah membalas surat-suratmu?” tanya Ibu Kepala pelan.
Lanya menghela napas. Sebuah gelengan samar, enggan mengaku bahwa Brian tidak kunjung memberi kabar ke Sekolah Perang, membuat kedua orang di ruangan itu tertunduk lesu. Lanya tak sudi membenarkan berbagai dugaan David maupun Marissa, atau rumor-rumor menjengkelkan dari para peserta lain, bahwa Brian tidak lagi peduli dengan sekolah ini semenjak mutasi ke Kamp Sektor yang lebih baik.
Lanya yakin ada sesuatu yang menghalangi Brian untuk menerima atau—jika dia sudah menerimanya—membalas belasan surat yang dikirim Lanya sejak keberangkatannya. Sebenarnya tidak hanya Lanya saja. David juga mengirim surat, namun ia berhenti karena kekecewaan setelah tak ada balasan selama beberapa bulan pertama.
“Selain Brian, apakah Ibu tidak bertukar kabar dengan pihak Kamp Sektor?”
“Tentu kita sudah lama melakukannya, Nak.” Ibu Kepala menghela napas. Kedua matanya mengerling ke arah tumpukan berkas dari balik kacamata. “Sebagian Patron itu disarankan oleh pihak Kamp Sektor.”
“Kenapa tidak bertanya soal Brian kepada mereka?”
“Hus.” Gertak Ibu Kepala. “Tidak sopan seperti itu.” Jawabannya membuat Lanya kembali menghela napas berat. “Tetapi, melihat kabar bahwa Kamp Sektor baik-baik saja, aku yakin ... Brian juga demikian. Situasi di sana memang sangat sibuk dibanding Sekolah Perang semacam kita. Mereka menerima berbagai misi dan tugas resmi dari pusat. Ada begitu banyak yang harus dilakukan,” lanjut Ibu Kepala.
“Baiklah ....”
“Daripada itu,” sela Ibu Kepala, membuat sang gadis kembali tegang dengan ekspresi beliau yang kaku. “Ada apa dengan kalian?”
“Saya dan ... siapa?”
“David!” tegas Ibu Kepala. “Seperti yang kubilang tadi, kau dan kedua kakak beradik itu adalah tim yang paling cemerlang di Sekolah Perang dahulu, tetapi kenapa hubungan kalian nampaknya berantakan saat Brian pergi?”
Lanya mengangkat bahu. “Karena tak ada yang menengahi kami? Pertengkaran saya dan David sudah sangat biasa terjadi sejak dahulu, Ibu, hanya saja Brian selalu menjadi perantara kami sebelum orang lain mendengarnya.”
Ibu Kepala mengangkat alis. Sepertinya beliau juga baru mengetahui hal itu, sehingga kekakuan di wajahnya pun mencair. “Tapi,” ujar beliau, “bukan berarti karena Brian sudah mutasi, maka kalian bisa meneruskan pertengkaran ini sesuka hati. Ayolah, kalian sudah dewasa. Tak ada yang menginginkan perseteruan antara dua peserta cemerlang kami di sekolah ini.”
Cemerlang, cemerlang. Blah blah. Lanya mulai lelah mendengar kata itu. Sekali lagi ia mendengarnya, ia akan memutar bola mata dengan begitu sarkas di depan Ibu Kepala.
“Ditambah lagi,” Ibu Kepala sepertinya tidak akan berhenti berceloteh, seolah-olah sudah bertahun-tahun lamanya tak bersua dengan kawan gosipnya. “Patron akan datang dalam hitungan hari, Lanya. Hari Senin depan mereka akan tiba! Aku sangat berharap bahwa kau dan David akan kebagian Patron-patron yang baik.”
“Oh, yah ....”
“Karena itu,” lanjut sang kepala sekolah sembari menepuk-nepuk tangan Lanya di atas meja, “perbaiki hubunganmu dengan David. Dan, ah, ah!” Ibu Kepala mengangkat telunjuk, paham bahwa Lanya baru saja akan menyelanya. “Aku tidak peduli siapa yang memulai atau siapa yang salah. Dia yang mau memperbaiki hubungan terlebih dahulu adalah yang paling mulia di mata Tuhan. Maka berbaikanlah.”
Lanya dengan cepat merespon. “Ibu yang baik,” ujarnya, “sudah tidak ada celah bagiku untuk memperbaiki hubungan dengan David. Aku sudah kehilangan harapan padanya.”
Bagai tersambar petir di siang bolong, Ibu Kepala terhenyak dengan mulut menganga. Selama sesaat beliau tak mampu mengucapkan apa pun. Lalu, dengan begitu pelan, bertanya. “Mengapa ...?”
Lanya sama sekali tak berminat menjelaskan kebobrokan ide David. Ia hanya akan terdengar seperti mengada-ada dan memojokkannya, sementara David berusaha keras untuk menciptakan citra yang begitu baik di Sekolah Perang selama waktu liburan satu minggu kemarin. Apa pun cara yang Lanya lakukan untuk menjelaskan isi pikiran David akan dianggap sebagai penuduhan. Orang-orang telah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri akan kerja keras David, dan pemuda itu memang tahu betul cara menggiring opini.
Maka Lanya hanya mengangkat bahu. “Butuh waktu satu tahun bagi saya untuk menceritakan semuanya panjang lebar.”
Jawaban sarkas Lanya membuat Ibu Kepala dongkol. Beliau menggeleng kesal dan kembali beranjak, menaruh tumpukan berkas Patron ke atas meja lagi.
“Kalau kau menolak untuk berbaikan dengan David dan ikut andil di rencananya,” kata beliau. “Maka setidaknya jangan terlihat menganggur saat yang lain sibuk. Membantulah di kantin.”
Itu, tentu saja, adalah sebuah sindiran. Tidak ada yang bekerja di balik meja bufet dan menyediakan sarapan selain para peserta yang tidak punya harapan untuk ikut andil dalam Sekolah Perang. Siapa pun yang berakhir di kantin berarti sudah terlalu tua, terlalu muda, atau terlalu ... bodoh untuk bisa memberikan ide-ide di kelas, maupun ikut kelas fisik.
Tetapi Lanya menelan sindiran itu dengan bulat-bulat. “Baiklah, Ibu,” ujarnya dengan penuh percaya diri, membuat sang kepala sekolah menatapnya dengan tercengang. “Kebetulan saya juga akan mengunjungi kantin. Saya akan mengecek barangkali staf dapur membutuhkan bantuan seseorang yang sehat!”
Lanya meninggalkan kantor Ibu Kepala dengan langkah lebar. Seiring dengan perutnya yang keroncongan lapar, ubun-ubunnya juga mulai memanas. Wow. David benar-benar sudah merebut hati Ibu Kepala. Apa yang harus Lanya lakukan untuk menyeimbangi itu? Tentu saja Lanya takkan diam saja. Ia harus memastikan bahwa dirinya masih memiliki tempat di Sekolah Perang. Bukan karena ia merindukan panggung yang pernah selalu didapatnya saat masih berkawan dekat dengan Brian dan David, melainkan ini semua untuk Mama. Kalau Lanya bersikap baik di Sekolah Perang, maka Mama pun juga akan mendapat respek yang layak.
Lanya mendesis gemas. Duh, batinnya. Apakah dia harus bertekuk lutut pada rencana David yang sudah ia ketahui ending-nya kelak?
Ketika Lanya tiba di dapur kantin, ia sedikit terhenyak dengan kekacauan di dapur. Ada empat staf yang selama ini bekerja di sana, tetapi Lanya paling dekat dengan Tante Wanda, wanita seusia Mama yang selalu menggunakan kursi roda. Kendati demikian Tante Wanda adalah staf dapur yang paling sibuk; ia mengurus masak-memasak di panci-panci besar, memastikan bahwa nasi yang dinanak oleh kedua pemuda tidak kebablasan menjadi bubur, dan menghitung segala pengeluaran dapur agar tidak melebihi anggaran yang sangat terbatas. Saat Lanya mengintip dari pintu belakang dapur, paduan suara benturan tutup panci dan teriakan Tante Wanda memenuhi ruangan. Beliau baru saja menyicip sayur kuah di panci besar, mengomeli seorang anak muda yang menuangkan gula terlalu banyak, lantas bergeser ke arah wajan penggorengan yang ditandangi pemuda lainnya. Ia mengingatkan dengan lantang bahwa tempe-tempe itu akan gosong, kemudian bergeser lagi untuk memastikan bahwa nasinya sudah matang. Saat Tante Wanda memutar kursi rodanya berbalik, ia terkejut melihat kehadiran Lanya.
“Nak Lanya!” Tante Wanda mengernyit. Ia mencondongkan tubuh dan menyipitkan mata, memastikan bahwa memang Lanya yang sedang menyapa kepadanya. “Ada apa? Apakah kelas sudah bubar?”
“Em, tidak juga.” Lanya tersenyum. “Teman-teman masih tertahan di kelas, tetapi aku baru saja menemui Ibu Kepala sehingga bisa keluar dahulu. Dan, sepertinya ....” Ia terdiam sejenak, memastikan bahwa situasi dapur memang kacau. “Sepertinya aku bisa menghabiskan waktu sampai jam makan siang tiba dengan membantu. Apakah kalian membutuhkan bantuan?”
“Ya!” kedua pemuda di dalam ruangan itu spontan berseru, membuat Lanya refleks menyeringai geli. Tante Wanda hanya menggeleng jengkel.
“Kalau begitu bantu urusi panci itu! Pastikan rasanya sudah pas,” kata Tante Wanda, lantas menoleh ke arah Dio, si pemuda yang berwajah lega. “Kau pindahkan saja wadah nasi itu ke bufet. Cepat, cepat!”
Dio menyilakan Lanya untuk menggantikan mengurus kuah sayur dengan sukacita. Sudah jelas pemuda itu jarang memasak kuah, dan terlalu lama menyempurnakan teknik menanak nasi yang sesuai dengan selera para orang tua dan peserta Sekolah Perang lainnya.
“Omong-omong, apa kau tadi menemui Ibu Kepala, kak?” tanya Dio dari sisi lain ruangan. “Apa benar para Patron akan datang sebentar lagi?”
Lanya baru saja memasukkan sesendok garam tambahan, lantas mengangguk. “Ya,” ujarnya. “Sepertinya minggu depan mereka akan datang.”
Dio dan kawannya satu lagi spontan saling tatap dengan takjub.
“Wah,” kata Dio. “Aku sangat penasaran Patron macam apa lagi yang akan datang ke sekolah ini.”
“Apakah akan sehebat Patron Kak Brian?”
“Mungkin saja ada yang seperti itu, tetapi tidak banyak. Patron-patron semacam itu sesungguhnya lebih mahal harga kontraknya,” sahut Tante Wanda. “Kenapa kau bertanya? Kemungkinan kita toh takkan menerima Patron.”
Lanya bertukar tatap dengan Dio. Ah, lihatlah ekspresi yang seketika meredup itu. Sekolah Perang ini sangat sederhana, dan mengontrak Patron yang jumlahnya berkali-kali lipat daripada periode lalu pasti menguras kas anggaran sekolah. Lanya, yang sempat memindah berkas Patron di kantor Ibu Kepala tadi, yakin bahwa jumlah Patron yang dikontrak takkan mengimbangi jumlah peserta Sekolah Perang.
Harus ... ada pihak-pihak yang rela tidak mendapat Patron, dan para staf dapur jelas takkan menerimanya.
Sayang sekali. Seandainya Dio dua tahun lebih tua daripada usianya sekarang, dia pasti sudah diizinkan masuk ke kelas-kelas dan menerima pendampingan Patron. Pemuda itu punya semangat yang tinggi, namun usia dan kondisi fisiknya belum memenuhi syarat.
“Tapi Kak Lanya akan dapat, kan?” Dio masih berusaha mempertahankan senyumnya. “Kak Lanya kan hebat, aku penasaran sekali Patron macam apa yang akan mendampingi kakak kelak!”
Ujung bibir Lanya berkedut. Ia bersusah payah membalas senyum pemuda itu. Peringatan Ibu Kepala membuatnya sedikit skeptis. Apakah dia akan kebagian Patron, atau David punya rencana untuk menghalang-halanginya mendapat Patron yang bagus?
“Tentu saja Lanya akan dapat,” lagi-lagi Tante Wanda menjawab. Saat Lanya menatapnya, Tante Wanda tersenyum kaku. Sebuah senyum yang paling tulus dari wajahnya yang selalu mengerut-ngerut marah. “Dan cuma Patron terbaik yang akan cocok dengan Lanya dan semangatnya.”