Kehebohan Pagi

1799 Kata
Lanya sama sekali tidak mengira bekas merah di hidung David bakal menjadi berita menggemparkan di Sekolah Perang. Maksudnya, halo, itu cuma sekadar tinjuan seorang Lanya, dan mendadak gadis itu bangun keesokan harinya dengan sambutan heboh? “Apa kau yang melukai David kemarin?” “Apa yang kau lakukan, Lanya?” Lanya bahkan belum terbangun seratus persen, tetapi beberapa gadis sudah mengelilingi kasurnya seolah-olah dia baru saja ditabrak sebuah truk. Lanya hanya mampu berkata “hah?” dan “apa maksudmu?” hingga Marissa mendekat ke tempat tidurnya dan menarik gadis itu. “Ayo,” kata Marissa, menyibak para gadis yang menghalangi Lanya untuk keluar. “Kita harus bicara.” Lanya mampu merasakan genggaman Marissa begitu erat di pergelangan tangannya, dan ini tidak berarti baik. Sembari menguap dan mengucek mata, Lanya menyamakan langkah lebar Marissa keluar asrama. Ia bergidik saat merasakan rerumputan dingin dan tanah basah dengan kaki telanjang.   “Hei, apa sih?” ujar Lanya bingung. “Kenapa kalian semua heboh pagi-pagi sekali?” “Aku kan sudah bilang,” kata Marissa, dan Lanya baru menyadari kilat kekesalan di kedua mata gadis itu. Lanya spontan merasakan perutnya mulas. “David sudah berusaha keras untuk membantu, dan rencana-rencananya pun tidak seburuk dahulu. Kenapa kau tidak mau menerimanya sih?” Rasa kantuk Lanya seketika lenyap. “Memangnya kau tahu apa yang direncanakan David sekarang?” Marissa nampaknya tidak tahu. Gadis itu menahan napas, mencurigai Lanya sebagai orang yang pertama kali tahu detil rencana David kendati dia mendengarnya belakangan. Rona merah semburat di wajah Marissa dan bibirnya mengatup rapat. “Apa pun itu,” kata Marissa, “dia telah membicarakannya dengan Bibi dan beliau tidak keberatan. Kalau Ibu Kepala saja tidak menolak, mengapa kau harus menentangnya?” “Kalau begitu kenapa responku begitu penting?” Lanya meradang. “Satu-dua penolakan juga pasti takkan berpengaruh kalau Ibu Kepala setuju, kan? Lagipula ini urusanku dengan David.” Kalimat terakhir Lanya membuat Marissa melotot. Lanya pun menyipitkan mata. “Kenapa kau marah?” “Aku tidak marah, aku cuma kecewa.” Marissa berkilah. “Kalau masih saja ada pertengkaran di Sekolah Perang ini, bagaimana bisa rencana-rencana untuk memperbaiki kehidupan kita akan berjalan?” Lanya sesungguhnya sangat mampu untuk mendebat Marissa lebih jauh, terlebih-lebih gadis ini adalah teman dekat yang begitu Lanya pahami sifatnya, namun ia memilih untuk menutup mulut. Sudahlah. Hari masih pagi, perutnya keroncongan menanti sarapan bubur kecap asin yang membosankan, dan Lanya tak mau menambah satu musuh lagi. Lanya memijat pelipis. “David akan baik-baik saja,” kata Lanya akhirnya. “Kau tak perlu terlalu memikirkan pertengkaran kami. Bukankah aku dan David selalu berselisih bahkan saat masih ada Brian?” “Bukan itu.” Marissa terlihat ingin menangis sekarang. “Aku tak mau sahabatku sendiri menentang rencana yang sudah dibuat sedemikian rupa untuk memperbaiki situasi kita, Lanya.” “Situasi apa tepatnya yang harus diperbaiki?” desak Lanya. “Sembako kita baik-baik saja. Apa David berulang kali mengatakan kepadamu bahwa kita hanya menerima sisa-sisa?” “Bukankah kenyataannya seperti itu?” “Apakah Ibu Kepala mengeluh begitu kepadamu?” Pertanyaan Lanya jelas-jelas membuat Marissa malu. Ibu Kepala tak pernah menyinggung soal kekurangan bahan sembako. Jelas tidak. Bahkan Ibu Kepala yang berulang kali menekankan bahwa situasi dunia memang sedang sulit, terlebih-lebih negeri mereka yang terjajah, dan pasokan rutin sembako saja sudah patut disyukuri. Sekali lagi, hanya David dan kawan-kawannya yang bilang bahwa mereka mendapat sisa-sisa dari Kamp. “Cuma Brian yang tahu,” kata Lanya dengan tegas. “Cuma dia yang tahu apakah kita memang benar-benar menerima sisa dari Kamp-kamp sementara pasokan mereka lebih banyak.” “Kalau begitu apa Brian membalas surat-suratmu?” Marissa akhirnya punya senjata untuk membalas. Alis Lanya berkedut saat Marissa menatapnya dengan sebal. “Beribu surat yang kaukirim ke Kamp Brian tak pernah dapat balasan, kan? Bahkan kurirnya saja sudah menyuruhmu menyerah pada minggu lalu.” “Itu—” “Sudahlah, Lanya. Daripada luntang-lantung menanti kebenaran yang tak ada hasilnya, kenapa tidak memulai persiapan untuk berjaga-jaga saja?” tukas Marissa, dan tanpa memberikan kesempatan Lanya untuk menjawab, gadis itu berlalu dengan langkah menghentak. Lanya menyaksikan kepergian Marissa dengan lesu. Ah, David. Sepertinya dia sudah tahu kalau keponakan Ibu Kepala menyukainya. Apakah selama minggu liburan kemarin, David melancarkan berbagai aksi untuk mendapat dukungannya? Lanya menyesal sekarang. Ia kembali ke dalam asrama dengan langkah menyeret. Gadis-gadis yang mengerumuninya tadi sudah semburat mengurus kesibukan masing-masing, terlebih sudah saatnya mereka berebut bilik-bilik kosong di sungai untuk mandi. Lanya sudah berbilas kemarin, maka hari ini ia tidak diizinkan untuk mandi lagi. Dengan lesu ia duduk di kasurnya dan merapikan segala hal. Kendati para gadis itu sibuk, Lanya bisa merasakan berbagai tatapan penuh rasa penasaran. Firasat Lanya tidak enak. Apa yang bakal terjadi selepas ini? Apa yang bakal David perbuat? Wow. Untuk pertama kalinya, Lanya benar-benar enggan untuk bangkit dari kasur dan menyambut hari.   Firasat Lanya perlahan-lahan terbukti. Marissa memang tidak mau sarapan bersamanya lagi, tetapi masih ada beberapa gadis yang menemani Lanya di meja. Lanya tahu kedatangan mereka adalah demi mengupas kebenaran rumor yang beredar, namun Lanya tak keberatan. Ia tahu ini adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama orang-orang. Ia juga perlu tahu sejauh apa, dan seburuk apa, rumor yang beredar di Sekolah Perang. Karena, Demi Tuhan, tempat ini lama-lama menyebarkan virus lain yang lebih menyakitkan daripada virus di sekujur kulit mereka! Lanya tengah menyendok bubur kecap asin ketika kerumunan di kantin semakin memadat. Semula hanya ada Lanya dan gerombolan gadis yang penasaran akan kebenaran rumor di pojok kantin, kemudian beberapa kelompok kecil yang tersebar di meja-meja kayu panjang. Sekarang, antrean di konter prasmanan mulai bertambah pesat, dan keramaian memuncak kala antrean paling akhir dijejali oleh David dan kawan-kawannya. Duh. Lanya menunduk semakin dalam, tepat ketika gadis di sampingnya menyenggol. “Wah, David sudah datang.” Lantas? Lanya hanya berharap Marissa sekarang tidak ikut bergabung dengan kelompok David, dan tampaknya keinginan satu ini terkabul. Ia mendengar kawannya yang lain tengah mengabsen siapa saja yang mendampingi David di antrean. Tak ada Marissa. Hanya komplotan yang sibuk mengejek memar di wajah rupawan David. “Lihatlah mahakarya ini!” Andre berseru, membuat Sabrina terpingkal-pingkal. Sementara David hanya memutar bola mata, seolah-olah ini sudah diulang untuk keseribu kalinya pagi itu. “Teman-teman, lihatlah wajah kebanggaan kita pagi ini!” Ini bukan hal yang luar biasa. Salah satu kebiasaan para peserta Sekolah Perang muda adalah saling mengejek, dalam artian positif. Mereka sering berlatih fisik untuk meningkatkan kemampuan bertahan diri, dan tidak jarang bakal menimbulkan memar-memar di sekujur tubuh. Mereka sering menertawakannya bersama, terlebih-lebih ketika fitur wajah mereka bengkak menggelikan, seperti sekarang ini. Tentu saja perhatian yang David dapatkan sekarang mayoritas adalah seringai penuh simpati, tetapi kesannya berbeda. Tak ada tawa. Tak ada yang menertawakan sama sekali, selain lirikan-lirikan curiga kepada Lanya setelah itu. “Oh!” Andre kini mengacungkan telunjuknya. “Ternyata seniman mahakarya David sudah berada di sini, rupanya?” Suasana menghening sesaat. Lanya tak bisa menunduk lebih dalam daripada sekarang saat mendapat tatapan-tatapan tajam dan penuh penasaran. Ia bisa mendengar gesekan pelan para gadis di sekelilingnya yang berusaha menjauh sehalus mungkin. Sialan. Sialan! Oh, sial— Lanya terkejut saat Sabrina tiba-tiba sudah berada di dekat mejanya. “Lanya?” gadis itu berusaha menahan tawa. Nampaknya memar di wajah David benar-benar menghiburnya. “Kau keren. Sungguh. Tak ada yang pernah berani menyentuh wajah David, dan kuakui, kau benar-benar keren!” Yo, apakah gadis itu bercanda? Apakah dia memang benar-benar memaksudkannya, atau ini adalah sebuah sindiran? Setelah melalui serangkaian kejadian pagi yang menghebohkan, sekaligus menilik dari sifat David yang selama ini ia ketahui, Lanya cenderung memercayai kemungkinan kedua. Sabrina itu sama saja dengan David. Mereka sama-sama menjengkelkan, dan layak bagi Lanya untuk berpikir demikian. Lanya menghela napas. Tanpa sadar jemarinya mencengkeram ujung sendok dengan erat saat menyuapkan sisa bubur. Sabrina terus mengoceh, dan nampaknya tidak berminat untuk mengajak mengobrol Lanya, karena dia terus melirik ke arah para gadis lain di meja itu. Namun, Lanya mulai kehilangan kesabaran ketika Sabrina akhirnya berkata, “Kau tahu, David selalu berusaha yang terbaik untuk kita ... sayang, ada saja orang-orang yang, kau tahu, berpikiran sempit dan ... ah, begitulah.” Lanya beranjak. Suara derit kursi yang terlampau nyaring menarik perhatian sekeliling, dan Lanya seketika merasa malu. Padahal dia hanya berniat untuk menyingkirkan mangkuk buburnya yang telah kosong. Namun Sabrina dan para gadis itu telah menatap kepadanya, dan Lanya tidak bisa melengos begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya akan membenarkan rumor-rumor baru yang entah muncul dari siapa. “Apa?” Sabrina mengangkat sebelah alis. Gerakan itu begitu anggun sampai-sampai Lanya yakin gadis ini cocok sekali memerankan karakter antagonis di film-film. Kalau tidak salah, Lanya juga pernah mendengar bahwa Sabrina dulunya sempat menjadi peran pembantu di beberapa seri televisi. Sayang, tak pernah ada yang tertuntaskan ketika badai virus mendadak menghempas negeri ini. Satu fakta itu membuat Lanya sedikit terintimidasi dengan Sabrina, tetapi dia takkan menyerah. Lanya menegakkan punggung dan menatapnya dengan kaku. “Apa kau ada masalah denganku?” “Entahlah, apa kau ada masalah dengan David?” Lanya nyaris saja melirik ke arah lelaki yang sudah semakin dekat dengan meja bufet, yang itu berarti posisinya juga tak jauh dari meja tempat Lanya berada. Gadis itu berusaha keras mempertahankan agar matanya tidak beralih sama sekali dari Sabrina. “Apa kau bahkan tahu apa yang direncanakan David untuk kita?” tanya Lanya akhirnya, dan ia merasa agak lega saat para gadis di sampingnya kini berganti memandang David. Memangnya hanya Lanya saja yang harus diberi tekanan di sini? Lanya menuding ke arah pemuda itu. “Dia mau membagi kalian semua menjadi beberapa kelompok, mengomando tiap kelompok untuk menyusup ke tenda para penjajah dan mencuri bahan persediaan mereka. Kau mau?” Mulai terdengar desas-desus. Suara Lanya memang cukup keras, sehingga bisa terdengar oleh sekitarnya, dan ucapan itu dengan cepat menyebar kepada para peserta di pojok kantin. Dan, Sabrina tampaknya tidak benar-benar tahu rencana David. Lanya sedikit keheranan dengan kenyataan ini. Jadi, David benar-benar hanya membicarakannya kepada Lanya terlebih dahulu? Bahkan Sabrina dan Andre, yang merupakan sahabat barunya yang menggantikan Lanya, belum mengetahui sejauh itu. Namun, Sabrina pernah bermain di seri televisi, dan ekspresi tercengangnya dengan mudah berganti menjadi kekesalan yang berbeda. “Dimana letak salahnya?” suaranya nyaris bergetar. “Apa kesalahan dari usulan itu sampai-sampai kau meninjunya?” Lanya merasa mendapatkan kesempatan. Ia mengeraskan suara, memastikan setiap pojok kantin mampu mendengar ucapannya langsung dari mulutnya sendiri. “Mayoritas peserta sekolah kita adalah orang tua dan para gadis, kau tega mengorbankan para paman dan bibi sepuh yang fisiknya digerogoti virus untuk menyusup ke tenda?” Terdengar gumaman-gumaman kegelisahan. Lanya menarik napas dalam-dalam dan menghelanya cukup lega, saat para orang tua yang berkumpul di meja lain menggeleng pelan. Mereka mengerling ke arah David dengan rasa dongkol yang tertahan. Bukankah itu tidak sopan? “Apa kau bodoh?” sembur Sabrina dengan cepat, membuat Lanya terkejut. Astaga, pikirnya. Ini tidak akan segera selesai, ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN