Ketika atap menjadi pijakan, dan langit malam tanpa bintang menjadi atap, Lanya merasakan ketenangan janggal yang begitu menggelisahkan. Jantungnya berdegup dalam ketidaknyamanan, tetapi di sisi lain, duduk di atap bersama peserta kamp tertampan membuatnya merasa cukup bersemangat. Mengawasi kedua tentara penjajah yang terkantuk-kantuk yang berjarak sekitar lima puluh meter jauhnya membuat Lanya juga antusias. Ia tak percaya bakal berada sedekat ini dengan pihak penjajah. Selama ini, ia selalu melarikan diri bersama Mama bahkan sebelum melihat sosok penjajah itu. Sekarang Lanya berkesempatan melihat mereka secara langsung, ia berandai-andai melempar granat ke arah para penjajah sialan tersebut. Demi Tuhan, karena mereka dan virus yang merebak, Lanya kehilangan seluruh anggota keluarga hin

