Tekanan

1703 Kata
Ketangkasan Sabrina untuk membalas Lanya membuat gadis itu harus memutar otak dengan cepat. Tentu saja Sabrina tidak akan membiarkan panggung Lanya untuk bertahan lama. “Mana mungkin David akan sejahat itu untuk mendorong para paman dan bibi?” tekan Sabrina. “Dimana logikamu, sih? Hanya karena banyak kelompok yang dibentuk untuk menyusup, apa kau kira semuanya akan bergerak sekaligus? Dasar bodoh! Tentu saja ada tim yang menyerang dan berjaga! Memang kau pikir David setega itu untuk mengerahkan para paman dan bibi yang sudah sepuh untuk ikut menyusup? Kalau semua menyusup, maka siapa yang akan menjaga?” “Oh, benar juga,” celetuk seseorang. Gumaman kegelisahan tadi mendadak berganti dengan tawa pelan dan desah lega. Para orang tua di pojok kantin kembali menyantap sarapan mereka tanpa mau berpikir lebih panjang. Biarkan para pemuda yang bertengkar dengan penuh semangat di pagi hari ini. Mereka toh selalu menjadi bagian yang menerima hasil, atau memberi usulan kalau-kalau para pemuda itu tidak kunjung menemukan solusi. Sabrina ternyata tidak bodoh, tetapi Lanya tidak menyerah. Tentu saja apa yang Sabrina ucapkan itu ada benarnya, tetapi Lanya memahami David seperti saudara kembarnya sendiri. Mungkin saja rencana itulah yang dimulai pertama kali, namun seiring berjalannya waktu, David pasti akan mendorong mereka semua. Ayolah, ini David. Lanya tahu David melebihi Marissa yang berusaha mendekatinya, atau Sabrina yang mati-matian mencoba menggantikan posisi Lanya di samping David. “Tentu.” Lanya mengangguk, tak kalah percaya diri. “Tetapi apa kau tahu David?” bisiknya, menegaskan posisi Sabrina saat ini. Gadis itu melotot, dan beruntunglah tak banyak yang tahu, sebab wajahnya memerah padam sekarang. “Apa yang kau tahu tentangku, Anya?” David tiba-tiba angkat bicara. Seisi kantin sekarang menatapnya, dan panggung berpindah untuk menonjolkan David. Lanya terperangah saat menyadari ekspresi yang disuratkan oleh wajah rupawan itu. “Kau sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri,” ujar David kecut. “Tetapi semenjak Brian pergi, kau berubah. Aku tetap mencoba untuk melibatkanmu pertama kali pada setiap usaha yang kuupayakan untuk sekolah ini, tetapi kau selalu menolakku, dan kemarin kau sudah berbuat sejauh meninjuku. Maaf, aku sesungguhnya bukan tipe orang yang suka mengungkit, tetapi ini berhubungan dengan kebaikan kita semua.” Kebaikan gundulmu. Lanya nyaris menjerit, namun seisi kantin telah mendaratkan tatapan penuh penghakiman dan keheranan kepada Lanya sekarang. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di balik obrolan Lanya dan David selama ini. Yang mereka tahu adalah David yang menebar senyum, berusaha keras membentuk berbagai rencana memperbaiki situasi Sekolah Perang bahkan tidak berlibur, sementara Lanya selalu menentangnya dan menikmati liburan seminggu di rumah. Kekecewaan yang ditunjukkan David membuat Lanya seolah-olah adalah orang jahatnya sekarang. Dan, lelaki itu memenangkan situasi pagi ini. Bagus. Peran Lanya sudah berubah menjadi sang antagonis di Sekolah Perang sekarang. + + + Waktu menunjukkan pukul sebelas siang lebih dua belas menit. Sarapan dan segala dramanya sudah lewat sejak beberapa jam yang lalu, bahkan Marissa sekarang mau duduk bersama Lanya dan mengobrol sedikit, dan rasa lapar yang kembali menerjang perut membuat gadis itu mengantuk. Namun, ia tidak bisa tidur kini—tidak—jika sekarang adalah kelasnya Ibu Kepala. Ibu Kepala adalah sosok wanita bertubuh pendek, tetapi ia tidak sependek Marissa. Sementara Marissa terlihat seperti boneka cantik berpipi merah, Ibu Kepala lebih nampak seperti boneka salju. Wig berwarna kelabu adalah alasan mengapa kepalanya terlihat begitu besar, dan semua tahu Ibu Kepala mengenakan wig untuk menutupi kulit kepalanya yang nyaris botak akibat virus. Ibu Kepala juga mengenakan kacamata yang lensanya sangat tebal, dan sekali lagi, rabun pada matanya juga disebabkan oleh alasan yang sama. Ibu Kepala mengajarkan bagaimana caranya berargumen dengan baik, bertutur kata sopan kepada siapa pun, agar mereka tetap bisa tampil berkelas dihadapan para penjajah. Kelas yang satu ini benar-benar tidak berguna menurut kawan-kawan Lanya, karena menurut mereka apa gunanya berbaik-baik dengan orang-orang yang sudah merebut ibukota dan mayoritas daerah di negeri ini? Mereka cuek saja untuk tidur di kelas, tidak seperti Lanya yang tetap mempertahankan matanya agar terjaga. Kalau sudah begitu, biasanya Ibu Kepala bakal menceramahi mereka habis-habisan dengan mengatakan bahwa semangat kebangsaan mereka sudah pudar, tetapi tetap saja tak ada yang berubah. Kelas berakhir pada pukul setengah satu, dan rasanya waktu berjalan sangat lambat hingga Ibu Kepala memutuskan untuk mengakhiri kelas. Ketika ia melenggang pergi, kelas sontak kembali ramai. David merebut posisi Ibu Kepala di depan dan berseru, “Hei semua, aku butuh perhatian kalian!” Kelas yang semula ramai spontan berubah serius. Semua mata tertuju pada sosok rupawan di depan kelas itu. Para gadis yang menatapnya dengan mata berbinar akan menghentikan para lelaki yang sengaja berisik di belakang mereka agar bisa mendengar suara David. “Dengarkan aku, oke?” David memelankan suaranya. Ia memerintah siapa pun yang berada di sisi-sisi dinding untuk menutup pintu dan jendela. Seseorang bahkan menyelinap keluar untuk berjaga di depan kelas. Lanya mendesah. Ia tahu apa yang akan dilakukan David. “Oke, jadi, ini adalah waktunya aku memberitahu kalian rencana besarku,” kata David masih dengan bisikan yang bisa terdengar seisi kelas. “Dan, bagusnya, kita sudah mendapatkan seseorang yang bisa membantu kita untuk segera bertindak, dan kita perlu... oh, tunggu sebentar. Ada seseorang yang tidak seharusnya berada di sini.” Entah  sihir  macam  apa  yang  terkandung di ucapan David, tapi  semua mata langsung tertuju kepada Lanya, gadis yang duduk di pojok belakang kelas. Lanya spontan melotot kesal kepada David, dan ia tahu betul Marissa jadi salah tingkah karenanya. Lanya tahu gadis itu bahkan nyaris beranjak menjauh. Lanya menghela napas. Dasar rajanya drama. Ia pun beranjak dari alas dan mengucapkan sepatah kata  “dadah”  kepada  Marissa, kemudian bergegas keluar kelas. Ia tak menggubris puluhan tatapan tajam yang diarahkan kepadanya dan membanting pintu kelas ketika melangkah keluar. Samar-samar terdengar ejekan Sabrina, entah apa itu, namun tawa seisi kelas membuat hati Lanya berdenyut nyeri. Wow, semudah itu orang-orang membalikkan punggung darinya sekarang? Lanya melewati beberapa lorong dan ruangan-ruangan luas bekas ruang kerja para buruh yang sudah kosong dengan langkah cepat. Ia akan kembali ke asrama dulu untuk menaruh buku catatannya. Ia berniat untuk makan siang duluan di kantin. Bukankah itu lebih baik? Mumpung kantin masih sepi. Kalau pun ada para peserta lain, maka mereka berasal dari kelas yang berbeda, dan tidak mendengar apa yang baru saja terjadi di kelas Ibu Kepala tadi. Itu, tentu saja adalah rencana Lanya, ketika ia bertemu Ibu Kepala tepat di luar pintu bangunan. Lanya menyapa sang kepala Sekolah Perang, namun beliau tidak nampak akan segera berlalu. Ibu Kepala terus menatapnya. Lanya mau tidak mau menghentikan langkah. “Apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan, Ibu?” “Kenapa kau tidak di kelas?” “Maaf?” “Aku tahu apa yang terjadi di dalam sana.” Hati Lanya mencelos saat Ibu Kepala mengatupkan bibir penuh arti. “David sedang membentuk rencana baru yang bagus! Kenapa kau tidak ikut serta, Lanya?” “Ah, sebenarnya ....” “Aku mendengar selentingan,” kata Ibu Kepala lagi, membuat jantung Lanya jumpalitan. Oh, semoga Ibu Kepala tidak mendengar soal kejadian tadi pagi di kantin, atau penyebab memar ungu di wajah David, yang rasa-rasanya saat ini lebih genting daripada ancaman pesawat intaian penjajah yang sesekali melintas di atas hutan. “Selentingan apa, Ibu?” “Katanya kau menentang rencana David, benar?” “Bukannya saya menentang—” Lanya memotong ucapannya sendiri saat Ibu Kepala mengangkat telunjuk. “Ah, ah,” ujar beliau. “Mari membicarakannya di kantorku saja, bagaimana?” Dan, tanpa memberikan kesempatan Lanya untuk berbicara lagi, Ibu Kepala melenggang menuju bangunan yang berbeda. Lanya memandang punggungnya dengan dongkol sekaligus tak percaya, antara merutuk David dan mengasihani perutnya yang mulai keroncongan lagi. Ini bukan pertama kalinya Lanya mengunjungi kantor Ibu Kepala, mengingat dia berkawan dekat dengan keponakan beliau yang seringkali bertandang di sana. Kantor Ibu Kepala dahulu adalah kantor pemilik pabrik, dengan meja dan jajaran lemari yang tak pernah digeser bahkan sejak Sekolah Perang pertama kali dibuka. Kerak melapisi lantai dan dindingnya dengan tebal, begitu susah untuk digosok bahkan dengan sekuat tenaga. Aroma pemutih dan buku berjamur menggelayut pekat di ruangan itu. Debu bertebaran dengan sempurna di sekeliling meja, terutama ketika nampak setumpuk berkas yang tak pernah Lanya lihat sebelumnya. “Masuk, Nak. Masuk!” kata Ibu Kepala. “Oh, jangan lupa untuk tutup pintunya.” Lanya melakukan setiap permintaan Ibu Kepala dengan sigap. Ia mengekori beliau menuju meja kerjanya, dimana Ibu Kepala sedang sibuk merapikan catatan yang berceceran dan menumpuk berbagai berkas. Lanya mengulurkan tangan untuk menurunkan tumpukan tinggi itu dari meja. “Berkas-berkas para Patron,” kata Ibu Kepala dengan seringai lebar, nampaknya lupa bahwa tujuannya kemari adalah untuk menginterogasi sang gadis. Nampaknya pembahasan akan Patron membuat beliau girang. Dan, yah! Lanya juga merasakan hal yang sama saat mengetahui bahwa tumpukan berkas itu menyimpan data diri para Patron. Ia bahkan lupa sama sekali bahwa ini sudah waktunya para Patron akan datang, kali kedua di Sekolah Perang. Lanya kembali memerhatikan tumpukan berkas itu. “Tumpukannya tebal sekali, Ibu. Apakah Ibu mengundang banyak Patron sekaligus?” “Ya, tentu saja!” “Rasanya tahun lalu hanya segelintir saja yang datang.” “Ini karena Brian.” Ibu Kepala tak bisa menahan senyum. “Brian dan Patronnya, Dana, sangat membawa keberuntungan ke Sekolah Perang kita yang sederhana ini. Oh! Tidak lelah aku mengulang beribu kali kalau mereka adalah rekan tempur pertama yang berhasil menembus Kamp Sektor.” Lanya berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya. “Ibu Kepala ingin membuat rekan-rekan tempur seperti Brian dan Dana, ya?” Ibu Kepala menatapnya dengan heran. “Tentu saja, Lanya. Siapa yang tidak ingin?” Lanya merasa bahwa ada kepentingan lain di balik keinginan itu. Kemana semangat untuk mempertahankan Sekolah Perang, ketika sekarang yang menjadi tujuan adalah memperbanyak delegasi agar bisa diterima di berbagai Kamp Sektor? Lanya menghela napas. Mengapa mendadak ada persaingan? Derit kursi Ibu Kepala memecahkan lamunan sang gadis. Beliau pun mempersilakannya duduk, dengan senyum yang mulai memudar dan berganti dengan ekspresi kaku. “Dan aku sangat, sangat berharap bahwa kau dan David termasuk ke dalam delegasi yang selanjutnya,” ucapan Ibu Kepala mengejutkannya. Apakah Ibu Kepala baru saja menyebut nama Lanya? “Saya, Bu?” “Kenapa kau nampak heran?” Ibu Kepala tersenyum tipis. “Kau dan David termasuk murid-murid yang cemerlang dalam bidang yang berbeda. Begitu pula David. Kedatangan kalian bertiga dahulu seperti berkas-berkas cahaya yang menembus awan kelabu di Sekolah Perang ini!” Lanya mendengus geli. Lagi-lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN