Lanya dan Tommy terbangun setelah jam sarapan ketika mereka mendengar suara seperti gemerincing dan gaduh dari arah ruang operasi di bawah. Mereka pun tersentak dan refleks membuka mata lebar-lebar untuk melihat apa yang terjadi. San masih di ruang itu, dengan posisi tubuh kembali diborgol. Roland tetap bersamanya, dengan suntikan berisi cairan berwarna aneh yang ditancapkan di leher sang Patron. “Ouh,” gumam Tommy. “Melihatnya saja membuatku ngilu.” Lanya merasa bersalah. Dia dan Tommy ternyata jatuh ketiduran saat kelamaan memikirkan rencana semalaman, dan kini dia menyaksikan San tersiksa oleh sebuah suntikan, yang membuatnya gelisah dan terus-menerus memaksa untuk keluar dari tempatnya. Tentu Roland tidak menggubris, ia malah terus berceloteh dan Lanya menyadari sang profesor membaha

